
Samudra in night dress (art by Samudra)
Sepertinya Samudra sudah terbiasa dengan situasi semacam ini, dan Langit tidak protes dengan semua keputusan yang dibuat oleh adiknya.
"Oh, rambutku, bisa kakak bantu menatanya?" Kata Samudra.
"Ingin ditata seperti apa, dik?" Tanya karyawan satunya, "Ini buku model yang kami sediakan untuk tamu."
"Nggak perlu, bisa dimodel seperti ini?" Katanya sambil menunjukkan foto di galeri ponselnya.
"Oh, tentu saja. Duduklah di sini."
Samudra meminta rambutnya digulung sedikit ke atas hingga memperlihatkan tengkuknya lalu diberi beberapa pernak-pernik sebagai penahan agar tidak lepas, model seperti ini sangat jarang digunakan anak jaman sekarang, karena model ini adalah mode jaman abad pertengahan saat Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus memerintah Romawi sebagai seorang kaisar.
"Apa kalian punya tiara?"
"Tiara? Wah, kami punya tiara, silakan melihat-lihat di dalam." Kata si karyawan setelah menata rambut Samudra, "Mereka bisa disewa atau dibeli, dan akan sangat cocok dengan gaun yang akan nona pakai."
"Ambilkan yang itu." Kata Samudra, "Berapa harganya?"
"Eh? Tapi itu bukan tiara, itu mahkota, nona."
"Tak mengapa, benar, kan?" Katanya sambil melirik Langit yang sudah rapi dengan setelan dan sepatunya.
"Well, aku juga pakai?"
"Ya nggak lah, mana cocok pakai tiara." Kata Samudra yang disetujui oleh karyawan yang membantunya.
"Ya sudahlah."
Setelah karyawan itu menata rambut Samudra dan memasangkan mahkota di atas kepalanya, Langit terpesona dengan kecantikan adiknya sendiri, gaunnya yang berwarna putih dengan aksen merah dan emas, dengan mahkotanya di atas kepala, kalau saja dia bukan adik kandung Langit, dia sudah pasti jatuh hati dengannya.
"Ayo pergi, ini sudah pukul 5 lebih 40 menit."
"Iya."
Setelah membayar jasa dan sebuah mahkota, Langit dan adiknya pergi ke restoran The Alice, mereka sudah melakukan reservasi dan hanya perlu hadir untuk membayar sisanya.
"Kamu tidak kesulitan?" Tanya Langit saat melihat adiknya ada di kursi belakang melalui spion tengah.
"Tidak, aku nyaman."
"Sekarang sudah jam 6 tepat, menurutmu mereka sudah ada di sana?"
"Mungkin mereka akan menghubungi kakak sebentar lagi."
Baru saja Samudra menebak bahwa Langit akan dikabari, ponsel Langit berdering dan menampilkan nama bu Asabi di layarnya.
"Halo? Langit?"
"Ini adiknya Langit, dengan bu Vianji?"
"A-ah, kukira ini Langit, ada di mana kakakmu?"
"Kakak sedang menyetir, dia tidak bisa memegang ponsel, ada pesan untuknya?"
"Ah iya, kami sudah ada di The Alice, kalian sudah di dalam?"
"Oh, kakak sudah reservasi atas nama Langit Safir, bilang saja ke resepsionis."
"Oh, begitu, untung saja aku mengabarimu duluan, aku bisa malu kalau disuruh keluar saat aku sudah masuk."
"Kami sampai sekitar 2 menit lagi, sampai jumpa."
Samudra menutup panggilannya sebelum Asabi melakukannya, dia memasukkan ponsel kakaknya ke dalam dompetnya dan menunggu hingga sampai di restoran.
The Alice merupakan restoran bintang 4 dengan segala keunggulannya, hal ini sangat berpengaruh kepada pelayanan bagi para tamu, termasuk memarkirkan mobil dengan harga diri mereka sebagai jaminan, makanya, saat Langit sudah sampai di pintu depan untuk tamu, para peponsel khusus untuk memarkirkan mobil mengambil alih mobil Langit dengan sedikit tarif.
"Tolong ya." Kata Langit sambil keluar dari mobil dan mengeluarkan dua lembar 10 dolar.
