Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Panda dan pedang kembar.


__ADS_3


Pandhu Dania 'Panda' Sangbecik


 


"Wah, ini enak banget."


Senja sangat senang, dirinya memang belum pernah makan makanan manis di pusat perbelanjaan seperti ini.


"Itu namanya kue Sus, makanan kuno jaman Negara Kesatuan." Kata Samudra memberikan penjelasan.


"Kau tidak akan menemui kue Sus di tempat lain selain di wilayah Basuki Raya."


Setelah Negara Kesatuan runtuh, dibentuklah negara serikat dari semua negara yang berada di wilayah Asia, hingga menjadi Negara Republik Asia Serikat.


Dan setiap wilayah memiliki ciri khas masing-masing.


Seperti wilayah Basuki Raya. Wilayah ini meliputi Pertanjang, Tanpel, Petanggung, Katseban, Parangasam, Betawan, Senda, Maden, Kejawan, Petalang, dan Karangsemar. Selain itu, banyak desa yang berada di pinggiran kota.


Sementara Samudra dan Senja membeli camilan yang mereka suka, Putri dan Langit justru berada di restoran bintang tiga yang cukup terkenal.


Mereka duduk berhadapan sembari memilih menu yang ada di daftar menu, dengan pelayan pria di sebelah Langit yang sudah siap mencatat pesanan.


"Sepotong red velvet, satu green tea dengan tambahan krim." Kata Putri memesan pada pelayan.


"Baik, ada lagi?"


"Satu red tea, tanpa es." Kata Langit.


"Baik, tuan. Silakan ditunggu."


Langit membuka daftar menu yang memang ditinggalkan di meja apabila tamu masih ingin memesan sesuatu yang lain.


"Jadi, Putri. Kukira kau cukup kaya untuk memesan truffle goreng."


"Kau meledekku?"


Langit mengeluarkan buku catatan yang selalu dia bawa di saku belakangnya bersamaan dengan pulpen yang diselipkan di catatannya.


"Apa yang kau lakukan? Menulis tugas?"


"Kukira kau ingin membahas rangkumanmu."


Putri kaget sedikit, dia tidak menyangka kalau Langit bisa menebak apa yang dia lakukan.


"Oh baiklah, aku akan sangat terbantu. Lagipula, gimana kamu tahu? Aku baru aja mau nanya."


"Mudah saja, kau menanyakan identitasku saat di kereta."


"Apa hubungannya?"


"Rahasia."


Samudra menghampiri kakaknya, dia terlihat sangat bersemangat.


"Sayang, aku mau ke lantai atas bareng kak Senja."


"Berhati-hatilah."


"Hm!" Jawabnya menangguk lalu segera berlari ke arah Senja.


Langit menatap Putri yang melihat Samudra pergi berdua bersama Senja.


"Hei."


Putri menoleh, "Ada apa?"


Samudra mengernyitkan dahi seolah dia sedang protes kepada Putri yang melupakan topic yang harus dibahas.


"Oh ya ya, ini rangkumanku."


Putri mengeluarkan lembaran kertas yang sangat banyak, jumlahnya mungkin dua kali daripada yang dibawa tadi saat di sekolah.


"Jumlahnya lebih banyak dari tadi pagi?" Tanya Langit kaget.


"Karena aku hanya memberikanmu sebagian saja." Jawab Putri santai.


"Oh, lalu, apa yang ingin kau ketahui?"


"Aku butuh nama pelaku si perawan."


"Aku tidak punya cukup sumberdaya."


"Haaah." Putri menghela nafas, "Kalau begitu cara kerjanya saja."


Langit mengangguk, dia membaca rangkuman itu tidak menggunakan teknik pindai. Dia membaca satu-persatu kata yang dituliskan dengan teliti, dan hati-hati.


Dia menuliskan kembali hal yang dia pikir penting dan patut dipertimbangkan di buku catatan kecilnya.


Langit sangat lama membaca semua rangkuman itu, si pelayan yang tadi sudah kembali lagi dengan pesanan di tangannya.


