Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Shopping


__ADS_3

"Oh ya, aku besok mau akselerasi." Katanya sambil memilih baju untuk dicoba di kamar pas.


"Ke kelas berapa?" Tanya Langit sambil mengikuti adiknya menuju kamar pas.


"Langsung ke kelas 3 sepertinya bagus, bisa lulus bareng kakak, lalu menikah dengan kak Senja? Hahaha."


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Samudra sambil menunjukkan gaun yang dicobanya, dia mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna putih, bersama dengan kalung dan antingnya yang berkilau.


"Bagus untukmu, mau ambil itu?"


"Sepertinya iya, kalau kakak?" Tanya Samudra sambil melepaskan gaunnya dan mengenakan seragam sekolahnya lagi, "Sudah milih-oh, kelihatannya belum."


"Aku kurang pandai memilih baju."


"Memilih baju pria, lebih tepatnya." Kata Samudra sambil keluar dari kamar pas lalu pergi menuju bagian baju pria dengan Langit di belakangnya, "Kalau urusan memilih baju perempuan, kakak jago banget, kak Petra terlihat cantik."


"Menurutmu begitu?"


"Hm-hm!" Samudra mengangguk sambil mengambilkan sebuah setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dengan rompi merah dan dasi putih bermotif beruang.


"Motif beruang?"


"Untuk kesan manis, wahai kakakku yang jahat, hehehe." Jawab Samudra sambil mengelus pipi kakaknya dan meletakkan ibu jarinya di bibir bawah kakaknya.


"Biar nggak kaku amat."


Langit pergi ke kamar pas dan mencoba setelan yang diberikan adiknya.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Langit saat keluar dari kamar pas.


"Waah, kakak manis banget, cocok, kemarilah." Katanya sambil meraih bibir Langit lalu menciumnya singkat.


"Begitukah? Kalau begitu aku ambil ini." Kata Langit setelah adiknya melepaskan cumbuannya, "Hanya 120 dolar untuk satu set, dan ada diskon 20%, harganya hanya 96 dolar."


"Punyaku tadi 310 dolar, ada diskon 30%, 217 dolar? Lebih mahal dari setelan kakak."


"Mungkin model lama." Jawabnya sambil berjalan menuju kasir.


"Memang kenapa kalau model lama?"


"Mereka harus segera menjualnya dan menggantinya dengan model baru, ini hukum permintaan dan penawaran." Kata Langit sambil meletakkan gaun dan setelannya di kasir.


"Oh, kalau gak ada yang mau, harganya jadi makin murah."


"Betul."


"Semuanya jadi 420 dolar termasuk pajak, tuan." Kata si kasir setelah memindai barcode yang terpasang di barang milik Langit.


"Kau terima pembayaran lewat Avant?"


"Iya, silakan pindai kode ini untuk pembayaran."


Langit menggunakan kamera di ponselnya untuk memindai kode yang ditunjukkan si kasir.


Avant adalah sebuah aplikasi yang menyimpan uang dengan kegunaan yang sama seperti bank, namun sejak perusahaan Avant menjalin kerjasama dengan Bank Republik, maka saldo yang ada di Avant nilainya sama dengan yang ada di akun bank miliknya, sehingga memudahkan setiap orang saat ingin membayar.


"Terimakasih, silakan datang kembali."


Langit berjalan dengan menenteng kantong kertas berisi setelan miliknya dan gaun milik adiknya.


"Apa lagi yang diperlukan?" Tanya Langit.


"Sepatu, untukku dan untuk kakak, dan, umm." Samudra tampak berpikir, dia melihat kakaknya dengan cermat dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Ah, jam tangan."


"Jam tangan? Ini masih bagus."


"Ayolah, itu jam tangan Blossom, bahkan Hiyari masih lebih bagus." Kata Samudra yang mengomentari jam tangan kakaknya.


"Lagipula, kakak bahkan nggak pacaran sama dia, kan?"


"Hm-m, aku hanya menghargai hadiahnya." Jawab Langit.


Jam tangannya adalah sebuah hadiah dari gadis yang selalu mengejarnya beberapa bulan lalu, dia mendapatkannya saat Valentine.


