
'Apa-apaan itu? Dia kan Cuma anggota, bawahannya Prinses, tapi dia sok sekali.' Pikir komandan Stepan.
Seperti yang diinginkan Langit, keempat orang yang kabur dari gedung itu menjadi tahanan milik tim khusus. Ketika mereka keluar dari gedung, Kepler sudah siap dengan helikopternya untuk mengangkut mereka, baling-baling yang sedang berputar dengan kencang itu membuat debu bertebaran ke segala arah, beberapa wartawan ingin mewawancarai pihak militer terkait apa yang terjadi, namun anggota kepolisian yang menahan garis polisi melarang mereka untuk masuk ke gedung.
Anggota tim khusus sudah memasuki helikopter, Yuri sudah sampai di hangar dan sedang mengisi bahan bakar sambil menunggu Kepler yang mengangkut Langit dan tim assault lainnya.
"Ke hangar, isi bahan bakar, lalu kembali ke Basuki Raya." Kata Langit kepada Kepler.
"Oke."
Kepler mengangkat tuasnya dan mencapai ketinggian yang sama seperti gedung pencakar langit lainnya, lalu terbang menuju hangar.
"Archer, aku dapat respon dari markas pusat."
"Kau sudah kirim laporan ke mereka?"
"Bukan aku, Panda yang kirim." Jawab Putri, "Umm, 'kerja bagus' begitu saja."
"Begitu saja?" Tanya Langit sambil melirik ke belakang, "Katakan pada mereka aku mau 50 juta ke rekeningku."
"Oo-h, sekarang mau jadi tentara bayaran?" Tanya Panda sementara Putri mengirimkan permintaan Langit.
"Aku ini tidak digaji, setidaknya beri aku uang, bodoh." Jawab Langit sambil melirik adiknya yang terlihat mengantuk.
"Kamu mengantuk?"
"Cuma lelah."
"Darimana belajar seperti itu?"
"Soal mayat tadi? Dari tv lah."
Langit lupa kalau adiknya penggemar berat film aksi dan sering menonton siaran ulangnya di tv.
Sesampainya mereka di hangar, semua anggota assault turun menemui tim runduk.
"Kepler, Yuri, kalian bisa matikan mesinnya dan bergabung dengan kami."
"Oke."
"Siap."
Setelah mematikan mesin, Kepler dan Yuri berjalan menghampiri Langit dan anggota tim yang lain, mereka terlihat seperti sedang berangkat piknik ke suatu tempat.
"Kita istirahat sebentar." Kata Langit yang disambut senyuman dari anggota lain.
Setelah selesai mengisi bahan bakar helikopter, Langit dan anggota tim khusus lainnya segera pulang ke Basuki Raya, sekarang sudah hampir jam 3 pagi, dan Langit belum mengecek ponselnya sama sekali.
"Woah." Kata Langit begitu melihat ponselnya yang penuh pesan masuk dan panggilan tak terjawab.
"Ada apa, kak?" Tanya Samudra.
"Banyak pesan dari Vianji, terakhir jam 1 tadi, mungkin dia belum tidur."
"Kenapa tidak balas?"
"Ini masih baca-baca sedikit."
19:23 [Langit, kamu di mana? Tadi aku mencarimu di apartemen, tapi tidak ada orang yang membukakan pintu.]
19:45 [Aku sudah pulang, tadi aku memasak. Kalau sempat, datanglah ke rumah.]
20:11 [Langit, aku penasaran dengan cincin yang kamu beli sendiri, boleh lihat?]
23:55 [Kamu sudah tidur? Atau terlalu sibuk untuk membalas pesanku? Aku hanya ingin menanyakan kabarmu.]
00:58 [Selamat tidur, Langit. Jangan begadang, sampai jumpa di sekolah.]
Langit membuka kamera ponselnya lalu memotret jari manis tangan kirinya. Dia sedang memakai dua cincin, satu cincin dari Vianji, dan satu cincin yang dia beli sendiri.
[Vianji, aku sangat sibuk semalam tadi sampai-sampai lupa mengabarimu, aku minta maaf. Lain kali aku akan mampir, atau bawa saja bekalnya ke sekolah. Minggu depan aku sudah lulus, di hari kelulusan itu juga kita akan menikah di gedung The Apricat, undangannya akan kukirim nanti saat aku sudah sampai di rumah, memang sangat mendadak untuk menikah beberapa jam setelah kelulusan, tapi kuharap kamu mengerti, peluk cium, selamat malam]
"Menggelikan, kak."
