Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Elish DeCapel


__ADS_3


Elish DeCapel


 


Langit masuk ke kamar Vianji lalu ganti baju di sana. Di luar, keluarga Vianji yang sedang berkunjung menanyai tentang siapa Langit sebenarnya dan kenapa mereka terlihat akrab.


"Dia tunanganku." Jawab Vianji sambil menunjukkan cincin pertunangannya yang diberi oleh Langit.


"Eh, benar?" Tanya paman.


"Wah, Vivi akan menikah." Kata bibi.


"Sudahlah, aku malu." Kata Vianji sambil menepis udara dengan tangannya, lalu masuk ke kamar ibunya dang anti baju.


"Hahaha." Semua orang tertawa melihat tingkah polos Vianji.


Langit keluar dari kamar, dia memakai kemeja warna merah dan celana panjang warna biru gelap yang nyaris hitam.


"Waah, pakai baju biasa seperti ini saja sudah ganteng, apalagi kalau pakai setelan." Kata Ayinda berkomentar, sementara yang lainnya mengangguk tanda setuju.


Langit tidak berkomentar apa-apa saat mereka mengomentari bajunya, menurutnya baju ini biasa, karena memang pakaian sehari-hari Langit adalah kemeja dan celana panjang, jika di rumah, dia pakai kaus dan celana pendek.


Vianji keluar dari kamar ibunya dengan baju untuk pergi kencan, baju terusan motif bunga warna biru muda.


"Ayo pergi." Ajaknya sambil menggandeng tangan Langit, keluarganya sudah sangat antusias hingga dia malu.


"Memang kita mau ke mana?" Tanya Vianji setelah masuk ke mobil.


"Perabot dan peralatan masak sudah selesai dibeli, kita sedang mencari art dealer." Jawab Langit sambil memasukkan persneling ke gigi satu.


"Art dealer? Umm, seperti galeri?"


"Seperti galeri, mereka jual lukisan, patung, dan hal lain."


"Ohh, dekorasi rupanya."


***


Setelah semua barang terbeli, Langit pergi ke satu tujuan lagi. Dia paham tentang Vianji yang gugup, dan memerlukan sedikit tambahan kegugupan lagi agar Langit terhibur, makanya, dia membawa Vianji pergi menuju tempat yang sudah dihubunginya, sebuah salon untuk menangani pernikahan skala besar. Ada banyak gaun dan setelan yang bisa dicoba di sana, dia juga bisa memesan spa dan pijat terlebih dahulu, atau sekadar memesan minuman dan camilan di bar.


"Kita ngapain ke sini, Langit?"


"Kita butuh pakaian untuk pernikahan."


"Y-ya, ta-tapi, kenapa, di Flourishment?"


"Memangnya kenapa?" Tanya Langit sambil keluar dari mobil dan membuka pintu Vianji.


"Tempat ini mahal, es teh di dalam saja harganya 15 dolar." Jawab Vianji sambil turun dari mobil dengan menggenggam tangan Langit.


"Kita mencari gaun untuk pernikahan kita, bukan mencari makanan." Jawab Langit sambil menggandeng Vianji masuk.


"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita yang menjadi pegawai di sana.


"Kami mencari gaun pernikahan."


"Baik, lewat sini, tuan dan nyonya."


Langit melihatnya mencoba berbagai macam gaun pengantin, ada yang model terusan biasa, ada yang pakai banyak renda, ada yang model mengembang, karena terlalu lama menunggu dan terlalu lelah karena kurang tidur, akhirnya Langit terlelap di kursi tunggu.


"Ngit, Lang, Langit."


"Hng?" Langit terbangun setelah badanya digoyang-goyang oleh Vianji.


"Aku sudah coba beberapa macam gaun."


"Hah, oh iya, bagaimana?"


"Aku tidak bisa memilih." Jawab Vianji sambil duduk di sebelah Langit lalu membuka ponselnya dan menunjukkan fotonya memakai gaun pengantin kepadanya, "Coba lihat."


Langit menggeser-geser galeri di ponsel Vianji, dia memakai model bermacam-macam, Langit menyukai semuanya, tapi dia merasa kurang, lalu dia mengangkat tangannya untuk memanggil karyawan yang tadi.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Bisa kombinasikan gaunnya?"


"Tentu, ingin dikombinasi seperti apa?"


"Aku ingin dia memakai model rok mengembang dengan renda, tapi tanpa layer dan membuat kainnya terlihat jatuh secara alami."


