
Eve Oakrose (art by Samudra)
Petra keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolahnya yang baru. Surat kepindahan siswa sudah diurus Langit saat menduduki punggung Petra semalam, jadi hari ini dia hanya perlu mengobrol dengan guru di kantor, lalu pergi ke kelas.
"Petra, kesini." Langit memanggil Petra sambil mengambil beberapa sendok gandum, daging, dan telur gulung, "Makan sarapanmu."
"Eh?"
Langit meletakkan piring sarapan Petra di lantai, tepat di bawah meja, di samping kaki Langit, jelas bahwa ini adalah cara memberi makan hewan peliharaan, dan Petra, pipinya memerah.
"Jangan pakai tanganmu, makan sarapanmu langsung."
"He-h? A-h, iya."
Petra berjalan menuju meja makan, lalu berlutut di samping kaki Langit, setelah itu dia mulai makan seperti seekor hewan peliharaan memakan makanan yang diberikan tuannya.
"Situasi di bawah sana?" Tanya Langit.
"Haah-haahh, glek." Petra menelan makanannya sambil terengah-engah, posisi ini cukup membebani kedua lutut dan tangannya.
"Baik saja." Jawab Petra.
"Bagus."
Langit berdiri, Samudra tidak berani menatap mata kakaknya, lalu dia berjalan ke kamar dan mengambil tasnya.
"Segera selesaikan makanmu, kita segera berangkat." Kata Langit.
Samudra menyudahi makanannya, dia tidak menyisakan satu makanan di piringnya kecuali beberapa titik gandum yang menempel, sementara Petra masih dengan sepotong dagingnya
Samudra mengambil tasnya, dia menghampiri kakaknya yang lalu mengusap kepala adiknya.
Dia tersenyum mendapatkan perlakuan seperti ini dari kakaknya dan berharap kakaknya tetap seperti ini untuk sementara waktu.
"Aku sudah selesai." Kata Petra sambil berlutut di samping piringnya.
"Letakkan di wastafel bersama punyaku dan Samudra."
"Iya." Petra mengangguk, lalu mengambil piringnya yang ada di lantai bersamaan dengan milik Langit dan Samudra yang ada di meja.
"Ayo."
"Iya."
"Hm."
Sesampai mereka di sekolah, orang-orang mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah Samudra, tidak terdengar apa yang mereka bisikkan.
"Eh, kamu, Samudra kan?" Tanya salah seorang anak pria yang menghampiri Samudra, "Aku lihat aksimu kemarin, keren banget!"
"Terimakasih." Jawab Samudra sambil mendundukkan kepala, "Kamu?"
"Riyo Althaf, salam kenal ya."
"Salam kenal." Samudra tersenyum pada pria itu lalu menyusul kakaknya.
"Aku antar Petra ke ruang guru, pergilah ke kelas."
"Iya."
Langit masuk ke ruang guru, banyak guru menoleh padanya dan tampaknya mereka kaget, karena jika ada Langit di ruang guru, itu berarti ada masalah yang sedang terjadi.
"A-ada apa, Langit?" Tanya bu Asabi.
"Petra Andersen, murid baru."
"Oh, murid baru ternyata." Kata bu Asabi dengan wajah lega, begitu pula guru lain yang tampaknya lega karena tidak ada masalah lain di pagi hari.
"Mari ke sini, pak Iwatoji akan menanyanyaimu beberapa hal mengenai berkas."
"Baik."
Petra berjalan mengikuti bu Aasbi menuju meja pak Iwatoji. Pria paruh baya yang menggunakan kacamata tebal dengan alis yang nyaris menyambung itu menyadari keberadaan mereka.
"Ah, siapa ini?"
"Petra Andersen, pak. Saya murid baru." Kata Petra.
"Ah!" Petra sedikit menjerit saat Langit menurunkan kepalanya dengan paksa, dorongan tangannya membuat tubuh Petra membungkuk hingga sudut 90˚.
