
Langit 'Archer' Safir in school uniform (art by Samudra)
Putri berada di laboratorium medis militer, yang jadi penanggung jawab adalah dokter ternama Raisa Anggita, bersama dengan Pandhu Dania Sangbecik alias Panda.
Berada di sini sangat menyenangkan, kau bisa melakukan eksperimen bersama dengan para professor lain yang akan mengajarimu seperti mereka mengajari anak TK, seperti misalnya bagaimana reaksi termit akan melelehkan logam dengan suhu lebih dari 3723 derajat termometer Kelvin.
Satuan Kelvin adalah satuan yang lumrah digunakan di Republik, dan satuan-satuan lain seperti Yard dan Kaki juga Ons sangat sering dipakai menggantikan Sentimeter, Meter, Celcius, dan lain-lain semenjak negara Indonesia bergabung dengan negara Republik Asia Serikat.
Laboratorium ini cukup luas, ada banyak kamar dan banyak lemari berisi obat-obatan, ada beberapa lemari berisikan senapan juga di sudut tertentu.
Karena luasnya seperti lapangan sepakbola internasional, maka lab ini dibagi menjadi beberapa blok, yaitu blok A, B, dan C. Dari ketiga blok itu, ada A1 hingga A6, B1 hingga B4 dan C1 hingga C4.
Hal ini memudahkan para dokter dan Professor yang bekerja di sini supaya dapat mendata dengan mudah bagian mana saja yang memerlukan tindakan tertentu.
Putri berjalan di sepanjang koridor blok A, mencari nomor A3 dimana kedua mayat dari apartemen Langit diotopsi dan diselidiki. Meskipun tindakan Langit adalah termasuk pelanggaran HAM, namun tim khusus Putri dan kerja keras komandan Januri masih sanggup menutupi semuanya.
"Ah, ini dia."
"Lho, Prinses?"
Seorang tua dengan jenggot putih dan rambut hitamnya yang beruban sangat banyak keluar dari sebuah ruangan di blok A3, dia bersama dengan Panda yang kantung matanya masih saja hitam, sepertinya masih saja belum tidur.
"Ah, Professor Rizaki, dan Panda." Putri menghampiri keduanya yang menyingkir dari jalan keluar.
"Ada apa, Prinses?" Tanya Professor Rizaki sambil menurunkan dasinya, "Mencari Panda?"
Putri menggeleng, "Aku mencari kedua mayat yang kukirim tadi malam."
"Oh, itu di dalam, informasinya ada di desktop, kau baca-baca saja. Kami mau cari makan."
"Begitulah, aku lapar." Sambung Panda.
"Terimakasih, Professor."
"Tentu. Ayo, Panda." Profesor Rizaki berjalan diikuti Panda di belakangnya yang menguap sangat lebar.
Putri masuk ke ruangan bau darah tersebut, masih ada beberapa orang bawahan Professor Rizaki yang masih mengutak-atik peralatan medis di westafel.
Tanpa basa-basi, Putri membuka komputer dan memasukkan ID serta Password miliknya.
Dengan otoritas kapten tim khusus, komandan Januri memberikan mayoritas akses informasi kepada Putri secara cuma-cuma, dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Panda yang bisa mengakses seluruh informasi dari ujung ke ujung negara Republik.
"Hmm, rupanya benar-benar condong ke arah si perawan."
Putri menggeser beberapa hasil pemindaian 3 dimensi di komputer itu dan membuka beberapa bagian tubuh salah satu korban.
Teknologi pemindaian 3 dimensi itu seperti merekonstruksi ulang sebuah pedang yang telah hancur menjadi ratusan pecahan besi, dalam kasus medis, bisa melakukan rekonstruksi ulang bagian tubuh manusia yang telah hancur dan memungkinkan otopsi dilakukan oleh para dokter tanpa harus membedah dan merusak mayat lebih jauh.
Mensimulasikan sayatan dan pembedahan dengan akurat adalah keunggulan dari pemindaian 3 dimensi, sehingga para dokter di rumah sakit manapun bisa mendeteksi adanya gangguan pada syaraf, organ, atau hal-hal lainnya pada tubuh manusia tanpa harus menempelkan stetoskop, atau menghitung tensi darah secara manual.
Putri menggeser ke tangan kiri korban, dia terpaku melihat tato bintang daud dan ternyata ada tato bintang terbalik di dadanya.
'Benar-benar pemuja setan seperti yang dikatakan Langit.' Pikir Putri.
Putri mengambil ponsel di saku celana sebelah kirinya dan menelpon Langit. Setelah beberapa nada dering, akhirnya Langit mengangkat telpon dari Putri.
"Archer, lama sekali."
"Aku sedang membaca buku."
"Berhenti melakukan hal bodoh seperti belajar untuk ujian."
"Aku menemukan hal menarik dari buku ini, dia menjelaskan bagaimana ritual okultis dilakukan."
Putri terdiam, dia melanjutkan percakapannya lagi.
"Jelaskan."
"Jadi di sini dikatakan bahwa harus ada 1 tumbal yang ditempatkan di tempat tertentu, lalu tumbal berikutnya di tempat yang lain. Apabila ritual dilakukan, akan ada jalinan terikat dengan dua tumbal ini sehingga akan menciptakan garis kutukan. Apabila garis kutukan ini lengkap, persiapan ritual sudah selesai."
Putri tetap mendengarkan Langit yang terdiam sebentar karena sedang membalik lembaran buku.
"Ketika ritual inti dilakukan, sang Raja akan turun dan mengabulkan permintaan sebanding dengan jumlah tumbal setiap sudut. 5 tumbal untuk 1 permintaan, 10 tumbal untuk 2 permintaan, dan seterusnya."
Putri membuka folder laporan pembunuhan si perawan di komputer lab dan melihat data-datanya.
"Korban sudah mencapai 28, menurutmu sampai berapa mereka akan membunuh?" Tanya Putri.
Tidak ada jawaban, hanya nafas Langit yang terdengar oleh Putri.
"Asumsikan 30 korban, jika benar begitu, kita harus mencegah tumbal berikutnya karena jika mereka memulai ritual, setidaknya mereka dapat 4 permintaan absolut."
"Maksudmu dengan 'absolut'?"
"Diketahui sang Raja adalah Raja dari segala Raja kegelapan, bisa disebut Lucifer dalam Kristen dan Katolik, atau Keratos dalam keyakinan Ukrish, semacam itu."
"Jadi, dia mahakuasa, begitu?"
"Bisa dibilang, mampu megabulkan segala jenis permintaan aneh, bahkan jika permintaan itu adalah membuatmu hidup sebagai anjing."
Putri menghela nafas, dia tidak akan menyangka bahwa dia akan melawan orang-orang dengan ilmu hitam sebagai senjata mereka.
"Archer, di mana kota selanjutnya mereka akan menyerang?"
"Pertanjang, jam 11 malam."
