Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Why is it so calm??


__ADS_3

Kepala bagian belakang Langit dilempar sepatunya sendiri dari belakang, membuat dahinya menabrak meja dan memanaskan darahnya.


Langit berdiri dari kursinya, dia menghampiri si pengawas yang melempar sepatunya.


"Mau apa kau, hah? Aku ini orang pemerintahan, anak kecil sepertimu seharusnya jan-heehhk!"


Langit mencekik leher pengawas itu dan menyeretnya keluar, orang-orang yang melihatnya panik, apalagi pengawas yang lain.


"He-hentikan! A-aku, aaaahh!"


Langit memukuli wajah si pengawas hingga dia babak belur penuh dengan luka, orang-orang yang melihatnya hanya bisa meneriaki Langit agar berhenti, namun tidak berani untuk mendekatinya.


"Hei! Langit! Hentikan!" Pak Darmaji berlari menuju Langit dan mencoba menghentikannya.


"Aaahh!"


Dengan cepat Langit menendang perut pak Darmaji, lalu berputar dan melayangkan kakinya di rahang pak Darmaji, membuat gigi palsunya terlepas.


"Hei! Bantu aku!" Teriak guru lain.


"Tangkap dia!"


Langit dikepung oleh 3 orang guru olahraga dan 2 satpam, namun Langit membuat mereka semua tidak sadarkan diri dengan menghantam kepala mereka menggunakan kepalan Langit yang sangat keras.


"Langit."


Langit menoleh, dia mengangkat tinjuannya dan melayangkannya menuju wajah orang yang memanggil namanya, namun meleset, Langit menyadari yang memanggil namanya barusan adalah adiknya, Samudra, dan di detik terakhir, dia membelokkan tinjuannya dan tidak mengenai wajah adiknya.


"Tenanglah, tenang." Kata Samudra sambil membukakan botol air minum yang dia bawa, "Jangan marah, ya?"


Langit dengan nafas terengah-engah yang berusaha dia padamkan dengan bernafas panjang, menerima botol air minum itu dan menghabiskan isinya.


"Sudah?" Tanya Samudra sambil mengambil botol air minumnya kembali.


Langit hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara apapun, dia melihat sekelilingnya, orang-orang sangat takut terhadapnya, apalagi guru-guru yang berusaha meredam amarahnya dengan kekerasan tadi, pengawas yang dihajar habis oleh Langit sedang dinaikkan di atas tandu dan akan dibawa ke ruang kesehatan.


"Langit, apa yang kamu lakukan?" Tanya Vianji yang melihat kejadian ini.


Putri yang melihatnya juga kaget, betapa tidak stabilnya emosi Langit ketika dia sedang melakukan sesuatu namun diganggu. Dia memang lebih cocok untuk memimpin sebuah tim yang siap mati, daripada dijadikan seorang tentara yang menerima perintah dari atasan.


'Bahkan komandan pun tunduk padanya.' Pikir Putri sambil menelpon Panda dan meminta bantuan untuk melindungi Langit secara politik dan birokrasi.


"Panda, pergilah ke sekolah, Archer membuat masalah." Katanya.


"Masalah apalagi yang dia buat?"


"Bawa saja borgol, alih-alih menangkap dia karena kasus pemukulan guru, kita bebaskan dia besok."


"Baiklah."


Langit berada di ruang guru, dia sudah menyelesaikan ujian mata pelajarannya, namun belum mempresentasikan karya tulisnya. Dia berada bersama para guru olahraga, satpam, dan pengawas ujian yang dia hajar habis-habisan, juga seorang kepala sekolah dan saksi yang melihat kejadian itu.


"Jadi, Langit Safir. Mari kita dengar pendapatmu dulu." Kata kepala sekolah yang duduk di kursi tengah.


Langit menyilangkan kakinya, dan melipat kedua tangannya di dada, dia melakukan hal ini untuk menyatakan dominasi dirinya di pengadilan remeh seperti ini.


"Ujian membutuhkan konsentrasi, konsentrasi membutuhkan ketenangan, orang yang wajahnya rusak itu berbicara dengan temannya, telingaku panas, lalu aku kirimkan sepatu bagusku padanya agar dia diam."


Kepala sekolah mengangguk, dia lalu menoleh ke pengawas ujian, "Apa benar begitu?"


"Tidak, pak, saya tidak berbicara sekeras itu."


"Tapi cukup keras untuk terdengar di telingaku." Kata Langit sambil mendongak.