Setelah meletakkan pesanan Putri dan Langit, pelayan itu kembali lagi bersama dengan buku menu yang tadi ditinggalkan di meja.


Putri menyodorkan teh merah milik Langit, yang disodori tidak peduli dan tetap membaca.


Putri lalu meletakkan gelas teh merah di sebelah Langit, sementara dia sendiri menikmati sepotong red velvet yang sangat manis.


Drrt Drrt


Putri mengeluarkan ponselnya, dia melihat email masuk dari kantor pusat kepolisian.


"Prinses, kami menambahkanmu dalam tim khusus yang dibentuk untuk memburu si perawan. Seperti yang kau tahu, kami sudah memiliki beberapa sumber dan saksi atas beberapa kejadian si perawan. Aku ingin kau ikut serta dalam misi perburuan kali ini."


Putri mengernyitkan dahinya, dia menggigit garpu yang dia gunakan untuk memakan red velvet, dia tampak gelisah.


Lalu Putri akhirnya membalas email tersebut.


"Aku menemukan kandidat yang cocok untuk dimasukkan ke dalam tim. Bisa kau atur?"


Putri menekan tombol send di ponselnya, tidak lama kemudian balasan email tersebut datang.


"Tidak masalah, berikan identitasnya dan kami akan memasukannya ke daftar tambahan."


Putri menutup email itu, lalu menyalakan kamera di ponselnya dan mengambil gambar Langit sedang membaca rangkuman kertas yang dia tulis.


Setelah itu, dia membuka kembali emailnya dan mengirimkan foto itu bersama dengan teksnya.


"Langit Safir, 16 tahun, memecahkan cara kerja si perawan hanya dengan informasi dari televisi yang kutulis di beberapa lembar kertas.


Send, Putri hanya tinggal menunggu balasan saja.


"Kau sudah bermain dengan ponselmu?"


"Oh? Kau juga sudah mengurusi rangkuman itu?"


Langit mengangguk, dia lalu menggambar peta beberapa lingkaran dan menuliskan nama kota di catatan kecilnya.


"Lihat ini, ada 28 kasus pembunuhan dan penculikan oleh si perawan. Semuanya kehilangan organ vital mereka, dan korbannya selalu gadis perawan berumur 16-21 tahun. Dari mereka semua, lokasi pembunuhan dan penculikan hanya ada 7 tempat dan selalu terjadi pada waktu hampir tengah malam hingga dini hari."


Langit berhenti sejenak sambil meminum teh merahnya sementara Putri sudah merekam dengan ponselnya yang ditaruh di meja sedari tadi.


"Motif, mencari uang. Pembeli, pasar gelap. Mata uang yang memungkinkan dipakai, cryptocurrency agar tidak bisa terlacak."


"Lalu bagaimana cara kerjanya?" Tanya Putri.


"Begini. Kau tahu kalau jam ditemukannya korban selalu berurutan?"


"Maksudmu?"


Langit melepas jam tangannya dari tangan kiri, lalu meletakannya di meja.


"Pembunuhan pertama terjadi pukul 11 malam, ditemukan polisi pukul 4 pagi. Pembunuhan kedua terjadi pada pukul 2 pagi, ditemukan polisi pukul 6 pagi. Pembunuhan ketiga terjadi pukul 12 malam, ditemukan pukul 5 pagi. Pembunuhan keempat terjadi pukul 3 dini hari, ditemukan pukul 4 pagi."


"Lalu kelima pukul 1 pagi, ditemukan 7 pagi. Keenam jam 10, ditemukan jam 4. Ketujuh jam 11, kedelapan jam 2."


Langit menatap Putri yang bingung.


"Ini adalah pedoman waktu yang mereka pakai."


"Jelaskan." Kata Putri.


"Pembunuhan pertama selalu terjadi pukul 11 malam, dan pembunuhan berikutnya selalu selisih 3 jam, makanya pembunuhan terjadi pukul 2 pagi. Lalu setelah pembunuhan dini hari, mereka menambahkan satu jam lebih lama daripada jam sebelumnya, yaitu jam 12. Setelah jam 12 selesai, mereka membunuh jam 3 pagi." Kata Langit sambil menunjuk jam tangannya di meja dengan pena.