"Bisa lebih spesifik lagi, Archer? Seperti rumah seseorang atau-"
"Kediaman Stephaniel Yanagi, putri mereka berumur 16 tahun, perawan, cantik, seksi, menggugah birahiku, dan memiliki banyak prestasi akademik."
'Tolong bahasamu, Langit. Kamu seorang Letnan Satu di sini.' Gumam Putri dalam hati.
"Kenapa kau yakin?"
Putri mendengar Langit membuka lembaran kertasnya lagi, sepertinya dia melupakan beberapa kalimat sehingga susunan kalimat untuk menjawab pertanyaan Putri menjadi tidak lengkap.
"Ah, itu karena semakin berkualitas seekor tumbal, maka semakin tinggi tingkat keberhasilan ritual."
Putri menghela nafas, "Seekor?"
"Uh, itu yang tertulis di sini." Jawab Langit, "Lagipula, manusia punya tulang ekor, jadi tidak masalah."
Cklek, Profesor Rizaki membuka pintu dan mendapati Putri sedang duduk sambil melebarkan kakinya, sebuah hal yang cukup aneh mengingat dia seorang wanita.
"Oh, Prinses. Kau masih di sini?" Tanya profesor Rizaki pura-pura tidak melihat apapun.
"Kumpulkan semua anggota di markas Panda sekarang juga." Kata Putri sambil menutup ponselnya, "Profesor, sudah selesai?"
"Maksudmu makan? Iya lah, mereka memberi kecap asin pada soba dingin dan rasanya jadi mantap."
Panda muncul dari sebelah Professor yang masih terus membicarakan soal soba dingin yang dia makan tadi di kantin.
"Ayo pergi." Kata Putri.
Panda mengangguk, dia pergi keluar bersama dengan Putri dan meninggalkan Professor Rizaki di dalam ruang otopsi.
"-jadi rasanya, lho." Professor Rizaki baru sadar kalau Putri dan Panda sudah pergi, "Setidaknya pamit kek, aku kayak orang bodoh di sini."
***
Putri dan Panda sudah berada di luar laboratorium, mereka berjalan menuju tempat parkir dimana motor Panda selalu diparkir di sana.
"Kau yang menyetir." Kata Putri, "Kita sedang buru-buru."
Panda mengangguk sambil naik ke motornya yang terlihat sangat macho.
"Tidak perlu bersikap lembut."
Panda benar-benar tidak bersikap lembut kepada Putri yang berkeringat dingin. Motor Panda sudah dimodifikasi oleh beberapa mahasiswa penggila otomotif di Universitas Jembrana, membuat motornya mampu melaju hingga 210 mil per jam.
Peraturan di jalanan Republik adalah kurang dari 50 mil per jam dan harus memiliki alasan bagus supaya polisi melepaskan para pelanggar yang melaju secepat 51 mil per jam di jalanan ini.
Namun aturan itu tidak berlaku bagi para polisi itu sendiri karena jika keadaan mendesak mereka, batas kecepatan adalah tidak memiliki batas kecepatan.
Sama seperti Panda yang sekarang bekerja di kepolisian dan menyetir gila-gilaan dengan motornya. Beberapa kali nyaris menabrak mobil dan motor, melintas di jalan tol dengan kecepatan penuh, hingga bermanuver layaknya atlit atraksi motor.
"Hei, hei!"
Panda menyadarkan Putri yang berkeringat dingin dan ketakutan, "Ah ya. Sudah sampai?"
Panda mengangguk, "Baru juga 6 menit."
'Hah! 6 menit untuk menempuh jarak 68 mil dari Laboratorium menuju markas Panda? Gila!' Pikir Putri sambil melepas helmnya yang lalu terjatuh karena tangannya yang basah oleh keringat.
Panda masuk duluan, Putri menyusul kemudian.
Sebelum memasuki markas Panda, mereka diharuskan melewati koridor sempit yang hanya muat dilewati satu orang.
Jika ada orang tidak memiliki ijin pindai 3 dimensi di pintu masuk, lalu mencoba masuk markas panda, bisa dipastikan orang itu akan terbangun dengan rantai di sekujur tubuh mereka yang akan dialiri listrik jika mereka berbohong saat ditanyai.
Cklek
Semua sudah datang, Naga sedang duduk di sofa, Harpy di sebelahnya sambil membaca buku, Miru berada di lantai sambil tiduran, Garuda sedang membersihkan teleskop miliknya menggunakan lap khusus, Karin mengamati Garuda, Loki sedang mengangkat barbel, Kepler dan Yuri sedang menyimpul tali, dan Langit sedang berdiri tegak sambil memelototi Putri yang baru masuk.
"Hei, kalian." Panda menyapa.
"Hei." Jawab semuanya kecuali Langit.
"Archer, jelaskan kondisinya."
Langit mengangguk, "Sebelumnya, namaku Langit Safir alias Archer, Letnan Satu."
Semuanya mengangguk tanda paham. Loki yang mengangkat barbell meletakkan barbelnya dan memperhatian, begitu juga Garuda dan Karin yang tadi fokus dengan teleskop mereka.
Archer menyalakan proyektor 3 dimensi di meja tamu dan menunjukkan peta kota Pertanjang.
"Ini kota Pertanjang, sesuai dengan pola serangan si perawan, mereka akan menyerang sesuai pola sudut bintang. Cakupannya luas, namun tempat perkara selalu tidak lebih dari radius 6 mil." Kata Archer menjelaskan sambil memutar peta dengan remot di tangannya.
"Dari semua korban si perawan, umur lebih dari 10 dan kurang dari 20, semuanya perawan, dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan bukti jejak rekam prestasi akademik yang bisa membuat Panda iri."
"Hei!" Panda menyangkal.
Cuek dengan Panda dan penyangkalannya, Langit melanjutkan.
"Dan dari korban sebelumnya di kota Pertanjang, hanya ada 3 tempat lagi dalam radius 6 mil dengan gadis perawan yang cerdas sedang tinggal."
Langit menggeser peta dan menunjuk salah satu apartemen, dia menandai dengan tanda lingkaran berwarna merah yang berdenyut seperti radar.
"Putri keluarga Stephaniel, Stephaniel Yanagi."
Langit menggeser peta dan memberikan penanda di sebuah rumah besar.
"Putri keluarga Chihomi, Chihomi Grisel."
Langit kembali menggeser peta dan memberikan penanda yang sama di sebuah apartemen kecil.
"Putri keluarga Taijin, Taijin Yosephine."
Langit mengembalikan posisi peta seperti semula, dia lalu menggambar garis lurus di jalanan kota.
"Aku ingin siapapun yang membawa kendaraan menyetir van melalui jalur Kaliman dan berhenti di sini, satunya berhenti di sini. Kalian cukup dekat dengan kedua gedung pendek ini."
Semuanya mendengarkan dengan seksama, Langit mengambil beberapa helaan nafas.
