
Garuda
Keduanya berjalan menuju loker Langit, lalu mengambil laptop dan pergi ke kelas selanjutnya. Ketika mereka masuk, semua mata tertuju pada mereka, karena mereka asing dan ini pertama kalinya mereka masuk ke kelas ini.
"Umm, ahh, kalian ternyata, masuklah." Kata si guru setelah sadar bahwa dia kedatangan murid akselerasi, "Saya baru dikabari tadi, mereka ini murid akselerasi, silakan perkenalkan diri lalu duduk."
"Aku Langit, ini Samudra, selamat siang." Kata Langit singkat lalu langsung duduk di bangku kosong yang tersisa di barisan belakang dekat pintu.
"Baiklah, bapak akan lanjutkan, jadi, pada jaman Mesopotamia-"
Langit membuka laptopnya sambil terus mendengarkan gurunya menerangkan materi, adiknya hanya duduk diam dan mendengarkan guru tanpa melakukan apapun.
Hingga bel pulang sekolah berbunyi, Langit pergi ke ruang guru sementar adiknya pergi keluar kelas dan segera berjalan menuju mobilnya yang diparkir di parkiran guru lalu menunggu hingga Petra dan kakaknya datang.
"Ah, maaf lama." Kata Petra sambil masuk ke dalam mobil, "Aku lupa tempat parkir mobil kita."
"Tak apa, kak. Masuklah." Jawab Samudra.
Keduanya menunggu agak lama di mobil dan menghabiskan waktu dengan bercerita tentang bagaimana mereka tadi di kelas.
"Lalu dia melompat waktu kodoknya loncat, hahaha."
"Aduh, kak Petra, hahaha."
"Kalian bersenang-senang?" Kata Langit yang tiba-tiba datang, "Kita ke tempat lain dulu, masuklah."
Pintu depan dibuka oleh Langit dan Vianji masuk ke dalamnya, ternyata Langit mengajaknya untuk pulang bersama selama Samudra dan Petra menunggu di dalam mobil.
"Hai, bu Vianji."
"Bu Vianji? Kenapa ada di sini?"
"Well, aku akan mengantarnya pulang, karena jemputannya tidak datang." Jawab Langit sambil menyalakan mobil dan pergi dari sekolah.
"Langit, umm."
"Oh, dia? Dia penghuni apartemen, dia tidak punya kendaraan, jadi menumpang mobilku." Jawab Langit yang paham dengan situasinya, "Ada apa, Vianji?"
"Ah, nggak, kukira siapa."
Langit berhenti di depan rumah yang sederhana di sebuah perumahan negara di daerah Prisma, hanya satu lantai dengan garasi dan beranda yang tidak begitu besar.
Setelah itu dia keluar dan membukakan pintu Vianji.
"Ayo, kuantar kau ke depan rumah." Kata Langit sambil meraih tangan Vianji.
Tanpa berbicara apapun, Vianji menuruti kemauan Langit sambil malu-malu, dia masih belum terbiasa dengan perlakuan Langit terhadapnya.
Tok tok tok!
Pintunya dibuka setelah langit mengetuknya, dan ada Ayinda, ibu Vianji di depannya.
"Selamat siang, aku mengantar Vianji ke rumah." Kata Langit, "Kalau begitu aku pulang dulu."
"Tidak mampir dulu?" Tanya Ayinda.
"Tidak perlu, aku sedang ditunggu adikku."
Langit pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri di pintu rumah, mobil yang dikendarainya menghilang dari pandangan Ayinda dan Vianji setelah berbelok di pertigaan.
"Masuklah, sayang." Kata Ayinda, "Gimana di sekolah tadi?"
Vianji meletakkan tasnya di sofa lalu duduk sambil mengambil nafas panjang.
"Hoaaam, yah, adiknya Langit sudah naik ke kelas 3, lalu tadi kami makan bareng."
"Makan bareng?"
"Iya, dia traktir aku di kantin." Jawabnya.
"Vianji, ibu dan ayah senang karena sebentar lagi kamu menikah." Kata Ayinda sambil duduk di samping Vianji dan memegang tangannya, "Bagaimana cincin yang ibu berikan kemarin?"
"Dia bilang dia sudah beli cincinnya sendiri, tapi akhirnya dia bilang akan pakai keduanya."
"Hahaha, dasar anak kecil."
"Dia masih 17 tahun, beri dia nafas, bu."
"Hahaha." Mereka tertawa bersama di sofa.
