Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Adam Belucci


__ADS_3

Siang hari, jam 10 pagi, adalah saat paling awal bagi Langit untuk terbangun dari tidurnya yang berlangsung selama 5 jam. Dia melihat adiknya masih bermimpi hingga mengeluarkan air liurnya secara berkala dan membasahi bantalnya, menyisakan liur kering di sekitar bibirnya.


Langit bangun dari tempat tidur, dia merapikan selimut yang agak berantakan dan membentangkannya lagi dengan Samudra di bawahnya.


Kepalanya sangat berat, matanya berkunang-kunang. Semalam mimpinya sangat aneh dan sangat menegangkan. Mimpi saat dia tidak bisa bergerak dan adiknya sedang dalam kondisi gawat.


Langit keluar dengan langkah sempoyongan menuju kamar mandi, lalu membasuh mukanya. Meski sedikit, dia sekarang merasa baikan.


'Apa itu tadi?' Pikir Langit dalam hati sambil melihat jam dinding.


Langit meraih ponselnya, dia menelpon Putri yang mungkin masih berada di kelas dan makan bekal dari rumahnya.


"Halo?"


"Prinses, aku tidak masuk hari ini. Bisa kau buatkan aku alasan?"


"Oh, kau dan adikmu udah aku ijinin kok. Kata bu Aurum, kalian bisa menghadap beliau besok."


"Menghadap?" Langit berjalan menuju sofa dan menyalakan tv.


"Cuma ditanyai basa-basi. Formalitas doang."


"Okay." Kata Langit sambil menutup telpon.


Langit menonton acara hiburan di pagi hari, meskipun dia saat ini tidak terhibur sama sekali dengan acara menonton selebriti yang sedang mengerjai selebriti lain. Akhirnya dia mengganti saluran tv ke acara lain.


"Hm?" Langit agak tertarik dengan acara berita yang ditontonnya ini, mereka membahas tentang Senja semalam.


"-tentang pria tersebut, berikut kita saksikan rekaman amatir."


'Oh, ada orang yang rekam kejadian kemarin.' Pikir Langit melihat dirinya sendiri di layar tv.


Menurutnya, rekaman ini cukup bagus, meskipun dia belum pernah berlatih untuk menggunakan parasut seperti unit pasukan lain, tapi dia berhasil melakukannya dengan insting yang dimilikinya, lagipula, saat itu tidak ada angina kencang, jadi dia bisa melakukannya dengan mulus.


"Woah! Kereeen! Gila banget nih orang!"


Langit mendecih, bisa-bisanya dia dikatai gila meski konotasinya beda.


"-tetap membahas kasus ini, telah dikonfirmasi dari pihak kepolisian bahwa ******* yang menjadi pelaku dalam insiden alun-alun Jembrana tidak memiliki sangkut-paut dengan si perawan. Mereka murni ******* yang meng-"


"Kakak?" Samudra keluar kamar, dia mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Hei, sudah bangun?" Langit berdiri, dia berjalan menuju dapur sementara Samudra duduk di sofa.


Langit mengambil panci dan mengisinya dengan air, lalu merebusnya di kompor, setelah itu dia membuka kulkas dan mengambil sekotak susu ukuran satu liter dan memasukkannya ke dalam panci bersama dengan kotaknya.


Karena bosan dengan siaran berita, Samudra mengganti saluran tv ke saluran kartun pagi. Dia menonton serial Petualangan Aneh Jojo yang terbaru.


Langit mematikan kompor, dia mengambil kotak susu yang sudah panas dan mengeringkannya dengan kain kering. Setelah itu dia menghampiri Samudra dengan satu gelas di tangannya.


"Ini."


"Terimakasih, kak." Jawab Samudra sambil menerima gelas yang dituangi susu hingga penuh.


Langit meneguk susu hangat langsung dari dalam kotaknya, dia menonton kartun ini bersama dengan adiknya.


Bunyi panggilan masuk terdengar dari ponsel Langit, dia berdiri dan menghampiri ponsel lalu menerima panggilan telpon.


"Langit, bisa ke markas?"