Reputasi Langit yang menakutkan para guru di sekolah membuatnya semakin mendominasi pengadilan kecil ini, pak Darmaji kehilangan giginya dan harus beli baru, mengingatkannya pada trauma masa lalu, sementara guru lain ingin Langit dihukum, namun tidak berani mengatakannya.


"Kyouko-san, bagaimana menurutmu?" Tanya kepala sekolah pada seorang murid bernama Kyouko yang menjadi saksi atas peristiwa kali ini.


"Hmm, seingat saya, saya memang mendengar suara bisik-bisik yang cukup mengganggu di belakang."


"Tapi Langit menghajar pengawas ini, lihat wajahnya, Langit harus menerima hukuman." Kata guru yang lain.


"Benar itu, Langit sudah seenaknya sendiri menghajar pengawas, sudah sangat keterlaluan hingga memukuli kami dan satpam." Kata guru lainnya.


Kepala sekolah menoleh ke Langit yang masih dalam posisinya, "Ada pembelaan, Langit?"


"Dia mengembalikan sepatuku ke kepala, dan kepala adalah tempat mahkota raja terpasangkan, kehormatan seseorang ada di kepala, dan dia menghancurkannya dengan melempar sepatu ke kepala saya." Kata Langit menjelaskan panjang lebar, "Aku akan menghancurkan wajah siapapu yang berani memegang kepalaku, bahkan jika itu presiden sekalipun."


Orang-orang yang ada di dalam ruangan melihat Langit dengan wajah seriusnya, rasa takut menyelimuti pikiran mereka hingga bagian terdalam.


"Bagaimana kalau begini, kelihatannya kalian amat membenciku. Aku hanya tinggal mempresentasikan karyaku, lalu aku kan menghadiri upacara kelulusan minggu depan."


Kepala sekolah menoleh ke para guru, yang lainnya juga saling lirik bertanya-tanya.


"Atau kalian ingin aku dihukum skors, lalu aku tidak naik kelas, dan aku menghadiri kelas setahun penuh tanpa absen sekalipun?"


"Kau mengancam kami?" Tanya satpam yang ada di pojok.


"Tidak, aku tidak sedang mengancam, keberadaanku saja sudah jadi ancaman bagi kalian." Jawab Langit sambil berdiri.


"Kau ambil tawaranku atau tidak?" Tanya Langit sambil memandang kepala sekolah.


Kepala sekolah melepaskan kacamatanya, dia mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat menggunakan sapu tangan.


"Baiklah, segera presentasikan karya tulismu lalu pergi dari sini."


Cklek


Panda masuk ke ruang guru, dia mengenakan seragam polisi secara lengkap mulai dari celana, kemeja dinas, hingga pistol.


"Saya Pandhu Dania Sangbecik, petugas kepolisian dari kostrad, saya mendapatkan laporan tindak kekerasan murid terhadap guru di SMA Negeri Pertanjang-oh."


Panda melihat Langit sedang berdiri dan meliriknya dengan tatapan dingin, dia menghampiri kepala sekolah.


"Ini surat penangkapannya." Kata Panda menyerahkan surat penangkapan palsu yang dibuatnya sendiri pada kepala sekolah.


"Baiklah."


"Dan sepertinya anda orang yang bernama Langit, tolong berkoordinasi." Kata Panda.


"Nona Sangbecik, Langit akan menghadiri presentasi karya tulis untuk ujian kelulusan, bisa anda tunggu lebih lama?" Kata kepala sekolah memperingkatkan sambil memberikan surat penangkapannya kembali.


"Tentu." Jawab Panda sambil menerima surat penangkapannya.


Langit keluar dari kantor dengan santai, dia berjalan menuju lokernya dengan semua orang menatapnya penuh benci. Apalagi dengan Panda yang berjalan bersamanya bersebelahan, membuatnya terlihat seperti kriminal.


"Apalagi yang kau perbuat, Archer?"


Langit mengambil laptopnya dari loker, lalu menutup kembali lokernya, "Seharusnya kau tahu, Panda."


"Memukuli guru?"


"Lebih tepatnya, pengawas." Jawab Langit dingin.


Panda dengan seragam polisinya menunggui Langit yang saat ini sudah masuk ke dalam ruang presentasi karya tulis, dia menunggu Langit agar bisa membawanya pergi ke kantor polisi, meski hanya sekadar kedok, mungkin mereka akan berakhir di markas sampai malam.


Samudra keluar dari ruang presentasi di sebelah, dia melihat Panda sedang duduk di kursi panjang di depan ruang presentasi yang dimasuki kakaknya.


"Kak Panda?"


"Ah, Ranger, hei." Panda melambaikan tangannya, sementara Samudra menghampirinya, "Panggil aku bu Sangbecik, aku ini polisi."