"Aku tahu, diamlah."
Samudra makin tertawa apalagi saat kakaknya mencoba menepis fakta bahwa dia menulis bagian 'peluk cium' di akhir pesan itu, selagi menahan rasa malunya, Langit memasukkan kembali ponselnya dan menunggu hingga helikopter ini mencapai Basuki Raya.
Sesampainya di hangar, Langit langsung diantar ke markas, lalu melepaskan semua peralatannya dan menyetir mobil sampai ke rumah. Tidak banyak yang bisa dia lakukan setelah berhasil melakukan misi seperti ini selain meminta bayarannya.
Apartemen Langit hampir selesai di renovasi. Bagian dalamnya luas, ada banyak lampu-lampu yang digantung memenuhi ruangan dari lantai satu hingga lantai 4, sementara lantai 5 dan 6 hanya dibuat tempat tinggal untuk Langit, adiknya, Petra, dan Senja. Warna dinding yang dipilih Langit memang sesuai untuk restoran berbintang, dia memilih warna putih dengan aksen emas, cahaya dari lampu yang berwarna keemasan pun akan terlihat lebih terang ke segala penjuru ruangan.
Meskipun di luar masih belum ada tempat parkir yang luas, tanah masih tersisa banyak, dan Langit melihat ini sebagai kemajuan yang bagus.
"Tinggal perabot, dan dekorasi sisa." Kata Langit sambil berjalan masuk apartemen sambil mengecek akun banknya melalui ponsel.
"Memangnya kakak sudah ada uang? Ini baru satu rumah kan? Rumah lain juga hampir selesai renovasi."
"Kakak baru saja dapat 50 juta dari atasan, ini gaji kita berdua. Lihat ini." Kata Langit sambil menunjukkan layar ponselnya ke Samudra.
"Wow, kakak punya 240 milyar, kakak bisa beli apa saja."
"Ini tabungan masa depan, untukku, untukmu, dan garis keturunan Safir berikutnya."
"Hehe, memang kakak masih meretas situs itu?"
Langit masuk ke dalam kamarnya, "Tentu saja, tapi nanti, kalau hadiahnya banyak."
Samudra melepas bajunya hingga telanjang, lalu masuk ke kamar mandi. Langit yang melihat tubuh telanjang adiknya manggut-manggut, dia tidak mengira tubuh adiknya akan seindah itu di umur sekarang ini, dia merasa bangga pada adiknya yang selalu merawat tubuhnya. Sambil senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas, Langit juga melepaskan bajunya dan masuk ke kamar mandi.
"Hng? Kakak mau masuk bak?"
"Tidak, kakak pakai shower." Jawab Langit sambil menyalakan shower dan mulai membasuh dirinya, "Omong-omong, tinggimu berapa?"
"70 inci, beratku masih 100 pound, ukuran dadaku cup A nomor 24, pinggangku 21 inci, perutku 19 inci, memangnya kenapa?" Jawab adiknya sambil meraba-raba tubuhnya sendiri.
"Kamu sedang mengalami masa puber ternyata."
"Tentu saja, aku masih belum genap 16 tahun."
Langit selesai dengan mandinya, setelah dia mengeringkan handuknya, dia keluar dari kamar mandi, "Jangan lama-lama, nanti masuk angin."
"Iya." Jawabnya sambil tersenyum lalu keluar dari bak dan membilas dirinya.
Setelah selesai mandi, Samudra segera memakai baju tidur lalu masuk ke kamar kakaknya dan tidur di sebelah kakaknya yang sudah terlelap, mungkin karena kelelahan. Samudra yang sudah lelah menarik selimut agar menutupinya juga dan mencium bibir kakaknya sebelum tidur.
Keesokan harinya, Langit dibangunkan oleh lidah adiknya yang sudah membuat lehernya basah, rasanya geli dan hangat.
"Ah, selamat pagi." Kata Samudra sambil meninggikan wajahnya agar mendekati wajah Langit, "Mmmp."
Bibir mereka bertautan, lidah Samudra menari-nari dengan lidah kakaknya, bibirnya terasa manis tidak seperti biasanya, dia sangat mencintai kakaknya.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Langit pada adiknya.
"Mm? Masih jam 7 pagi, kak Petra sedang menjilati lantai." Jawab Samudra ringan tanpa beban, "Mmpp."