"Kalau begitu, kita beli jam tangan dan sepatu."


Keduanya menuju ke bagian sepatu, Langit tidak mengerti bagaimana caranya memilih sepatu karena dia memakai sepatu pantofel biasa untuk pergi ke sekolah, dan tidak mengerti mode fashion jaman sekarang.


"Ini sepertinya cocok, coba kakak pakai." Kata Samudra sambil memberikan sepatu dengan ujung runcing berwarna hitam mengkilap.


"Bagaimana?"


"Hm, menurutku cocok saja, karena nanti kakak pakai setelannya." Jawab Samudra sambil memakai sepatu untuknya sendiri, "Bagaimana, kak?"


"Cocok untukmu." Jawabnya saat adiknya menunjukkan sepatu flat berwarna hitam, "Terlihat nyaman."


"Kalau begitu kita ke bagian jam tangan."


Keduanya pergi ke toko jam tangan dan melihat-lihat jam tangan yang dipamerkan.


"Permisi, ingin membeli jam tangan?" Tanya pria karyawan toko.


"Iya." Jawab Samudra, "Untuk kakakku."


"Bagaimana kalau yang ini? Tahan air, ringan, dan modis." Katanya sambil menunjukkan salah satu jam tangan.


"Hmmm." Samudra terlihat berpikir sementara kakaknya hanya diam saja di belakang, "Bagaimana kalau itu?"


"Wah, hahaha, matamu tajam." Katanya sambil mengambilkan salah satu jam tangan yang ditunjuk Samudra.


"Ini Roin Leder, tahan air, tahan tekanan, susah hancur, sangat ringan, sangat nyaman, dan dibuat untuk dua orang tiap setnya."


"Setahuku Roin Leder itu nggak main-main, ada sertifikatnya?" Tanya Samudra.


"Oh, ada, ada, saya ambilkan sebentar." Katanya sambil masuk ke dalam dan kembali dengan sebuah lembaran kertas yang dilapisi plastic agar tidak rusak, "Keasliannya terjamin, anda tidak akan kecewa."


"Berapa harganya?" Tanyanya lagi.


"1280 dolar."


"Hm? Cukup wajar bagiku, menurut kakak?"


"Aku menurut adikku saja." Jawab Langit.


"Baiklah, satu set Roin Leder, warna perak." Kata Samudra.


Setelah membayar dan kehilangan dana untuk bulan ini, Langit dan adiknya berjalan keluar dari toko dengan kantong kertas yang cukup banyak untuk mereka berdua.


"Apa lagi setelah ini?" Tanya Langit.


"Entahlah, mungkin parfum? Ah, aku tahu." Samudra menjentikkan jarinya saat dia mengatakan hal itu, "Kakak perlu cukuran."


"Cukuran?"


"Iya, rambutmu sudah agak panjang, dan jenggotmu yang baru tumbuh itu menggelikan, hihihi." Katanya sambil tertawa dengan menutupi mulut dengan kedua tangan.


"Benar juga, lalu?"


"Oh, cukurannya nanti sore saja, sekalian kakak cuci muka juga." Katanya, "Sekarang, kita pulang aja dulu, kakak masih ada penyelidikan soal video tadi, kan?"


"Iya, aku akan pergi ke perpustakaan kota setelah ini."


"Kalau begitu aku ikut."


"Oke."


Setelah memasukkan barang-barang belanjaannya, Langit dan Samudra segera bergegas menuju perpustakaan kota untuk melakukan penyelidikan literatur mengenai doa yang dilakukan Videl Warren dan lingkaran pemanggil yang dibuatnya.


Sesampainya mereka di perpustakaan, Langit langsung pergi ke bagian yang biasa dikunjungi olehnya, dan kali ini, seperti biasa juga, seorang pria dengan tumpukan buku yang banyak duduk di bangku yang sama.


"Adam Belucci, hari ini pun kau ada di sini?" Sapa Langit setelah mengambil beberapa buku dan duduk di bangku di depan Adam


"Oh, Safir. Mempelajari sihir lagi?"


"Ini ilmu metafisika yang harus dikuasai orang jaman sekarang." Jawab Langit sambil menunjukkan sampul bukunya pada Adam.