"Baik." Jawab pria itu sambil menerima uang dari Langit dan memarkirkan mobilnya.
"Samudra, ayo turun." Kata Langit sambil membuka pintu belakang dan mengulurkan tangannya.
"Terimakasih, kak." Jawabnya.
Keduanya berjalan masuk dan dibukakan pintu oleh para karyawan.
"Dengan tuan dan nona?" Tanya seorang wanita di meja resepsionis.
"Langit Safir."
"Ke arah sini, tuan." Kata si resepsionis yang mengarahkan keduanya pada seorang pelayan, "Tolong diantar ke meja untuk Langit Safir."
"Baik." Jawab pelayan tersebut.
Dari kejauhan, sudah tampak figur dari tubuh Asabi yang sangat familier di mata Langit, dia datang bersama kedua orang tuanya yang menggunakan pakaian formal biasa, setelan jas dan gaun one-piece putih bermotif bunga.
"Langit?" Asabi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Langit, "Dan-um."
"Samudra Safir." Katanya sambil meletakkan ujung jari tangan kanannya di punggung tangan kirinya dan memposisikan keduanya setara pinggang, ini adalah bentuk bahwa dia lebih terhormat daripada orang di depannya.
"Selamat malam, Vianji. Mereka orang tuamu?" Tanya Langit.
"I-iya, mereka orang tuaku, um-mari, mari duduk?"
Langit tersenyum, "Tentu."
Kedua orang tua Asabi berdiri dan menyalami Langit, mereka menyebutkan nama masing-masing begitu juga Langit.
"Feder Basa." Kata ayahnya.
"Ayinda Vina." Kata ibunya.
"Langit Safir, dan ini adikku, Samudra Safir." Kata Langit.
Setelah berkenalan sambil berdiri, mereka duduk nyaris bersamaan.
Suasana agak canggung, Asabi tidak percaya diri karena Samudra amat menekan Asabi dengan wajah, sikap, dan caranya berpakaian, dan dirinya, hanya mengenakan gaun lusuh pemberian ibunya.
"Jadi, Safir, kudengar kamu ini muridnya Vianji." Kata ibunya kepada Langit.
"Iya, Vianji amat membantu saya di sekolah, malah saya kadang membebaninya."
"A-ah, nggak, Langit sama sekali, bukan, bukan beban."
Samudra melirik Asabi dengan tatapan kasihan, sementara dia merasa bahwa memang dirinya pantas dikasihani oleh Samudra.
"Lalu, kenapa kamu, maksudku." Ayahnya bingung ingin melanjutkan kalimatnya, dia tidak tahu harus memilih kata seperti apa.
"Tertarik dengan Vianji?"
"Hm." Katanya sambil mengangguk, "Kamu seharusnya sudah tahu, Langit, kami ini berasal dari keluarga yang kurang-"
"Sebaiknya jangan lanjutkan kalimat anda." Kata Samudra memotong kalimat Feder, matanya melirik dengan tajam, bibirnya tersenyum menyiratkan sesuatu.
"Kakakku tidak pernah salah menilai orang, kali ini juga sama."
Langit tidak berkata apapun setelah adiknya berkata seperti itu, kedua orang tua Asabi juga tidak bisa berkata apa-apa.
"O-oh, benar, katanya, Langit sudah naik kelas 3?" Kata Asabi membuka percakapan lagi setelah sebelumnya dihancurkan Samudra.
"Agak, agak mengejutkan karena kamu mendapat nilai A di semua mata pelajaran, waktu, waktu ujian akselerasi."
"Ohh, Langit menempuh akselerasi? Berapa umurmu?" Tanya Ayinda, ibunya Asabi.
"Saya masih 17 tahun, umur untuk menikah di negara ini paling cepat 17 tahun dengan beberapa syarat tertentu." Jawab Langit sambil mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
"Salah satunya adalah memenuhi persyaratan kelayakan menikah."
Pemerintah Republik Asia Serikat memiliki kebijakan bagi siapapun yang ingin menikah sebelum umur 25, yaitu mengikuti ujian kelayakan menikah yang bisa ditempuh secara daring melalui laman situs resmi pemerintah.