"Langit! Apa-apaan kamu?!"
"Tuan Safir, pergi ke ruang-"
"Petra, biasakan membungkuk saat kenalan." Langit menarik tangannya dan melipat keduanya di dada, "Biasakan perilaku baik."
Petra kembali ke posisi semula dari tubuhnya yang tadi membungkuk, "Tak apa, Langit adalah waliku."
Semua guru yang memperhatikan mereka kini kembali ke fokus kerja mereka masing-masing, ada yang menulis sesuatu di sebuah buku, dan sisanya hanya memainkan ponsel sekedar membaca berita baru.
"Ka-kalau begitu." Kata pak Iwatoji sambil melepas kacamatanya, "Saya rasa tidak perlu menanyai nona Andersen mengenai berkas."
"Eh?" Petra terkejut, mata bulan sabitnya yang lebar semakin melebar, "Tak apa?"
Pak Iwatoji mengangguk, "Tidak apa-apa, nona Andersen sesuai data, akan belajar di ruang 3. Ini program studi yang diatur walimu."
Pak Iwatoji memberikan selembar kertas dengan jadwal dan tempat kelas berlangsung, Petra baru sadar kalau SMA Negeri Pertanjang memberi kebebasan pada muridnya untuk menempuh mata pelajaran tertentu hingga lulus.
"Terimakasih, pak. Saya pamit dulu." Kata Petra sambil membungkuk.
"Sama-sama."
"Hati-hati, ya."
Langit tanpa mengucapkan apapun berbalik badan dan berjalan keluar kantor guru, Petra yang mengekornya sangat ingin menanyakan sesuatu pada Langit, namun dia terlalu takut.
"Aku memilihkan program studimu." Kata Langit sambil terus berjalan, "Ekonomi dan humaniora kan?"
Petra mengangguk dengan senyuman yang begitu lebar hingga lesung pipinya terlihat sangat cekung.
"Langit, bisa minta waktu sebentar?" Putri tiba-tiba datang dari koridor dan menyentuh pundak Langit.
Langit mengangguk, "Nanti. Aku sudah rincikan di surel semalam, harusnya kau sudah baca."
"Meski begitu, Lang-oh? Siapa ini?"
Petra menundukkan kepalanya, "Petra Andersen, murid baru."
"Ah, gak perlu segitunya, aku masih kelas 2." Putri membalas menundukkan kepala, "Aku Sri Sudarsih Kusumaning Putri, panggil aja Putri."
"Mohon bantuannya."
"Iya, mohon bantuannya juga."
Langit mendecih, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang bahasa, "Jam 9, mabes."
Putri mengangguk lalu berjalan pergi dari koridor menuju ruang kelasnya.
"Eh, Langit, tunggu sebentar."
Langit berhenti, "Hm?"
"Aku masih baru, bisa kamu tunjukkan di mana kelas 2-13?"
"Lantai 2, kedua dari tangga kiri."
Petra membungkuk dalam dengan kedua tangannya dilipat di perut bagian bawah, "Terimakasih."
Setelah berada di kelas yang membosankan bagi Langit yang sudah bagaikan dewa pengetahuan, dia pergi dari kelas tanpa meminta ijin apapun dari guru di kelasnya.
Beberapa siswa iri dengannya karena sering membolos dari kelas namun tetap berada di peringkat satu, diikuti dengan Samudra.
Langit berjalan menuju ruang guru, dia ingin menemui guru kesiswaan, Qiu Tong.
"Aku ingin pergi ke luar sekolah."
"A-ah, sudah ijin guru di kelas?" Tanya pak Tong.
Langit diam saja, dia memandangi guru di depannya dengan tatapan jijik, sama ketika dia memandangi seekor lalat sedang mengitari kotoran, berpikir untuk menggunakannya sebagai tempat meletakkan telur ataau mengabaikannya begitu saja.
"Ah-baiklah, tapi kembalilah sebelum kelas terakhir."