"Siap, bu."


"Bagaimana ujianmu?" Tanya Panda kepadanya yang sedang mencari posisi duduk yang nyaman.


"Mudah saja, aku sudah presentasi."


"Mudah? Semudah apa?"


Panda menghabiskan 2 bulan untuk mempersiapkan diri agar setidaknya lulus ujian akhir, sementara Samudra hanya menyebutnya mudah. Dia bahkan mengurung dirinya di kamar dan hanya memakan kacang untuk bertahan hidup.


"Semudah mengikat tali sepatu."


Panda melihat sepatu Samudra, dia memakai sepatu pantofel flat tanpa tali.


"Tapi, kamu gak pakai tali di sepatumu."


"Tentu saja."


Panda kesal, anak ini sedang menggodainya.


"Dasar kamu, heengg!" Panda mencubit pipi Samudra dengan dua tangannya.


"Aah, jangan, aaahh." Samudra pura-pura sakit saat Panda melakukannya.


Menyadari dia tidak setega itu dengan gadis secantik Samudra, Panda menghentikan cubitan pipinya.


"Kamu tahu, Samudra. Kalian kakak beradik seperti gunung es di laut." Kata Panda.


"Kenapa begitu?"


"Kamu bagian atas laut gunung es, terpapar sinar matahari, cantik dan menyilaukan. Sementara kakakmu terendam air laut yang dingin, kejam dan tak berperasaan." Katanya sambil menghela nafas, "Kami di tim sampai heran."


"Iya?"


"Iya, bahkan tim runduk sebelum ini pun juga merasa begitu, mereka patuh pada Langit bukan karena dia memang pemimpin, hanya saja dia sangat menakutkan, insting dan firasatnya yang selalu benar membuat kami takut."


Samudra hanya bisa tersenyum saat Panda mengatakannya, dia paham pandangan orang lain kepada kakaknya sebagian besar memang seperti itu, tapi jauh di dalam dirinya yang kejam, ada seorang kakak yang baik dan hangat, hanya untuknya, bukan untuk orang lain.


Samudra bahagia saat ada kakaknya.


"Ah, dia sudah selesai." Kata Samudra saat melihat kakaknya keluar dari ruang presentasi.


Wajahnya terlihat biasa saja untuk orang yang baru saja selesai menghadapi ujian akhir.


Panda berdiri, dia mengeluarkan borgol dan menarik kedua tangan Langit ke belakang, lalu memborgol keduanya.


"Maaf, Archer. Setidaknya sampai mobil."


Langit hanya mengangguk.


Ketiganya berjalan menuju mobil polisi yang terparkir di depan, dalam perjalanannya di sepanjang koridor sekolah, Langit melihat Putri baru saja keluar dari ruang komputer, sepertinya dia baru selesai mengerjakan ujian mata pelajaran.

__ADS_1


"Hati-hati." Kata Putri saat mereka berpapasan.


"Tentu." Jawab Langit dingin.


Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Samudra menerima kunci borgol dari Panda dan melepaskan borgol kakaknya.


"Kita ke hangar, lalu menuju istana negara dengan helikopter."


"Kita belum punya ijin untuk itu." Jawab Panda sambil memutar haluan mobil lalu keluar dari sekolah menuju hangar.


"Aku ini militer independen, dan timku mendapatkan kewenangan khusus. Perintahkan Kepler menyiapkan helikopternya."


"Oke, oke, kau bisa naik heli ke sana, ok?"


"Jangan bersuara seperti itu, pantas saja kau tidak menikah."


"Hei!"


"Kak Panda, lampunya."


Panda nyaris melewatkan lampu lalu lintas di depannya karena Langit, mengendarai mobil sambil mendengarkannya adalah pilihan yang buruk.


"Kita sudah sampai." Kata Panda sambil keluar dari mobil setelah parkir di parkiran mobil.


"Kepler baru akan datang beberapa menit lagi, dia masih berada di markas." Katanya lagi.


Langit tanpa menjawab apapun berlalu meninggalkan Panda menuju tepi lintasan pesawat, namun tidak keluar dari garis aman. Samudra yang berada di sebelahnya mengeluarkan botol air minum, tapi dia memasukkannya lagi setelah sadar kalau air botolnya habis.


"Aku mau pergi sebentar."


"Ada di pantry."


"Iya." Jawab Samudra sambil berjalan masuk ke gedung yang dimasuki Langit kemarin.


Di sana ada pantry, Samudra pergi untuk mengisi ulang air minumnya.


"Langit? Kamu Langit Safir?"