__ADS_1
"Lalu, kamu sudah selesai ujian itu?" Tanya ibunya lagi.
"Belum, tentu saja, saya bahkan baru menyatakan perasaan saya tadi pagi." Jawabnya sambil menerima daftar menu dari pelayan, "Orang tua Vianji ingin pesan apa?"
"Ah, um." Keduanya agak ragu karena tidak tahu harga makanan di restoran ini, mereka hanya membawa uang dalam jumlah sedikit, mungkin hanya cukup untuk membayar minumannya saja.
"Kakak saja yang tentukan." Kata Samudra membuyarkan kebingungan orang tua Asabi, "Lagipula dia yang mengajak kalian kemari, sudah wajar untuknya mengeluarkan sedikit dana."
'Sialan anak ini, dia mengatakan 'sedikit dana' seolah-olah uang mereka sangat banyak, yah, kalau memang mereka sekaya itu, aku bisa melepas anakku satu-satunya, dia tidak akan kekurangan dalam hidupnya sepertiku dan Ayinda.' Pikir Feder saat Samudra mengatakan kalimat itu.
"H-hei, Langit, ka-kami bisa bayar kok, tidak, tidak perlu-"
"Sudahlah, Vianji, lagipula adikku benar." Kata Langit sambil menunjuk menu yang dia pesan, dan pelayan di sebelahnya mencatat menu yang dipesan Langit, "Oh, bisa tambahkan beberapa saus coklat di atasnya? Adikku sangat suka es krim."
"Tentu, silakan ditunggu." Kata pelayan itu sambil berlalu.
"Oh ya, Langit, di mana orang tuamu?" Kata Ayinda.
Asabi tentu saja kaget karena ibunya bertanya seperti itu, dia lupa bilang kalau Langit dan Samudra adalah yatim piatu.
"A-ah, ibu, Langit, maafkan ibuku."
"Tak apa."
"Hm? Memangnya ada apa?" Tanya Feder yang tidak membaca situasinya.
"Orang tua kami mengalami kecelakaan bersama dengan orang lain yang kami sayangi, dan-yah, kalian pasti tahu kelanjutannya." Kata Samudra sambil memejamkan matanya seolah-olah dia merasakan sakit.
"O-oh, maaf, kami tidak diberitahu lebih dulu." Kata Feder, "Mungkin Vianji lupa menceritakannya pada kami."
"Haha, itu sudah lama berlalu, kami tidak apa-apa dengan itu." Jawab Langit sambil melirik Asabi yang gemetaran, "Oh ya, maaf jika tidak sopan, tapi saya penasaran dengan pekerjaan kalian."
"Oh, pekerjaan kami?" Feder menanya balik, dia mulai bersemangat saat membahas pekerjaannya, "Aku ini penyetok ikan di restoran Geraltine, mereka selalu menerima tangkapanku yang besar-besar setiap hari, haha."
"Kalau istriku, dia adalah ibu rumah tangga, dia kadang membantuku mengemas ikan dan membawanya hidup-hidup ke restoran."
"Wah, kalian pekerja keras."
"Tentu saja, aku pernah menangkap seekor tuna biru sebesar sofa di rumahku, haha, aku sangat puas saat itu."
"Feder, kamu terlalu keras." Kata Ayinda pada suaminya, padahal dia tidak bicara sekeras itu, "Lalu Langit, apa kamu punya pekerjaan khusus? Seperti paruh waktu di sebuah kedai?"
"Oh, saya ingin menjadi seorang ahli kimia-fisika dan memenangkan nobel, tapi kuliah jurusan fisika sangat mahal."
"Sudah coba beasiswa?" Tanya Asabi saat mendengar Langit ingin menjadi ahli kimia-fisika, insting seorang gurunya tiba-tiba berjalan saat mendengar cita-cita dari muridnya secara langsung.
"Kamu kan jenius."
"Aku sudah punya beberapa gedung di beberapa kota, rencananya akan kujadikan restoran untuk mengumpulkan uang dan mendanai kuliahku dan Samudra." Jawab Langit, "Sepertinya minggu depan sudah mulai merekrut pegawai."