Bibir mereka bertautan lagi, Langit tidak bisa melawan adiknya yang terlihat sangat cantik saat bangun tidur, begitu juga dari sudut pandang Samudra yang melihat kakaknya begitu tampan, dengan bibir yang tipis dan meminta untuk dilumat.
"Cup, mmpp, Sam-udra, ***-up." Kata Langit sepatah-sepatah karena saat bibirnya lepas, adiknya menempelkan bibirnya lagi.
"Sudah? Baiklah." Jawabnya sambil tersenyum, lalu bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Ayo ke sekolah." Kata Samudra sambil beranjak keluar dari kamar kakaknya.
"Iya."
Ketika keluar dari kamar, Langit sedang melihat Petra yang memang menjilati lantai secara harfiah, kelihatannya ada air yang masih tersisa di lantai itu, mungkin dia menumpahkan tehnya.
"Pagi, Lang-it." Sapa Petra yang sudah siap dengan seragamnya.
Langit hanya menjawab dengan anggukan, lalu mengambil rantai yang terpasang di leher Petra dan menariknya kencang.
"Heeghk!"
"Ambil kain pel dan bersihkan ini selagi aku ganti baju." Perintah Langit.
"Heh-heh, i-ya." Jawab Petra dengan wajah yang merona.
Setelah ganti baju, Langit melihat Petra sudah selesai mengepel lantai dan sedang mengeringkan kain pelnya di wastafel.
"Petra, kemarilah." Kata Langit.
"Iya! Petra datang." Jawabnya sambil berlari kecil.
Langit menunjukkan sebuah kalung anjing yang baru pada Petra, warnanya hitam, ada aksen emas di beberapa tempat, dan ada tombol aneh yang samar karena warnanya sama dengan warna kalung.
Duak!
Langit memukul ulu hati Petra dengan keras hingga dia berlutut dan memegangi dadanya yang sesak.
"Heehhk-heehk-heehk, kheeekk!" Nafasnya tersengal-sengal, lalu dia tercekik saat Langit menarik kalungnya.
Setelah kalung lama Petra lepas, dia langsung memasangkan yang baru pada Petra dan menekan tombol yang tersambung di ponselnya.
"Aaaahhhkk! Aaahh!"
"Petra, ini kalung listrik untuk hewan peliharaan yang tidak mau menurut." Kata Langit kepadanya yang tersungkur setelah mematikan sengatan listrik di kalung baru Petra, "Bagaimana menurutmu?"
"Hah-hah-hah-haha, ini, he-bat." Jawabnya sambil bangun dari posisi tersungkur dan mendekatkan mulutnya ke kaki Langit yang sudah bersepatu, lalu menjilatinya hingga basah.
Langit menarik sepatunya yang sudah beberapa kali dijilati Petra, lalu menginjak wajahnya.
"Ayo berangkat."
Sesampainya di sekolah, hal pertama yang dilakukan Langit adalah mengambil lapto dari lokernya dan pergi ke perpustakaan, sementara adiknya pergi ke kelas bersama Petra.
Saat Vianji melihat Samudra melintasi kelas dimana dia sedang mengajar, dia tahu kalau kakaknya datang sekolah.
Ding dong – ding dong~
Suara bel berbunyi, Vianji segera menyelesaikan kelasnya dan pergi ke ruang guru untuk mengambil bekal yang dia siapkan khusus untuk Langit. Tapi, dia tidak tahu dimana dia sekarang.
[Langit, kamu datang sekolah?]
Sambil menunggu pesannya dibalas, Vianji memasukkan data nilai dari lembaran ulangan harian terakhir ke buku nilai, minggu depan, ujian akhir akan dimulai.
Drrt drrt
Ponsel Vianji bergetar, ada balasan dari Langit.
[Aku sedang di perpustakaan, baru saja menyelesaikan tugas akhirku. Aku lapar dan aku belum sarapan, ayo ke kantin.]
Vianji tersenyum, semalam Langit mengirimi dia pesan dengan pesan 'peluk cium' di bagian akhir, itu membuatnya sangat malu di pagi hari saat membacanya, apalagi saat Langit berkata kalau dia sedang lapar dan belum sarapan kepadanya.
'Dia sedang manja padaku?' Pikir Vianji sambil senyum-senyum sendiri saat sedang pergi ke kantin.