"Kau-"


"Menurutmu, setelah pembunuhan terakhir terjadi pukul 12, jam berapa mereka akan membunuh lagi?"


"Tig-"


"Benar, jam tiga pagi."


Putri terkejut, dia tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya seolah terkunci, matanya terlihat seperti sudah melihat setan.


Snap snap


Putri tersadar setelah jentikan jari Langit yang cukup keras.


"Sadarlah, aku akan memberitahu cara kerja lainnya."


"Ah, ya ya, beritahukan semuanya."


Langit meminum teh merahnya sedikit, lalu melanjutkan analisis rangkuman ini.


"Pembunuhan terjadi tidak pernah keluar dari wilayah Basuki Raya. Pembunuhan pertama terjadi di kota Katseban, kedua terjadi di kota Petanggung, ketiga terjadi di kota Petalang, lalu Maden, lalu Senda, lalu Tanpel, dan Pertanjang."


Langit menatap Putri yang penuh keringat dingin.


"Lalu pembunuhan terjadi lagi di kota Katseban. Ini adalah urutannya." Katanya sambil memlempar lembaran kertas itu di meja makan.


"Tapi, kenapa mereka gak membunuh secara acak? Apa motifnya?" Tanya Putri dengan suara agak tinggi, membuat pelanggan lain menoleh dan menatap Putri curiga.


"Maaf." Kata Putri sambil menundukkan kepala, pelanggan lain pun kembali ke aktifitas masing-masing, "Lanjutkan."


Langit mengangguk, dia lalu menggambar peta wilayah Basuki Raya lalu mengira-ngira lokasi semua kota yang dia sebutkan.


"Disini Katseban, ini Petanggung, ini Petalang, Maden, Senda, Parangasam, dan Karangsemar." Katanya sambil menulis nama-nama kota tersebut.


"Kalau kutarik garis, maka akan membentuk sesuatu." Langit menarik garis dari kota ke kota sesuai dengan urutannya.

__ADS_1


Tak tak


Langit mengetuk kertas itu dengan penanya dan menunjukkan hasil dari tarikan garis kota-kota yang sesuai dengan urutan di rangkuman Putri.


Garis-garis itu membentuk dua segitiga, satunya terbalik dan satunya tidak. Kedua segitiga itu saling menimpa satu sama lain sehingga membentuk sesuatu.


"Bintang Daud."


"Betul, Putri. Menurutmu, apa artinya Bintang Daud ini?"


"Eh? Ini lambang Negara Perserikatan Eropa Timur, kan?"


"Ada yang lain."


Langit mengeluarkan ponselnya, dia menunjukkan ensiklopedia yang memuat tentang Bintang Daud.


"Selain digunakan untuk lambang Perserikatan Eropa Timur, juga dipakai oleh para Okultis."


"Okultis?"


"Selain uang, ada motif lain dari pembunuhan terencana ini. Pemujaan oleh para Okultis adalah kemungkinan yang harus dipertimbangkan." Kata Langit sambil menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.


"Sekte pemujaan?" Tanya Putri memastikan.


"Benar."


"Haaah." Putri memegang dahinya yang terasa berat.


Drrt Drrt


Ponsel Putri berdering, dia yakin atasan mengirimkan balasan untuknya mengenai perekrutan Langit ke dalam tim. Dibukanya ponsel, lalu dia melihat isi email tersebut.


"Kami sudah menyelidiki Langit Safir. Dia memiliki IQ 210 menurut tes tahun 2120, juara 1 panahan tingkat nasional 4 kali, dan lari jarak 100 hingga 400 meter saat SMP dengan waktu sedetik lebih lambat dari juara nasional. Kau menemukan orang hebat. Selamat, Prinses."


Putri menutup ponselnya, dia menatap Langit yang memperhatikannya sambil meminum teh merahnya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Langit setelah meletakkan gelasnya.


"Ya."


"Pembunuhan terakhir terjadi di kota Pertanjang, berarti berikutnya-"


"Akan terjadi di kota Katseban." Kata Putri memotong kalimat Langit.


