Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Recovery


__ADS_3

Sudah 3 hari sejak Langit pertama kali sadar dan mengerang, pemulihannya begitu cepat terjadi, sehingga dia sudah diperbolehkan pulang.


Para dokter yang menanganinya terkejut bukan main karena 5 hari yang lalu, dia datang dengan bersimbah darah kering dan mengalami banyak hal lain seperti infeksi mata dan lain-lain.


Tapi melihat kondisi Langit saat ini, dia sudah bisa melakukan push-up, squat, dan berlari beberapa mil tanpa ada masalah.


Lensa matanya yang berubah menjadi kuning pun membuat para dokter penasaran. Meski warna kulitnya kini tidak lagi putih pucat seperti kapur, yang tersisa hanya warna matanya yang berbeda.


"Selamat atas kesembuhanmu, Langit." Kata Vianji sambil membawa buket bunga penuh dengan bunga mawar biru, yang berarti harapan.


"Terimakasih." Jawab Langit sambil mendekatkan tubuh Vianji dan mengecup dahinya, wajah Vianji memerah, namun dia harus membiasakan hal ini.


"Kakak, hehehe." Samudra menghampiri kakaknya bersama dengan Putri dan Panda di belakangnya.


"Hup!"


"Aw! Hahaha!"


Langit mengangkat badan adiknya dan menggendongnya seperti tuan putri, Samudra terlihat sangat gembira.


"Rambutmu memanjang." Kata Langit sambil mencium aroma citrus dari rambut adiknya yang sudah sangat panjang, "Padahal baru minggu kemarin rambutmu pendek."


"Aku memanjangkannya, hehehe, suka?"


"Suka."


"Hei, Archer, selamat ya." Kata Putri sambil memberikan sebuah pistol antik Phyton 365.


"Hei, hei, kau beri apa ke orang yang baru keluar dari rumah sakit?" Kata Panda, "Beri dia ini dong."


Panda memberikan sekotak amunisi untuk Phyton yang diberikan oleh Putri, "Dia gak bisa pakai pistol itu kalau gak ada pelurunya."


Vianji terkejut, Samudra dan kakaknya tertawa terbahak-bahak.


"Langit, ini pistol sungguhan?" Tanya Vianji.


"Buka-"


"Tentu saja ini pistol sungguhan." Potong Panda sambil mengeluarkan satu dari dalam jaketnya, "Lihat, aku bawa satu lagi."


"Langit, jelaskan."


Langit menghela nafas, dia mengangkat satu alisnya pada Panda.


"Oke." Jawab Panda setelah mendapat isyarat dari Langit, "Ayo ke helikopter, kita harus kembali ke Pertanjang."


"Ya, ya. Aku meninggalkan kontraktor dan lainnya mengurusi gedungku." Kata Langit sambil mengikuti mereka di belakang.


"Apa maksudmu? Aku sudah mengurus mereka semua." Kata Vianji sambil membuka ponselnya dan menunjukkan langit rekaman kamera pengawas, "Lihat ini, restoran kita semuanya sudah beroperasi."


"Ini siaran langsung?" Tanya Langit sambil menggeser-geser tayangannya.


"Iya, aku pakai akunmu, Samudra memberitahuku PIN akun bank-mu dan aku selesaikan semuaya, termasuk rekrutmen supervisi dan karyawan." Jawab Vianji.


"Bagaimana bisa?"


"Kamu ingat, 'kan, ayahku adalah pengepul ikan, dia tahu susunan seperti ini karena dia sering bermain-main di restoran."


"Ahh." Langit mengangguk tanda paham dengan penjelasan Vianji.


Mereka naik helikopter yang terparkir di landasan helikopter di dekat parkiran mobil, landasan helikopter di atap gedung sedang digunakan, jadi Kepler menggunakan landasan yang ini.


"Hei, Archer." Sapa Kepler yang sedang menunggu di helikopter, "Lama tak jumpa."


"Ini baru 5 hari, jangan perlakukan aku seperti mayat." Jawab Langit yang disambut tawa oleh lainnya.


Setelah mereka naik ke dalam helikopter, Samudra terus menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya, dan dia tidak mau lepas.


Langit hanya bisa pasrah sambil menggesekkan kepalanya dengan kepala adiknya, seperti kucing satu dengan kucing lainnya.