Sesampainya di kantin, dia melihat Langit duduk sendirian sedang membaca buku bersampul hitam, tidak jelas judulnya tapi kelihatannya dia sangat serius. Tanpa pikir panjang, Vianji mendatangi meja Langit sambil meletakkan kotak bekalnya.
"Langit, selamat pagi." Sapanya ramah, "Baca buku apa?"
"Pagi, Vianji. Ini buku sejarah." Jawab Langit sambil menutup bukunya dan meletakkannya di meja.
"Aku belum pesan, terimakasih." Kata Langit sambil menerima bekal dari Vianji.
Vianji menunggunya untuk menyentuh makanannya, tapi Langit tidak kunjung memakan bekal buatannya.
"Uh, Langit? Kamu tidak makan?"
"Sudah boleh makan?"
"Hah?"
"Hah?"
'Aaaaahhh! Ini memalukan! Aku lupa menyilahkan dia makan bekalnya!' Pikir Vianji.
"Kalau begitu, selamat makan." Kata Langit sambil memegang sendoknya.
"Se-selamat makan, haha." Vianji canggung saat dia mulai memakan makanannya sendiri.
Vianji melirik buku yang tadi dibaca Langit, dia sangat penasaran judulnya. Buku sejarah mungkin adalah hal yang kurang bagus dijadikan sebagai lelucon agar dia tidak menyentuh buku ini, makanya, dia mengambil buku yang tadi dibaca Langit dan melihat ke dalamnya.
"Uh, Langit? Ini bahasa apa?"
Langit tidak menjawab, dia masih mengunyah. Setelah selesai mengunyah dan menelan makanannya, dia baru bisa menjawab.
"Itu bahasa Ukrish, itu bahasa daerah, wajar saja kamu tidak tahu." Jawab Langit.
"Hmm, unik ya, ada banyak coretannya juga, ini lebih mirip kitab daripada buku sejarah." Komentar Vianji sambil meletakkannya kembali.
"Bagaimana bekalnya?"
"Ini nyaris seperti masakan koki di The Alice." Jawab Langit sambil mengembalikan kotak bekalnya, "Bagaimana orang tuamu?"
"Orang tuaku kukabari tadi pagi, mereka terkejut karena pernikahan tinggal menunggu hari."
Langit mengeluarkan sesuatu dari sakunya, terlihat cukup tebal, dia memberikannya pada Vianji.
"Ini undangan kita, kamu hanya kuberi 10 undangan saja, tidak lebih."
"Wah, sudah jadi?" Katanya merespon Langit saat menerima undangannya, "Tapi, kenapa Cuma 10?"
"Sisanya disebarkan daring, undangan ini untuk tamu terhormat." Jawab Langit.
"Ooh, begitu. Kamu mengundang teman-teman sekolahmu?"
"Tidak, aku tidak akrab dengan mereka. Mungkin aku undang teman-teman luar sekolah." Jawab Langit, dia memang tidak akrab dengan teman-teman kelasnya.
"Oh, Vianji. Setelah ini masih mengajar?" Tanya Langit sambil menggenggam tangan Vianji.
Wajah Vianji tertunduk dia tidak bisa menatap mata Langit, "Materinya sudah habis, minggu depan kan ujian."
"Ayo ikut, aku mau pergi ke toko perabot, bantu aku memilih perabot untuk restoran kita." Kata Langit sambil melepaskan genggamannya di tangan Vianji.
"A-ah, aku ijin ke guru piket dulu." Kata Vianji.
"Aku tunggu di parkiran."
"Iya."
Langit berjalan menuju kelas adiknya, beberapa tatapan benci mengikuti bayangan Langit yang sedang berlalu dengan santai. Sesampainya di pintu kelas adiknya, dia langsung masuk tanpa permisi.
"Hei." Sapa Langit saat adiknya sedang menulis di buku catatan.
__ADS_1
"Hm?"
"Aku mau pergi beli perabot dengan dia." Kata Langit, "Aku meminta ijinmu."
"Oh." Samudra meraih rambut kakaknya dan mengelusnya, "Aku bisa pulang sendiri, lagipula ada kak Petra."
"Benar?"
"Tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum lebar dan menampakkan gigi taringnya yang panjang dan rapi, "Oh, jangan lupa kabari kak Putri dan Panda, mereka pasti membutuhkanmu."
"Benar juga, aku belum tahu keadaan mereka." Kata Langit, "Kalau begitu aku pergi dulu."