Langit mengangguk, lalu membereskan semua catatannya dan merapikan semua yang dituliskannya menjadi setumpuk kertas.


Dia memberikannya pada Putri, lalu berdiri sambil memegang gelas teh merahnya. Setelah itu dia meneguk habis teh merahnya dan meletakkan gelasnya di meja.


Langit mengeluarkan uang dari dompetnya, dia meletakkan uang dengan jumlah pas di bawah gelas minumannya.


"Cepatlah kembali dengan data-data itu, Putri. Kau tidak ingin kehilangan pelaku lagi, kan?"


"Hah?" Putri kaget, matanya melihat tajam ke arah Langit, kecurigaan muncul padanya setelah mengatakan kalimat itu.


"Apa maksu-"


"Sayaang!" Samudra berlari kecil menuju Langit sambil membawa boneka panda besar, diikuti Senja yang kelelahan di belakangnya.


Langit menoleh, dia melambai pada adiknya.


"Anggap saja aku sudah tahu apa yang kau lakukan, Putri."


Setelah mengatakan kalimat itu, Langit menghampiri adiknya yang membawa boneka panda besar itu.


"Lihat ini! Aku dapat panda setelah dapet kupon banyaaaak!" Katanya sambil memainkan nada bicara saat mengatakan 'banyak'.


"Apa yang dia lakukan, Senja?"


"Dia hancurin rekor akurasi menembak."


Langit mengelus kepala adiknya, dia merasa seperti orang tua yang bangga dengan kemampuan anaknya.


Putri yang tadinya masih di meja kini menghampiri ketiga orang itu.


"Waah, pandanya gede banget."


"Iya dong! Hehehe."


"Ayo pulang, ada beberapa hal yang harus diurus." Langit menggandeng tangan adiknya yang masih kegirangan.


"Hm!" Samudra mengangguk kencang, "Memangnya sayangku mau ngapain?"


"Nyari duit."


***


 


 


 


 


Pandhu Dania "Panda" Sangbecik


Brak


"Oh hai, Bos." Panda menyapa Putri saat dia sedang mengetik sesuatu di komputernya, "Biasanya juga tidak kemari. Ada apa?"


"Aku membacanya, kau termasuk tim Khusus?"


"Ya." Panda menggeser kursinya yang memiliki roda.


"Aku terpilih untuk pemrosesan data, letnan satu." Jawab Panda.


"Sebentar, aku membaca daftarnya saja tapi kenapa tidak ada tulisan jabatan di sana?"


Putri duduk di kursi kosong di sebelah Panda.


"Oh, kau tidak membacanya sampai habis." Panda lalu membuka email tersebut di komputernya, "Lihatlah ini."


"Aku kapten, lalu kau Letnan Satu, di pemrosesan data." Putri berbicara sendiri, Panda menggeser email ke bawah.


"Tim assault ditangani Naga, Harpy, dan Miru."


Panda menggeser emailnya lagi.


"Tim runduk diisi Garuda, Karin, dan Loki. Lalu transportasi diisi Kepler dan Yuri."


"Lalu ini apa, Prinses? Kau tahu?" Panda menyela Putri yang masih membaca daftar nama dan peran di monitor Panda.


"Oh, tim tambahan. Aku merekomendasikan dia dan, tunggu sebentar." Putri mengernyit, setahu dia, nama Langit diserahkan tanpa diberi nama kode seperti yang lain.


"Archer? Dia kira anak ini pemanah?"


"Memangnya kau tahu dia siapa? Tahu-tahu dimasukin ke tim." Panda menutup email tersebut dan kembali ke pekerjaannya sambil mengobrol.


"Yang kutahu, dia punya logika di atas rata-rata. Katanya sih IQ nya 210."


"Wah gila, ada ya orang punya otak kayak gitu." Panda mengatakannya nyaris dengan tanpa intonasi.


"Oh ya, Panda. Siapa namamu? Sepertinya aku lupa lagi."


"Kebiasaan nih, namaku Pandhu Dania Sangbecik. Kepalamu terbentur sekeras itu?"