'Sialan, sekaya apa sih dia ini? Meski punya modal besar, akan percuma kalau dia gak bisa mengaturnya.' Pikir Feder saat Langit menceritakan tentang pekerjaannya.
"Wah, hebat, kalau Samudra? Apa kamu punya cita-cita?" Tanya Ayinda.
"Hm, saya ingin terlibat di dunia militer." Jawab Samudra.
Langit menoleh ke adiknya, ekspresi wajahnya mengatakan seakan pilihan Samudra adalah pilihan yang salah.
"Ini hanya cita-cita, kak. Jangan buat wajah seperti itu, aku takut." Kata Samudra sambil tersenyum dan menunjukkan taringnya yang panjang dan rapi pada kakaknya.
Kedua orang tua Asabi merasakan sesuatu pada diri mereka saat melihat Samudra berbicara kepada kakaknya, mereka seperti sepasang kekasih, seperti ibu kepada anak, seperti ayah kepada gadis kecilnya, sangat dekat dan penuh dengan roman.
"Ehem." Feder berdeham untuk mengembalikan suasana seperti semula, "Militer? Ingin jadi seperti apa?"
"Mungkin nanti aku akan tahu saat sudah direkrut." Jawab Samudra.
"Ehh, ehm, begini dik Samudra." Feder berdeham dan mencoba mengatakan sesuatu, "Bukannya menyinggungmu atau apa, tapi, tubuhmu sangat kurus, aku khawatir saat kamu bilang ingin jadi anggota militer."
"Namaku Samudra, tuan Feder Basa, tentunya aku setenang laut dan seganas badai, bahkan aku bisa dengan mudah-"
Langit meletakkan tangannya di pundak adiknya, karenanya Samudra tidak melanjutkan kalimatnya.
"Maafkan saya, pak Feder, tapi adikku sangat sensitif dengan kalimat seperti itu."
"Ah, ya, tak mengapa." Jawabnya dengan ketus.
Meja yang ditempati Langit dan keluarga Asabi adalah meja yang memiliki poros di tengahnya, sehingga bagian bawahnya tidak bisa digerakkan, namun bagian tengahnya bisa digerakkan, memudahkan tamu yang datang beramai-ramai untuk mengambil makanan.
"Terimakasih." Kata Samudra setelah pelayan meletakkan potongan lobster terakhir di atas meja makan.
'Dia bohong soal kematian orang tuanya? Atau orang tuanya terlalu kaya?' Pikir Feder saat menggigit dagingnya tanpa dipotong terlebih dahulu, dan ketika dia melakukannya, Samudra menatapnya kasihan.
"A-ayah, Langit belum menyentuh makanannya." Kata Asabi kepada ayahnya yang mengunyah daging kepiting panggangnya sebelum Langit mempersilakannya.
"Tidak apa-apa, Vianji, mari kita makan."
"Ah, baik."
Langit mengambil makanan dan meletakkannya di piring adiknya bersama dengan sayurannya, lalu memotongkan beberapa daging dan beralih ke piringnya sendiri.
Melihat hal ini, Asabi terkesima, sekaligus ayah dan ibunya juga, melihat keduanya begitu penuh dengan roman tanpa berbicara sepatah kata pun, seperti Langit memahami isi hati adiknya begitu juga Samudra kepada kakaknya.
"Cocok untukmu?"
"Hm, agak keras di kulitnya, tapi bukan masalah." Kata Samudra ketika ditanyai Langit.
"Bagaimana lidahmu, Vianji?" Tanya Langit.
"Ah, lidahku tidak apa-apa, memang ada apa?"
"Kakak menanyakan makanan ini di lidahmu, bukan kondisi lidahmu." Kata Samudra sambil memasukkan potongan tomat ke dalam mulutnya.
"Ah, maaf, rasanya enak kok."
"Baguslah." Kata Langit, lalu dia menatap kedua orang tua Asabi di depannya, "Bagaimana dengan kalian?"
"Ah, kami baik-baik saja, terimakasih." Jawab Ayinda mewakili suaminya, "Ini semua benar-benar enak."
"Benarkah? Aku kurang bisa memasak, aku hanya bisa membuat kopi."