"Naga dan Harpy akan menculik seluruh keluarga Chihomi dan mobil van akan membawa mereka ke mabes untuk perlindungan. Naga akan mengendalikan boneka proyeksi 3 dimensi untuk memanipulasi si perawan dan Harpy ikut mobil van sebagai pengawal. Miru dan Karin juga melakukan hal sama kepada keluarga Taijin, kendaraan kuserahkan pada Kepler dan Yuri."
Langit mengambil beberapa helaan nafas lagi, Putri mengamati Langit yang sepertinya masih canggung.
"Keluarga Stephaniel akan kutangani bersama Prinses dan Panda. Karena ini gedung tinggi, jadi kami akan memotong kaca gedung dan menggunakan kamuflase sambil turun ke mobil van, Panda akan membawa mereka ke Mabes bersama dengan Prinses sementara aku sendiri akan melakukan sisanya."
Miru mengangkat tangan, "Bagaimana Garuda dan Loki?"
Langit menggeser peta di meja, dia memberikan penanda pada dua menara sinyal.
"Kalian akan menaiki van dan berhenti di kedua menara ini, gunakan kamuflase dan amati gedung kami. Tembak sesuai arahan berikutnya dari Prinses."
Miru mengangguk, begitu juga dengan Garuda dan Karin.
"Kalian dengar anak ini! Siapkan van, senapan, tali dan kain kamuflase! Kita berangkat 50 menit lagi!"
Drak drak drep drep drep
Semuanya berdiri secara serentak dan mulai menyiapkan peralatan mereka yang sudah tersedia lengkap di markas Panda.
"Panda, kau punya pedang kait?"
Panda yang sedang mengatur tabletnya menoleh dengan sedikit merasa aneh, "Ada, tapi belum kuasah."
"Tunjukkan." Kata Langit.
Panda mengangguk menuruti permintaan aneh Langit, "Kemarilah."
Panda menempelkan jarinya dan dinding yang ditutupi oleh rak buku terbuka menunjukkan isinya yang sebenarnya.
"Ini gudang senjata, senapan dan beberapa jenis amunisi ada di sini. Kalau Cuma tali dan kain kamuflase, mereka sudah ada di depan."
Langit mengangguk, dia masuk ke dalam meninggalkan Panda yang menguap.
Langit melihat rompi Kevlar yang tahan peluru dan hantaman, dan baju-baju berbahan dasar Kevlar yang tahan peluru namun tidak bisa melindungi cedera memar. Dia melepas bajunya yang hanya kaus dan celana pendek lalu menggunakan baju militer tersebut.
"Ah, ada sabuk untuk amunisi, sebaiknya kuambil dua." Langit berbicara sendiri, dia seperti menikmati sesi ganti baju yang dia lakukan.
"Pistol semi-otomatis P998? Mungkin kali ini aku tidak akan meleset."
Langit mengganti magazin pistolnya dengan magazin lain yang kapasitasnya lebih banyak, dia mengisi semua amunisinya dan menyiapkan pistolnya yang sudah dipasang peredam suara.
"Pedang kait, dan estoc." Langit mengambil dua pedang kait dan menyarungkannya di kedua sisi pinggangnya, sementara estocnya berada di lengan sebelah kiri.
"Hei, orang kuno. Kau sudah selesai?"
Dap!
Panda kaget dengan estoc sepanjang 1 meter tertancap di rak buku yang tadi terbuka dan menunjukkan isinya.
"Orang kuno? Manusia adalah makhluk kuno."
Langit mendekati Panda sambil memutar peredam suara pada pistol satunya yang belum terpasang di dadanya.
"Kita adalah makhluk kuno, namun pikiran kitalah yang membedakan kita dari makhluk kuno lainnya. Kau lupa kita sudah ada bahkan setelah dinosaurus musnah, hm? Tidak? Harusnya kau tahu, Panda."
Langit kembali masuk ke dalam setelah mencabut estoc yang menancap di rak buku kayu, "Oh ya, siapkan dua tali dan kain kamuflase untukku."
Panda mendengus sambil keluar ruangan.
Langit mengecek jam tangannya, "Sisa 10 menit."
Dia tidak tahu harus apa dalam jangka waktu 10 menit ini karena semua persiapannya sudah selesai.
"Hm? Apa itu?"
Langit melihat sebuah busur silang. Busur silang adalah versi simpel dari busur besar, cara kerjanya adalah menarik tali dan mengisi anak panah, lalu ditembakkan pada saat yang tepat. Lebih tidak menguras tenaga, namun jangkauannya kurang jauh.
"Sepertinya aku akan mengakali ini."
Langit membawa busur silang sepanjang 0.80 meter itu dan membawanya ke meja yang memiliki beberapa peralatan seperti mesin pemotong dan las.
Langit memotong busur itu dan membuatnya menjadi lebih pendek, dia memperpendek limbnya dan menambahkan pegas, setelah itu dia merekayasa beberapa anak panah supaya menjadi lebih pendek dan tipis.
Pekerjaan Langit sudah selesai.
"Archer! Sudah waktunya!"
Langit mengangguk, dia melepaskan satu pistol G12 dari dadanya dan menggantinya dengan busur silang, anak panahnya sudah dia sematkan di dalam busur tersebut.
"Ini tali-talimu dan kainmu, dan beberapa peralatan lain jika kau butuh." Kata Panda sambil menyerahkan ransel.
"Kau baik sekali."
"Tch, lagian, ngapain kau potong busur silang itu? Aku beli itu seharga 300 dolar!"
"Terimakasih sudah menyiapkan ranselku."
Archer berjalan melewati Panda yang menggeram.
"Sudahlah, dia masih baru." Kata Putri.
"Betul tuh, lembek aja sama dia, kasihan." Naga ikutan berkomentar.
"Hei! Cepat naik! Udah jam 6 nih!" Kepler berteriak dari dalam mobil van, Yuri yang masih sibuk memperbaiki celananya kaget mendengar suara Kepler yang besar.
"Semua sudah siap?" Tanya Putri, semua yang mendengarnya menjejakkan kaki dan membusungkan dada kecuali Archer
"Hei, kau. Kau yang membuat strategi ini, apa nama operasinya?"
"Hm?"
Benar juga, aku tak memikirkannya, pikir Langit.
"Operasi Burung Hantu."
"Operasi Burung Hantu!" Putri mengatakannya dengan lantang.
"Dimulai!"
***
"Sebenarnya busur silang itu mau kau pakai untuk apa?" Tanya Garuda yang sepertinya tertarik.
"Pistol yang menggunakan peredam tetap menghasilkan suara, dan meninggalkan residu dari mesiu."
"Benar juga sih, tapi kau yakin bisa pakai?" Tanya Loki ikut penasaran.
"Situasional, pistol ini untuk bertempur secara langsung, busur ini untuk mengendap-endap."
Archer yang semula melihat ke bawah, saat ini berganti melihat mata Garuda secara langsung.
"Karena operasi ini membutuhkan keduanya, aku harus siap untuk keduanya."
__ADS_1
"Oke, jagoan. Aku menyerah." Garuda mengangkat kedua tangannya.