"Hm-m, kalau Naga sih aku masih ingat. Namanya Navisha Eka Sari." Katanya sambil merendahkan kursinya hingga dia bisa berbaring.


"Kalau Garuda?" Tanya Panda sambil menyeruput kopi kalengan di sebelah keyboardnya.


"Garuda? Oh, aku tahu. Namanya Sulthana Ayu Sekar, kan?"


"Wah, hebat. Padahal kamu ga segitu akrab dengan mereka." Jawab Panda, "Tapi kalau aku yang akrab banget sama kamu malah dilupain."


"Wahaha, jangan marah gitu dong."


"Hm-m, terus? Apa yang membawamu ke tempat kotor kayak gini?"


Panda menoleh, wajahnya wangat kusut, kedua kantung matanya terlihat lebam menghitam.


"Sebelum itu, berapa hari kau tidak tidur?" Tanya Putri sambil menaikkan punggung kursinya.


"Aku belum pernah tidur sejak insiden itu, kau lupa lagi?"


"Ah, benar juga."


Panda adalah salah satu personil kepercayaan Putri, mereka bekerja bersama selama lebih dari 3 tahun dan Panda memiliki banyak pengalaman karena dia memang lebih tua beberapa tahun daripada Putri dan sudah direkrut kepolisian sejak lulus SMA.


Insiden yang dimaksud Panda adalah insiden kriminal yang menghancurkan korban dengan hipnotis.


Mereka menghipnotis korbannya agar supaya bisa dicuci otak dan dijual dengan harga tinggi sebagai budak atau hal lain seperti hal-hal seksual.


Dan Panda, adalah orang yang pernah lalai dari pengawasan Putri. Dia tertangkap dan disekap selama 6 hari. Dan dalam 6 hari itu, dia dihipnotis dengan ingatan palsu yang sangat menyeramkan.


Menurut keterangan psikolog ahli, Panda dihipnotis dengan ingatan saat dia sedang menuju kematian. Detik-detik kematian yang sangat mencekam disertai dengan berbagai cara dia mati.


Kadang digiling oleh mesin giling daging, atau dikejar para kanibal saat diturunkan di pulau terpencil untuk melaksanakan misi.


Beberapa kali dia mengalami PTSD berat dengan ingatan saat dia dipanggang hidup-hidup, atau diperkosa menggunakan ujung tombak lalu dimasak dengan cara diguling.


Namun semua itu adalah kejadian 3 tahun lalu, sekarang semuanya sudah terkendali dan Panda sudah memiliki ingatannya kembali meskipun trauma masih melekat pada dirinya.


"Ini, aku mau memberikanmu ini." Putri memberikan kertas-kertas yang didapatkan dari Langit.


"Ini?"


"Archer memberikannya padaku. Dia menganalisis cara kerja si perawan."


"Berikan padaku."


Panda membaca catatan Langit dengan seksama, dia menggigiti pulpennya sambil membolak-balik halaman di tangannya.


"Okultis? Pemujaan?"


"Itu salah satu kemungkinan dari motif si perawan. Selain mencari uang."


"Oh benar. Lalu, dia mengatakan padamu kalau pembunuhan berikutnya akan terjadi di kota Katseban?"


"Iya."

__ADS_1


"Aku harus memberitahu atasan." Kata Panda sambil membuka email dan mulai mengetik.


"Panda, aku punya perintah untukmu."


Panda menoleh, "Apa?"


"Bisa kau cari tahu apa saja yang dibutuhkan untuk melawan okultis?"


"Tentu."


***


Langit sedang berada di kamarnya, ruangan ini hampir mirip seperti ruangan yang ditempati Panda. Namun lebih rapi dan lampunya menyala. Setelah orang tua Langit meninggal dalam kecelakaan yang sebenarnya bukan kecelakaan, Langit harus menghidupi adiknya Samudra.


Penyebab kedua orang tuanya meninggal adalah kecelakaan berantai di jalan tol Pangabe - Harphia. Setidaknya, itulah yang dikatakan polisi kepada Langit dan Samudra.