__ADS_1


"Sepertinya ilmu ini penting untuk fosil hidup."


"Fosil hidup, ya, hahaha." Adam tertawa, "Lucu sekali saat anak-anak sepertimu menyebut dirinya sebagai fosil."


"Lalu apa yang kau lakukan kali ini?"


"Tidak ada, aku hanya mengisi waktu luang."


Langit mengangguk sambil mulai membaca bukunya, dia membuka lembar demi lembar dan meletakkan buku di meja saat sudah membuka halaman tertentu, lalu membuka buku lainnya lagi dan menjajarkannya hingga memenuhi meja.


Setelah itu dia berdiri dan mengamati semua buku yang dibacanya.


Adam melihat cara membaca yang dilakukan oleh Langit agak sedikit aneh, dia seperti bisa membaca 8 buku dalam waktu yang bersamaan, dan dia sangat ingin menanyakan bagaimana Langit bisa melakukannya, namun dia mengurungkan niatnya karena takut memecahkan fokus Langit.


"Malaikat agung penjaga dua dunia suci, padahal hanya ada satu dunia suci, surga, kenapa ada dua?" Gumam Langit dengan suara pelan, "Mungkin demonologi percaya neraka juga dunia suci?"


"Safir, sepertinya ada sesuatu yang menarik, apa itu?"


Langit menoleh pada Adam, fokusnya masih belum goyah, dia seperti menerima Adam sebagai teman diskusi.


"Dua dunia suci, padahal hanya ada satu dunia suci, surga, dan mungkin demonologi percaya neraka juga dunia suci."


"Kau tahu, Safir, dulu ada malaikat paling taat dan paling mahsyur, tapi dia melanggar lima kewajibannya dan dilempar ke neraka, lalu dia memerintah neraka hingga menyaingi surga."


"Malaikat Keratos? Dia disiksa di neraka."


"Pasti kamu membaca buku tulisan Eifklarn, dia itu ekstremis, jangan percaya padanya, coba baca tulisan Shirly."


"Menurut Shirly, malaikat Keratos dipotong sayapnya karena dia melanggar 5 aturan langit, tapi dia tidak punya tanduk." Kata Langit sambil menunjuk buku demonologi yang ditulis Shirly di mejanya.


"Dia membuat tanduknya sendiri, setelah mencairkan tulang dari sayapnya yang terpotong, karena itu dia hanya punya satu sayap." Kata Adam, "Tapi sayangnya dia tidak disembah oleh demonis pada era itu."


"Era apa?"


"Pertengahan, saat ilmu sihir menjadi terror di negara Britania Raya."


"Bukannya Schweinorg adalah utusan Keratos?" Tanya Langit yang yakin dengan buku yang dibacanya.


"Benarkah? Aku baru tahu."


Dengan ini Langit sudah memantapkan hatinya, setan yang akan dipanggil ke dunia ini adalah malaikat jatuh Keratos, dan sekarang, dia hanya perlu mempelajari lingkaran sihir yang digambar oleh Videl.


Langit menyingkirkan beberapa buku dan menumpuknya di sisi meja, lalu pergi mengambil buku lain dan membuka semuanya dengan cara yang sama seperti tadi. Simbol-simbol yang digambar di 6 lingkaran dengan salah satunya di pusat, pasti memiliki arti tertentu yang harus diketahui oleh Langit.


Bintang 5 ujung memiliki bentuk yang sama seperti tubuh manusia yang melebarkan kakinya dan meregangkan kedua tangannya, setiap ujung mewakili satu anggota badan, seperti itulah Langit menyimpulkannya agar mudah diingat, pelajaran seperti ini dipelajarinya dari Ymisdottir, seorang penulis buku demonologi dari Isiland, negara bagian Perserikatan Eropa Timur.


Simbol yang ada di kanan atas, atau lebih tepatnya di tangan kiri, terlihat seperti api yang melingkar, Langit mencari arti dari simbol itu dengan mempelajari buku yang dibawanya.


"Api kehidupan, masuk akal." Kata Langit bergumam sendiri.