"Hah? Kan sudah bilang kalau hari i-"


"Ada komandan di sini, dan dia memerintahkanmu untuk datang."


"Okay, aku pergi."


Langit menutup telpon, dia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan menghampiri Samudra yang sedang menatap kakaknya dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.


"Mau pergi lagi?"


"Iya."


Samudra berdiri, dia meletakkan gelas kosongnya di meja kecil sebelah sofa, setelah itu dia memeluk kakaknya dengan nafas yang berat.


"Kakak makin sering keluar, dan terlalu sering pula kakak hampir mati."


Langit mengelus kepala adiknya, "Kali ini aman, hanya wawancara dengan atasan saja."


"Benar?"


Langit mengangguk, dia berlutut dengan satu lutut, seperti sedang menenangkan anak kecil dia mendongak ke atas dan mengusap pipi adiknya.


"Jangan khawatir."


"Kalau gitu, antar aku ke perpustakaan kota. Paling nggak aku harus belajar sedikit, bentar lagi ujian." Kata Samudra.


"Ambil alat-alatmu, kita berangkat 4 menit lagi."


"Iya." Samudra masuk ke kamar, dia memasukkan beberapa buku ke dalam tas, dan menenteng sebuah tas laptop.


Setelah selesai dengan alat-alatnya, Samudra memakai pakaian dengan benar. Rok putih panjang motif bunga warna merah, dan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kupu-kupu warna merah.


Samudra amat hafal dengan kelakuan kakaknya, saat dia memberikan waktu untuk bersiap, saat itu juga dia pergi ke bawah dan menyalakan motor.


Dalam waktu yang dia berikan untuk bersiap-siap, dia memanaskan mesin motor sambil menunggu.


Makanya, Samudra segera masuk ke dalam lift yang tidak digunakan oleh Langit agar tidak terlalu lama, kakaknya selalu menggunakan lift di sebelah kiri, sementara Samudra memakai lift di tengah.


Langit melihat adiknya keluar dari pintu masuk apartemen saat dia baru saja akan naik motor, adiknya terlihat santai karena tepat waktu.


"Ayo."


"Iya."


Samudra berada di belakang kakaknya, dia memegangi tas laptopnya dan menunggu hingga sampai ke tujuan.


Ponsel Langit berdering dengan suara notifikasi seperti di bandara, "Dear owner, this phone is being called by a identified person of yours, this ringtone will be silent if yo-"


Langit mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikannya pada Samudra, menelpon seseorang saat berkendara dan tertangkap kamera akan membuat surat ijin berkendara milik Langit akan ditahan.


"Ya?" Samudra menjawap panggilan di ponsel kakaknya.


"Archer, kau sudah berangkat?"


"Sayangku lagi antar aku ke perpustakaan kota sebentar. Nanti dia mungkin agak telat."


"Bisa langsung ke markas saja? Komandan menunggu terlalu lama."


Samudra menarik baju kakaknya, yang bajunya ditarik membuka kaca helm dan siap mendengarkan.


"Kak, langsung ke markas aja katanya, nanti aku bisa berangkat naik ojek online."


Langit mengangguk dan tetap berkendara lurus. Jika ingin pergi ke perpustakaan kota, maka dia harus belok kanan, untung saja dia belum berubah arah dan bisa tetap lurus ke markas.


"Omong-omong, siapa ini yang menelpon?"


"Ini Panda, seharusnya ada nama kontakku di sana."


"Sayangku menamainya Hiddletuck, aku yakin kau tidak punya nama seperti itu."


"Hiddletuck?! Archer sialan."


Hiddletuck adalah nama beruang panda yang memiliki warna bulu terbalik, agak aneh membayangkan seekor panda dengan lingkar mata putih.


Meski begitu, spesies ini adalah salah satu yang langka dan terancam punah, umurnya sudah lebih dari 36 tahun dan hanya tersisa 2 ekor di seluruh planet.


"Katakan pada mereka untuk memanggil ojek online dari markas menuju perpustakaan kota."


"Iya." Jawab Samudra, "Sayangku bilang untuk memanggil ojek online dari markas menuju perpustakaan kota."