"Tentu, ada lagi?" Tanya karyawan sambil mencatat perkataan Langit.


"Atasannya tidak ada masalah, tapi bisa buat lengan panjang yang lebar?"


"Tentu, ada mau menambahkan layer dan renda?"


"Tidak, berikan saja glitter, lalu berikan dia mahkota."


"Ada beberapa macam mahkota, ini daftarnya." Kata karyawan itu sambil memberikan buku katalog berisi foto dan spesifikasi mahkota.


"Model yang seperti ini cocok untuknya, menurutmu model rambut apa yang pantas dengan mahkota ini?" Tanya Langit sambil menunjuk sebuah mahkota yang terlihat bukan seperti mahkota ratu, melainkan raja.


"Model soft-updo mungkin bisa, atau half French-braid."


"Sepertinya dutch half-braid akan menjadi sesuatu di sini." Kata Langit.


"Baiklah, apa itu saja?"


"Itu saja, kapan kami bisa kemari lagi?"


"Lusa silakan datang kembali."


Tanpa menjawab apapun, Langit menggandeng Vianji keluar lalu menuju mobil yang ada di parkiran.


"Kamu lapar, Vi?" Tanya Langit.


"Sedikit." Jawab Vianji sambil tersenyum.


Dia mulai terbiasa dengan Langit, apalagi saat dia memilihkan sesuatu untuknya, pilihannya sesuai dengan yang ada di pikirannya, sehingga Vianji tidak punya kesempatan untuk protes sedikitpun. Dia kini paham kenapa adiknya sangat menyayangi kakaknya.


Ponsel Langit berdering, nama adiknya muncul di layar, setelah menyambungkannya dengan in-ear, Langit sudah bisa mulai berbicara.


"Kakak, aku sudah sampai di rumah."


"Petra bersamamu?"


"Dia menjilati sisa makanannya di lantai, kakak di mana?"


"Aku sedang menuju DePasso, kamu ingin sesuatu?"


"Bawakan saja sesuatu untukku, mungkin yang manis? Seperti bibir kakakku? Hehe."


Langit tersenyum saat dia digoda adiknya sendiri.


"Baiklah, tuan putri, akan kubawakan es krim cokelat, makaron, dan beberapa lainnya."


"Hehe, makasih, kakak memang yang terbaik."


"Sama-sama."


"Bye, muah."


Langit langsung mematikan ponselnya begitu adiknya mengatakan 'muah' seperti sedang mengecup seseorang, dia geli sendiri karena dia tahu betul adiknya sedang menyindir kelakuan kakaknya saat berada di helikopter dengan 'peluk cium' di akhir kalimat di pesan yang dia kirimkan untuk Vianji saat pagi buta.


Setelah makan di DePasso, dan membawa pulang es krim, makaron, dan makanan manis lain untuk adik dan keluarga Vianji, dia mengantar Vianji pulang ke rumahnya, lalu pergi ke apartemennya sendiri.


Sesampainya di apartemen, Langit disambut dengan ceria oleh adiknya, sementara Petra sedang kejang-kejang karena sengatan listrik kecil di leher dan di sekujur tubuhnya yang diikat dengan kabel.


"Kakak." Samudra menghamburkan dirinya di dada kakaknya, karena berat badan yang berbeda, Langit tidak terjatuh ke belakang.


"Ini, es krim dan lainnya."


"Hehe, makasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


Setelah ganti baju, Langit langsung duduk di depan komputernya dan melihat ada pesan masuk dari Panda.


[Aku sudah mengintrogasi mereka, informasi yang kudapatkan terlalu abstrak. Aku memakai pertanyaanmu kemarin untuk membuat lingkaran pemanggil dan doa-doa, tapi keduanya sama seperti kasus Videl.]


Pesan itu datang dari Panda bersama beberapa dokumen seperti video, tulisan, dan foto.


Lingkaran pemaggil yang dibuat keempat orang itu sama persis seperti yang dibuat oleh Videl, doa-doa yang diucapkan juga sama.


[Kau masih bisa interogasi mereka?]


Pesan itu sudah dikirim Langit melalui ruang obrolan.


[Bisa, aku sekarang sedang di markas kostrad, mereka ditahan di sini.]


[Tanyakan pada mereka, ada di mana Altar Solonnel, apakah mereka orang-orang Baetruneya, dan juga, kirimkan aku semua dokumen yang kita ambil dari gereja setan di Kyuto.]