Lalu di bagian kaki kiri, dia melihat simbol seperti dua kail pancing yang terikat satu sama lain dengan jalinan tali di tengahnya, menurut buku di sebelahnya, hal ini melambangkan keterikatan dengan dunia.


Di bagian kaki kanan, ada sebuah simbol seperti huruf 'T' yang ditulis kapital, namun dengan tambahan garis di tengahnya, hal ini dibahas di buku yang dia pegang dengan arti 'keseluruhan', yang maknanya sangat luas, dan bisa saja dengan maksud 'seluruh' dalam arti yang sebenarnya, yaitu langit dan isinya.


Tangan kanan bintang itu berbentuk seperti simbol untuk penyakit HIV/AIDS, namun kedua ujungnya menyatu tanpa membentuk 'X', dan huruf 'X' yang menghilang itu menyilang simbol tersebut seperti sebuah kesalahan.


"Umur X adalah umur 10, dan aktifitas seksual dilakukan umur 20, ini persyaratan tumbal." Gumam Langit.


Di bagian kepala bintang itu ada sebuah simbol seperti huruf 'X' namun dengan garis yang melintanginya seperti mencoret huruf tersebut, Langit belum tahu arti dari simbol ini karena masih membuka halaman demi halaman untuk mencari maksudnya.


"Apa ini, Safir?"


"Simbol dalam demonologi, tahu sesuatu?"


"Hm-m." Jawab Adam sambil menggeleng, "Demonologi bukan bidangku, Safir."


Langit mendengus dan terus membuka bukunya, namun tidak ketemu hingga halaman terakhir, sepertinya dia harus kembali ke rak buku dan mencari buku lain.


"Hm? Czaesar's Thoughts On Demonologi? Sepertinya ini bukunya."


Langit membuka buku itu, namun hanya memuat beberapa klasifikasi boneka dan mantera sederhana, dia berniat untuk mengembalikan buku itu sampai dia membuka halaman yang kosong melompong, tidak ada tulisan apapun di halaman itu meski dia membolak-baliknya.


"'Mengikuti jejak berliku menuju singgasana', mungkin?" Gumam Langit sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi berharap bisa mendapat pencerahan.


Ternyata, tintanya ada di dalam kertas dan membutuhkan cahaya agar bisa diterawang, "Haha, ini dia."


Langit membawa buku itu ke mejanya dan menyalakan flash di ponselnya, lalu menerawang halaman buku itu sambil menuliskannya di selembar kertas kosong. Adam yang melihatnya tertarik dan mencoba mengintip yang dilakukan Langit.


"Hei, kau bisa bahasa Ukrish lama?"


"A-ah, kau menangkapku basah, haha." Jawabnya sambil meletakkan buku, "Ukrish lama? Aku butuh waktu untuk mengingatnya bisa tolong ambilkan aku kamus Ukrish?"


"Tentu, tolong artikan ini untukku." Jawab Langit sambil memberikan kertas bertuliskan kalimat dalam bahasa Ukrish lama, lalu dia pergi ke petugas perpustakaan.


"Mari kita lihat, apa yang pria ini coba ingin tahu." Kata Adam berbicara sendiri sambil membaca kalimat di kertas yang diberikan Langit.


 


 


Is bedugnse dignoen ie is virdies gelmiue, oei kuris radote vi irafa, sutikite ivmintinga Baetrunejo schmogul prie altoriaus Solonnelio, paklauiskite hyo kas viyra gradshiau uzh bjaurumma.


 


 


"Orang bijak, kecantikan, dan keburukan? Dia sedang belajar filosofi dari buku demonologi?" Adam memegangi dahinya, "Ini sih, aku sudah lupa semua."


"Hei, aku dapat kamusnya." Kata Langit sambil memberikan buku kamus bahasa Ukrish kepada Adam, "Tapi ini Ukrish lama."


"Perubahan bahasa Ukrish tidak sesulit itu, ada banyak kosa kata lama di bahasa Ukrish modern, mereka hanya membuat kosa kata baru karena banyak objek temuan manusia di jaman modern." Jawab Adam panjang lebar sambil menuliskan sesuatu di bagian kosong di kertas yang Langit berikan.