"Kita sudah sampai di menara 1." Kata Kepler dari depan.
"Waktunya aku turun." Garuda mengangkat kain kamuflasenya dan menghilang tepat saat turun dari mobil.
"Kain kamuflase ya." Archer bergumam sendiri.
"Ada apa, Archer?" Tanya Loki.
"Aku mencoba mengingat-ingat bagaimana cara kerja kain kamuflase."
"Oh, kain itu pada dasarnya lempengan sirkuit komputer elastis, monitor elastis, dan kamera elastis. Dia akan menayangkan apa yang ada di depan kamera dan menayangkannya di monitor arah berlawanan."
"Sehingga memberikan efek tembus pandang, aku ingat sekarang, terimakasih, umm."
"Hana, Krelstena Hana, penembak runduk Ranger divisi 1, nama kode Loki."
"Kenapa Loki?" Tanya Langit menanyai arti nama kodenya.
"Proyektil yang menghasilkan suara bising saat menghantam target adalah favoritku, itu semua untuk pengalihan."
"Dia pernah melenyapkan 16 orang dalam dua tembakan loh." Kepler ikut nimbrung sambil menyetir.
"Bagaimana ceritanya?"
"Hahaha, agak memalukan. Tapi aku memancing mereka keluar dengan peluru suara dan meledakkan tabung gas yang sudah kusabotase."
"Efisien." Komentar Langit.
"Itu pujian? Wajahmu bahkan tetap datar."
Archer tersenyum, "Kau hebat sekali, kakak. Cara yang kau gunakan sangat efisien."
Gigi rapih milik Langit membuat fokus Loki sedikit teralihkan.
"Dah sampai kita di menara 2." Kata Kepler.
"Waktunya aku turun, sampai jumpa, Archer."
Loki melompat turun sambil mengaktifkan kain kamuflasenya dan menghilang di trotoar.
Menurut strategi awal, seharusnya Langit saat ini sedang bersama Panda mengendarai van menuju kediaman Stephaniel dan sudah bersiap-siap, namun karena vannya kurang, Panda pergi ke mabes untuk membawa satu dan akan menunggu di kediaman Stephaniel.
Karena itu, Archer diantar menuju jalan Thamrin dan berjalan kaki sejauh 600 meter menuju kediaman Stephaniel.
"Kita sudah sampai."
Archer turun sambil mengaktifkan kain kamuflasenya, dia melihat van yang sudah berjalan lagi dan kini saatnya dia berjalan kaki menuju kediaman Stephaniel.
"Taksi?"
Archer melihat taksi yang berhenti di lampu lalu lintas. Lalu dia punya ide.
"Daripada capek. Mending duduk di belakang sini."
Archer duduk di tempat bagasi sambil menunggu dirinya sampai di kediaman Stephaniel, dia berpikir kenapa supir taksi tidak keluar dan mengecek bagian belakang mobilnya yang seharusnya menjadi agak lebih berat sejak Archer duduk di sini.
Archer sudah sampai di gedung apartemen tempat keluarga Stephaniel, dia melihat sebuah van yang pastinya ada Prinses dan Panda di dalamnya.
"Di sini Archer, laporkan keadaan."
Archer menggunakan radionya untuk berkomunikasi dengan tim lain. Meskipun dinamakan radio, transmisi yang digunakan adalah laser, sehingga tidak akan terdeteksi oleh alat pendeteksi gelombang radio yang ingin meretas jaringan komunikasi.
"Garuda di sini, mencapai titik lokasi, melihat tim Chihomi dan Taijin dengan jelas."
Garuda bisa dengan jelas melihat mobil van di bawah gedung keluarga Taijin dan van yang berada di sebelah rumah Chihomi.
"Loki di sini, mencapai poin lokasi, melihat tim Taijin dan Stephaniel dengan jelas."
Loki duduk sambil menyalakan rokok yang dia taruh di ujung barel, cara menghitung kecepatan angina seperti ini terhitung sangat tua karena peluru pintar sudah berhasil dikembangkan khusus untuk kemiliteran.
"Tim Chihomi, mencapai titik gedung C."
Naga dan Miru sudah berada di dalam gedung dan duduk santai di pojokan rumah, mencegah siapapun menabrak mereka tanpa sengaja dan mematikan fungsi kain kamuflase.
"Tim Taijin, mencapai titik gedung B."
Harpy dan Karin sudah berada di tempat parkir lantai bawah dan dapat melihat dengan jelas ada lift menuju lantai atas.
"Operasi Burung Hantu, tahap kedua, dimulai." Kata Prinses di radio.
Prinses turun dari mobil, dia membawa tali dan alat pemotong tenaga laser. Archer yakin kalau Panda berada siaga di dalam mobil.
Archer mengganti saluran radionya, "Prinses, mereka ada di lantai 9."
Prinses mengangguk sambil berjalan masuk, "Ayo."
Archer masuk ke dalam bersama Prinses, mereka sudah mengganti kain kamuflase mereka dari mode tidak terlihat menjadi mode kaus t-shirt kasual.
Prinses menekan lift ke lantai atas dan menunggu.
"Sekarang jam 7, kita akan melakukannya dengan cepat dan tidak terlihat." Kata Archer.
"Tentu saja."
Ting
Archer masuk ke dalam lift bersama dengan Prinses.
"Panda, bagaimana di sana?" Tanya Archer.
"Pembangkit listrik siap diledakkan."
"Apa maksudmu diledakkan? Aku menyuruhmu membuatnya korslet."
"Ya, dengan ledakkan kecil beberapa potassium yang sudah kurakit." Panda sudah selesai memasang peledak kecilnya di alat pembangkit listrik gedung ini.
"Kembalilah ke van, kuberi tanda nanti."
"Dimengerti."
Panda memasukkan obeng, tang, dan peralatan lainnya ke dalam tas ransel, lalu berlari ke luar sambil mengaktifkan kain kamuflasenya.
Ting
"Sudah kubilang, ayah. Aku ini tidak memerlukan alat seperti itu."
"Tapi ini biar kamu gak diganggu anak nakal."
Ayah yang peduli dan sayang bersama anaknya yang sangat yakin kalau dia adalah anak kuat, begitulah kesan Archer pada mereka.
"Mana mungkin mereka mau mendekati putri keluarga Stephaniel?" Tanya si anak.
"Ada tuh, siapa namanya? Johann?" Jawab ayahnya.
"Sudah kubilang, dia hanya teman, teman!"
"Ya, ya, terserah mau bilang apa." Ayahnya hanya menyeringai.
"Iihhh!"
Stephaniel? Archer beruntung menemukan mereka di lift, dia menoleh kepada Prinses yang mengangguk.
Ting
Kedua Stephaniel itu keluar dari lift diikuti Archer yang berbelok ke kanan bersama dengan Prinses.
"Panda, bisa kau matikan CCTV di lantai 10 sampai 8?" Tanya Archer.
"Sudah."