Setelah mengirimkan pesan itu, Langit langsung mendapatkan puluhan hasil pindai dokumen yang mereka dapatkan di gereja setan kemarin. Hasil pindai yang dikirim Panda sangat bagus, dia bisa membaca semuanya dengan jelas.


Langit membaca semuanya satu per satu, tidak ada yang dia lewatkan. Sebagian besar dokumen hanya berisi tentang catatan laporan keuangan, keanggotaan, dan lain-lain. Tidak ada yang spesial.


Ping


Suara notifikasi pesan masuk berbunyi, tanda Langit mendapatkan pesan baru.


[Aku sudah menanyai mereka tentang Altar Solonnel, mereka semua memberikan jawaban yang sama. Mereka adalah Solonnel itu sendiri, aku tidak mengerti.]


[Aku mengerti artinya, tapi aku ingin pastikan sesuatu. Apa mereka bilang sesuatu soal Baetruneya?]


Langit menunggu jawaban setelah selesai menekan tombol enter.


Ping


[Kata mereka, Baetruneya adalah Kyuto secara keseluruhan.]


[Kalau begitu ini semua jadi cocok, kita pergi ke gedung Mediport di Kyuto, kita akan melakukan penelitian.]


[Tak apakah? Aku yakin Prinses bisa mengatur jadwal itu semua, tapi, kamu kan sekolah.]


[Ujian akhir sebentar lagi, kelulusanku sudah dipastikan. Siapkan saja pesawat ke Kyuto, helikopter lebih cocok untuk perang. Kita berangkat jam 9 pagi dari hangar.]


[Akan kukatakan pada Prinses.]


Setelah mendapatkan beberapa informasi yang menurutnya valid, dia berdiri dari kursi komputernya lalu berbaring di kasur, tubuhnya sangat lelah, tidak cukup tidur menyebabkan matanya sangat berat untuk dipaksa melek sepanjang hari. Sayup-sayup terdengar suara desahan gadis dari luar, tapi itu pasti ulah adiknya yang sedang mengerjai Petra.


Keesokan harinya, Langit terbangun dengan tubuh yang sangat ringan, tidurnya sangat nyenyak semalam, tidak seperti biasanya. Saat turun dari kasur, dia seperti menginjak sesuatu.


"Petra?" Kata Langit melihatnya tanpa sehelai benang kecuali kalung dan rantai di lehernya.


"Hnh? Oh, Langit, kamu bangun?" Petra terbangun dari tidurnya dan memberi sebuah remot pada Langit, "Mau main denganku?"


"Ini masih pagi, aku mau makan."


Langit keluar bersama Petra yang wajahnya cemberut dan kusut, sepertinya kain lap kotor pun lebih rapi dan enak dilihat daripada wajah Petra saat ini.


"Oh, jangan begitu, nanti aku buatkan gelang untuk tangan dan kakimu." Kata Langit setelah muak dipandang terus menerus dengan wajah ketus Petra.


"Benar?" Tanya Petra dengan wajah yang tiba-tiba ceria.


"Benar, sekarang makan dulu."


Langit meletakkan makanan Petra di mangkuk kecil dengan nama Petra di sampingnya, dari modelnya, mangkuk itu khusus untuk makanan anjing, tapi saat Petra mendapatkannya, dia sangat senang.


"Terimakasih, Langit." Kata Petra sambil merendahkan tubuhnya lalu makan di lantai dengan posisi seperti anjing.


"Tumben masak tempe?" Tanya Langit pada adiknya.


"Lagi diskon, tahu juga murah sih, tapi malas masaknya." Jawab Samudra sambil mengambil sepotong tempe lagi.


"Kita sekolah pagi ini?" Tanya Samudra melanjutkan.


"Sepertinya tidak, aku akan pergi ke tempat kemarin, ada sesuatu yang harus dicek langsung."


Kalimat Petra berhenti setelah Langit menginjak wajah Petra sampai terbenam di lantai, setelah itu dia menginjaknya berkali-kali hingga wajah Petra penuh dengan memar dan mimisan.


"Habiskan makananmu." Kata Langit, "Dan jangan ikut campur."


"Haah-haah, hehe, iya, terimah, kasih." Jawab Petra dengan senyuman dan nafas yang terengah-engah.


Setelah menyelesaikan makanannya, Langit dan adiknya segera mandi lalu bersiap menuju hangar, memang Putri belum memberikan konfirmasi keberangkatan menuju Kyuto, tapi Langit yakin dia akan melakukannya dan bicara pada atasan, dan atasan yang dibicarakan oleh Langit seperti komandan Januri, sudah pasti menyetujuinya.