"Hati-hatilah." Kata Samudra sambil melambaikan tangannya, dia melihat punggung kakaknya membelakangi dirinya untuk menghampiri wanita lain.
'Yah, pada akhirnya dia kakakku, hubungan lebih lanjut adalah larangan.' Pikir Samudra.
"Hei, hei, dik Samudra." Kata Qian Yating, teman bangku sebelah Samudra yang berasal dari asia timur.
"Hm?" Jawab Samudra cuek sambil lanjut menulis catatan.
"Apa dia kakakmu yang sering dibicarakan itu?" Tanyanya.
"Iya, memang kenapa?"
"Wah, kalau kamu berbohong dan mengaku dia pacarmu, aku percaya kok." Katanya lagi menggoda Samudra.
Wajah Samudra memerah, tidak disangka hubungan dengan kakaknya terlihat seperti itu.
"Hahaha, mana mungkin." Jawabnya sambil meletakkan pulpennya, "Aku terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'sayang' di sekolah, agar dia tidak didekati wanita lain."
"Hmm-hmm? Ada apa ini? Rasa cemburu seorang adik?" Kata Qian menggodanya.
"Cemburu itu wajar, aku hidup dengannya nyaris 17 tahun." Jawabnya sambil memandang wajah Qian dan mencubit pipinya, "Karena dia sudah punya wanita yang dicintainya, aku harus menjauhkan wanita lain, paham?"
"Phhf-phfahaam." Jawab Qian dengan pipinya dicubit Samudra sambil ditarik-tarik.
"Kalian dengar? Jangan coba-coba kalau tidak mau cari ribut denganku." Kata Samudra kepada seluruh orang di kelas.
"Loh, aku gak dengar apa-apa." Tangkis seorang gadis di bangku dekat Qian.
"Aku aja nggak denger kamu bicara apa." Kata satunya lagi, sementara yang lain mengangguk.
"Diamlah, aku kenal orang-orang mirip kalian. Buat apa kalian berpindah bangku dan menguping pembicaraanku? Aku sangat mengenali pembohong, para kakak kelas." Jawab Samudra sambil lanjut mencatat di buku catatannya.
'Tch, dia sadar? Cewek jahanam.' Pikir gadis yang tadi menguping.
'Kalau saja dia bukan adik Langit, sudah kuhancurkan wajahnya yang menyebalkan itu.' Pikir murid yang lain.
Sementara Samudra berada di kelasnya yang membosankan, Langit menyetir mobilnya bersama Vianji di sebelahnya. Mereka berencana untuk pergi ke toko furnitur, Langit sudah menentukan tempatnya, yaitu Glasshopper Furniture, vendor furnitur nomor 3 di negara Republik Asia Serikat, kantor cabangnya sudah ada di mana-mana, termasuk di wilayah tempat rumah Langit berada.
"Ayo masuk." Kata Langit sambil menggandeng tangan Vianji.
"Hm." Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Langit melihat-lihat isi toko furnitur ini, ada banyak orang di dalamnya, kebanyakan berisi perabotan dari kaca, ada juga yang dari kayu dan metal.
"Selamat siang, dik, ada-"
Langit memelototi karyawan pria di depannya saat dia memanggil Langit dengan sebutan 'adik'.
"A-maksud saya, tuan?"
"Aku mencari beberapa perabot untuk dipakai di restoran, ada katalog?"
"Baik, silakan ikuti saya, tuan." Katanya sambil berjalan masuk ke dalam.
Semakin ke dalam, semakin banyak orang sedang memilih-milih perabot dari katalog, mereka memilih modelnya terlebih dahulu daripada mengeceknya langsung supaya bisa menghemat waktu.
"Ini katalognya."
Langit duduk di sebuah kursi yang hanya cukup untuk satu orang, lalu membuka lembar demi lembar buku katalog di tangannya.
"Hm? Kamu tidak duduk?" Tanya Langit.
"Ah-kursinya penuh."
Langit membersihkan pahanya dari debu, kemudian menepuknya dua kali.
"Duduklah di sini." Kata Langit menyediakan kakinya untuk diduduki Vianji.
Wajah Vianji memerah, bisa-bisanya Langit menyuruhnya duduk di pahanya sedangkan mereka ada di tempat umum. Tapi, daripada lelah sendiri, Vianji memutuskan untuk duduk sambil menahan rasa malunya.