Suara ini agak familiar di telinganya, sudah agak lama sejak dia mendengar suara gadis itu terakhir kali. Begitu dia menoleh ke belakang, sosok Elish DeCapel sedang diam berdiri dengan seragam tentara angkatan udaranya.


"Langit?" Panggilnya lagi.


Langit hanya diam, tidak menjawab iya, ataupun menjawab tidak. Hanya suara nafas yang keluar dari hidungnya, namun suara sebesar 20 hertz itu diredam oleh pesawat jet yang baru saja lepas landas. Suara bisingnya memekakkan telinga, namun bagi aviator seperti Elish dan seorang tentara independen seperti Langit, hal itu sudah biasa.


Elish menghampiri Langit, wajahnya berbinar, hidungnya memerah, suaranya mulai mengisak, dia menangis sambil memeluk Langit.


"Maafkan aku, aku terlambat memberitahu."


"Samudra menceritakan semuanya, aku hanya panik, maafkan aku."


"Hm-m." Elish menggeleng, dia mengangkat wajahnya dan melihat Langit dengan wajah dingin dan datarnya.


"Ini bukan salahmu, seharusnya aku beritahu kalau aku selamat, tapi aku malah jadi tentara AU."


"Aku juga seorang tentara, independen."


Elish melepaskan pelukannya, dia mengusap air matanya dan berusaha menutupi suara sengau dan terisak miliknya.


"Di mana kamu tergabung?"


"Batalion tempur 092, operasi khusus penanganan si perawan."


"Ah, aku pernah dengar soal itu. Ada rekanku yang dimintai bantu oleh pasukan 092 untuk menghancurkan gedung." Kata Elish sambil mengecek jam tangannya.


"Kamu punya nama kode?" Tanya Elish.


"Archer."


"Hah?!" Elish terkejut, dia tahu betul Archer adalah nama kode yang belakangan ini terkenal dan menjadi pembahasan menarik di kostrad, ternyata orang itu adalah Langit.


"Jadi itu kamu? Yang katanya memotong kaki si perawan?"


"Hahaha, memotong kaki. Orang-orang punya selera bagus menamainya."


"Loh, kak Elish?" Samudra datang sambil membawa botol air minum dan memberikannya pada Langit.


"Halo, Samudra. Mengantar kakakmu?" Tanya Elish ramah sambil melirik Langit yang sedang meminum air mineral dari botol.


"Enggak, aku memang lagi bareng sama kakak." Jawab Samudra dengan senyuman yang lebar, taringnya yang panjang terlihat begitu cantik dengan gigi lainnya yang rapi.


"Langit, aku pergi dulu, aku harus pergi ke Natina." Kata Elish sambil berbalik.


"Hati-hati, kak." Kata Samudra.


"Hei, Archer. Itu helikopter kita, ayo berangkat." Kata Panda sambil menunjuk sebuah helikopter dengan baling-baling yang mulai berputar.


Langit yang diam saja tanpa menjawab apapun bahkan ucapan sampai jumpa dari Elish pun akhirnya bergerak, dia menuju helikopter yang ditunjuk Panda, lalu pergi menuju istana negara. Di dalam helikopter, Langit mengirimkan pesan kepada Vianji kalau dia sedang berangkat menuju istana negara, jadi dia bisa pulang duluan dan mengurus restoran.


"Besok hari besar untuk kita." Kata Langit di helikopter, "Kita akan mengakhiri ini semua. Tidak ada lagi gadis perawan diculik, dibunuh, tidak ada lagi ancaman ******* seperti mereka."


Semuanya mendengarkan melalui headset yang terpasang di kepala mereka, mereka tidak menjawab kalimat Langit.


"Aku mengkonfirmasi, gereja setan pusat ada di Margo Raya, kota Sarejo, daerah Hemar. Akan kupotong-potong mereka, kukutuk, dan akan kuberikan terror pada mereka."


"Tidak akan ada bangkai yang tersisa dari mayat mereka, tidak akan mungkin mereka bisa menutup mata, melototlah hingga bola matamu keluar, dan saat kematian menghampiri mereka, akulah yang akan mencabut nyawa mereka."


"Getz in von berlien hengen, vitor."


Tidak ada yang mengerti ucapan Langit yang terakhir, Samudra tahu kakaknya barusan berbicara dalam bahasa Ukrish kuno, tapi dia tidak bisa menerjemahkannya karena memang belum belajar bahasa Ukrish kuno. Sementara yang lainnya hanya bisa berdoa semoga besok mereka bisa kembali dalam keadaan utuh.


Helikopter yang ditumpangi Langit mendarat di helipad di istana negara, beberapa petugas sudah menunggu kedatangan helikopter itu dan sudah berjaga di luar.