Archer menatap Prinses, keduanya mengangguk lalu mengaktifkan kain kamuflase mereka ke mode tidak terlihat.
"Mereka masuk ke ruangan 227." Kata Panda di radio.
Archer mendekati pintu yang ditunjuk oleh Panda, Prinses yang membawa kartu master tiruan menggesek kartunya di pintu 227.
Kartunya dikenali, kunci pintunya terbuka.
"Matikan listriknya."
Pats
Gelap gulita menyelimuti seluruh gedung apartemen ini.
"Waktu kalian 12 menit hingga pembangkit cadangan menyala." Panda yang barusan menekan pemicu ledakan menambahkan di radio.
Cklek
Archer memasang kacamata infra merah dengan kepekaan cahaya tinggi, sama seperti milik penculik di apartemennya kemarin.
"Siapa itu membuka pint-hmhh!"
Archer bergerak cepat dan segera membius si ayah, lalu menangkap putrinya.
"Sayang? Ah!" Prinses memukul kepala si ibu hingga tersungkur.
Archer melihatnya mengacungkan jempol, sepertinya dia menikmatinya.
Dia mengeluarkan tiga kantong mayat dan satu kain besar bersama tali tebal, sementara Prinses sudah mulai memotong kaca dengan laser pemotong.
Kaca selesai dipotong, Prinses menempelkan penyangga di sebelah kaca yang bolong dan memasang satu di sisi lainnya kemudian memasangkan tali dengan pengait.
Archer melemparkan kain besar bersama dengan talinya, Prinses memasangkan mereka dengan tali tebal yang diberikan Archer.
"Kemarikan mayatnya."
Archer menyeret kedua orang pingsan yang disebut mayat oleh Prinses ke kain tebal itu, dan Prinses membantu menyeret putri kecil mereka.
"Tembakkan talinya." Kata Archer.
Prinses yang sudah siap dengan penembak jangkar, menembakkan jangkarnya ke sudut jalan, sepertinya cukup curam dan cukup untuk membunuh keduanya jika mereka meluncur di tali ini.
Archer memasangkan talinya dan bersiap menendang kain besar yang akan meluncur seperti flying fox ke bawah.
"Panda, kau dengar? Pergilah ke tanda yang kutandai."
"Dimengerti"
Panda mulai menyetir dan memposisikan mobilnya di sudut jalan.
"Di sini Prinses, memulai operasi Burung Hantu tahap tiga."
Prinses duduk di atas kantong mayat itu dan Archer mendorongnya menggunakan kaki.
Prinses meluncur dengan cepat, mungkin berkisar 60 mil per jam dan terus meningkat, beberapa meter sebelum menyentuh tanah, mereka semua berhenti karena ada Panda sudah memasang penghalang di tali ini.
Orang-orang melihat Panda dan Prinses memasukkan beberapa kantong ke dalam mobil van sambil menelpon 772, nomor telpon darurat.
Archer menarik tali dengan alat penembak jangkar, sedangkan Prinses yang melihat indikator jangkarnya berubah dari warna hijau ke warna merah mengerti kalau dia harus memutus tali.
Setelah Prinses memutus tali dari jangkar, dia mengambil jangkar, lalu menunjukkan tanda pengenal kepolisiannya pada orang-orang yang menonton di sekitar, setelah itu pergi bersama dengan Panda.
Archer sudah selesai menarik talinya dan sekarang saatnya dia menambal kaca yang dilepas oleh Prinses. Menambalnya tidak begitu sulit, hanya perlu memberikan lem di seluruh sisi kaca dan dia tinggal menempelkan kacanya lagi.
Meskipun perekatnya lumayan, Archer tetap harus membakar lem ini menggunakan korek agar kekuatan perekatnya semakin kuat.
Zhazzhh
Archer membakar kacanya, selagi menunggu pembakaran dari api biru itu selesai, Archer menyalakan proyeksi 3 dimensi di beberapa tempat.
Teknologi proyeksi 3 dimensi adalah alat khusus dari dunia kemiliteran yang masih berada dalam tahap pengembangan.
Alat ini mampu menduplikasi seseorang menjadi sebuah proyeksi hologram dan membuatnya tampak seperti manusia sungguhan, alat ini mampu merekayasa cahaya dan suhu, sehingga semuanya tampak hidup bahkan dalam penglihatan teleskop thermal.
Karena ini adalah proyeksi 3 dimensi, maka memerlukan bangun ruang untuk menciptakan proyeksi 3 dimensi yang sempurna, baik bentuk, warna, dan pencahayaan, serta volume dari bangun ruang itu sendiri.
Makanya, itulah kenapa Archer repot-repot memasang teknologi canggih ini di segala penjuru ruangan. Agar proyeksi mampu berjalan kesana-kemari saat dikendalikan dengan remot kontrol.
"Dengan ini semuanya selesai."
Archer melihat jam tangannya, sudah jam 9.
"Sebentar lagi mereka datang."
Archer menyalakan kain kamuflasenya, dia melihat jam tangan dan sudah tinggal beberapa saat lagi hingga pembangkit listrik cadangan menyala.
Dia memeriksa semua peralatannya lagi, pedang kait, busur silang, amunisi dan pistol. Dia juga memeriksa kaca yang tadi dibakarnya.
Duk duk
Kuat juga, pikir Archer. Bekas terbakarnya tidak terlihat dan hanya menyisakan residu yang tinggal dilap sedikit saja, sudah kembali seperti semula.
Suara statis muncul di radio Archer.
"Beberapa orang mencurigakan memasuki gedung Stephaniel. Berseragam tukang bersih-bersih dengan tas besar."
"Dimengerti, Loki."
Archer menyalakan proyeksinya, dia mengendalikan proyeksi putri Stephaniel seperti sedang membaca buku di ruang tengah dan ayahnya sedang berada di kamar tidur bersama istrinya, tertidur dengan lelap.
Pats
Lampu sudah menyala kembali, archer sudah tahu kalau pintu depan akan mengunci otomatis saat tidak ada yang menyentuh gagangnya, semua orang tidak akan bisa masuk sembarangan kecuali jika akan keluar.
"Prinses kepada Archer, aku menghubungkan kamera pengawas di sepanjang lorong lantai 9 ke tabletmu."
Archer membuka tabletnya dan melihat koridor di depan, hanya koridor kosong dengan pintu-pintu yang tertutup.
Di sisi lain, Loki yang mengamati gedung Taijin dan Stephaniel mengamati sekitar dengan senapan laras panjangnya yang dipasangi peredam suara.
Rokoknya yang sudah mati dia biarkan mati dan tidak diganti dengan yang baru.
"Ada dimana dia? Ketenangan ini rasanya janggal." Loki merekam yang dia katakan di tablet miliknya menggunakan mic terpasang di telinganya.
"Dari sini, aku bisa melihat Garuda dengan jelas. Dia sedang menguap."
Loki kembali mengamati gedung Taijin, dia melihat tim Taijin sudah mengamankan keluarga dan membawa mereka pergi ke Mabes.