"Maksudmu air yang direbus hingga gosong?" Kata Samudra membuat lelucon, semuanya paham dengan lelucon Samudra dan tertawa ringan.
"Kamu tampan, kaya, dan kata Vianji kamu ini jenius, tapi kamu gak bisa memasak?"
"Masakan terbaik kakakku adalah dengan tidak menggangguku di dapur." Jawab Samudra yang disambut dengan tawa ringan dari semuanya.
"Hahaha, adikku sangat kuandalkan, aku bisa mati kelaparan tanpanya." Kata Langit tanpa merasa direndahkan.
"Vianji anakku ini sangat pandai memasak, dia bisa membuat makanan yang enak bahkan dari bahan sisa." Kata Ayinda dengan bangga tentang kemampuan anaknya memasak.
"Ah-ahaha, ibu, tidak perlu membesarkan seperti itu." Kata Asabi merendahkan dirinya.
"Pak Feder, anda bilang kalau saya ini tampan, kaya dan jenius, kan?" Tanya Langit, "Bukankah saya kandidat yang bagus sebagai calon suami Vianji?"
"Uhuk!" Feder tersedak, istrinya tanggap dan memberikan air putih padanya, "Uhuk, uhuk, ehm."
"Soal itu, Langit, aku punya sisa satu pertanyaan." Katanya sambil melirik wajah anaknya yang penuh dengan harap, "Apa kamu yakin? Anakku ini berumur 29, sedang kamu masih 17."
"Saya yakin, saya bahkan membawa cincin." Kata Langit sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dari saku dalam setelannya dan meletakkannya di meja.
"Saya berencana memberikannya pada Vianji jika kalian merestui kami."
"A-astaga." Kata Ayinda sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Bagaimana ini?"
"Aduh, ini terlalu mendadak." Kata Feder yang juga kebingungan.
"A-aku, aku." Vianji mencoba mengatakan sesuatu, "A-aku, tidak, tidak keberatan."
"Hah?"
"Sayang?"
Kedua orang tua Vianji Basa terkejut dengan kalimat yang dikatakannya tadi, Samudra tersenyum, Langit masih dengan wajahnya yang mengatakan bahwa dia lega.
"Bagaimana?" Tanya Langit kepada kedua orang tua Vianji, "Apa kalian merestui kami?"
__ADS_1
"Bagaimana ini, Yin? Aku kebingungan." Tanya Feder kepada istrinya sambil berbisik-bisik.
"A-aku, seharusnya aku yang menanyakanmu, aku juga tak tahu."
"Sial, kalau saja jauh hari dia mengatakan hal ini, aku pasti punya pertimbangan matang, ini tentang putriku satu-satunya."
"Tapi, dia sudah umur 29, sudah terlalu telat baginya untuk menikah, ini mungkin kesempatan terakhir, lihat dia."
Kedua orang tua Vianji menatap Langit yang masih dalam posisi menginginkan kepastian dari mereka, bersama dengan Samudra dengan wajahnya yang penuh dengan senyum dan keceriaan, agak kontras dengan kakaknya, apalagi dengan mahkotanya yang mencolok seakan mengatakan bahwa mereka memiliki kasta lebih tinggi dari keluarga Vianji.
"Mereka keluarga kaya, Vianji bilang dia jenius, dia juga tampan dan terlihat bisa diandalkan." Kata Ayinda memberikan pertimbangan pada suaminya.
"Ba-baiklah, ini untuk putriku." Katanya sambil menjauhkan bibirnya dari telinga Ayinda, "E-ehm, Langit."
"Ya?"
"Kami akan merestui hubungan kalian." Katanya sambil mengangguk beberapa kali, "Sudah lama kami ingin Vianji menikah, tapi tidak kusangka dengan pria semuda kamu."
"A-anakku, dia, dia agak kikuk dan kurang baik saat berkomunikasi, tolong jaga dia." Kata Ayinda kepada Langit.
"Vianji? Ada sesuatu untuk dikatakan?" Tanya Langit sambil berdiri dengan kotak berisi cincin yang belum dibukanya.