"Kalian pergi ke mana?" Tanya Petra sambil menjilati mangkuknya, rantai di lehernya berbunyi nyaring saat dia melakukannya.


"Berikan remotmu." Kata Langit sambil menerima remot dari Petra, "Jangan mematikannya sampai baterainya habis."


"Iya-aaahhkk!"


Langit menyalakan kalung Petra, dia tersengat sengatan listrik ringan, itu hanya akan membuat tubuhnya kejang dan panas saja, tidak akan berdampak buruk pada otaknya, bahkan jika sampai semalaman melakukannya.


"Jaga rumah, Petra, kami pulang malam." Kata Langit meninggalkan apartemen dengan Petra yang menahan teriakannya.


"Langit? Kalian mau ke mana?"


Senja keluar dari kamarnya, dia tidak memakai seragam sekolah, mungkin karena bangun kesiangan.


"Kau tidak pergi ke sekolah?" Tanya Langit sambil mengunci pintu apartemennya.


"Oh, aku tidak ada jadwal hari ini." Jawabnya gelisah, "Um, soal itu."


"Kau sudah tahu?"


"Eh, um-m, hm-m." Dia mengangguk, "Anu, apa ini, termasuk, ehm, itu."


"Pelecehan seksual?" Tanya Langit menebak pertanyaan Senja, sementara dia hanya mengangguk saat Langit menebaknya.


"Bukan pelecehan namanya kalau dia memang menyukainya, aku hanya dimintai bantu olehnya." Kata Langit menjelaskan, "Lagipula, apa tidak sebaiknya kau ke bawah? Orang-orang mulai mengecat apartemen."


"O-oh! Iya, aku akan ke bawah." Jawabnya sambil masuk ke dalam untuk berganti baju.


Langit bersama adiknya keluar dari apartemen menuju hangar tempat Langit membuat janji dengan yang lain, saat ini sudah pukul 8 lebih sedikit, jika atasan Putri bertindak cepat, seharusnya mereka sudah menyetujui hal ini dalam beberapa menit. Saat perjalanan, Langit tidak banyak bicara seperti biasa, sementara adiknya tersenyum dengan wajah yang cerah, membuat kakaknya penasaran.


"Ada apa? Wajahmu senang begitu."


"Es krim yang kakak bawa semalam baru kumakan tadi subuh." Jawab Samudra sambil memainkan ponselnya dan membuka Twittard.


Langit paham betul kalau adiknya sangat suka dengan sesuatu yang manis, apalagi cokelat olahan yang dibuat dengan susu yang banyak, itu bisa membuat moodnya bagus seharian, namun Langit tidak bisa membelikannya terlalu sering karena jelek untuk gigi adiknya yang sangat rapi, dengan taring yang panjang.


"Lihat ini, aku ada di topik yang sedang tren minggu ini." Kata Samudra sambil memperlihatkan ponselnya pada Langit.


Sejak kejadian protes kepada DPM kemarin, nama Samudra tentu menjadi pembicaraan hangat selama beberapa hari. Namun kasus ini beda lagi karena dia memang banyak penggemarnya, dan berita kalau dia naik dari kelas 1 ke kelas 3 merupakan berita bagus dari penggemar.


"Memangnya apa yang kamu lakukan?" Tanya Langit sambil menghentikan mobilnya di lampu lalu lintas.


"Tidak ada, aku cuma unggah fotoku sedang makan es krim."


"Dengan menunjukkan taringmu? Haah, sudah kubilang kan kala-"


"Kalau taringku adalah taring cantik yang berharga?" Samudra memotong kalimat kakaknya, dia tersenyum, "Sudahlah, kak. Aku memang cantik."


"Heh, percaya diri sekali." Tepisnya sambil memasukkan persneling ke gigi satu lalu mulai maju.


"Hihihi, bilang begitu padahal kalau kucium gak menolak."


Pipi Langit merah, dia tidak percaya dengan kondisi mentalnya yang menyayangi adiknya lebih dari seorang keluarga, meskipun begitu, dia sadar akan posisinya dan tidak menyentuh Samudra lebih jauh dari ini.


"Kak, adakah cara untuk memutus ikatan saudara?"


Langit terdiam, dia tahu arah pembicaraan ini, itu karena adiknya juga merasakan hal yang sama padanya.


"Tidak ada, sayang sekali." Jawab Langit.


Samudra tersenyum sambil memegang salah satu tangan kakaknya, dia menggenggamnya seperti takut kelepasan.