Langit berbalik dan segera pergi menuju kelas kesenian, hari ini, Putri sedang mengikuti kelas tari.
Namun dia menari dengan gerakan kuncian, pukulan, lompatan, salto, bahkan dengan beberapa teriakan.
Lebih seperti latihan bela diri campuran daripada tarian.
Brak, langit membuka pintu dan berjalan masuk ke kelas tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Langit! Sedang apa di kelas ini? Kembali ke kelasmu sekarang." Kata guru tari di kelas.
"Aku bawa Putri dulu." Kata Langit sambil mengangkat dagunya, memberi isyarat pada Putri.
__ADS_1
"Bu, saya ijin sebentar."
"Hih, pergi sana."
Langit dan Putri berjalan menyusuri lorong, Langit ingin pergi ke kelas Samudra untuk menjemputnya, tapi ternyata lebih baik dia menghubunginya dengan ponsel.
"Halo?"
"Pergi ke gerbang sekolah sekarang."
Langit mematikan ponselnya dan segera pergi ke gerbang sekolah, di sana, sedang terparkir sebuah mobil van yang tidak asing.
"Hei, kalian berdua." Kata Yuri yang menunggu di dalam mobil saat Langit mengintip ke dalam, "Rencana hebat apa yang mau dibawa kali ini, Archer?"
"Diam dan tunggulah sebentar."
Samudra berlari dari rumah kaca menuju gerbag sekolah, rambutnya bergoyang ke segala arah, sampai dia mencapai Langit dan Putri.
"Duuh, harusnya tadi dijemput dong."
"Kelelahan?" Langit mengambil air dari dasbor mobil van, "Minum ini."
"Hei, ijin dulu ke yang punya."
"Masuklah."
"Terimakasih."
Di dalam markas, sudah menunggu mereka yang ada dalam tim, termasuk Panda, Harpy, Miru, dan Naga.
Dan seperti biasa, mereka melingkari meja dengan peta 3 dimensi di atasnya.
"Jadi, Archer?" Tanya Panda.
"Ini adikku, Samudra, kode Ranger."
"Maaf menyusahkan." Kata Samudra sambil mendundukkan kepala.
"Lalu? Ada apa ini?" Tanya Harpy, "Operasi skala besar lagi?"
"Pihak atas sudah kusuruh melakukannya, tindakan pencegahan sudah dimulai tempo waktu." Langit menggeser peta di meja agar menunjukkan peta kota Harphia, "Ini operasi kecil, dengarkan baik-baik."
Semuanya diam, tidak mengeluarkan suara apapun kecuali suara nafas yang tidak akan terdengar.
"Ingat gadis yang kusuruh kau cari tempo hari, Panda?"
"Archer mau menikah? Hahaha."
"Hahaha."
Langit diam menunggu semuanya selesai tertawa, setelah menyadari waktunya serius karena Langit sedang menunjukkan wajah yag siap membunuh siapapun bahkan komandan tertinggi kemiliteran.
"Kita akan menggunakan Petra sebagai umpan untuk memancing ikan besar. Dia akan hidup bersamaku di apartemenku dan setiap malam, dia akan pergi jalan-jalan di malam hari dengan pakaian mewah. Ini berarti, Panda akan membuat identitas palsu untuk anak ini dan keluarga palsu untuknya, dan mereka harus tercatat di pencatatan sipil secara resmi, hanya untuk sementara waktu."
"Archer?" Naga bertanya.
"Ya?"
"Kenapa perlu identitas sipil? Keluarga palsu?"
Langit mengangguk, "Sejauh ini, korban yang dibunuh oleh si perawan adalah gadis yang muda, cantik, pandai, berkualitas bagus. Terakhir kali, mereka mendapatkan korban di kota Tanpel, aku sudah memperingatkan atasan agar mengamankan orang tua dan semua keluarga mereka, tapi bagaimana kalau ada seorang gadis cantik, berkualitas ada di kota Pertanjang malam hari? Menurutmu apa yang akan terjadi?"