"M-mohon, mohon bantuannya." Kata Vianji terbata-bata sambil menyerahkan tangan kirinya.
Langit meraih tangan kiri Vianji, kemudian membuka kotak putih berisi cincin tersebut dengan satu tangan, cincin yang dikeluarkannya amat indah, warnanya emas, tahtanya tungsten, berliannya kecil dan hanya berjumlah tiga buah, namun sangat berkilau dan menyilaukan, Langit memasangkan cincin itu di jari manis di tangan kiri Vianji tanpa berlutut.
"Mulai saat ini, kami resmi bertunangan, benar?" Tanya Langit kepada kedua orang tua Vianji untuk memastikan.
"Benar, mohon bantuannya hingga hari pernikahan."
Langit menegakkan badannya, adiknya mengerti lalu berdiri di samping kakaknya.
"Kalau begitu, kami pamit dulu." Langit menoleh ke arah Vianji, "Sampai jumpa di sekolah."
"I-iya, sampai jumpa." Jawabnya sambil memegangi tangannya yang dipasangi cincin oleh Langit.
"Oh, kita juga harus pulang." Kata Feder sambil berdiri, "Ayo pulang."
"Iya." Jawab Ayinda yang menggandeng Vianji untuk berjalan.
Mereka melihat Langit sedang mengeluarkan ponselnya untuk membayar tagihan di kasir, lalu pergi keluar dan menunggu pegawai untuk mengambilkan mobilnya yang diparkir entah dimana.
"Aku ingin membayar tagihan meja 315." Kata Feder kepada kasir.
"Meja 315, mohon ditunggu sebentar." Jawab si kasir, "Um, totalnya sebanyak 612 dolar, sudah lunas dibayar."
"Begitukah? Terimakasih." Harga diri Feder diinjak-injak, setidaknya dia ingin membayar seperempat dari total tagihannya sebagai seorang ayah, namun Langit tidak memberikannya kesempatan.
Langit membukakan pintu untuk adiknya masuk ke dalam mobilnya yang sudah diambilkan peponsel parkir, sambil menutup pintunya, dia melihat Vianji dengan kedua orang tuanya yang baru keluar dari pintu masuk. Hanya sambil tersenyum, Langit masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan mereka.
'Sial, Diamond Courser Frigate, bahkan sudah dimodifikasi.' Pikir Feder sambil masuk ke mobilnya yang hanya sebuah Porde seri Bogipop keluaran lama.
Sungguh kontras dengan mobil yang didapatkan Langit dengan memeras profesor Rizaki di laboratorium.
"Vianji, bisa kamu ceritakan tentang Langit?" Pinta ibunya, "Ibu hanya bisa mengenalnya melalui ceritamu, saat ibu melihatnya langsung, ibu kehabisan kata-kata."
"Jadi ibu juga merasa seperti itu? Bagaimana dengan ayah?"
"Jujur saja, ayah kesal." Jawabnya sambil menyetir mobil dengan kecepatan sedang, "Dia sombong, seakan dia itu dewa, sama saja dengan adiknya, lagipula, apa-apaan mahkota yang dia pakai?"
"Di sekolah, Langit amat ditakuti, bahkan oleh para guru sepertiku."
"Mengapa begitu?" Tanya ibunya.
"Um, agak sulit menjelaskannya, bagaimana ya, dia itu berhati dingin, dia tidak segan menyingkirkan siapapun bahkan seorang guru."
"Hah? Bocah itu berani seperti itu? Pamannya pasti pejabat pemerintahan."
"Ayah, dia itu hidup sendirian bersama dengan adiknya, aku pernah diceritakan oleh teman dekatnya Langit, dia tidak memiliki keluarga sama sekali."
"Lalu kenapa dia bisa jadi seperti itu?" Tanya ibunya.
"Kata Putri, teman yang kubahas tadi, dia tumbuh tanpa orang tua sejak 10 tahun lalu, dan hanya adiknya yang tersisa, mungkin itu juga kenapa dia memakaikan mahkota di kepala adiknya tadi."
"Tidak masuk akal." Kata ayahnya yang masih kesal.
"Lalu bagaimana karakternya?" Tanya ibunya mengacuhkan suaminya yang masih kesal sambil menyetir.