"Kakak adalah orang terbaik di hidup Samudra, sejak orang tua kita tidak ada, kakak selalu merawatnya, mendidiknya, melindunginya, aku gak lupa waktu kakak memukuli orang yang menyakitinya, dia takut saat melihat kakaknya seperti itu, tapi walau bagaimanapun, kakak adalah kakak terbaik, tidak ada penggantinya." Samudra mengangkat tangan kakaknya lalu mencium punggung tangannya, "Samudra cinta Langit."

__ADS_1


Langit tersenyum, dia tidak bisa melepaskan kemudi dan memeluk adiknya saat ini. Meski begitu, adiknya yang bercerita, atau berbicara dengan sudut pandang orang ketiga, adalah sesuatu yang khas darinya jika dia sedang dalam kondisi yang amat sangat bagus.


Lagipula, dia berpikir cara adiknya berbicara dengan sudut pandang orang ketiga itu cukup manis untuk anak seumurannya.


"Sini." Kata Langit sambil mengangkat tangannya.


Samudra mendekatkan kepalanya, tangan kakaknya menempel di kepalanya dan mengelusnya hingga mereka sampai di hangar. Tangan Langit cukup pegal dan kesemutan, tapi itu tidak sepadan dengan rasa yang diungkapkan adiknya tadi.


"Langit?" Seseorang memanggil Langit untuk memastikan saat dia keluar dari mobil, "Benar Langit?"


"Siapa?"


"Ini aku, Elish DeCapel, kau lupa?"


Buak!


"Ahhk!"


Langit langsung memukul wajah perempuan yang mengaku Elish DeCapel di depannya hingga dia terjatuh dan dagunya memar membiru.


"Apa yang kau lakukan di sini?! Kau sudah mati!" Tanya Langit dengan suara yang sangat keras hingga urat lehernya terlihat jelas, matanya melotot dan membuat Samudra ketakutan.


"Hei! Apa-apaan ini?!" Teriak salah satu petugas yang ada di hangar.


"Perkelahian?!"


"Hei! Hentikan!"


"Langit, maafkan aku. Aku tidak tahu aku-"


"Persetan denganmu, DeCapel!" Kata Langit membentaknya sangat keras, "Kulihat kau di sini lagi, kumusnahkan kau!"


"Tidak aka nada tulang-tulang dari tubuhmu yang akan tersisa!"


"Kakak!"


Langit tersadar, dia melihat sekeliling, orang-orang memperhatikannya dan para petugas sudah siap menembakkan kabel kejut padanya. Dengan amarah yang meledak-ledak, Langit meninggalkan DeCapel yang masih tersungkur di sana.


"Dia kembali?" Tanya adiknya saat Langit sudah tenang setelah berjalan sedikit.


"Dia seharusnya mati. Aku yakin dia sudah mati."


"Tapi, dia masih hidup, wajahnya sedikit berubah sejak 10 tahun lalu." Kata Samudra dengan faktanya.


"Ayolah! Dia ada di sana!" Kata Langit membentak adiknya, "Dia itu sudah mati!"


"Ada apa ini?"


Putri datang tiba-tiba bersama Panda dan komandan Januri.


"Aku dapat kabar keributan di hangar, aku mau cek, tapi ternyata aku dapat anak cowok lagi marah-marah di sini, care to explain, Archer?"


"Ini urusan pribadi, jangan ikut campur." Jawab Langit sambil menyeka keringatnya.


"Meski itu urusan pribadimu, Archer, membawanya sampai ke sini itu tidak baik." Kata Panda mendukung Putri.


"Diamlah, lagipula, ada apa ini sampai orang penting dari Januri datang ke sini?"


"Archer, kita masuk ke dalam dulu sebentar. Masih ada 30 menit sebelum pergi ke Kyuto."


Langit mengangguk, dia melirik adiknya yang tidak bicara dari tadi sambil memberi isyarat dengan dagunya agar dia ikut dengannya. Setelah itu, mereka berjalan masuk ke dalam hangar tempat parkir pesawat kecil, lalu masuk lebih dalam ke lobi.


Langit dengan wajah yang merah padam, masih kesal setelah kejadian di tempat parkir mobil tadi, adiknya yang paham betul dengan perubahan mood kakaknya ikutan lemas, tidak memiliki semangat seperti tadi waktu di dalam mobil bersama kakaknya.


"Archer?" Komandan Januri memanggil Langit, membuyarkan dia dari lamunannya.


"Apa?"


"Fokuslah, aku sebenarnya ingin memberimu ini." Kata komandan sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil persegi panjang berwarna hitam.