"Umm, mereka membunuhnya?" Jawab Panda
Langit mengangguk, "Kota Pertanjang, daerah Flamboyan, jam 11 malam, siapkan peralatan kalian dan jangan gagal."
Semua orang yang menghadiri rapat merapatkan kakinya hingga berbunyi drap keras bersamaan, kecuali tentunya, Putri dan Samudra.
"Aku bertiga akan kembali ke sekolah, dan Panda, aku ingin dana sebesar 8 juta dolar agar dikirimkan ke rekeningku, aku butuh untuk operasi ini."
"Untuk apa, tepatnya?"
Langit menoleh pada Panda yang melihatnya dengan tatapan penasaran, "Untuk kesuksesan misi."
"Archer." Panda menghela nafas, "Aku tahu kalau kamu ini selalu benar, kamu selalu membuktikannya, teman-teman bahkan tidak ada yang membantahmu, tapi setidaknya, berikan rincian tujuan penggunaan dana."
"Katakan yang kukatakan pada komandan, dia akan tahu."
"Haah." Panda mengeluh, nafasnya keluar dengan sangat berat, sambil mengangguk, dia berkata, "Akan kucoba."
Langit bergegas keluar bersama Yuri dan adiknya, dia akan mengantar dua bersaudara ini kembali ke sekolah.
"Perubahan rencana, kita ke apartemen."
"Hah?" Yuri menoleh pada Langit dengan ekspresi kaget, "Benaran?"
"Oke, kita ke apartemenmu."
Perjalanan terasa sangat cepat, jalanan memang lengang pada saat seperti ini, semua sedang sibuk bekerja di kantor, toko, belajar di sekolah, kampus, atau kegiatan lain.
Pemerintah memiliki kebijakan untuk mendanai mereka yang tidak memiliki pekerjaan sebanyak 500 Dolar Republik setiap bulan, dan hanya cukup untuk membayar tempat tinggal seharga 380 Dolar Republik sebulan, sementara harga makanan paling murah di daerah Chinetown adalah 12 Dolar Republik, itu berarti, seseorang yang menganggur hanya bisa makan selama 10 hari saja, itu jika dia mampu menahan lapar sepanjang hari.
Hal ini tentu saja menjadi perhatian seluruh dunia, dimana tidak ada kemiskinan di negeri ini, semua karena sistem pemerintah dan para anggota cabinet yang tidak pernah korupsi, dan tempo waktu, Marcus Collum, terbukti melakukan korupsi dan mendapatkan pengasingan di pulau Herder, sebuah pulau tanpa hewan, tumbuhan, hanya ada tanah kosong dan rerumputan liar, juga beberapa serangga.
Jika beruntung, dia bisa membuat sebuah alat pancing dan menyambung hidup. Jika tidak, dia akan membusuk di tempat ini.
Sesampainya mobil van di depan apartemen, Langit dan adiknya keluar dari mobil.
"Terimakasih, kak, umm."
"Lexandr Yuri Rohan, panggil aja Yuri."
Samudra menundukkan kepalanya sebagai tanda terimakasih, "Aku Samudra Safir, semua memanggilku Ranger."
Yuri tersenyum, dia tidak menyangka dari keluarga Safir yang diketahuinya melalui Langit hanya berisi orang-orang cuek, arogan dan bengis, ternyata ada gadis cantik yang indah dan baik seperti Samudra.
"Kakak, kita gak ke sekolah?"
"Kamu sudah berada di dalam kamar menghabiskan uang bulanan untuk membeli buku, seharusnya tidak masalah karena kamu juga belajar sesuai silabus mata pelajaran."
"Iya sih, tapi kan butuh absen."
"Kamu lupa? SMA kita adalah unik daripada lainnya, tidak mementingkan absen, hanya membutuhkan nilai sempurna di ujian, dan mereka harus tetap berada di kelas supaya paham semua teori." Kata Langit menjelaskan panjang lebar pada adiknya, "Kecuali adikku yang jenius."