Beberapa dari mereka adalah satuan unit pengamanan presiden, mereka ditugaskan untuk masuk ke dalam bara api jika presiden memerintahkan mereka demikian.


"Langit Safir, Samudra Safir, dan rekan-rekan, silakan lewat sini." Kata salah seorang petugas pengamanan presiden.


Langit mengikuti pria itu bersama dengan yang lainnya, mereka masuk ke dalam istana negara bersama dengan beberapa wartawan yang sudah menunggu.


Vianji sudah memberitahu petugas yang bersangkutan soal kedatangan Langit, dan sepertinya dia tidak main-main soal jadwal yang dia beritahukan kemarin.


"Tunggu di sini sebentar, kami akan ambilkan penghargaan dan medalinya, lalu beberapa kata dari presiden."


"Oke." Jawab Langit santai.


Seorang pria dengan jenggot pendek dan rambut yang beruban keluar dari pintu utama, dia bersama dengan pengawalnya yang membawa dua surat penghargaan dan dua medali di atas sebuah wadah.


"Jadi ini Langit Safir?" Tanyanya saat menjabat tangan Langit, "Pasti ini Samudra Safir. Kalian dua beradik jenius yang pantas mendapatkan penghargaan ini."


"Tentu, terimakasih."


"Aku bangga sekali banyak warga negara republik yang berprestasi seperti kalian, tapi banyak yang aku maksud orang-orang tua, kalau yang muda seperti kalian, mana ada di negara lain, hahaha." Katanya bangga.


Presiden memasangkan medali berwarna perak di dada Langit dan Samudra, lalu memberi surat penghargaannya. Ketika dia melakukannya, para wartawan memotret ketiganya.


Kepler dan Panda hanya melihat dari belakang.


"Kemarilah, kita foto bersama." Kata Presiden.


Ketiganya berpose seperti ayah dan kedua anaknya, para wartawan yang tidak terlalu ramai ini membunyikan suara shutter yang ada dalam kamera mereka. Meskipun kamera keluaran terbaru sudah muncul, nyatanya kamera cermin dengan perbesaran manual seperti itu masih dipakai untuk meliput berita.


Medali yang didapat oleh Langit dan Samudra adalah medali Superior Comet, hanya mereka yang mampu meraih nilai tertinggi selama tiga tahun berturut-turut, dan karya tulis yang berdampak besar pada ilmu pengetahuan yang mampu mendapatkannya.


Langit menduduki peringkat 1 selama sekolah. Sementara adiknya menulis karya tulis yang sangat hebat, namun Langit tidak tahu kalau adiknya menulis karya tulis seperti itu.


Saat di helikopter, Langit hanya diam tanpa bicara apapun. Namun karena Samudra adalah adiknya yang hidup selama 16 tahun, dia mengerti.


"Karya tulisku berisi tentang penyusuan ulang atom melalui pengirim partikel. Ketika konsep ini diterapkan pada alat yang kusebut defile-transport courier, alat ini secara teknis akan memindahkan sebuah benda dari satu tempat ke tempat lain." Kata Samudra menjelaskan pada kakaknya.


"Itu terdengar seperti teleportasi. Seperti di film sains fiksi." Komentar Panda.


"Ya, memang seperti itu. Alat ini akan memisahkan atom dan mengirimkannya sebagai sebuah partikel melalui sinyal, dan akan diterima oleh alat lainnya yang terhubung untuk disusun ulang seperti seharusnya. Pada dasarnya, ini memang teleportasi."


"Wow, kalau alat itu ada, aku mungkin kehilangan pekerjaanku." Komentar Kepler.


"Hahaha, jelas, manusia bisa berpindah tempat jutaan kilometer jauhnya."


"Manusia? Hahaha, itu enggak mungkin." Kata Samudra setelah tertawa kecil.


"Kenapa?" Tanya Panda.


"Atom yang disusun ulang itu sifatnya statis, alias tidak bergerak. Kita ini manusia, makhluk hidup. Seekor kadal saja akan sangat sulit untuk disusun kembali, dan mungkin saja organ dalamnya berpindah."


"Hei, itu menyeramkan." Kata Kepler.


"Iya lah, kamu mau kepalamu pindah ke kaki?"


"Hahaha! Kepalanya di kaki! Hahahaha" Panda tertawa terbahak-bahak.


"Alat ini mungkin bisa diterapkan untuk kargo daripada untuk manusia, tapi tentu saja butuh dana untuk menelitinya, dan yang kutulis, hanya konsep pemikiranku saja."