Namun Langit tidak percaya begitu saja dengan penuturan pihak kepolisian karena terlalu banyak hal yang janggal pada insiden kecelakaan orang tua Langit. Maka dari itu dia berniat menyelidikinya sendiri dengan caranya sendiri.


Bagaimana dia menghidupi dirinya sendiri bersama dengan Samudra adalah hal yang mustahil jika dilakukan tanpa bekerja keras di suatu perusahaan tertentu.


Namun, orang tuanya hanya meninggalkan asuransi kejiwaan, rekening bank dan gedung apartemen ini. Dengan uang yang dia dapatkan dari rekening orang tuanya, dia merakit komputer yang sangat tidak lazim.


Dia menggabungkan 6 monitor dengan dua CPU berbeda, namun hanya dengan satu keyboard dan satu mouse. Dia juga membeli seperangkat alat pelindung seperti firewall atau VPN yang dia percayai, juga menyambungkan komputernya dengan kabel serat optik yang mampu menyediakan koneksi internet super cepat. Saat dites, Langit mampu mendownload permainan video sebesar 640 gigabyte hanya dalam waktu semenit.


Dengan perangkat komputer yang dia rakit, dia menyusuri web terlarang, meretas Battcoin dan memenangkan kontes 'Peretas Abad Ini', dia mendapatkan 400 Battcoin yang saat itu seharga 83 milyar dolar Republik.


Langit menjadi kaya mendadak hanya dalam waktu seminggu berada di dalam kamar tanpa keluar dan hanya makan makanan instan yang dibelikan adiknya.


"Kakak, istirahatlah. Kakak sudah berada di depan monitor terlalu lama, itu tidak baik, kak. Nanti kakak sakit, aku khawatir."


"Kemarilah, Samudra."


Samudra yang saat itu masih SMP kelas 2, tidak mengerti apapun yang kakaknya lakukan, sehingga dia cemas karena kakaknya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.


"Apa ini, kak?"


"Kalau kakak mengganti tampilan situs ini, hanya merubah warna tulisannya saja, kakak bisa dapat uang yang cukup untuk hidup kita sampai tamat kuliah."


"Hah? Benaran, kak? Kok bisa?"


"Kakak mengikuti kontes 'Peretas Abad Ini' dan hadiahnya kalau dijumlah, sekitar 80 milyar."


"Wow! Kita bisa membeli rumah dan sekolah hingga lulus." Samudra terkagum-kagum, dia pikir kakaknya hanya bermain permainan video namun ternyata dia bekerja keras.


"Iya, Samudra. Kamu bisa menjadi dokter lalu menaiki helikopter kemanapun kau pergi." Kata Langit sambil mengelus rambut Samudra yang saat itu masih pendek.


"Sekarang pergilah tidur, Samudra. Kakak hanya tinggal sedikit lagi menyelesaikan ini semua."


"Hm-m! Kakak kalau sudah selesai juga tidur ya! Jangan sakit, aku bisa sedih."


Langit tersenyum, dia mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Samudra keluar dari kamar kakaknya, dia menutup pintu perlahan karena takut mengganggu kakaknya bekerja.


"Lalu, wallpaper, nah."


Langit berhasil, dia mengganti wallpaper dan warna teks di situs resmi Battcoin dan dia saat ini sudah berhak mendapatkan hadiah sebesar 400 Battcoin di akun Battacor miliknya.


Selagi menunggu hadiahnya dikirim, Langit menghapus jejaknya yang tersisa di situs Battcoin. Menghilangkan Log, mengunci semua lokasi palsu, dan menyamarkan semua informasi pribadi miliknya.


Keesokan harinya, saat Langit bangun dari tidurnya, dia melihat monitor komputernya yang tidak dimatikan.


Langit menyadari kalau balon notifikasi akun Battacornya sudah ditransfer 400 Battcoin dan dia bebas menarik uang dari akun ini berapapun jumlahnya. Saat dia membuka situs resmi Battcoin pun, pemenang kontes 'Peretas Abad Ini' sudah diumumkan dan nama akunnya dicantumkan dengan ukuran teks yang besar berwarna kuning keemasan.