Sambil menunggu Adam menerjemahkan kalimat yang ditulis Langit, dia mencoba berkeliling mencari buku lain yang mungkin bisa membantunya.


Demonologi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan rohani yang mempelajari tentang setan dan segala yang terkait dengannya, dalam beberapa agama tertentu, demonologi dikaji untuk mencari pengetahuan tentang siapa setan, apa pekerjaannya, apa hubungannya dengan orang beriman, dan seiring berjalannya waktu, makna sesungguhnya dari demonologi berubah menjadi kajian tentang ilmu hitam, sihir, relik, sejarah, dan bercabang hingga membahas bagaimana demonologi bisa menyembuhkan berbagai penyakit dengan bantuan setan.


Lambat laun, demonologi yang semula adalah ilmu pengetahuan sekunder, menjadi sebuah agama dan menyembah setan dengan mengorbankan seekor kambing setiap minggu dan meminumkan darahnya ke seorang perawan sukarela, hal ini terjadi di gereja setan di Kolumbia sebelum perang dunia ketiga, dan organisasi PBB mengeluarkan dekrit untuk menetapkan gereja setan dan apapun yang berhubungan dengan setan, menjadi ilegal.


Semua itu tercatat dalam buku yang ditulis oleh Anusha Ushapati dari Hmer, dan bukunya terkenal hingga saat ini di kalangan pastur, paus, biksu, dan tokoh agama lainnya.


Langit sudah menemukan buku yang dia cari, lalu dia kembali ke mejanya dengan Adam yang masih membuka lembar demi lembar kamus untuk menerjemahkan kalimat yang ditulis Langit.


"Kakak, bagaimana?"


"Setengah, hanya tinggal mencari arti simbol ini." Jawab Langit sambil menunjuk ke bagian kepala bintang.


"Loh, ini ada di sampul buku di rak sana." Kata Samudra sambil menunjuk ke rak buku yang agak jauh.


"Hah? Tapi di bagian demonologi tidak ada." Jawab Langit.


"Entahlah, itu rak bagian filsafat."


"Bisa tolong ambilkan untukku?" Kata Langit.


"Hm-m." Jawabnya sambil mengangguk lalu berjalan menuju rak buku yang dia maksud.


"Safir, aku sudah menerjemahkannya."


"Kemarikan."


Adam memberikan Langit kertas dengan kalimat yang sudah dia terjemahkan, ada banyak sekali coretan yang tidak rapi, namun hasil akhirnya ada di bagian paling bawah dari kertas tersebut.


 


 


Dari dasar jurang dan dari kedalaman hati, wahai engkau yang menemukan catatan ini, temui orang bijak dari Baetruneya di Altar Solonnel, tanyakan padanya apa yang lebih cantik dari keburukan.


 


 


"Kau yakin ini terjemahan yang tepat?" Tanya Langit.


"Tentu saja, aku ini seorang doktor, kau tahu?"


"Lalu apa ini Baetruneya dan Altar Solonnel?"

__ADS_1


"Mana kutahu, Safir." Jawab Adam, "Coba kamu cari di internet saja."


"Ini bukunya, kak." Kata Samudra yang baru saja datang dan memberikan bukunya pada Langit.


"Terimakasih."


Samudra duduk di sebelah kakaknya dan memperhatikan yang dia lakukan dengan seksama, siapapun pasti risih jika diperhatikan sampai seperti itu, namun Langit sudah terbiasa dan membiarkan adiknya melakukan hal apapun padanya, termasuk hal-hal berbau seksual.


"Samudra, carikan aku di internet tentang orang bijak Baetruneya dan sesuatu tentang Altar Solonnel."


"Iya."


Sementara Langit membaca buku dan berusaha mencari arti kepala bintang yang dirisaukannya, Samudra mencari petunjuk dari terjemahan yang dimaksud kakaknya.


"Kekuasaan atas hasrat, jelas sekali dia ini setan Keratos." Kata Langit bergumam dengan dirinya sendiri.


"Kak, Baetruneya itu situs kuno di bawah laut, di Laut Benoa."


"Laut Benoa masih di negara kita, lalu soal Altar Solonnel?"


"Itu peninggalan kuno di Gurun Merah."