"Tapi itu sudah luar biasa, Ranger. Kamu bahkan dapat penghargaan dari presiden seperti kakakmu. Omong-omong soal karya tulis, apa yang ditulis kakakmu?" Tanya Panda.


Langit menghela nafas.


"Aku menulis tentang pemecahan partikel, mirip seperti Samudra. Tapi ini untuk senjata militer."


"Senjata militer?" Tanya Panda, "Seperti apa?"


"Kepalamu akan menjadi pecahan partikel, tidak akan ada yang tersisa dari bangkai tubuhmu kecuali atom-atom yang terurai."


Panda menelan ludah, yang dia dengar barusan sudah seperti senjata nuklir. Jika senjata seperti itu ada, dan hanya dimiliki oleh kepolisian atau tentara, mungkin tidak akan terjadi apapun selain kedamaian antar negara.


Beda soal jika senjata itu dijual di pasar gelap oleh tentara militer yang korup, ******* tidak akan bisa dihentikan, dan memungkinkan terjadinya perang.


"Aku tahu yang kau pikirkan, Panda. Tidak akan ada perang hingga senjata ini benar-benar ada."


"Tapi kau baru saja membuat konsepnya."


"Siapa yang mau membuatnya? Hm? Kau pikir presiden akan tinggal diam? Militer juga pasti akan menyembunyikan karya tulisku sebagai sebuah rahasia negara, dan tidak akan disentuh hingga kondisi darurat datang."


"Tapi, kak. Kalau misalnya plasma itu mampu menguraikan atom-partikel, bukannya seharusnya ada pencegahnya?" Tanya Samudra.


"Tentu saja, materi yang dikeluarkan oleh senjata ini adalah materi yang mengurai atom dinamis, bukan statis."

__ADS_1


"Oh, jadi kalau kita berada di dalam selimut, kita tidak akan terurai?" Tanya Samudra.


"Tentu saja, bahkan lapisan tipis seperti kertas tidak akan mampu ditembus."


"Itu membuatku lega." Kata Panda.


Percakapan mereka berakhir bersama dengan perjalanan mereka ke hangar di Pertanjang. Langit turun dari helikopter bersama dengan Samudra dan Panda, ketiganya lalu masuk mobil polisi dan diantar ke markas.


"Kita ke markas?" Tanya Samudra saat tahu bahwa mereka sedang melewati jalan yang bukan jalan menuju rumah.


"Iya, perintah Archer." Jawab Panda.


"Oh, soal yang di helikopter."


"Betul."


"Panda, hubungi Putri. Tanyakan status peralatan yang kita butuhkan." Perintah Langit.


"Oke."


Sesampainya mereka di markas, Langit langsung membuka peta kota Sarejo di Margo Raya, dia memfokuskan petanya pada sebuah kuil, dia tidak memiliki ingatan tentang denah kuil tersebut.


Kuil ini berada di daerah Hemar, jarang ada pengunjung yang datang karena memang daerah Hemar adalah daerah yang berada di pedalaman, agak susah untuk pergi ke sana karena harus melewati jalan yang terjal sebelum sampai di desa di atas balik bukit.


Karena minimnya wisatawan atau orang beriman yang pergi ke sana, mencari denahnya di internet pun menjadi mustahil.


"Archer, Prinses sudah dapat semua barangnya, akan dikirimkan ke markas besok pagi."


"Bagus." Jawab Langit singkat, dia masih memikirkan bagaimana menembus pertahanan kuil ini mengingat orang-orang si perawan pasti akan memasang jebakan.


"Aku akan berada di gudang senjata untuk sementara. Panda, informasikan professor Rizaki untuk siap sedia di lab mulai detik ini."


"Oke."


Langit masuk ke dalam gudang senjata, dia mencari gulungan kertas dan sebuah spidol, lalu mulai mencorat-coret gulungan kertasnya.


Dia sedang memikirkan sebuah alat, yang memiliki kamera, tapi tembus pandang, bukan yang menembus benda padat seperti sinar X, tapi lebih seperti mendeteksi sumber panas, seperti teleskop termal, tapi bukan untuk mencari manusia, lebih tepatnya untuk mencari listrik.


'Listrik memiliki muatan, muatan itu memiliki proton, elektron, dan neutron, dan tidak menghasilkan panas jika ada di dalam kabel tembaga. Tapi kalau mereka menggunakannya untuk jebakan, akan ada rangkaian listrik yang pasti bisa dideteksi. Tapi alat seperti ini apa mungkin selesai dalam sehari?' Pikir Langit sambil terus menyusun susunan cetak biru di kertas putih miliknya.