"Okay, baiklah, cepatlah kemari."


"Baik."


Samudra memasukkan ponsel kembali ke saku kakaknya, sementara kakaknya tetap fokus pada jalanan yang padat, namun lancar.


Peraturan di kota Pertanjang, menurut pemerintah daerah, kecepatan berkendara minimal 45 mil per jam, sehingga banyak orang mengebut di jalanan ini dan melancarkan arus berkendara.


Bagaimanapun, hal ini berimbas pada banyaknya pengendara menjadi korban kecelakaan di jalan, sehingga mereka banyak yang menggunakan transportasi umum yang berjalan tidak lebih dari 45 mil per jam, hal ini menurunkan tingkat kemacetan, kecuali jam sibuk atau jam kerja, seperti saat ini.


Sesampai mereka di markas, Langit memarkir motornya di depan dan memberikan hormat yang langsung dibalas hormat oleh Putri.


"Samudra, nanti kujemput saat sudah selesai."


"Iya, aku pergi dulu." Jawab Samudra sambil meraih pipi kakaknya dan memberikan ciuman.


"Dadah." Katanya sambil melambaikan tangan menuju mobil yang sudah dipanggil oleh Panda.


Langit membalas lambaian tangan adiknya, lalu masuk ke dalam.


"Selamat siang." Sapa Putri pada Langit.


Langit mengangguk, "Kau belum ganti baju?"

__ADS_1


Putri menggeleng, "Gak seformal itu, aku nanti kembali ke sekolah lagi kok. Ini Cuma mendadak aja."


"Masuklah ke dalam." Kata Panda.


Langit masuk dan dihadapkan dengan seorang pria besar yang sedang merokok.


"Bisa kau matikan rokokmu? Ada penderita nafas sesak di sini."


"Archer!" Panda membentak Langit.


"Hahahahahah." Pria itu tertawa sambil menggeleng-geleng, dia mematikan rokoknya di asbak dan menghampiri Langit, "Seperti yang dikatakan Prinses, kamu itu gak ada bohongnya."


"Salam kenal." Langit memberikan tangannya untuk berjabat tangan, pria itu menjabat tangan Langit lalu segera duduk di sofa.


"Kau akan beritahu namamu atau apa?" Tanya pria besar tersebut.


"Ayolah, kau pasti mendengar laporan tentangku dari Panda." Jawab Langit sambil duduk dan menjentikkan tangannya, "Kopi hitam segelas."


"Kau kira aku pembant-"


"Kalau aku pakai susu." Kalimat dari pria itu membuat Panda yang sebal pada Langit segera pergi dan melakukan tugasnya, "Jadi, Langit Safir?"


"Hm?"


"Namaku Januri, Deral Januri. Aku adalah komandan kemiliteran."


"Oh, aku tahu soalmu."


"Benarkah?"


"Ya, kau gagal saat menangkap Kydict Kristal di Pelabuhan Herring. Aku sampai tertawa karena kau kehilangan 16 anak buah saat itu."


Komandan Januri agak kesal dengan kalimat yang dilontarkan Langit, meskipun sesuai dengan yang dilaporkan oleh Putri, tapi ini keterlaluan.


"Ini kopinya, pak." Kata Panda memberikan kopi pada Komandan Januri, "Nih."


"Terimakasih." Kata Komandan Januri.


"Aku tidak perlu kalian di sini, pergilah."


"Heh, kau itu-"


Putri menahan Panda untuk berbicara lebih lanjut, sementara Komandan Januri mengangguk tanda menyetujui Langit. Setelah itu, mereka keluar ruangan.


"Jadi, Langit, atau Archer, aku ingin mengetahui tentang seberapa tahu kamu tentang dunia kemiliteran, jadi aku mengundangmu kemari."


"Sama-sama."


"Apa maksudmu dengan 'sama-sama'?


Langit meminum kopinya seteguk, setelah itu meletakkannya kembali di meja.


"Aku juga ingin tahu seberapa paham kau tentang kemiliteran, Deral Januri."


"Kau tahu, Langit, sebaiknya kau lebih sopan pada atasanmu."