"Itu baru masalah." Kata Langit.


Gurun Merah bukan bagian dari Republik Asia Serikat, tempat itu berada di Uni Emirat Timur-Tengah, dan jika pergi ke sana, akan dikenai sanksi karena negara itu masih menyimpan dendam dengan Republik Asia Serikat, hal ini disebabkan oleh negara Republik pernah menguasai minyak bumi di negara UETT selama 34 tahun hingga persediaan minyak bumi di sana hanya tersisa 9 persen, dan membuat negara UETT bangkrut dan menjadi negara serikat dengan kondisi ekonomi paling lemah nomor 4 di bumi.


"Urusan kita sudah selesai di sini, kita kembali ke sekolah."


"Iya."


"Adam." Langit memanggil Adam yang langsung menoleh, "Aku akan sering kemari."


"Haha, tentu saja kamu harus." Jawabnya.


Langit bersama adiknya keluar dari perpustakaan dan mengendarai mobil menuju sekolah, saat ini sudah jam 2 lebih sedikit, dan sebentar lagi bel pulang sekolah akan berbunyi, dia harus menjemput Petra dan mengamankannya.


"Halo?"


Langit menghubungi Petra, untung saja dia tidak melupakan ponselnya sebelum berangkat sekolah.


"Petra, aku menunggu di depan gerbang sekolah. Kemari jika sudah bel." Kata Langit.


"Iya, aku langsung ke sana saja sekarang, kelasku selesai lebih cepat."


Langit mematikan panggilannya dan melanjutkan perjalanannya, selama perjalanan, Samudra lebih banyak diam. Biasanya, dia bersenandung sendiri dan menyanyikan lagu yang disukainya sepatah-sepatah karena dia tidak hafal liriknya yang berbeda bahasa dengan yang dipelajarinya.


"Hei." Kata Langit membuyarkan lamunan adiknya, "Kamu boleh duduk di sini."


"Benar?"


Langit hanya mengangguk, lalu adiknya beranjak dari kursi dan duduk di pangkuan kakaknya hingga wajah mereka saling berhadapan.


"Beratku bertambah?"


"Tidak, seperti biasanya."


Samudra tersenyum, dia tidak bisa leluasa bergerak saat dipangku kakaknya yang sedang menyetir, takut kecelakaan. Namun hal itu bisa dia atasi karena dia lebih pendek dari kakaknya, dan meletakkan dagu di bahu kakaknya bukan hal yang sulit dilakukan.


"Aku sayang kakak."


Langit diam saja ketika adiknya mengatakan hal itu di dekat telinganya.


"Jangan tinggalkan aku, aku membolehkan kakak ikut campur urusan ini karena orang tua kita, tapi kalau aku sampai kehilangan kakak, aku bingung-"


"Sudahlah, Oakrose akan menyelesaikan tugasnya paling lama besok malam, dan aku tidak akan mati semudah itu."


"Meski selalu meleset saat menembak pistol?"


"Diamlah."


"Hihihihi."


Langit berbelok di sebuah perempatan, hanya tinggal lurus saja hingga sampai di sekolahnya.


Menyadari hal ini, Samudra beranjak dari pangkuan kakaknya dengan hati-hati, lalu duduk di kursi belakang.


Sesampainya mereka di depan gerbang sekolah, Petra langsung mengenali mobil Langit dan segera masuk ke kursi belakang.


"Permisi."


"Iya." Jawab Samudra.


Langit kembali menyetir dan menuju apartemennya, di dalam perjalanan, Samudra banyak bercanda dengan Petra dan membuat suasana sedikit cair.


***


Langit merebahkan dirinya di kasur, rasanya sangat nyaman, dia sudah lama tidak merasakan kasurnya karena setiap dia merebahkan dirinya di kasur, dia langsung terlelap dengan semua mimpi buruk tentang bagaimana dia akan gagal jika tidak menarik pelatuknya lebih cepat, atau tali yang digunakannya saat memanjat helikopter terputus dan membuatnya terjatuh dari ketinggian.


'Heehk!' Langit membelalak.


Kepalanya terasa berat dan sangat sakit, sementara pandangannya kabur dan tidak bisa dikendalikan.