Di sisi lain, Langit yang sudah sampai di apartemen dicecar dengan banyak pertanyaan dari Petra, tentang siapa wanita yang duduk di kursi depan tadi, kenapa dia memakai cincin, kenapa diantar hingga ke depan rumah, hingga menangis, lalu kelelahan dan tertidur seperti anak kecil.
Langit yang tidak tega, mengangkatnya dan menidurkan Petra di kasurnya.
"Menurut kakak?" Tanya Samudra yang sedang duduk di sofa, konteks pertanyaannya langsung dimengerti oleh Langit selagi dia mengambil segelas air di kulkas.
"Dia akan mati di operasi berikutnya." Jawab Langit sambil berjalan menuju adiknya dan duduk di sampingnya.
"Operasinya kapan?"
"Entahlah, yang pasti, aku punya firasat jelek soal ini."
Ponsel Langit berdering, nama Panda muncul di layarnya.
"Archer, aku sudah ambil semua rekaman, detektif sudah terjun ke lapangan."
"Aku akan ke markas."
Langit menutup ponselnya lalu berdiri, "Kita ke markas."
"Oke."
Setelah masuk ke kamarnya dan memukuli Petra hingga dia pingsan, Langit menuliskan pesan di kertas yang diletakkannya di meja agar Petra tidak meninggalkan rumah.
Langit dan adiknya lalu keluar dari apartemen dan meninggalkan Petra bersama dengan Senja yang belum pulang dan kuli proyek yang sedang merenovasi apartemen Langit.
Sesampainya di markas, Panda langsung menuntun Langit ke ruangan dengan layar monitor yang sangat banyak, semuanya berjumlah 60 monitor, dan Langit memang meminta hal ini kemarin.
Setelah duduk di kursi dengan sandaran yang cukup nyaman, Langit dan adiknya kini bisa melihat semua layar monitor itu dengan jelas.
"Aku mulai." Kata Panda
Semua layar monitor itu menayangkan rekaman kamera pengawas yang diminta Langit, semua tayangannya diputar secara bersamaan, dan ini memudahkan Langit untuk menginvestigasi rekaman ini bersama dengan adiknya.
"Aku keluar dulu, Archer." Kata Panda.
"Ya." Jawab Langit.
"Panggil saja aku kalau butuh sesuatu."
Panda meninggalkan Langit bersama adiknya di ruangan penuh monitor ini dan tidak mengganggu mereka.
"Kak?"
"Hm?"
"Apa yang kita cari?"
"Cari apapun yang terasa janggal."
Samudra mengangguk sambil terus memperhatikan layar monitor, "Apa yang terjadi dengan Stewart?"
"Kita tidak perlu tahu, mungkin Oakrose menjual mereka."
"Lalu, soal Vianji?"
"Ada apa dengannya?"
Samudra menggeser kakinya untuk sekadar berganti posisi.
"Yah, kakak tiba-tiba melamar dia."
"Dia bisa kuperalat, bisa hamil, dan aku memang perlu anak laki-laki."
"Kenapa?" Tanya Samudra lagi.
"Aku sedang merombak semua rumah kita, mereka akan kujadikan restoran. Saat aku mati nanti, keturunanku yang akan meneruskannya."
"Kenapa tidak berikan saja padaku? Aku juga bisa hamil."
"Akan kupertimbangkan jika kamu tidak akan menikah, dan kita ini bersaudara."
Samudra diam, dia tahu kalau kodratnya sebagai seorang wanita adalah mengikuti kemauan pria yang menjadi kepala keluarga, namun dia sama sekali tidak ingin jauh dari kakaknya bahkan setelah menikah.
__ADS_1
"Yah, aku ingin menikah sih."
"Kamu masih umur 16, masih lama untukmu menikah."
"Tapi kakak umur 17 dan akan menikah."
"Senyamanmu, lagipula, aku percaya adikku selalu memilih hal yang bagus." Jawab Langit sambil memegang tangan kanan adiknya dengan tangan kiri.
Samudra tersenyum, dia membalas genggaman tangan kakaknya, jari-jari mereka bertautan dan tetap dalam keadaan ini hingga 8 jam ke depan.
"Hei, kak."
"Hm?"
"Tidak lapar?"
"Kamu lapar?"
"Ih, kebiasaan." Kata Samudra sambil mencubit telapak tangan kakaknya ringan, "Kalau ditanya malah nanya balik."
"Kamu juga kebiasaan, selalu bilang kebiasaan saat aku lakukan kebiasaanku." Jawab Langit yang disambut dengan tawa kecil adiknya.