"Aku akan sopan jika obrolan ini langsung ke intinya saja."


Komandan Januri diam sejenak, dia berpikir tentang bagaimana Langit bisa tahu, mengerti jika dia sedang melakukan basa-basi untuk mencairkan suasana.


"Aku ingin tahu bagaimana caramu tahu tentang strategi si perawan untuk menculik gadis di seluruh kota."


"Oh, kukira kau ingin tahu siapa pelakunya."


"Hah?" Komandan Januri terkejut, dia tidak menyangka kalau Langit sudah tahu pelakunya, "Kau tahu?"


"Tidak."


Komandan Januri makin kesal, dia seperti berbicara pada seorang pelawak profesional.


"Jadi?"


"Ini semua hanya firasat."


"Firasat?"


"Ya."


"Bagaimana kau bisa mengasumsikannya dengan firasat?"


Langit menghela nafasnya berat, sepertinya dia agak terbebani dengan pertanyaan komandannya yang terlalu banyak ingin tahu.


"Kau tahu kalau mereka menculik gadis dengan cara yang sama, mereka selalu menculik gadis dan mengambil organ mereka. Untuk apa? Adalah pertanyaan yang pertama muncul, dan jawaban normalnya adalah untuk uang. Tetapi ada tujuan lain di balik itu semua, lihat ini."


"Ini adalah kalung, salib terbalik. Lalu lihat ini."


Gambar kalung bergeser ke kanan, ada gambar sebuah kertas dengan banyak symbol tertulis dengan warna merah.


"Ini adalah seal atau segel untuk memanggil setan ke dunia. Aku telah membaca buku pemanggilan dan banyak buku lain dengan topik bahasan yang sama, dan keduanya memang terikat dengan petinggi setan."


"Kamu yakin?"


"Aku tidak pernah salah dengan keputusanku, aku yakin kau juga tahu bagaimana aku menyelamatkan anakmu yang menjadi sandera di Jembrana, bagaimana aku menyergap dan menggagalkan penculikan dalam semalam, lalu semua rencana si perawan di setiap kota dalam semalam, dan keputusan dari pemikiranku ini, tidak boleh kau bantah meski kau seorang komandan."


"Tidak mungkin, Langit. Manusia pasti punya celah, tidak mungkin kamu bisa selamanya benar tanpa ada celah meski secuil."


"Umurmu 52, anakmu hanya Senimorangkir seorang, istrimu mati saat melahirkannya, sebelum berangkat ke sini kau menabrak seseorang dan jatuh dengan bertumpu pada lutut, dan kau adalah seorang pembohong yang ulung."


Komandan Januri terkejut dalam kesenyapan suaranya, dia mengambil cangkir kopinya yang suhu panasnya sudah menurun lalu meminumnya seteguk.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Menurutmu, hm?"


Komandan Januri benar-benar kewalahan dengan Langit yang menurutnya tidak mau berkoordinasi dan tidak bersikap kooperatif dengan kemiliteran sepertinya.


Menurutnya, jika dia bergabung sebagai anak SMA dan bukan sebagai anggota resmi, maka dia tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi siapapun.


Bahkan Putri yang seorang kapten pun dipimpinnya dalam tim.


"Baiklah, meskipun begitu, aku berharap banyak padamu di medan pertempuran. Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih padamu atas sega-"


"Pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal."


"Hah?"


"Ya, aku ingin kau memastikan pendidikan untuk adikku Samudra Safir hingga S3, aku mau dia berada di kampus besar seperti Hale atau Yordane, aku sudah menang taruhan asuransi kesehatan dari Panda, tapi aku ingin kau menangani kesehatan adikku secara penuh, lalu aku ingin tempat tinggal yang layak selain di apartemen milik orang tuaku yang akan kujadikan restoran nantinya."


"Oh, kamu menganggapnya terimakasih? Mungkin itu terlalu ringan."


"Aku belum selesai."


"Oh baiklah."