Samudra tersenyum, jarang melihat kakaknya berbicara panjang lebar seperti tadi, sepertinya moodnya sedang bagus hari ini.
Langit membuka pintu, dia langsung masuk ke kamarnya dan membuka mesin pencari, adiknya yang penasaran duduk di kasur di belakang Langit.
"Pemburu? Untuk apa?"
Pemburu adalah tentara bayaran yang bisa direkrut atau dikontrak melalui situs illegal menggunakan crypto-currency sebagai mata uang pembayaran. Mereka sangat ahli, terlatih di bidangnya, apalagi jika mereka lulusan militer dan memiliki pengalaman beberapa tahun di dunia pemburu bayaran, dan Langit, akan merekrut satu.
"Kita kekurangan orang." Langit membuka situs kepolisian dan menunjukkan nama anggota yang sudah difilter, "Mereka semua masih seperti bayi jika dibandingkan pemburu asli."
"Aku gak begitu paham, tapi aku menurut."
Langit menggeser layar monitornya untuk mencari pemburu yang diinginkan. Mereka tidak memasang foto wajah mereka, mereka menyematkan banyak video saat mereka beraksi, ada yang merekamnya menggunakan kamera yang dipasang di helm, atau meminta bantuan rekan untuk merekam mereka saat beraksi, dengan ini, tiap calon pelanggan akan mengerti bagaimana kualitas pemburu yang akan mereka rekrut.
"Halo, namaku Tulip, dan malam ini, aku sedang memburu seorang koruptor di Negara Persatuan Britania Raya. Namanya adalah Deve Faulkner, kode Ayam." Katanya dengan suara yang disamarkan, tidak jelas dia lelaki atau perempuan, lalu dia menggeser kamera dan menampakkan sekelilingnya, "Saat ini, aku ada di atas gedung pencakar langit Kloe di kota Hendan, dan akan menggunakan Juggernaut nomor 886 untuk memanggang Ayam. Semua sudah siap, hanya menunggu Ayam masuk perangkap."
Adegan terpotong, sepertinya dia memangkasnya untuk menyingkat waktu.
"Ayam mendekati perangkap, meledakkan perangkat dalam 2,1." Ledakan besar terjadi di atas gedung yang dilewati oleh Deve Faulkner, menyebabkan dia terjatuh karena kaget, "Ayam lumpuh, kecepatan angin suhu rendah 34 knot, gravitasi 10 meter per detik kuadrat, rotasi bumi dari barat ke timur, X 2 dot dan Y 4 dot, mulai memanggang ayam."
Kamera berpindah dari menggunakan penyangga kaki tiga, menjadi kamera yang dipasang di teleskop yang terpasang di senapan miliknya, menunjukkan sasaran dan kondisi sekitar.
Bunyi pelatuk terdengar, namun tidak menimbulkan suara ledakan di ujung selongsongnya karena sudah dipasang peredam suara. Kepala Deve Faulkner pecah menjadi tidak berbentuk, peluru yang ditembakkannya mengenai sasaran dengan sangat akurat bahkan tanpa menggunakan peluru pintar seperti yang biasa digunakan Harpy dan Garuda.
"Tujuan misi tercapai, mengambil foto sebagai bukti, sekarang waktunya kabur."
Dia mengganti kameranya menjadi kamera orang pertama, sehingga yang Langit lihat langsung di monitor adalah yang pemburu itu lihat saat itu juga, lalu dia membongkar senapan dan memasukkannya ke dalam sebuah koper yang dipakai di punggung, setelah itu dia membuka tablet.
"Lantai 12 dikonfirmasi tidak ada orang."
Tali yang sudah disiapkannya tadi dipakainya untuk turun dari atap gedung pencakar langit dengan lebih efisien, kaca yang ada di lantai 12 gedung ini sudah dilubanginya sebelum misi, sehingga dia bisa masuk dengan mudah.
"Lantai 1 hingga 8 dipenuhi polisi, melanjutkan misi pelarian hingga keluar gedung."