"Yah, lagipula ini sudah waktunya makan." Kata Langit yang lalu mengambil radio dan memencet tombol untuk berbicara dengan Panda, "Kami butuh makanan."
"McArthur saja mau?"
"Dua paket, kalau begitu." Jawab Langit saat ditawari makanan cepat saji dari restoran ayam goreng terkenal di negaranya.
"Baiklah."
Langit melanjutkan mengamati layar monitornya yang menayangkan rekaman 6 hari yang lalu.
Butuh waktu 8 jam untuk menghabiskan satu hari rekaman yang dipercepat penayangannya sebanyak 3 kali. Masih belum ada kejanggalan sejauh ini.
"Archer, ini makan malammu." Kata Panda sambil meletakkan pesanan Langit di meja kecil.
"Oh! Stop!" Kata Langit dengan suara yang agak keras, "Mundurkan sedikit."
"Iya."
Samudra memundurkan tayangannya sedikit, Langit mendekati monitor nomor 38 dan berfokus di sana, "Stop, tayangkan lagi kecepatan normal."
"Oke."
Langit melihat beberapa orang keluar dari mobil sedan berwarna hitam dan diam di pinggir jalan hingga ada mobil van tanpa plat nomor datang, lalu mereka langsung masuk ke bagian belakang.
Mobil van itu lalu pergi dan menghilang di ujung jalan, setelah itu Langit memperhatikan monitor lain yang menayangkan mobil van putih tersebut hingga berhenti di depan perusahaan farmasi Mediatek di tengah kota.
"Panda, ada laporan kehilangan di tanggal 12?"
"Oh, sebentar, akan kulihat." Jawabnya sambil keluar, lalu kembali lagi dengan beberapa kertas yang baru saja dicetak dari mesin cetakan, "Ada 2 kasus."
"Yamauchi Urara, dan Hanji Corper, keduanya belum ditemukan."
"Mediatek?" Tanya Samudra.
"Mungkin, oh?" Langit tersadar sesuatu dan mengingat-ingat kembali yang ditemukannya di perpustakaan kota, "Panda, kertas dan pulpen."
"Iya." Jawabnya sambil keluar dengan tergesa-gesa dan kembali lagi membawa setumpuk kertas dan beberapa pena.
"Hmm, seingatku seperti ini." Kata Langit setelah menulis di selembar kertas.
Dari dasar jurang dan dari kedalaman hati, wahai engkau yang menemukan catatan ini, temui orang bijak dari Baetruneya di Altar Solonnel, tanyakan padanya apa yang lebih cantik dari keburukan.
"Ayah Yamauchi Urara adalah seorang pengusaha yang memulai usahanya dari nol, saat diwawancarai di Daily Petral, dia cerita kalau dia sangat miskin hingga dia membangun Tempral Pharma." Kata Langit sambil menggaris bawahi satu kalimat di kertasnya, "Dia adalah orang dari dasar jurang."
"Ah, soal ayah Hanji Corper, dia itu saingan berat dari Mediport." Kata Samudra yang mengintip kertas kakaknya.
Langit tersenyum, dia mengelus kepala adiknya sebagai sebuah pujian, Samudra yang diperlakukan seperti itu tersenyum lebar.
"Lalu, Archer? Bagaimana soal sisanya?" Tanya Panda sambil ikut mengintip kertas Langit, "Uhh-mm, orang bijak dari Baetruneya di Altar Solonnel?"
"Sonoles adalah sebuah agama yang berkembang sejak era Shinto berakhir, salah satu kuil yang terkenal adalah kuil Bernuinya di kota Paye, tapi tidak ada satu petunjuk apapun soal Altar Solonnel."
"Jalan buntu lagi?" Tanya Panda.
"Ya, jalan buntu lagi." Jawab Langit sambil mengambil ayamnya yang mulai dingin dan mengunyahnya perlahan, "Tayangkan lagi rekamannya."
"Iya." Jawab Samudra sambil duduk di kursi dan menekan remot.
Mereka menghabiskan nyaris semalaman di dalam ruangan ini untuk mengamati rekaman kamera dari hari pertama hingga hari ketiga.
Sekarang sudah jam 10 malam, dan Samudra sudah sangat mengantuk.
"Kamu makin sering menguap." Kata Langit saat melihat adiknya sedang menguap untuk kesekian kalinya, "Tidurlah, aku yang akan melanjutkan ini."
"Tak apa?"