"Aku ingin rumahku berada di setiap wilayah, ini berarti satu di Basuki Raya, Kyuto, Lorda, Venus, Karang, Portaquen, Margo Raya, Harphia, dan Krelta. Lalu aku mau surat ijin kepemilikan senjata api tipe apapun dan tanda pengenal kemiliteran independen."


"Aku bisa mengurus sebagian dari rumahmu di tiap wilayah, tapi apa maksudmu ijin senjata api dan tanda pengenal independen?"


Langit meneguk habis kopi hitamnya lalu berdiri.


"Itu hargaku yang sangat murah dibandingkan nyawa anakmu yang nyaris mati kemarin. Ambil atau tidak akan ada penyelamatan sandera untuk kedua kali."


"Tapi semua itu-"


Langit berjalan keluar tanpa mendengar sepatah kata dari komandan, Putri dan Panda yang melihatnya keluar ruangan penasaran dengan apa yang terjadi.


"Hei, tua. Berikan padaku."


"Apa maksud- oh, ada di meja depan, dan berhenti memanggilku 'tua'!"


"Ok, perawan."


"Apalagi perawan!"


Panda berteriak amat kencang, Langit membuatnya kesal dan marah, meski begitu, Langit berjalan keluar dan mengambil dokumen asuransi kesehatan atas namanya sendiri di meja depan.


"Archer, tunggu sebentar."


Langit menoleh ke belakang mencari tahu sumber suara, ternyata itu Putri.


"Apa?"


"Aku harap kita bisa bekerjasama lebih baik lagi."


"Heeh." Langit menghela nafasnya panjang, dia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu, "Setujui ini dan aku akan bergabung ke kepolisian militer."


"Apa i-pfft hahaha!" Putri tertawa amat kencang, yang dipegangnya adalah kriteria gadis yang ingin dinikahi Langit.


"Cari orang seperti itu, sebanyak apapun. Aku akan memilihnya sendiri." Kata Langit sambil menyalakan motornya.


"Haha-hah, iya, tapi, ngapain kamu ingin gadis seperti ini?" Tanya Putri yang masih menyisakan sedikit tawa dalam kalimatnya, sementara Langit sedang memakai helm dan siap untuk berangkat.


"Aku butuh mainan."

__ADS_1


Motor Langit menggerung, dia pergi meninggalkan Putri yang berjalan masuk ke dalam markas.


"Tolong cari orang seperti ini." Kata Putri.


"Tipe perempuan, gak mungkin, ini yang tulis Langit?" Tanya Panda tidak percaya.


"Iya."


"Wahahaha! Anak itu juga bisa begini ya?! Coba kulihat." Panda membaca kriteria gadis yang diinginkan Langit satu-persatu.


"Hm, murah senyum, mudah akrab, aktif dalam sosial, cerdas, tidak pernah menyakiti perasaan orang."


Panda dan Putri saling bertatapan mata, "Wahahahaha!"


"Gila gila! Dia pernah disakiti sama perempuan?!"


"Wah gak nyangka, ya?"


"Haha! Iya."


Selagi keduanya masih menertawakan kertas yang diberikan Langit, dia sedang mengendarai motor menuju perpustakaan kota.


Dia yakin adiknya sudah belajar banyak di sana meskipun masih belum satu jam dia berada di sana. Samudra adalah anak yang cerdas, dan Langit sangat paham dengan hal itu, mempelajari hal baru seperti bahasa asing, dan politik, akan seperti membunuh seekor semut peluru di pedalaman Amazon.


Sesampainya di perpustakaan kota, dia memarkir motornya di tempat parkir yang sudah disediakan di tengah gedung. Gedung perpustakaan kota berbentuk huruf 'U' dengan lahan parkir dan taman kecil di tengahnya.


Perpustakaan ini dibangun dengan gaya arsitektur lawas, mengadopsi bangunan Netherland yang menjajah Indonesia selama 68 tahun. Di buku sejarah yang sudah tidak terpakai lagi, sejarawan mencatat bahwa masa penjajahan Netherland di Indonesia adalah 350 tahun, namun tidak jelas tahun berapa sampai berapa.