Vianji yang melihat dua bersaudara yang begitu mesra ini merasa sedikit cemburu, dia tidak pernah melakukan itu pada Vianji, meski begitu, dia tetap bisa pasrah karena dia sendiri belum resmi menikah dengan Langit.


"Ranger, sebegitu kangennya kamu dengan Archer?" Tanya Putri sambil memperhatikan mereka berdua.


"Hmm, jangan ganggu." Jawabnya sambil membenamkan dirinya di dada kakaknya.


"Hahaha, kita punya banyak waktu di rumah." Kata Langit.


"Oh ya. Aku selalu penasaran kenapa kalian memanggil Langit dengan Archer." Kata Vianji.


"Oh, ini karena aku seorang tentara." Jawab Langit.


Vianji terdiam, mencoba mencerna kalimat Langit barusan, setelah itu dia tertawa.


"Hahaha, tentara? Kamu bercanda?"


Langit mengeluarkan pistol Phyton hadiah dari Putri tadi, lalu mengarahkannya ke kepalanya sendiri.


"Langit?"


Langit menarik pelatuknya dan memutar barel, untuk menembak kepalanya sendiri.


Cklek


Tidak terjadi apapun, tapi Vianji takut setengah mati, dadanya terasa sesak dan kesulitan bernafas. Sementara yang lain diam saja tanpa melakukan apapun.


"Ini Phyton antik, belum ada peluru di dalam barelnya, dan jika ada peluru di dalamnya, lalu aku tarik pelatuk seperti tadi, maka?"


"Wuush!" Kata Samudra sambil membentangkan tangannya, "Isi kepalanya akan berhamburan."


"Ranger, berhenti bercanda soal kepala kakakmu." Kata Putri sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Hahaha, maaf." Jawab Samudra.


"Archer, aku mengirimu pesan, bacalah ketika sampai di rumah." Kata Putri.


"Oh ya, soal Petra?" Tanya Langit pada adiknya yang masih bermanja-manja.


"Kak Petra? Dia pindah dikembalikan ke rumah ayahnya, aku bilang dia tidak lagi berguna." Jawab Samudra.


"Bagus, lagipula aku bisa gila."


"Siapa Petra?" Tanya Vianji curiga.


"Dia anak yang kabur dari rumah, membuat kami kesulitan selama beberapa bulan."


"Oh, baiklah."


Setelah setengah jam berada di helikopter, mereka akhirnya sampai di hangar tempat Langit biasanya memulai sesuatu, di tempat ini juga dia bertemu dengan Elish DeCapel setelah sekian lama.


"Makan dulu, atau langsung pulang?"


"Pulang dulu, makan di rumah saja."


Sebuah mobil datang dari tempat parkir ke arah Langit dan lainnya berada, setelah mobil itu berhenti, Yuri keluar dan menyalami Langit.


"Selamat, Archer."


"Terimakasih, kau mengantar kami ke rumah?"


"Tentu, Prinses masih ada perlu di kostrad bersama yang lain, jadi mereka akan diantar Kepler."


"Oke." Jawab Langit sambil masuk ke mobil diikuti oleh adiknya dan Vianji.


Vianji masih belum terbiasa dengan fakta bahwa Langit adalah seorang tentara cadangan yang setiap menjalankan misi, akan bertaruh hidup dan matinya dengan kemungkinan 50 : 50, dia sangat cemas.


"Vianji, sisa berapa hari?"


"E-eh?" Vianji tersadar dari lamunannya, "A-anu, sisa hari apa?"


"Sisa 2 hari, kak." Kata Samudra yang mengerti maksud pertanyaan kakaknya.


"Aku harus belajar sedikit, mungkin?" Kata Langit berbicara pada diri sendiri.


"Aku sudah belajar." Kata adiknya.


"Benarkah? Mau coba jadi nomor 1 waktu lulus?"


"Hm-m." Samudra menggeleng, "Aku mungkin nomor 5, seperti biasa."


Langit menghela nafas, "Bernafsulah sedikit."


"Oh ya, kemarin ada orang yang datang ke apartemen, mereka katanya mengundangmu dan Samudra ke istana negara." Kata Vianji mencoba bergabung dalam dialog dua bersaudara ini.