"Tidak, kemarilah."
Samudra menyeret kursinya supaya lebih dekat ke kakaknya, lalu Langit mengelus kepala adiknya hingga dia tertidur, sementara Langit meneruskan pekerjaannya dengan tidak tidur hingga pagi hari.
Keesokan harinya, Panda masuk ke dalam ruangan dan mendapati Langit dalam kondisi yang amat buruk. Matanya merah, kantung matanya menebal dan menghitam, nafasnya memburu, dan kesulitan untuk bernafas.
"Archer, istirahatlah." Kata Panda sambil meletakkan tangannya di pundak Langit untuk menyemangatinya, "Bahaya untukmu jika kelelahan, tidurlah sebentar, akan kujeda tayangan ini sampai kamu bangun."
Langit tidak menjawab, tapi wajahnya menunjukkan bahwa dia setuju dengan usulan Panda untuk beristirahat.
"Ini, kuambilkan selimut, kamu bisa tidur di lantai kan?" Kata Panda sambil membentangkan selimut di lantai, mereka tidak punya kasur, dan sofa di depan terlalu sempit untuk Langit dan adiknya.
"Kemarilah, Archer." Kata Panda sambil membopong lengan Langit.
Setelah membopongnya ke selimut di lantai, Panda menggendong Samudra dan menidurkannya di sebelah Langit. Setelah itu dia keluar dan duduk di sofa sambil memikirkan operasi selanjutnya.
'Sekarang sudah jam 12 siang, seharusnya Prinses sedang di sekolah. Aku ingin diskusi soal temuan Archer dengannya.' Pikir Panda sambil merebahkan dirinya di sofa.
'Kapan ya, kasus ini selesai.'
Setelah beberapa jam, Langit keluar dari ruangannya dengan mata yang bengkak, hidung yang penuh dengan ingus seperti pilek, dan nafas yang memburu.
"Panggil semua anggota, kita rapat operasi malam ini."
"Oke."
Sudah sangat lama sejak Langit tertidur di ruangan yang penuh dengan monitor, dan setelah bangun lalu keluar dari ruangannya, Langit mengumpulkan semua anggota tim khusus di markas, bersamaan dengan adiknya yang baru bangun, dia langsung membuka peta Kyuto.
"Oh ya, kita punya anggota baru?" Tanya Langit saat melihat banyak wajah baru di tim ini.
"Iya, mereka menggantikan posisi runduk yang kosong." Jawab Putri, "Yang itu Su 'Ela' Jin, yang di tengah namanya Shao 'Judas' Gulin, dan yang terakhir Bunga 'Belyn' Ayunda."
"Dua orang asia timur dan satu asia tenggara, kalian bisa bicara Bahasa Republik?" Tanya langit.
"Bisa."
"Ya."
"Bisa."
"Karena kalian masuk ke tim ini, aku sudah tidak akan meragukan kemampuan kalian baik di pertempuran jarak dekat dan jarak jauh." Kata Langit sambil menggeser peta Kyuto di meja.
"Tim runduk akan berada di atas gedung, dan tim assault, khususnya Harpy."
Ketika Langit mengatakan nama Harpy, dia merasa terpanggil dan refleks menoleh karena sepertinya ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan padanya.
"Ya?"
"Aku ingin kau memiliki Abominator." Kata Langit lalu menoleh ke Putri, "Prinses, katakana itu pada atasan dan bilang juga ke profesor, dia butuh proyektil HV dan LV masing-masing 5 buah."
"Baik."
"Oke, akan kucatat."
"Kita butuh pilot, katakan juga ke atasanmu kita butuh pesawat tempur anti-artileri PI24 Rattlesnake."
"Tapi itu akan memakan waktu, Archer." Kata Putri memberikan pertimbangan.
"Katakan saja Javelin F-N9 sebagai alternatif."
"Oke, akan kucatat, ini berarti kita membutuhkan pilot, 'kan?"
__ADS_1
"Aku ingin seseorang yang tidak punya rasa takut untuk meluncur dari Stratosfer dan menembakkan misil bor dalam kecepatan 2 mach."
"Archer, itu gila!" Kata Panda menolak pernyataan Langit, "Apa yang kau rencanakan?!"
Langit menggeser petanya dan memperlihatkan sebuah gedung perusahaan farmasi.
"Gedung ini akan dihancurkan, tapi jika kita menggunakan bom, pecahannya bisa membunuh orang-orang dalam radius 800 meter." Kata Langit, "Ini adalah gedung target kita, milik perusahaan Mediport, aku menyuruh menggunakan misil bor bukan untuk meledakkan satu gedung, aku ingin tahu yang ada di dasarnya."