Tetapi, Sulthon Zulkarnaen yang menerbitkan buku sejarah beberapa hari lalu, mengungkap bahwa penjajahan Netherlan dimulai saat penyerangan di Aceh pada tahun 1877, dan penjajahan ini berakhir tahun 1945.


Semua sumbernya kredibel dan terpercaya sehingga hal ini sudah menjadi pengetahuan umum di masyarakat Republik Asia Serikat, di mana Indonesia sudah menjadi bagian dari negara tersebut.


Dan karena baru terbit kemarin, teman-temannya kewalahan mengerjakan soal analasis di kelasnya.


Bunyi lonceng kecil pintu berdenting nyaring, menandakan adanya seorang pengunjung memasuki perpustakaan.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita pustakawan yang sedang tidak sibuk menangani pengunjung lain seperti pustakawan lain.


"Tidak ada."


Pustakawan itu mengangguk, "Kalau begitu, silakan mengisi daftar pengunjung."


Langit membuka dompet dan menggesekkan kartu pelajar miliknya di mesin pemindai. Semua informasinya sudah masuk dan dia sudah diperbolehkan berkeliaran di dalam perpustakaan yang luas ini.


"Terimakasih, kalau ada perlu, langsung minta bantu sama pustakawan lain, ya?"


"Ok."


Langit berjalan masuk, dia masih bisa merasakan rasa takjub meski sudah beberapa kali masuk ke sini. Ada banyak sekali buku, entah itu sejarah, umum, novel, komik, psikologi, politik, semua ada dan lengkap sekali.


Bahkan jika ada keluhan kekurangan buku, atau ketidaktersediaan buku, pihak perpustakaan akan mendatangkan buku dalam waktu kurang dari 48 jam.


Rak bukunya sangat banyak, ada 5 lantai seukuran lapangan sepakbola, dan semua lantai ini ada di 5 gedung berbeda yang membentuk huruf 'U'.


Saat Langit masih menikmati rasa takjubnya melihat seorang gadis kecil berusaha mengambil buku menggunakan tangga geser, fokusnya teralihkan dengan seorang pria.


"Hey, kesusahan mencari buku?" Tanya pria itu.


"Tidak, aku menunggu seseorang." Jawab Langit sambil memperhatikan dari mana pria ini berjalan, "Mungkin kau bisa merekomendasikan buku untukku?"


"Hm?" Pria itu tersenyum, "Kamu tahu siapa aku ternyata?"


"Belum, aku hanya tahu kau ini kurator buku. Lihat mejamu, berantakan sekali."


"Hehehe." Pria itu tertawa pelan agar tidak mengganggu pengunjung lain, "Adam, Adam Belucci."


"Langit Safir." Jawab Langit, lalu keduanya bersalaman.


"Kemarilah, akan kutunjukkan sesuatu."


Langit mengikuti pria itu dari belakang, dia berjalan menuju meja yang berantakan sekali bersama dengan laptop dan tablet yang belum mati. Langit pun duduk bersama pria itu berhadapan.


"Pernah dengar buku berjudul The Scroll of Ether?" Tanya pria itu.


"Sekilas, ceritanya tentang profesor yang menggunakan senyawa eter dan menggunakannya untuk senjata perang."


Pria itu mengangguk, dia mengambil selembar kertas dan memberikannya pada Langit.


"Diethyl-eter adalah senyawa yang mudah terbakar, dalam cerita, profesor ini menggunakan keahlian alkimianya untuk membuat api yang tidak mudah padam."


Langit mengamati selembar kertas berisi susunan senyawa kimia yang bernama diethyl-eter dari pria tersebut.


"Maksudmu?" Tanya Langit sambil meletakkan selembar kertas di meja.


"Api Yunani." Pria itu membuka buku yang sedang dibicarakannya dan menunjukkannya pada Langit, "Api yang tidak pernah padam, resepnya hilang sejak jaman Bizantium dan penulis buku Scroll of Ether menemukan resep api Yunani lagi dan memasukkannya dalam cerita."


"Meski begitu, bukannya itu semua hanya realitas imajiner dari Nining Nur Yanti? Eh, tunggu." Langit mengambil selembar kertas senyawa kimia itu lagi dan membacanya baik-baik, "Kau punya lembaran lain?"