Beberapa polisi sudah berada di lantai 9 dan terus mencari pelaku pembunuhan Deve Faulkner sesuai arahan komandan yang ada di tempat. Namun, tidak ada satupun dari polisi yang menemukan pemburu ini, karena dia menggunakan lift untuk turun, sementara para polisi yang berpikir kalau pelaku menggunakan tangga agar tidak ketahuan, malah tidak menemukan pelaku yang dicari.
"Misi sukses, segera melapor ke kontraktor. Hubungi aku jika kau ingin aku memburu seseorang."
Video berakhir, Langit tampak sangat menyukai pemburu ini.
"Dia hebat, kak?" Tanya Samudra.
"Dia bisa menghitung aritmatika rumit tanpa alat hitung dan sangat hati-hati saat kabur." Langit melirik adiknya, "Dia profesional."
Samudra mengangguk, "Jadi, kakak mau rekrut dia?"
"Tergantung, dia tulis disini kalau dia menyelesaikan 34 misi menguntit, 108 misi membunuh, 12 misi sabotase dan 11 misi menculik. Tidak pernah gagal."
Langit melihat halaman awal pembunuh bayaran ini untuk mengecek harganya.
"Harganya 8 juta dolar untuk misi pembunuh. Sesuai perkiraanku."
"Bukannya itu murah? Kakak aja dapat 58 milyar dari sayembara."
__ADS_1
"Dia warga negara Negara Persatuan Eropa Timur, 8 juta Dolar Republik akan seharga 21 milyar Pund Eropa Timur, itu sudah banyak."
"O-h, kukira kenapa, hehehe."
Ponsel Langit berdering, sebuah penggilan masuk dari Putri.
"Halo?"
"Entah kenapa, Archer, komandan setuju soal 8 juta dolar itu, aku sudah transfer uangnya ke rekeningmu, tapi untuk apa?"
"Ok."
Langit menutup panggilan dari Putri dan segera merekrut pemburu ini. Dia membayar sebanyak 2.1823 Battcoin yang seharga 8 juta dolar lebih sekian sen kepada si pemburu, dia sudah memberikan alamat sebuah toko komputer di kota Pertanjang dan akan bertemu nanti pukul 7 malam.
"Kita akan berjalan-jalan sebentar, ayo."
"Gak ganti baju dulu? Kalau pakai seragam begini, bisa dihajar petugas patrol." Jawab Samudra.
"Benar juga." Langit memperhatikan celananya, "Kita ganti baju dulu."
"Iya."
Langit hanya mengenakan celana panjang, kaus lengan pendek dan sebuah sandal jepit. Sedangkan Samudra menggunakan celana panjang, kemeja tanpa lengan, jaket yang tidak dikancing dan sepatu untuk berlari.
"Kakak, apa-apaan sandalmu?"
"Sudah, ayo berangkat."
Mereka menuju toko komputer dan berkeliling mencari beberapa komponen untuk papan sirkuit kecil. Langit memanggil profesor Rizaki, dia mendapatkan nomornya beberapa waktu lalu.
"Halo, Archer. Ada yang bisa kubantu?"
"Aku ingin dibuatkan kamera yang bisa menempel di segala permukaan."
"Apa maksudmu?"
"Kamera yang ditempelkan di dinding secara temporer, dan bisa diamati melalui tablet."
"Ooohh, menarik. Sebenarnya sudah ada ide tentang ini, jadi mungkin lebih mudah."
"Akan kukirimkan desain dan komponen khususnya, bisa segera kau buatkan?"
"Tentu saja."
Langit mematikan ponselnya dan lanjut berbelanja alat komputer, sementara adiknya berada di sebuah tempat duduk di pinggir trotoar dengan sebuah ponsel dan segelas kopi di tangannya. Setelah itu dia memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah buku, lalu dia membacanya.