"Dasarnya? Ada apa dengan dasarnya?" Tanya Panda.
"Aku punya firasat bagus kita akan menemukan sesuatu di lantai bawah gedung 12 lantai."
"Kali ini juga firasatmu?" Tanya Harpy, "Aku tahu aku gak berhak bilang ini, tapi, Archer, aku, aku sedikit ragu."
"Aku setuju dengan Harpy." Kata Ela, "Aku melihat rekam jejakmu di catatan, tapi semuanya tidak berdasar."
"Aku sama dengan Harpy."
"Aku juga agak ragu."
Langit menghela nafas, dia meninggikan dagunya dan mengambil nafas dalam-dalam untuk dikeluarkan lagi.
"Aku." Langit mulai berbicara, "Aku Langit Safir, kode Archer, dan aku, belum pernah meleset."
Langit menurunkan dagunya dan menatap semua anggota satu per satu, "Kali ini pun aku tidak akan meleset."
Samudra tersenyum saat kakaknya mengatakan hal itu, alis Putri bertautan, Panda masih ragu, dan sisa anggota lain tidak bisa membantah meski mereka sangat ingin membantah.
"Kalian yang bernah bertugas denganku pun, pasti selalu kaget karena aku ini seperti peramal." Kata Langit melanjutkan kalimatnya, "Pertanjang, Jembrana, Harphia, kalian kira aku tidak tahu keragu-raguan kalian?"
Semua diam saat Langit berbicara, mereka terlalu takut dengan semua kebenaran yang dikatakan Langit.
"Keragu-raguan kalian bisa membuat kalian mati, lihat mereka, Garuda, Loki, Karin, ketiganya mati karena ragu."
"Oke, Archer, itu keterlaluan, mereka sangat berja-"
Plak!
Langit menampar Naga dengan sangat keras hingga dia tersungkur, Naga meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang nyeri dan telinganya yang terasa bising.
"Kau kira aku tidak butuh mereka?" Kata Langit dengan wajah yang memperlihatkan bahwa dia sangat marah.
"Ma-maaf." Kata Naga dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan.
"Stick to the plan, ini adalah struktur gedung Mediport, atapnya terbuat dari beton campuran yang amat padat. Ketebalannya setebal 8 meter. Jika kita punya pesawat tempur yang bisa menukik seperti seri Rattlesnake terbaru, kita bisa menembus bangunan ini."
"Uh, Archer, kita merubuhkan gedungnya?" Tanya Miru.
"Tidak, kita hanya akan melubanginya saja. Jika kita pakai misil pengebor, aka nada lubang selebar 1 kaki, kita butuh misil pengebor Valkrye, daya hancurnya akan membuat lubang selebar 5 kaki, ini cukup untuk satu orang meluncur ke dalam."
"Setelah dilubangi, lalu apa?" Tanya Putri.
"Kita akan pastikan dulu, kalau di lantai terbawah ada besi yang melapisi lantai, kita dapat jackpot." Jawab Langit sambil menutup peta, "Ada pertanyaan?"
Tidak ada yang bertanya, semuanya diam.
"Tahap operasi ini ada 3, yang pertama adalah mengebor atap gedung secara vertikal hingga dasar, tahap dua tim assault akan meluncur ke dasar, jika lantainya lantai besi." Langit berhenti sebentar sambil mengeluarkan pistol dari saku Panda dan meletakkannya di meja, "Kita bantai mereka. Semua mengerti?"
"Siap! Mengerti!" Jawab mereka semua hampir bersamaan.
"Bersiaplah, kita pergi ke Kyuto dua jam lagi." Kata Langit, "Ranger, nama operasi."
"Hmm." Samudra memegangi dagunya, "Curtain Call."
Langit mengangguk lalu melirik Putri agar dia memulai operasi secara resmi, "Operasi Curtain Call, dimulai."
Langit membereskan peralatannya di gudang senjata, perlengkapan yang dia bawa hampir sama seperti terakhir kali di diterjunkan. Sepasang pistol, sebuah busur silang, pisau bayonet, dan beberapa anak panah dengan fungsi yang berbeda-beda.
"Ada yang kamu perlukan?" Tanya Langit pada adiknya.
"Kakak bawa busur?" Tanyanya, "Nekat sekali."
"Aku Cuma mengikuti nama yang diberikan padaku, Archer kan pemanah." Jawabnya.