"Loki, dewa kenakalan, sedang mencari keanehan pada kesunyian ini."
Loki menggeser teleskopnya ke gedung Stephaniel dan memindai secara acak.
"Tidak terdeteksi keanehan apapun di teleskop biasa, berganti ke mode thermal."
Loki memutar sesuatu di teleskopnya dan seketika teleskopnya menunjukkan perbedaan suhu. Sehingga dia bisa melihat semua makhluk hidup dan mie rebus yang sedang dimasak di dapur gedung apartemen Stephaniel.
"Hnnn, resepsionis, orang-orang berjalan di lobby, beberapa pasangan di kamar melakuka- hmm."
Loki merasa tidak sopan dan mengangkat teleskopnya lebih tinggi, dia melihat Archer sedang berdiri di depan kaca.
"Archer sedang memikirkan seberapa tampan dia sebenarnya."
Loki mengganti mode teleskopnya menjadi elektrik.
Alat pendeteksi elektrik seperti kabel yang dialiri listrik, atau rangkaian bom rakit sebenarnya adalah teknologi lama, namun pengaplikasiannya pada teleskop untuk keperluan sosial seperti pemadam kebakaran, menjinakkan bom, atau kemiliteran seperti yang dilakukan Loki, adalah hal yang tidak lumrah dilakukan.
Dengan teleskop ini, dia bisa melihat rangkaian listrik hingga jarak kurang dari 2 kilometer.
"Lift, telepon, dan kabel biasa."
Loki menggeser teleskopnya ke arah Archer berada
"Hm, rangkaian listrik untuk peledak thermite."
"Hah!"
Loki kaget, dia melihat rangkaian peledak untuk peledak thermite. Peledak thermite adalah peledak yang bisa melelehkan logam dengan suhu melebihi 3700˚ Kelvin, mendekati suhu permukaan matahari. Dalam dunia militer, peledak ini digunakan untuk menembus tembok besi atau tanah liat.
Yang dilihat Loki adalah peledak untuk menghancurkan tembok.
"Archer! Peledak thermite 2 meter sebelah kiri pintu masuk!"
Archer yang mendengarnya dari radio kembali ke tempatnya, dia bersiap-siap dengan busur silang.
"Dimengerti."
Archer menanti apa yang akan terjadi berikutnya, apakah peledak akan menghancurkan tembok hingga mengenai proyeksinya, atau hanya ledakan lemah yang cukup untuk sekedar melubanginya saja.
Shriinngg
Suara seperti las menembus tembok setebal 15 sentimeter, memotongnya dan meninggalkan lubang bekas potongan.
Duar
Ledakan setelah las dari reaksi besi oksida dan alumunium yang disebut reaksi thermite, membuat lubang yang cukup besar.
'Alarm tidak menyala? Mungkin dirusak?' Pikir Archer sambil melihat mereka yang sudah bersiap masuk.
"Ahh!" Teriak putri keluarga Stephaniel.
Tentu saja Archer membuat reaksi teriakan tersebut menggunakan proyeksi keluarga Stephaniel.
"Tangkap mereka! Jangan biarkan mereka lari."
"Ahh! Tidak!"
Archer mengendap-endap di belakang mereka, ada 4 orang, dan pemimpinnya pastilah seseorang yang diam dan memberi perintah.
"Loki."
"Aku mengerti."
"Kemarilah! Jangan lari!" Orang yang mengejar putri Stephaniel berteriak.
"Kena kau! Eh?" Dia kaget saat tangannya menembus tubuh putri Stephaniel.
"Bos! Kita ditipu!"
"Hah?!"
"Bos?!"
__ADS_1
Semua bawahannya kebingungan, mereka menoleh kepada bos mereka di dekat sisa ledakan tembok tadi, namun bos mereka tidak mengeluarkan kata apapun.
"Uhuk, huungh." Si bos sudah tidak bernyawa, mulutnya mengeluarkan darah karena Archer menusukkan estocnya ke leher si bos.
Bruk
"Sialan! Kain kamuflase!" Kata bawahannya sambil mengeluarkan granat asap.
Teman-temannya juga mengeluarkan granat asap, mereka melemparkan ke segala penjuru. Tabir asap dari granat asap akan menciptakan pergerakan aneh saat Archer bergerak.
Karena itulah Archer bersyukur membawa busur silang.
"Ahk!" Satu orang tumbang, anak panah kecil menancap di kepalanya.
Meskipun akurasi senjata apinya nol, namun dalam seni panahan, dia meraih juara pertama nasional saat SMP.
Archer mengisi ulang, dia dari tadi tidak bergerak sama sekali sehingga lokasi pastinya tidak diketahui, karena jika dia bergerak, udara juga akan bergerak dan membuat asap bergerak, sehingga akan menunjukkan dimana posisi Archer, itu pun jika lawannya cukup awas.
Jika dia menggunakan pistol, api akan membuatnya terlihat.
"Sialan!"
Ratatatatatatatata
Suara tembakan beruntun membabi buta dari seorang dari mereka, Archer refleks tiarap dengan dada di atas.
"Ramon!" Teriaknya memanggil temannya.
Clack clack
Amunisinya habis, dia melepaskan magazin barelnya dan berniat mengisi amunisi lagi.
"Dia terkena anak panah di kepalanya! Kau harap dia masih hidup?!"
"Sialan! Tunjukkan dirimu, penge-"
"Gordon! Sialan!" Orang yang disebut Gordon ditembak jatuh oleh Archer, tanpa suara sama sekali.
Prang prang
"Arrhh!"
Dua tembakan, keduanya tepat sasaran, tidak ada yang salah dengan akurasi Loki saat menembaki musuh menggunakan senapan runduk kesayangannya, dia membuat orang terakhir di ruangan ini berlutut karena lututnya hancur berantakan setelah ditembak Loki.
"Hengh!"
Lengannya ditembak Archer, tangannya yang memegang senjata api jenis sub-machine gun dengan magazin tipe drum yang mampu mengisi 80 peluru, lepas tak berdaya.
"Loki, bukankah seharusnya aku membiarkan hidup si bos nya?"
"Tapi kau menembaknya, Archer."
"Aku pemula, tahu."
Tubuhnya perlahan-lahan tersingkap, wujudnya perlahan dapat dilihat dengan mata telanjang, pemuda yang membidikkan busur silangnya ke kepala pria itu bahkan memiliki 0 jam terbang di dunia kemiliteran saat ini dan sedang memiliki kuasa penuh atas hidup dan mati seseorang.
"Sebelum itu, kuambil dulu." Katanya sambil mengambil senapan yang bahkan belum sempat diisi ulang.
"Jadi, kau uhh."
"Archer, serahkan bagian introgasi kepada kami."
"Panda?"
"Bagaimana keadaan di sana?" Tanya Panda dengan suara sirine polisi di sekitarnya.
"Kau membawa polisi?"