Di bawah nama akunnya yang besar itu, ada teks tambahan bertuliskan 'Kontes Peretas Musim Dingin Dibuka, hadiah 30 Battcoin'.


Sebenarnya, sistem kontes peretasan ini adalah, siapapun yang bisa meretas situs resmi Battcoin dan mengubah tampilannya, atau bahkan membuat servernya hancur, akan dianggap sebagai pemenang kontes peretasan dan diberi hadiah sebesar jumlah yang dijanjikan.


Tidak banyak orang yang mampu meretas situs ini dan hadiahnya menumpuk seiring waktu. Saat 'Peretas Musim Ini' dibuka, tidak ada seorang pun yang bisa menembus jaringan keamanan situs Battcoin dan membuat hadiahnya menumpuk dari 30 Battcoin, menjadi 400 Battcoin.


Dari 'Peretas Musim Ini' menjadi 'Peretas Abad Ini' dan pemenang kontes 'Peretas Abad Ini', dimenangkan oleh Langit dan membuat peretas lain menangis darah.


"Samudra! Kemarilah!"


Samudra membuka pintu dan masuk ke kamar kakaknya, "Ada apa, kak?"


"Kakak berhasil, kita mendapatkan 80 milyar."


"Huwaah?! Benarkah?!"


"Hm-m!"


"Syukurlah! Kakakku memang jenius!" Samudra melompat ke pelukan kakaknya yang baru saja terbangun dari tidur seharian.


Samudra mengangkat wajahnya, dia melihat wajah kakaknya sangat kurang tidur. Kantung matanya hitam seperti luka lebam, matanya merah, pupilnya membesar dan nafasnya berat.


"Kakak, selamat yah."


"Iya."


Samudra melepaskan pelukannya, dia menuntun kakaknya ke atas kasur dan menyuruhnya untuk tidur tanpa berbicara sedikitpun.


Namun semua itu adalah cerita lama. Kini, Langit dan adiknya sudah hidup aman dan nyaman dengan segala kebutuhan yang dia sediakan.


Yang dia lakukan dengan komputernya saat ini hanyalah transaksi Battcoin demi mendapatkan uang lebih, jual beli seperti ini sekarang sudah menjadi kebiasaannya.


Seperti sekarang, saat Battcoin sedang murah, dia membeli semua Battcoin yang ada di pasar tanpa pikir panjang.


Dalam beberapa hari setelahnya, kurs Battcoin akan naik beberapa persen dari keadaan normal, dan waktu ini sangat tepat untuk menarik separuh Battcoin yang ada di akun Battacor miliknya. Hal ini dia lakukan terus menerus selama 2 tahun dan pendapatan bersihnya dalam sebulan bisa mencapai 30 juta dolar republik.


"Kakak!"


Samudra berteriak dari ruang tengah, teriakan itu bercampur dengan emosi yang dinamakan panik. Dan saat keluarga satu-satunya berteriak seperti itu, insting seorang kakak yang harus melindungi adiknya akan otomatis mengambil alih fungsi otak dan memberikan komando secara instan.


Langit mengambil dua replika pedang kait yang dia pajang di kamarnya, dia membelinya hanya untuk pajangan dan juga pedang kait adalah senjata kuno yang sangat unik karena bentuknya melengkung menyerupai kail pancing.


Brak


"Samudra!"


Mata adalah organ vital manusia yang terhubung langsung ke otak, dengan gabungan dari insting seorang kakak, juga pemrosesan data dari matanya yang dikirim menuju otak jeniusnya, mengambil keputusan cepat adalah hal mudah.


Karena itu, Langit segera berlari menuju orang-orang berpakaian hitam yang menyekap adiknya.


Tanpa perlu basa-basi, Langit mengayunkan kedua pedangnya dan berhasil mengenai salah satu orang.


Dengan menyambungkan kedua pedang kait, Langit mendapatkan jangkauan serang lebih jauh, sehingga ayunan pedangnya mampu mengenai pundak seorang lagi.