"Apa ini?"


"Lencana Sayap Perak yang sudah diakui dan surat penghargaanmu, seharusnya ini bisa membuatmu baikan." Katanya.


Langit menerima kotak itu dan membukanya, ada lencana berbentuk sayap beraksen biru dengan gulungan surat dengan pita merah di sebelahnya.


"Haah, tinggalkan kami sendiri." Kata Langit sambil menutup kotaknya dan memberikannya pada Samudra.


"Aku langsung pergi ke kostrad setelah ini." Jawab komandan sambil berlalu dari Langit dan Samudra.


"Aku akan menunggu di pesawat kita, Archer."


Langit hanya mengangguk.


Setelah semuanya pergi, Samudra meletakkan tangannya di tangan kakaknya, dia sangat cemas dengan kondisi emosional kakaknya.


"Mungkin ada alasannya, mungkin dia selamat, mungkin mayat yang ditemukan itu bukan dia." Kata adiknya, "Walau begitu, kakak seminggu setelah ini akan menikah, tidak ada gunanya memperbaiki yang sudah hancur."


Langit memikirkan perkataan adiknya, dia sangat mengenali sosok Elish DeCapel yang dia cintai sejak 12 tahun lalu, mereka menjalin hubungan yang sangat erat selama dua tahun dengan sedikit masalah yang normal untuk semua pasangan.


Dia ingat saat DeCapel berpamitan untuk terakhir kalinya di rumah tempat Langit tinggal, dia berkata bahwa dia akan pergi ke Harphia mengikuti ayahnya yang dipindah-tugaskan.


Langit mencoba meredam emosinya untuk menangis karena dia tahu dia akan berpisah, sementara DeCapel tidak sebodoh itu untuk ditipu Langit seakan dia baik saja, malam itu, Langit menangis di bahu DeCapel selama lebih dari 10 menit, dan berakhir dengan jemputan DeCapel yang sudah datang.


Mengingat-ingat kembali hal seperti itu, hanya membuat trauma Langit kembali.


"Dia mati, Samudra. Aku bahkan melihat wajahnya di koran."


"Kakak gak biasanya begini, kakak selalu terima kenyataan, seburuk apapun."


"Kamu pikir aku mau jadi bawahan militer karena apa? Tentu saja karena kematian orang tua kita, aku ini bukan yang yang bisa lepas dari masa lalu begitu mudah."


Samudra semakin cemas dengan kakaknya, dia sudah lama hidup dengan kakaknya dan tahu dia sedang dalam kondisi apa, tapi membantunya untuk kembali tegar bukan hal mudah.


Pertama-tama, dia harus terus melakukan kontak fisik secara langsung dengan kakaknya, untuk kasus ini, pegangan tangan sudah cukup.


"Tenanglah, kak, tenanglah."


Kedua, berikan kata-kata penenang standar.


"Permisi, bisa ambilkan segelas air?" Pinta Samudra pada salah satu orang yang lewat, "Tolong?"


"Baiklah." Jawabnya sambil berbelok menuju pantry lalu keluar sambil membawa segelas air mineral.


"Terimakasih."


"Sama-sama."


Ketiga, berikan segelas air, dan letakkan air itu di sebelahnya.


'Sekarang, aku hanya perlu menunggu.' Pikir Samudra sambil memegangi tangan kakaknya dan membelainya lembut.


"Haah." Langit menghela nafas, dia lalu mengambil air di sebelahnya dan meminumnya hingga habis.


'Yak, sudah selesai.' Pikir Samudra.


"Kakak, aku tahu kakak membaca koran dan berita tentang kematian DeCapel, tapi pada kenyataannya, dia selamat dan masih hidup hingga sekarang." Kata Samudra sambil terus melakukan kontak fisik dengan kakaknya, "Aku tahu berat untuk percaya, tapi dia memang benar masih hidup."


Langit diam untuk beberapa saat, sementara adiknya menunggu dengan cemas, mungkin saja kalimatnya tadi salah atau tidak sesuai prosedur penyelamatan untuk kakaknya jika sedang panik.


"Kamu benar, dia masih hidup, dan dia punya hutang." Kata Langit, "Paling tidak hutang penjelasan padaku."


"Hm!" Samudra mengangguk kencang sambil tersenyum lebar, kakaknya sudah kembali.


"Sisa berapa menit sebelum berangkat?"


"8 menit."


"Kita ke pesawat saja."


"Ok."


 


 

__ADS_1


__ADS_2