"Anu, kak?" Seorang pria menghampiri Samudra, dia menoleh kepada pria yang memecahkan fokusnya membaca, "Kakak baca buku apa?"
Samudra memberi batas di halaman terakhir dia membaca, lalu menunjukkan sampul pada pria itu.
"War of The Damned: Bismarck." Jawab Samudra.
"O-oh, aku tahu buku itu, bagaimana kalau kita bertukar nomor?"
Samudra mengamati wajah pria ini, kedua matanya tidak bertatapan langsung dengan mata Samudra, tangannya menggaruk kepala bagian belakang, terbata-bata di kalimat awal, sudah jelas pria ini sedang berbohong dan malu-malu dalam waktu yang sama.
Samudra menyilangkan kakinya dengan kaki kiri di atas kaki kanan, dia memberikan isyarat bahwa dia sedang tidak terbuka untuk hal seperti ini, namun pria tersebut sepertinya tidak mengerti.
"Samudra, aku sudah selesai." Kata Langit yang keluar dengan sebuah tas kertas berisi komponen komputer dan beberapa gulungan kertas berwarna biru.
"Aku sudah selesai di sini, dan maaf ya, aku gak bisa kasih nomorku." Kata Samudra sambil membungkuk dalam.
"A-ah, tidak apa-apa, maaf sudah mengganggu." Jawab pria itu yang bahkan tidak membalas bungkukan Samudra.
Langit menyalakan motor sambil menaikinya, Samudra duduk di belakangnya dan mengambil tas kertas yang ada di depan Langit.
"Biar aku yang bawa."
Mereka berdua meluncur ke laboratorium militer tempat profesor Rizaki berada, dia ingin agar perangkatnya selesai dalam waktu cepat, setidaknya sebelum nanti malam.
"Halo, Archer, siapa ini yang bersama denganmu?" Tanya profesor Rizaki saat keduanya sudah sampai di laboratorium.
"Anggota baru, Ranger."
"Salam kenal, Ranger." Kata profesor sambil menundukkan kepala, "Kita langsung bahas itu saja."
"Mauku juga begitu."
Mereka berjalan masuk ke laboratorium blok E nomor 2, tempat semua riset persenjataan dilakukan.
"Ini desain lama dari beberapa waktu lalu, tapi saat purwarupanya selesai, modelnya tidak begitu efektif."
"Bagaimana dengan ini?" Langit memberikan gulungan kertas biru yang dibawanya dari toko komputer, "Modelnya seperti kamera pengawas, tapi bisa dipasang dimanapun."
"Tapi bukannya kalau dipasang, misalnya dilempar, ada kemungkinan kameranya terbalik?"
"Ada dua lapis kaca, yang paling luar untuk menempel, yang di dalam untuk memutar." Kata Langit sambil menunjuk desain yang dia buat saat di toko komputer tadi, "Ini seperti kamera yang bisa berputar 1440˚, maksudku ke segala arah."
Profesor manggut-manggut, "Ini jelas inovasi yang bagus, tapi orang lain bisa mudah menemukannya."
"Tambahkan monitor di belakang kamera, dia akan tampilkan yang dilihat kamera. Jadi saat tidak digunakan, kamera akan mengarah ke dinding dan kalau dilihat dari luar, orang akan mengira ini adalah bola kaca transparan untuk hiasan."
"Wahahahaha, hebat! Aku belum pernah memikirkan ini."
"Tolong buatkan, ini bahan yang kubelikan." Kata Langit sambil menunjuk tas kertasnya, "Karena kau sudah tahu desainnya dan jelas akan menduplikasinya untuk militer, aku ingin kau membayar, dan kau bisa klaim desain ini sesukamu."
"Haah, tentu saja." Profesor menghela nafas, dia paham betul dengan hal seperti ini karena dia pernah berjualan barang yang sama, "Berapa maumu?"
"Berikan saja aku sebuah mobil."
"Hah?!" Profesor Rizaki kaget, biasanya, orang akan meminta uang, namun Langit meminta mobil, "Mobil apapun?"