"Berarti kalau aku Ranger, aku harus bertarung di jarak dekat dan jauh?" Tanya Samudra, "Tapi aku tidak bisa menembak, aku belum pengalaman."
Langit mengisi amunisinya dan hanya membawa sepasang magazin, dia tidak perlu membawa banyak kali ini.
"Bawa saja yang menurutmu berguna. Oh ini." Langit mengambilkan granat kilat, "Bawa beberapa granat ini, bisa membutakan musuh."
"Oke." Jawab Samudra sambil mengambil beberapa granat kilat dan memasangnya di slot di pinggangnya.
"Archer, laporan dari markas pusat." Kata Putri sambil masuk ke dalam gudang senjata, anggota lain yang sedang bersiap di sana tetap melanjutkan aktifitas mereka untuk bersiap-siap.
"Ada apa?"
"Mereka setuju mengirimkan PI12 Rattlesnake dan Abominator untuk Harpy."
"Bagus, kerja kita akan lebih mudah. Surat-suratnya?"
"Sedang dilaminasi Panda, kita berangkat pakai van ke hangar lalu naik helikopter ke Kyuto." Katanya lagi sambil menggeser-geser layar tabletnya.
"Bagus." Jawab Langit sambil memakai pelindung lututnya, "Kembali sana."
"Haah, sopanlah sedikit, aku ini kaptenmu." Jawab Putri sambil keluar dari gudang senjata.
"Naga dan Miru, bawa beberapa peledak biasa, peledak termit dan pelontar granat asap, amunisinya yang banyak."
"Siap."
"Siap!"
Ponsel Langit berdering, nama Petra muncul di layarnya.
"Halo, Petra?"
"Ha-halo, Langit, kamu di mana?"
"Aku sedang ada keperluan di luar kota, mengawasi renovasi."
"Aah, kukira kenapa, aku cemas sekali, tadi pagi aku pergi naik ojek."
"Petra, jaga rumah ya, aku mengandalkanmu selama aku pergi." Kata Langit sambil memasukkan kabel tungsten di dalam tasnya.
"A-aah, baik, aku lakukan."
Langit menutup ponselnya dan melanjutkan kegiatannya bersiap-siap. Dia melihat adiknya yang membawa sebuah senapan kecil, namanya MP-7, jumlah pelurunya bisa mencapai 30, dan bisa menggunakan ekstensi hingga 40, tembakannya cepat, dan dampaknya ringan.
"Kamu yakin?" Kata Langit.
"Berat badanku harusnya cukup, lagian ini Cuma MP-7, seharusnya aku bisa." Jawab Samudra.
Langit melihat jam tangannya, jarumnya menunjukkan pukul 2 lebih 50 menit.
"Segera ke depan dalam 10 menit!" Kata Langit.
"Siap!" Jawab semuanya nyaris bersamaan.
Langit bersama adiknya pergi ke luar, sementara Yuri dan Kepler sudah berada di dalam van, setelah naik van dan duduk di dalamnya, Langit ditawari rokok oleh Yuri, namun dia menolaknya.
"Kamu bisa mati." Kata Langit saat ditawari rokok.
"Hahaha, aku saja tidak tahu hari ini hidup atau tidak."
Satu per satu anggota muncul dan masuk ke dalam van, jam tangan Langit menunjukkan pukul 3 tepat.
"Kita berangkat." Kata Langit.
"Oke."
Kedua van itu melaju dengan kecepatan tinggi, sirine mereka berbunyi kencang membuat orang lain segera menyingkir dan memberikan jalan. Langit merasakan sesuatu yang agak berat di sekitarnya, namun dia hirau dan tetap fokus dengan misi.
Sesampainya mereka di hangar, Langit bersama anggota timnya langsung turun dan melihat dua helikopter tempur yang sudah memutar baling-balingnya. Ada beberapa orang sedang menunggu di bawah salah satu helikopter itu.
"Kau Archer?!" Tanya pria itu sambil berteriak, suara mesin dan baling-baling helikopter membuatnya susah didengarkan.
"Ya!"
"Ini Abominator! Hanya ada 5 peluru! Hati-hatilah!"
"Ya! Harpy!"
Harpy mengambil senapan Abominator dari pria itu dan menata semua peluru berukuran besar seperti bola meriam.
"Semoga sukses!" Kata pria itu.
"Ya!" Jawab Langit sambil masuk ke helikopter diikuti oleh anggota timnya.
__ADS_1