"Tentu saja, ini penangkapan resmi. Waktu aku tahu dari Loki kalau ternyata target Taijin dan Chihomi tidak diserang, aku langsung mengerahkan cecunguk kepolisian ini kemari."
"Berarti ada garis polisi dan tidak ada warga sipil hingga 25 meter dari TKP?"
"Tentu saja, bodoh!"
Panda yang berada di bawah gedung bersama dengan para polisi menunggu jawaban dari Archer. Suara sirine di sekitarnya adalah suara kebisingan yang dibencinya, apalagi orang-orang yang berkumpul hanya karena penasaran.
"Tolong perhatikan langit."
Panda mendengar sesuatu tentang langit dari Archer, dia otomatis mengangkat dagu dan melihat langit.
Matanya melotot, kaget dan terkejut, "Semua minggir!"
Polisi yang tidak tahu apa-apa lalu disuruh minggir? Barangkali di masa lalu begitu, namun tidak dengan masa sekarang. Mereka segera menurut dan berlari secepat mungkin karena tidak tahu level bahaya yang membuat pimpinan mereka sampai berteriak memerintahkan untuk menyingkir.
Prang prang bruk bruk bruk
Tiga tubuh berjatuhan dari lantai atas, semuanya adalah mayat yang dibunuhi Archer, saat ini tubuh mereka saat ini tidak ada lagi bentuknya.
Satu lantai setidaknya setinggi 20 kaki, dan mereka dilemparkan dari lantai 9 menuju jalan trotoar.
Itu berarti mereka jatuh dari ketinggian 180 kaki, jika gravitasi sebesar 10m/s², dan tubuh mereka paling tidak masing-masing seberat 70 kilogram, maka mereka jatuh dengan kecepatan 20 mil per jam, dan hantaman tersebut membuat tubuh mereka mendapatkan efek dari hukum kelembaman nomor 1 oleh Sir Isaac Newton sehingga tubuh mereka yang bergerak terpaksa berhenti, dan menyebabkan tulang-tulang mereka tidak lagi memiliki bentuk.
Seperti vas bunga yang dipecahkan berkeping-keping.
"Archer?"
Panda berbicara di radio, Archer yang berada di lantai 9 dengan jendela kaca terbuka lebar menghidup udara dalam-dalam.
"Siapa namamu?"
"Hnngghh!" Pria itu seperti mengatakan kalau dia harus dilepas ikatannya dulu di mulutnya baru diajak bicara.
"Akan kuketahui saat kau berada di bawah."
Archer berjalan keluar dari gedung, dia memasuki lift, tubuhnya bersih tanpa ada cipratan darah barang setetes.
"Archer?"
"Ah iya, ada apa, Panda?"
Panda di trotoar bawah, dia melihat mayat-mayat yang dilemparkan Archer dan kebingungan dengan wartawan yang mewawancarainya.
"Bisa kau cepat sedikit? Aku agak kesusahan di sini, aku harus memberi penjelasan soal kelakuanmu yang melemparkan mereka ke bawah."
"Tentu saja."
Archer memakai kain kamuflase untuk menutupi wajahnya dari hidung hingga leher dengan cara diikat, lalu berjalan keluar sambil menggendong tersangka yang tidak bisa berjalan di salah satu pundaknya.
Bruk
"Hnngghh!"
Archer melemparkan tersangka yang dia gendong ke bawah, yang dilemparkan mengaduh tertahan karena ikatan di mulutnya. Wartawan yang semula mengerumuni Panda menoleh, lalu berpindah tempat mengerumuni Archer.
"Bapak! Tolong jelaskan tenta-"
"Bagaimana dengan si-"
"Ada waktunya sebent-"
"Tolong berikan-"
Clack
Tembakan peringatan dari Archer ke langit menggunakan P990 yang menggunakan peredam suara, namun masih terdengar suara mekanik dari pelatuknya berhasil membuat wartawan diam.
"Aku Archer, detasemen khusus batalion tempur penangkapan SP. Lihatlah wajah ini."
Archer menunjukkan wajah orang yang ditangkapnya.
"Dia adalah pelaku terduga penculikan keluarga Stephaniel di tempat, asal tidak jelas, motif tidak jelas, kemungkinan untuk keperluan jual beli manusia."
Wartawan mendengarkan baik-baik saat Archer bicara, merekamnya dengan jantung berdegup kencang.
"Kasus kriminal mereka terduga menyalahi hukum kemanusiaan, maka dari itu saya melemparkan mereka yang sudah saya bunuh sebelumnya dari lantai 9."
"Itu karena mereka telah lalai sebagai manusia dan mereka tidak berhak diperlakukan sebagai manusia, sama seperti hewan ini."
"Ngghh!" Pria itu mengerang saat Archer meletakkan kakinya di wajah orang tersebut.
"Ah, bisa tolong berikan penjelasan mengenai si perawan?"
Archer menoleh kepada wartawan tersebut, bersiap menjawab.
"Berhati-hatilah dengan mulutmu, nona. Kita tidak membahas kondisi selaput dara kelamin seorang wanita."
Wartawan yang menanyakannya terpana mendengar Archer mengatakannya.
Archer mengangkat orang yang diinjaknya tadi, "Pertanyaan lebih lanjut akan dianggap sebagai tindakan ofensif dan akan kami tindak tegas."
Archer pergi dari kerumunan wartawan itu, sisanya mencatat beberapa hal yang dirasa penting sambil kembali ke tempat kejadian perkara, dan sisanya lagi menggerutu dengan jawaban Archer.
"Sudah selesai?" Tanya Panda, "Mereka bahkan membersihkan kekacauan yang kau buat."
Panda memutar bola matanya menuju arah pecahan kaca yang disebabkan Archer.
"Diamlah, perawan."
"Pe- kurang ajar! Beraninya kau mengataiku perawan, hah?!" Panda meninggikan suaranya, Prinses yang mendengar suara Panda segera menghampiri setelah sebelumnya ditanyai beberapa petugas.
"Ada apa?"
"Dia mengataiku perawan."
"Archer." Prinses mencoba membujuk dia supaya minta maaf.
"Hm." Archer menundukkan kepalanya sedikit, "Kejadian ini takkan terulang."
"Lebih baik begitu."
Keesokan harinya di sekolah
"Jadi begitulah, kau sebenarnya melihatnya di tv semalam, kan?"
"Aku tertidur, tahu."
Samudra berbohong saat dia berkata tidur, sebenarnya dia menyalakan tv semalaman dan tidak bisa tertidur karena menunggu kakaknya yang tak kunjung datang.
"Tertidur? Kau bahkan tidak peduli padaku?" Langit menghela nafas, "Sudahlah, bagaimana denganmu, Senja?"
"Eh, umm. Aku menonton beritanya tadi pagi, jadi aku tak tahu apa-apa." Jawab Senja yang menuntun sepedanya.
"Sama, aku juga menontonnya pagi ini." Sambung Putri yang menuntun sepeda di sebelah Samudra.