Dadanya terasa sesak, dia memegangi dadanya dan berusaha menekan rasa sakit di dadanya.


Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya.


'Apa-apaan itu tadi?' Pikir Langit dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Langit, kamu sudah tidur?"


"Heh? Oh, kau rupanya.." Jawabnya saat Petra masuk ke dalam kamarnya sambil membawa pemukul bisbol dan beberapa tali.


"Baiklah, aku gak akan ganggu." Kata Petra sambil keluar dari kamar Langit dengan wajah kecewa.


"Ada apa, kak?" Tanya Samudra yang baru saja mengenakan celana dalam dan duduk di sofa.


"Kakakmu sudah tidur, haah." Katanya sambil menghela nafas, sementara Samudra menyalakan tv.


"Well, gimana kalau aku yang melakukannya?"


"Rasanya beda." Jawab Petra sambil meletakkan pemukul bisbol milik Langit ke tempatnya semula, lalu dia mengencangkan kalung lehernya dan melepas seragam sekolahnya.


"Hmm, ternyata begitu."


Petra hanya mengenakan bra dan celana dalam, lalu dia mengambil beberapa koran yang sudah kadaluarsa dua hari di bawah rak sepatu, setelah menata koran-koran itu sedemikian rupa, dia mengikat kedua kakinya dengan tali, menariknya dari belakang dan mengikatnya ke kalung lehernya, setelah itu dia mengikat kedua tangan di belakang tubuhnya dan tidur dengan nafas sesak dan wajah yang merah padam beralaskan koran kadaluarsa.


Samudra yang melihatnya merasa agak terganggu, mana mungkin orang bisa nyaman tidur saat kakinya tertekuk ke belakang dan apabila dia mencoba meluruskan kakinya, maka lehernya akan tercekik dan kehabisan nafas.


Namun dia terlihat menikmatinya, dan berusaha keras untuk bernafas hingga keringatnya menetes dan membasahi tumpukan koran yang dijadikannya alas untuk tidur.


Sambil tetap menyalakan tv, Samudra merebahkan dirinya di sofa dan menonton film kesukaannya yang menceritakan kisah kepahlawanan raja Arthur yang dikisahkan terjadi di abad pertengahan, ceritanya menarik bagi Samudra hingga dia sadar kalau sekarang sudah jam 4 lebih sedikit.


"Kakak, bangun."


"Hm?" Jawabnya mengerang sambil membalikkan tubuhnya, dia masih belum sadar sepenuhnya.


"Bangunlah, mmh-m." Kata Samudra sambil mencium bibir kakaknya, "Sudah jam 4 sore, kata kakak harus pergi?"


"Hm-m." Langit membuka matanya, wajah adiknya begitu dekat dengannya, lalu dia bangun dan duduk di kasur dengan adiknya yang sudah turun dari kasur.


"Iya, dimana Petra?"


"Tidur di ruang tengah." Jawab Samudra sambil tersenyum.


Mereka berdua keluar dari kamar, Langit mendapati Petra masih terlelap dengan lehernya yang tampak tercekik, dia mengambil pemukul bisbol miliknya dan memukul pinggang Petra.


"Aahk-heegh!" Dia berteriak, karena refleks, kakinya tak sengaja mencoba untuk lurus dan mencekik lehernya.


"Jaga rumah, aku pergi agak lama." Kata Langit sambil meletakkan pemukulnya kembali lalu keluar dari apartemen.


Baju yang dibelinya bersama Samudra masih ada di bagasi mobil, rencananya akan dipakai setelah keluar dari salon untuk merapikan diri.


Sesampainya di salon paling dekat dengan apartemen, hal yang pertama dilakukan oleh keduanya adalah mandi dan keramas dengan beberapa bantuan dari pihak salon yang membuat Langit merasa risih.


"Kak, rapikan rambut dan jenggot kakakku." Kata Samudra kepada salah satu karyawan yang ada di sana.


"Ingin model apa? Rambut kakakmu ini sepertinya sudah agak panjang."

__ADS_1


"Dirapikan saja, dan buat dia berkilau." Kata Samudra.


"Baiklah."


__ADS_2