Adam memberikan dua lembar lain berisi hal yang sama, tentang susunan senyawa dari diethyl-eter, namun agak sedikit berbeda.


"Bukannya ini, resep api Yunani?" Tebak Langit.


"Wow, betul banget yang kamu bilang." Adam kagum dengan tebakan orang di depannya ini, "Resep ini hilang sejak jaman Bizantium, tapi Nining Nur Yanti berhasil memecahkannya dan merekonstruksi ulang resep ini."


"Sudah ada percobaan?"


"Ada." Adam menyodorkan beberapa lembar kertas pada Langit, sepertinya laporan kegiatan tertentu.


"Ini? Laporan harian api Yunani di kediaman Nining Nur Yanti?"


"Ya, sudah 832 hari. Tepatnya 2 tahun lebih api itu belum padam di sebuah tungku api yang dilapisi Tungsten."


Tungsten memiliki titik leleh yang sangat tinggi, butuh puluhan ribu derajat Kelvin untuk melelehkan Tungsten. Sementara api Yunani tidak lebih dari 500˚Kelvin.


"Luar biasa. Tapi, bukannya ini illegal?"


"Tentu saja illegal. Karena itu dia berada di penjara khusus ilmuwan."


Penjara khusus ilmuwan adalah penjara yang semua tahanannya adalah ilmuwan yang berpotensi melakukan kejahatan.


Ada dari mereka yang menciptakan hal yang tidak boleh, seperti bom nuklir portable, kloning manusia, reformasi bentuk manusia melalui DNA makhluk lain, namun banyak dari mereka yang melakukan uji coba pada manusia, dan beberapa dari mereka gila.


"Lalu kenapa menceritakan hal ini padaku?"


"Kau tahu, Safir. Tidak ada banyak orang yang bisa diajak mengobrol dengan topik seperti ini."


"Lalu menurutmu aku cocok?"


"Tentu saja, apalagi saat kamu menuliskan jurnal tentang mengentaskan kemiskinan. Makanya Republik menjadi negara terkuat di dunia dari segi kesejahteraan sosial."


"Oh, aku cuma membantu sedikit, jurnal itu diterbitkan atas nama Dienyta Pohnja, bukan atas namaku."


"Meski begitu, Safir. Namamu ada sebagai narasumber di halaman depan. Bukannya kamu lebih berpengetahuan luas?"


Langit diam saja, dia sama sekali tidak mengira ada orang yang membaca bagian penerbitan di halaman depan jurnal.


Bahkan namanya ditulis sangat kecil, hingga orang-orang melupakan siapa saja yang membantu menerbitkan dan menyusun jurnal itu.


Namun, bagi Langit, masa saat dia sangat membutuhkan uang itu, semua akan dia lakukan bahkan jika harus menjual isi otaknya. Hal itu terjadi sebelum dia memulai debut sebagai peretas di situs crypto-currency.


"Hey, katamu kau ini kurator? Sedang apa di sini?"


"Aku sedang menunggu temanku. Mereka akan datang jam 2 nanti. Ini sudah hampir waktunya."


"Kalau begitu." Langit berdiri, "Aku pergi dulu."


"Iya, hati-hati ya."


Langit mengangguk, dia berjalan menuju gedung nomor 3. Saat ini dia berada di gedung 2, dan hanya berjarak beberapa menit menuju gedung 3 tempat semua ilmu eksak berada.


"Kakak?"


"Oh, disini ternyata."


Langit menemukan adiknya sedang membaca buku tentang anomali kuantum karya Frederic Horbel. Ini bahasan yang seharusnya tidak dibaca anak umur 16 tahun.


"Wow."


"Aku cuma penasaran, hehe."


"Penasaranmu itu mungkin bisa jadi alat yang bagus, tapi jangan berlebihan."


"Iya."


Langit melihat jam tangannya, sudah hampir jam 2. Dia harus segera pulang dan mengerjakan tugas yang terlewatkan selama beberapa hari.


"Ayo."


"Iya."


 


 

__ADS_1


__ADS_2