Banyak orang melihat ke arah Langit yang membaca buku katalog dengan wanita cantik berwajah oriental duduk di pangkuannya, selain merasa gemas, mereka merasa bahwa dua orang ini adalah ibu dan anak.
"Meja ini bagus, kursinya juga, lekukannya cukup dan pas diduduki untuk waktu lama, bagaimana menurutmu?"
"E-eh, ehem, sepertinya itu pilihan bagus."
"Ukurannya segini, apartemen kita luasnya 230 x 371 yard, dan ada 4 lantai. Paling tidak kita beli 83 set yang seperti ini, ada 4 kursi tiap setnya, bagaimana menurutmu?"
Wajah Vianji sangat merah, dia tidak bisa berpikir.
"A-aku, aku ikut keputusanmu." Jawabnya.
"Apa bisa aku menemui bagian pengiriman kalian? Aku juga ingin sekalian memilih perabot ini." Tanya Langit pada karyawan yang menungguinya.
"Baik, tunggu sebentar."
Setelah berunding beberapa saat dengan pengiriman furnitur, bersama dengan manajer yang mengatur cabang Glasshopper Furniture di kota Pertanjang, Langit akhirnya membeli 83 set meja makan, 20 pasang kursi cadangan, 10 meja khusus kasir, 14 rak piring ukuran besar, 14 mesin pencuci piring, dan perabotan lainnya yang dibutuhkan untuk melengkapi kebutuhan restoran hingga dia menghabiskan 29 juta dolar hanya untuk membeli perabotan.
"Hanya ini saja?" Tanya Vianji yang berjalan keluar dari toko furnitur.
Semua barang pesanan Langit akan diantarkan ke tiap rumahnya melalui masing-masing kantor cabang di tiap kota 3 hari lagi, sehingga akan lebih efisien daripada mengantarnya dari satu toko saja.
"Kita punya banyak agenda hari ini, tapi biar aku ganti baju dulu." Kata Langit.
"Kamu bawa baju ganti?"
"Ada di mobil, ah benar juga." Langit menyadari sesuatu saat membukakan pintu mobil untuk Vianji, "Kita ke rumahmu dulu, kasihan kamu masih belum ganti baju, bau pesing pula."
"Pesing?! Aku?" Vianji kaget sambil reflek mencium bau badannya melalui kerah kemejanya.
"Haha, nggaklah." Jawab Langit sambil menyentuh pipi Vianji, dia tidak menyangka kalau selera wanita yang disukainya selain adiknya sendiri, adalah seorang wanita paruh baya berumur nyaris 30 tahun.
"K-k-kamu, mau, menciumku?" Tanya Vianji tergagap-gagap, dia belum pernah dicium seorang pria sebelumnya, jadi dia sangat gugup.
Langit melepaskan tangannya dari pipi Vianji, menutup pintunya sambil berkata, "Dasar mesum."
"Ha-hah?! Aku?!" Vianji terkejut, pintunya ditutup sehingga dia tidak bisa keluar untuk memarahi Langit secara langsung.
Setelah langit masuk dan menutup pintunya, Vianji menunjukkan wajah cemberutnya yang khas, dia selalu menunjukkan wajah ini saat muridnya berulah, atau mengalami kejadian buruk. Dia masih mengomel-omel tentang Langit yang tadi berkata bahwa dia adalah orang mesum, omelannya bahkan tidak berhenti hingga lampu lalu lintas.
"Oke, kamu bisa diam sekarang." Kata Langit sambil meliriknya dengan tatapannya yang biasa.
Well, meskipun Langit menganggap tatapannya itu adalah sebuah tatapan biasa seorang manusia remaja berumur 17 tahun, tetap saja sangat menakutkan bagi orang awam yang belum akrab dengannya, termasuk Vianji.
"Maaf, aku sudah keterlaluan."
"Tak mengapa, kita sebentar lagi sampai."
Sesampainya mereka di rumah Vianji, mereka disambut hangat oleh penghuni rumah yang kebetulan sedang ramai. Ada paman, bibi, keponakan, dan mungkin semua keluarga Vianji sedang datang untuk berkunjung. Setelah memperkenalkan diri dengan semuanya, Langit masuk sambil membawa tas berisi pakaian gantinya.
__ADS_1
"Ganti saja di kamarku." Kata Vianji, "Aku akan ganti di kamar ibu."
"Iya."