"Mobil apapun, setidaknya paling lama keluaran 10 tahun lalu."
"Mobilku mau? Diamond Courser seri Frigate keluaran terbaru."
"Kau yakin? Itu harganya 512 juta."
"Desain ini lebih mahal dari mobilku, aku yakin bisa membeli 4 mobil yang sama nantinya."
"Surat-surat?"
"Ada semua di bawah dasbor, ini kuncinya." Jawab profesor sambil memberikan kunci dari dalam sakunya, "Aku akan mulai kerja, kau, Archer dan Ranger, nikmati mobil baru kalian sana."
"Profesor, jangan sedih." Kata Samudra sambil memegang tangan profesor Rizaki dengan kedua tangannya, "Aku sangat berterimakasih profesor gak marah karena Archer, tapi paling tidak, jangan sedih, ya?"
"Huhu, hfft." Profesor menarik semua ingus yang nyaris keluar dari hidungnya masuk lagi ke dalam, "Anak baik, terimakasih ya."
"Iya."
"Ayo pergi." Kata Langit.
Tanpa menjawab, Samudra mengikuti kakaknya dari belakang. Dia melihat punggung kakaknya yang bidang dan lebar, memberikan rasa aman saat melihatnya. Apalagi dengan penglihatan kakaknya yang begitu tajam, bahkan mampu menembus uratnya yang paling dalam, hingga dia tahu, kalau selama ini dia tidak merasa nyaman saat menggunakan celana untuk sehari-hari, namun karena kakaknya hanya memiliki motor keluaran lama, dia harus memakai celana agar tidak menyusahkan kakaknya.
Bagaimanapun, dengan mobil, dia bisa menggunakan rok tanpa harus khawatir kakaknya akan kehilangan keseimbangan.
"Aku punya rumah baru." Kata Langit saat menyetir mobil dan meninggalkan motor sekaligus kuncinya di laboratorium, "Beberapa."
"Darimana?"
"Hadiah dari komandan, aku memaksanya."
"Duh, kakak, apartemen kita masih bisa ditinggali kok." Kata Samudra yang mencari siaran radio yang bagus, "Lagipula, hanya itu yang diberikan ayah dan ibu pada kita."
"Memang, tapi kita tidak bisa tinggal di sana selamanya, dan penghuni apartemen hanya tinggal nomor 12, 7, 3, dan Senja di sebelah kita." Kata kakaknya yang memberhentikan mobil di lampu lalu lintas.
"Mereka semua tidak akan melanjutkan kontrak apartemen, dan resepsionis di depan juga sudah keluar jika aku tidak memberikannya uang tambahan."
"Iya, kah?"
Langit mengangguk, "Jadi, aku akan mengubah apartemen itu menjadi sebuah restoran, karena Senja masih tinggal di sana, dia akan dipindahkan ke kamar paling atas dan kupekerjakan sebagai supervisi restoran, bagaimana menurutmu?"
"Itu berarti, akan ada renovasi?"
"Iya." Jawab Langit sambil menancap gas saat lampunya berganti menjadi hijau, "Kita akan tinggal di Harphia untuk sementara waktu."
"Kakak bilang ada beberapa rumah?"
"Iya, di BR, Kyuto, Venus, Karang, Portaquen, Margo, Harphia dan Krelta."
"Itu bukan beberapa, kakak. Itu banyak banget, astaga." Samudra mematikan radio karena tidak ada siaran yang bagus, "Buat apa rumah sebanyak itu?"
"Untuk dibuat jadi kafe."
"Kakak yakin bisa atur semuanya?"
"Tentu saja, aku ini Langit, tidak ada yang tidak dilihat Langit. Dan kamu Samudra, tidak ada yang tidak bisa ditaklukkan Samudra, dan kehidupan bermula dari Samudra."
Samudra tersenyum, kakaknya terlihat sangat baik hari ini.
"Setelah kita jemput Petra, kita akan pulang."
"Iya."
__ADS_1