"Dia itu jenius, hampir setiap hari setelah dia mengatur program studi semester, dia tidak akan masuk kelas dan berada di perpustakaan sepanjang hari. Meski begitu, dia selalu mendapatkan nilai A dan selalu menjadi juara pararel, dia bahkan mengambil akselerasi ke kelas 3, dan ujian kelulusan akan dilaksanakan bulan depan."
"Itu berarti dia akan lulus sebentar lagi?"
"Sepertinya begitu, dan jika memang seperti itu." Vianji mengentikan kalimatnya, dia mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya yang terpotong, "Em, maka, maka tidak ada halangan untuknya menikahiku."
Di sisi lain, di apartemen Langit, tidak biasanya gagang pintu Senja terlihat bersih, mungkin Senja kembali dari rumah orang tuanya dan akan kembali tidur di sini, setelah kejadian di Jembrana, orang tuanya melarang Senja untuk kembali ke apartemen karena khawatir, mungkin komandan Januri berubah pikiran dan mengijinkannya tinggal di apartemennya lagi.
Tok tok tok,
"Senja? Kau ada di dalam?" Tanya Langit setelah mengetuk pintu apartemen Senja beberapa kali, "Aku ingin bicara sesuatu."
"Ya? Oh, Langit." Senja keluar dari kamarnya dengan kaus oblong dan celana pendek, "Ada apa?"
"Bisa aku masuk?"
"Tentu, tapi maaf, ya, agak berdebu di sini."
"Tak apa."
Senja membereskan sofa di ruang tengah, lalu mempersilakan Langit untuk duduk saling berhadapan dengannya.
"Jadi, ada apa, Langit?"
"Kau akan tinggal di sini lebih lama?"
"Hm, sepertinya begitu, aku sudah tidak trauma lagi dengan kejadian di Jembrana karena ayahku melatih mentalku yang lemah, mungkin aku akan ada di sini beberapa bulan."
Langit mengangguk, lalu bersandar di sofa, "Apa ayahmu memberikan uang saku yang cukup?"
"Hm." Senja mengangguk, "Cukup hanya untuk membayar sekolah satu semester dan makan sehari-hari, kamu mau pinjam uang?"
"Tidak, aku ingin menawarimu pekerjaan."
"Wah, aku tertarik, aku ingin beli baju yang agak macho sedikit." Jawabnya.
"Kita berada di lantai teratas gedung apartemen ini, dan sudah tidak ada lagi penghuni yang tinggal di sini, aku akan merombak apartemen ini menjadi sebuah restoran, dan aku ingin mempekerjakanmu sebagai supervisi, bagaimana menurutmu?"
"Apa tugasku?"
"Hanya mengawasi pengeluaran, mengawasi stok, menandai stok yang sudah habis atau kurang dari jumlah seharusnya, lalu laporan pemasukan dan pengeluaran."
"Yang seperti itu aku sih bisa, asal gak memasak, atau memarahi pegawai."
"Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu, orang lain yang akan melakukannya, bagaimana?"
"Aku mau, berapa gajiku?"
"Entahlah, aku belum tahu pemasukan awal, tapi mungkin gaji awalmu sekitar 300 dolar, bagaimana?"
"Wah, itu banyak banget, itu sudah jatahku makan 4 bulan."
"Kalau kau setuju, aku akan mulai merenovasi apartemen ini."
"Aku setuju." Jawabnya sambil tersenyum cerah.
Langit berdiri, lalu keluar dari kamar Senja tanpa melakukan apapun, saat dia masuk ke apartemennya, dilihatnya Petra sedang menjilati kaki adiknya sambil bertumpu dengan lutut dan kedua tangannya.
Mengacuhkan hal aneh itu, Langit melepaskan setelannya dan menggantungnya di gantungan baju, kini dia hanya menggunakan kaus oblong dan celana pendek.
Tiba-tiba ponsel Langit berdering dan menampilan nomor Oakrose.
"Langit? Kamu di apartemen?"
"Ya, aku di sini."
"Aku akan bawa target padamu sekarang juga kalau begitu."
__ADS_1
"Ya, tolong."