Pagi ini mereka berangkat sekolah seperti biasa, identitas mereka juga telah dirahasiakan oleh kepolisian yang bekerja sama.
"Sampai nanti, sayang." Kata Samudra sambil melambaikan tangannya di lorong.
"Aku, ke atas dulu." Kata Senja.
Langit tidak menjawab apapun, dia langsung masuk kelas bersama dengan Putri di belakangnya.
"Selamat pagi." Kata Langit.
"Pagi." Jawab beberapa anak yang mendengar Langit.
Langit duduk di bangkunya, bersamaan dengan Putri di depannya.
"Hei, kalian lihat berita pagi tadi?" Tanya salah satu anak gadis di belakang ketua kelas Boszak.
"Channel apa?"
"Metropoles, katanya ada penangkapan beberapa penculik."
"Benarkah?"
Anak gadis berkacamata yang tadi membaca buku ikut mendengarkan sekilas.
"Iya, pelakunya masih diselidiki katanya. Korbannya juga anak kayak kita."
"Yesus, kuharap aku tidak akan diculik."
"Kalau aku, aku akan menculik dan membungkusmu dengan kertas kado."
"Hahaha!" Mereka berdua sangat dekat, dan selalu tanggap dengan berita-berita segar di pagi hari, sehingga jika mereka sedang mengobrol, semuanya secara tidak sadar ikut mendengarkan.
"Seperti radio." Itulah yang dipikirkan Boszak dan anak-anak lain.
Kriiingg kriiinngg
Dua kali bel berbunyi, tanda jam pertama akan dimulai. Semua anak kembali ke tempat duduknya masing-masing dan mulai merapikan diri sebelum guru masuk.
"Selamat pagi."
"Pagi, Bu."
"Kita akan mengadakan kuis."
"Hah?!" Semuanya terkejut.
"Boleh buka buku."
"Haaahhh." Semuanya lega.
"Soalnya analisis."
"Hah?!" Semuanya terkejut lagi.
"Boleh pakai internet."
"Haaah." Semuanya lega lagi.
"Kuis mulai dari sekarang, kapanpun kalian siap, saat bel nanti kumpulkan di meja saya di ruang guru, soalnya..." Bu guru menyalakan komputer dan proyektor, lalu menunjukkan satu soal.
"...Ini soalnya."
"Haaahh berat banget!" Semua yang tadinya lega, kini merasa sedang berada di ruangan introgasi di tengah-tengah badai salju Siberia.
"Bye-byee!" Bu guru keluar dan meninggalkan semua anak-anak di kelas dengan kegelisahan.
Memangnya soal kuis sesulit itu? Tidak.
Namun bila pertanyaannya adalah, "Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 saat masih belum menjadi Republik Asia Serikat. Tahun berapa hingga berapa peristiwa penjajahan terjadi?"
Ya, sebelum Indonesia masuk ke negara Republik Asia Serikat, negara ini pernah dijajah beberapa negara seperti Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang. Namun, ada yang mengatakan penjajahan Belanda berlangsung selama 350 tahun dan tahun dimulainya penjajahan masih samar hingga sekarang. Makanya, kuis hari ini diperbolehkan mencari data sebanyak mungkin dan se-akurat mungkin.
"Hey, Lang. Kau tahu jawabannya?"
"Mungkin."
Putri ingin mencari data yang sesuai, namun dia sama sekali tidak pandai menghubungan sesuatu.
"'Kenapa kau begitu santai?' Kau mau menanyakannya, kan?" Tanya Langit pada Putri.
"Hn." Putri mengangguk.
Langit tahu, reaksinya setelah operasi semalam terlalu santai. Biasanya, dan seharusnya, orang dengan pengalaman tugas pertama akan bereaksi bersemangat untuk tugas berikutnya, atau mengalami trauma dengan tugas pertamanya.
"Mungkin karena sudah terbiasa?"
"Maksudmu?"
Langit membuka laptopnya yang selalu dia bawa di tas, dia mencari beberapa data penting mengenai penjajahan Belanda di Indonesia.
"Sejak sebelum kau merekrutku, aku sudah mengalami hal ini beberapa kali."
Langit mengetik, Putri menunggu lanjutan kalimat Langit.
"Adikku itu spesial, dia sangat berbakat. Prestasinya luar biasa, dan tidak bisa dikatakan pada sembarang orang karena kepentingan pribadi." Lanjutnya sambil menulis di buku.
"Kami berasal dari keluarga yang dulunya sangat sukses dan kaya, kedua orang tua kami meninggal dalam kecelakaan yang masih kuselidiki, kami juga pernah memiliki seorang sahabat yang seperti keluargaku sendiri dan ibu bagi adikku, setelah kejadian itu, sisa dari anggota keluargaku berebut warisan lalu membuang kami dengan satu apartemen sisa peninggalan orang tua kami."
Putri tetap mendengarkan, Langit berhenti menulis di bukunya dan menggeser beberapa halaman di laptopnya.
"Lalu aku memulai crypto-trading dan hacking, aku melakukan transaksi uang digital dan meretas untuk sayembara. Pernah dengar jika kau meretas sebuah situs yang menantang peretas, maka akan diberi uang?"
Putri mengangguk.
"Aku mendapatkan total 622 milyar dalam waktu beberapa tahun meretas situs yang berbeda, dari uang ini, kami bahkan bisa menjamin pendidikan hingga gelar profesor."
Langit menuliskan sumber pencariannya di internet dan menuliskan beberapa kutipan di dalamnya.
"Setelah itu, banyak orang-orang yang ingin merekrutku, atau lebih tepatnya mengancamku. Mereka memaksaku bekerja untuk mereka dan aku selalu menolak tawaran mereka karena beberapa alasan."
Langit menutup laptop dan menutup buku tulis lalu memasukkan pulpen ke dalam sakunya.
"Karena itulah, adikku selalu menjadi sasaran untuk membuatku menjadi penurut."
Putri mengangguk beberapa kali.
"Eh, kau sudah selesai?"
"Tentu saja, kau belum?"
"Aaahh!" Putri mulai mengerjakan tugasnya, dengan waktu yang sudah seperempat habis.
"Eh, Langit sudah selesai?" Tanya teman lelakinya di samping.
"Hey!" Langit membuat semua orang di kelas menoleh padanya, "Aku membagikan laman untuk kalian jadikan referensi di grup chat kelas, gunakan sebaik mungkin."
"Waah!" Semua teman-teman Langit bersorak dengan antusias, "Terimakasih, Langit!"
"Kalian berhutang satu padaku." Kata Langit.
"Huuhh." Semuanya menyoraki Langit yang berdiri di depan.
"Lunas jika salah satu dari kalian mengumpulkan milikku saat jam habis."
"Oh, ternyata begitu saja." Komentar Efra Yosephine.
"Kukira apa, ternyata mau nitip doang."
"Hahaha, dasar Langit."
__ADS_1
Langit meletakkan bukunya di meja guru dan pergi meninggalkan kelas.