"Oh, soal penghargaan, lalu?"


"Aku bilang ke mereka kalau kamu sedang sakit, jadi mereka setuju untukmu datang kapan saja setelah sembuh."

__ADS_1


"Mereka juga menyinggung soal penelitian."


"Kalau itu aku tidak tertarik, terlalu sibuk di sini."


Vianji diam, dia tidak bisa membantah kalimat dingin dari kekasihnya ini.


"Lagipula, pernikahan kita sudah dekat." Kata Langit sambil menoleh ke belakang.


"Iya."


Sesampainya mereka di apartemen Langit, yang sudah berubah menjadi sebuah restoran, Yuri hanya mengeluarkan mereka lalu langsung pergi begitu tahu Langit dan dua orang lain yang bersamanya sudah turun dari mobil.


"Wow, mereka mengerjakannya sesuai dengan desain yang kubuat." Komentar Langit setelah melihat gedung miliknya yang sedang ramai oleh pengunjung.


"Iya, desainmu kan sudah diberikan ke kontraktor, mereka mengerjakannya sesuai yang tertulis di sana." Kata Vianji sambil menggandeng Langit dan Samudra untuk masuk ke dalam.


"Selamat datang, meja untuk berapa orang?" Kata seorang pelayan wanita yang membukakan pintu untuk mereka.


"Untuk 3 orang." Jawab Vianji.


"Mohon lewat sini." Katanya sambil menuju lift, lalu menekan tombol ke lantai 4 setelah Vianji dan lainnya masuk.


"Mohon maaf, tapi lantai 1 hingga 3 sudah penuh. Hanya tersisa beberapa meja di lantai 4."


"Tak apa." Jawab Vianji.


Ting.


Lift sudah sampai di lantai 4, benar kata pelayan tadi kalau tidak terlalu penuh di lantai ini. Dekorasi dan penempatan meja, bahkan lampu dan bunga-bunga, semuanya sama persis seperti yang Langit harapkan, bahkan standar operasional seperti membukakan pintu, menyiapkan meja, dan memberikan daftar menu semuanya tertata rapi.


'Oh, makanan dan minumannya cukup lengkap, ada set untuk fine-dining, bahkan romantic pallete.' Pikir Langit saat membolak-balik daftar menunya.


"Aku pesan satu dari setiap menu yang ada, bawa kemari satu per satu." Kata Langit sambil menutup bukunya dan memberikannya pada pelayan di sebelahnya.


"Satu dari setiap menu yang ada." Kata pelayan pria yang menunggui pesanan Langit, "Mohon ditunggu, tuan."


Tanpa menjawab, Langit menghela nafas dan mendongakkan kepalanya, dia melihat langit-langit restoran yang dia kelola ini begitu penuh dengan lukisan gaya Eropa lama.


Lukisan di langit-langit itu menceritakan seorang dewi perang Yunani kuno yang lahir dari mulut ayahnya, lalu cerita kehebatannya diceritakan sesuai arah jarum jam secara sirkular.


"Berapa yang kamu habiskan?"


"Uh, untuk, untuk apa?" Tanya Vianji yang tidak mengerti pertanyaan Langit.


"Lukisan ini menghabiskan 3.000 dolar, ada 4 lantai, jadi totalnya 96.000 dolar. Lukisan seperti itu ada di semua restoran kita, jadi totalnya 960.000 dolar."


"Aku kaget tidak habis jutaan seperti furnitur." Kata Langit sambil menurunkan kepalanya dan melihat dekorasi yang lain.


Vianji menundukkan wajahnya, dia tidak menyangka kalau dirinya tidak mengenali Langit sama sekali, dia bahkan tidak mengerti pertanyaannya sama seperti adiknya mengerti pertanyaan yang dilontarkannya.


"Vianji, ada apa?" Tanya Langit.


"Hm? Ah, gak ada apa-apa." Jawabnya.


Langit mengernyitkan dahinya dan memelototi Vianji tajam, membuatnya merasa takut, amat sangat takut.


"Vianji, dia marah." Kata Samudra singkat, "Jangan berbohong ke kakakku."


'Ah, dia tahu aku bohong.' Pikir Vianji dengan tangan yang gemetaran.