"Kakak?" Samudra masuk ke dalam gudang, dia melihat kakaknya sedang menyusun sesuatu di cetak biru.


"Oh, Samudra, tolong buatkan cetak biru untuk perisai yang bisa menghasilkan 100.000 lux, kamu bisa pakai lampu LED tenaga tinggi."


"Perisai? Seperti yang dipakai polisi?" Tanya Samudra sambil mengambil gulungan kertas yang sama seperti Langit dengan spidolnya.


"Iya, anti peluru, tapi ringan."


"Kalau begitu, mungkin dilapisi tungsten, dengan bahan dasar aluminium campuran." Jawabnya sambil mulai memberikan skala pada cetak birunya.


"Bagaimana kalau Microlatice? Itu bahan dasar pesawat pengangkut pesawat."


"Microlatice itu berongga, kalau dihantam peluru, dia bisa-oh." Samudra terkejut setelah menyadari sesuatu dari kakaknya, "Peluru itu akan memantul seperti bola karet, tapi harus dilapisi logam yang lain agar strukturnya padat di satu sisi."


Langit hanya tersenyum melihat adiknya sangat tanggap dengan pertimbangan yang dia berikan, mereka menghabiskan siang mereka mengerjakan cetak biru, ada banyak alat-alat baru hasil desain dari Langit dan Samudra, dan sepertinya pemerintah akan membutuhkan dana untuk membeli patennya.


"Panda, berikan ini ke profesor Rizaki, bilang padanya selesaikan ini semua sebelum besok sore."


"Hah? Hnn, oke." Panda baru bangun dari tidur siangnya, dia bisa tidur di mana saja, dan kali ini dia berada di depan komputernya dengan kaus kebesaran yang terlihat nyaman.


Langit menoleh kepada Kepler yang sedang duduk di kursi dekat pintu, dia sedang mengisi daya ponsel sambil memainkannya.


"Samudra, bilang ke Vianji, suruh orang kirimkan makanan ke markas." Katanya agak kencang.


"Iyaa." Jawab Samudra dari dalam gudang senjata, "Kakak mau apa?"


"Terserah." Jawabnya.


"Archer, ini desain apa?" Tanya Panda sambil menunjukkan sebuah cetak biru yang dibuat Langit di dalam gudang.


"Di sana ada judulnya, itu Candela."


"Ah iya, yang lainnya juga." Jawabnya sambil melihat cetak biru yang lain.


Ping


"Oh, Archer, profesor Rizaki ingin tahu jumlah produksinya, dia juga bilang akan mungkin menyelesaikannya sebelum sore."


"1 perisai Candela, 10 Lux, dan 2 Detektor."


"Oke."


Langit kembali masuk ke dalam gudang, adiknya sedang menggambar karakter lucu di kertasnya, seekor kelinci dengan mata besar, kalau saja dia memiliki pensil warna atau krayon, kelinci itu pasti akan terlihat lebih manis.


Setelah selesai menggambar kelinci itu, Samudra mengambil sebuah korek api. Kakaknya yang menonton aktifitasnya sambil bersandar di pajangan senapan bingung, kenapa dia mengambil korek.


"H-hei, kamu malah membakar kelinci itu."


"Baunya gak enak."


"Jelas!"


"Padahal sate kelinci baunya enak."


Langit menghela nafas, dia memegangi dahinya, sangat heran, kenapa adiknya yang manis berpikir bisa menahan lapar dengan membakar kelinci hidup-hidup, itu kan kekerasan terhadap binatang, yah, walaupun itu hanya gambar, paling tidak gambar kelinci itu seperti sudah disembelih atau sudah disate.


"Aku tidak tahu kamu selapar itu."


"Ayolah, kak. Kita kerja sesiangan, aku butuh makan, kakak kira karyawan bisa hidup kalo gak digaji? Paling gak dikasi makan dong." Samudra mencerocos kakaknya sambil menghentak-hentak kakinya di lantai seperti anak kecil umur 6 tahun.


Langit gemas dengan adiknya, dia menghampiri Samudra dan menggendongnya seperti menggendong anak kecil.


"Aww, hahaha, hentikan, aku ini berat, kak."


"Kamu itu ringan, mirip bola kertas." Kata Langit sambil menahan beban 43 kilogram di kedua tangannya.


"Kakak lapar?" Tanya Samudra.


"Sedikit."


"Di sini ada camilan." Kata Samudra sambil melingkarkan tangannya di pundak Langit.


"Tidak ada, di sini bahkan tidak ada kulkas." Jawab Langit sambil menatap lekat wajah adiknya yang tersenyum memperlihatkan taringnya.