Setelah itu Langit membiarkan pedang itu tertancap di punggung orang itu sementara pedang satunya lagi dia gunakan untuk menarik kerah baju Samudra.


Tarikannya berhasil, Samudra berada di belakang Langit yang kini hanya menggunakan satu pedang saja.


Meskipun ini pedang replika yang tidak tajam, ujungnya tetap bisa menusuk daging.


"Kembali ke kamar dan ambilkan estoc!"


"Iya!"


Adiknya berlari menuju kamarnya, 4 orang lainnya yang masih mampu berdiri mengeluarkan pistol yang dilengkapi peredam suara.


Melihat hal itu, tidak ada cara lain selain maju ke depan dan melawan orang-orang di hadapannya.


"Aaahhh!"


Sebelum salah satu pistol menembakkan pelurunya, Langit sudah memukul tangan salah satu dari mereka dari bawah, hingga pistol yang dipegangnya terangkat dan memberikan Langit kesempatan menyerang.


Kemudian Langit menendang yang satunya lagi, peluru berhasil ditembakkan namun meleset. Orang itu terjatuh dan Langit menancapkan pedang ke punggungnya, setelah itu mencabutnya lagi.


Langit menancapkan kait pedangnya ke punggung orang lainnya, menyebabkan dia tertarik ke arah Langit yang sudah siap dengan kepalan tangannya.


Duak


Pukulan telak membuat otaknya terguncang lalu pingsan.


Setelah itu, Langit berlindung di belakang tubuh orang pingsan tersebut, lalu menerjang orang yang mengarahkan pistol padanya.


Clack clack clack clack clack


Peredam sejatinya tidak membunuh suara secara penuh, mereka hanya menghilangkan suara ledakan mesiu, namun suara barel dan pelatuk masih tetap ada dan tetap terdengar dari jarak beberapa meter.


Tentunya tidak akan terdengar jika kau berada di ruangan lain.


Langit mendengar suara tembakan pistol itu, dan berhasil selamat karena dia menggunakan lawannya sebagai tameng.


Srak


Orang itu mengeluarkan magazin dari pistolnya untuk menggantinya dengan yang baru.


Satu-satunya kelemahan senjata api adalah pelurunya yang terbatas.


Langit memanfaatkan kesempatan ini dengan menembakkan pistol yang belum sempat ditembakkan lawannya tadi.


Clack Clack Clack Clack Clack


Amunisinya habis, semua tembakannya meleset. Langit menyingkirkan mayat lawan yang tadinya dia gunakan sebagai tameng.


Mereka berdua saling memukul, saling menangkis. Tendangan berputar Langit digagalkan dengan sapuan rendah oleh lawannya, menjatuhkan Langit dan membuatnya rentan.


Lawannya yang melihat kesempatan itu lalu menindih Langit dan melancarkan pukulan ke wajahnya, sementara Langit melindungi wajahnya dengan satu tangan dan tangan lainnya mencoba menyingkirkan dia.


"Kakak!"


Samudra melemparkan estoc pada Langit, karena mencari estoc yang dimaksud kakaknya memerlukan waktu, akhirnya dia sedikit terlambat.


Tangan kiri kakaknya yang bebas, menangkap estoc itu dan menusukkannya ke tengkuk lawannya, menyebabkan lehernya berlubang dan darah mengucur deras membasahi Langit.


"Hoegh, uhuhgh!"


Tenggorokan adalah pipa untuk mengeluarkan udara dan tentunya satu paket dengan pita suara. Namun kedua hal itu tidak lagi berfungsi apabila tenggorokan ditusuk sehingga lawannya pun tidak bisa berbicara.


Langit menyingkirkan mayat lawannya, dia lalu berdiri dan menusuk kepala masing-masing dari mereka.


"Kakak! Apa yang kau lakukan?!"


"Memastikan mereka mati."


Crack


Tempurung kepalanya pecah ditembus estoc milik Langit, adiknya menangis di kursi sambil memeluk bantal dan menggigiti ujungnya.


Langit menatap semua mayat di bawahnya.

__ADS_1


"Mereka ini siapa?"


__ADS_2