"Itu bukan pertanyaan, kakak." Kata Samudra sambil memberikan bibirnya ke bibir kakaknya.


Langit yang baru paham dengan pernyataan adiknya soal camilan tadi memakan 'camilan' yang diberikan adiknya. Rasanya hambar, hanya terasa sedikit manis karena efek dari sonic-seasoning.


Sonic-seasoning adalah peristiwa sains yang terjadi pada rasa makanan apabila si perasa mendengarkan musik, jika musik lembut seperti orkestra "Love's Sorrow" ciptaan Kreisler dimainkan, rasa makanan seperti cokelat akan semakin manis, berbeda apabila memainkan musik metal dari Slipknot, rasa cokelat itu akan menjadi pahit.


Dalam kasus Langit, suara nafasnya dan adiknya yang bersahut-sahutan membuat irama dan melodi dinamis yang merdu, resonansinya menciptakan peristiwa sonic-seasoning, dan membuat bibir Samudra terasa manis, 'camilan' ini adalah camilan terbaik yang pernah dia rasakan.


"Sudah kenyang?" Tanya Samudra sambil melepaskan bibirnya dari bibir kakaknya.


"Hm." Langit menempalkan dahinya dengan dahi adiknya, seakan menyatukan pikiran mereka.


Langit menurunkan adiknya, lalu pergi keluar dari gudang senjata. Samudra mengikuti dari belakang karena penasaran.


"Hei, Langit. Aku datang."


Vianji bersama dengan dua orang karyawan, mereka membawa banyak makanan dari restoran dan menatanya di meja yang sudah dibersihkan. Untung saja dia tidak menatanya di meja proyeksi, teknologi ini tidak tahan dengan tumbukan barang di atasnya.


"Loh, kenapa ikut kemari?" Tanya Langit sambil menghampiri Vianji dan mengecup dahinya.


"Aww, haha, aku hanya khawatir. Dari kemarin aku menelponmu tapi nomormu tidak aktif."


"Dia membuang ponselnya di tengah laut." Kata Panda yang baru bangun, matanya membelalak saat melihat banyak makanan di meja, "Hah! Makanan!"


"Sebaiknya kamu punya alasan bagus membuang ponselmu." Kata Vianji sambil menyentuh pipi Langit, dia meskipun masih ketakutan dengan Langit, tapi sudah bisa membiasakan diri.


"Moodku waktu itu sedang jelek."


"Mulai lagi deh." Komentar Samudra sambil mencomot potongan daging panggang dengan garpunya.


Vianji hanya menghela nafas, "Okelah kalau gitu, aku harus ke restoran lagi."


"Oh, sampaikan salamku ke Senja."


"Senja sedang tidak ada di tempat, dia ijin karena urusan dengan ayahnya."


"Oh, dengan komandan. Lalu siapa yang menggantikannya?"


"Menurutmu siapa lagi?" Tanya Vianji sambil berkacak pinggang, kedua karyawannya sudah selesai beres-beres peralatan kargo makanan.


"Kamu memang hebat." Kata Langit memujinya, "Pulanglah, hati-hati di jalan."


"Dadah." Katanya sambil keluar dari markas menuju parkiran bersama dua karyawannya.


"Wow, Archer. Ada apa dengan gadis masokis yang kucarikan waktu itu?"


"Dia makin gila dan aku membuangnya ke jalan." Jawab Langit sambil duduk dan mulai mengambil makanan.


"Dia bosan dan memulangkan kak Petra ke orang tuanya." Kata Samudra memperbaiki jawaban asal-asalan dari kakaknya.


"Sepertinya aku harus percaya dengan Ranger." Kata Panda sambil mengambil piring kertas, "Hei, Kepler, kemarilah, kita makan."


"Hah? Ada apa?" Kepler yang baru bangun tidak tahu apa-apa.


"Aku menemukan makanan, makanlah." Kata Langit sambil mengunyah saladnya.


"Pacarnya mengantar makanan." Kata Panda memperbaiki jawaban Langit.


"Kukira kau menemukannya benaran, aku pikir kau mencarinya di jalan." Kata Kepler sambil mengambil piring kertas.


'Terlalu tenang, hari ini terlalu tenang, ada apa yang kurasakan ini? Kenapa aku merasa gelisah padahal hari ini sangat tenang?' Pikir Langit.


Mereka berempat menikmati makanan yang dibawakan Vianji dari restoran dengan nyaman, beberapa candaan dari Samudra mengundang tawa, namun tidak bagi Langit.


Bukan karena apa, hanya gelisah.


 


 

__ADS_1


__ADS_2