"Permisi, air putih atau anggur, tuan?" Tanya seorang pelayan pria yang menata beberapa gelas piala di tempat Langit, Vianji dan Samudra.


"Air putih saja semua." Jawab Langit sambil melipat tangannya di dada.


Setelah pelayan itu menuangkan air putih lalu pergi, Langit menunggu penjelasan Vianji yang masih ketakutan.


"A-aku, aku merasa, belum mengenalmu, dengan baik." Kata Vianji dengan jujur setelah menahan rasa takut yang berlebihan.


"Kak Vianji, meski kakakku punya banyak sifat yang menurut banyak orang kurang baik, pembohong bukan salah satunya." Kata Samudra.


"Oh ayolah, pertanyaanku itu mudah." Kata Langit sambil meminum air putihnya, "Kamu begitu hanya karena tidak mengerti pertanyaanku?"


"I-ya." Jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Haha, manis sekali." Kata Langit sambil melirik jari manis tangan kirinya, "Oh ya, kemana cincinku?"


"Ada di kamar, aku melepaskannya kemarin." Jawab Vianji.


Langit mengangguk, dia tidak memiliki pertanyaan lagi untuk ditanyakan selain kualitas makanan yang ada di restorannya ini, dan untuk memastikannya, dia hanya perlu memesan semuanya tanpa harus pergi ke dapur.


"Dia pakai celana pendek ke restoran seperti ini?"


"Benar, tak tahu malu."


"Mungkin dia sedang dimarahi?"


"Jangan keras-keras, nanti dia dengar."


'Bisikan kalian semuanya terdengar.' Pikir Langit.


Samudra terlihat sedang mengobrol santai dengan Vianji, sementara Langit berpikir kenapa dia masih hidup setelah menggunakan mantera itu di altar gereja setan.


'Aku menggunakan mantera Ilum Porteit, mantera itu akan membuatku dirasuki oleh roh orang mati di area sekitar itu secara acak dan menggali ingatan mereka selama masih hidup, tapi aku dikendalikan oleh roh yang merasukiku, aku tidak bisa melakukan apapun, aku mengingat bagaimana Aulia Czesaria mati di altar itu sebagai seorang korban, dia disembelih dan darahnya dikeluarkan dari tubuhnya selama satu jam, dan rasa sakit itu sangat luar biasa, dan seharusnya aku mati saat melakukannya, tapi, aku masih hidup, kenapa?'


"Ngit, Lang-it."


"Hah?" Lamunannya buyar karena adiknya memanggil namanya beberapa kali.


"Pesanan kakak datang, aku sudah meminta mereka menatanya di meja panjang." Kata Samudra.


"Oh." Langit berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja panjang, ada banyak sekali makanan dan minuman di sana, tentu saja dia langsung mencicipi semuanya dan memastikan rasanya.


"Tidak ada masalah." Kata Langit setelah selesai mencicipi semua masakan di restorannya sendiri, "Aku mau ke dapur."


"Ke sini dapurnya." Kata Vianji menggandeng tangan Langit dan membawanya ke dapur.


Di dalam dapur, suasananya sangat sibuk, ada yang memotong daging, ada yang sedang meracik bumbu, ada yang sedang memanggang ikan dan sayuran, mereka berada di stasiun masing-masing dan menjalankan tugasnya dengan baik sejak pagi tadi.


"Permisi, orang asing tidak diperbolehkan masuk kemari." Kata salah seorang koki yang sedang menunggu ovennya selesai sambil mengaduk adonan lain.


"Oh, aku Vianji Basa."


"Aah, maaf kalau begitu. Silakan melihat-lihat." Jawabnya sambil memecah adonan yang dibuatnya menjadi beberapa bagian dan membentuknya seperti ulat bulu, roti ini disebut Croissant.


"Supervisi ada di sini?"


"Dia di dalam ruangan."


Vianji menoleh pada Langit, "Mau menemuinya?"


"Tentu."


Vianji menggandeng tangan Langit menuju kantor supervisi melalui pintu yang memisahkan ruangannya dengan dapur. Ketika mereka masuk ke dalam, Langit mendapatkan sambutan menyenangkan.


"Langit? Waaah." Senja berdiri dari kursinya dan menyalami Langit, "Selamat sudah sembuh."


"Ya, sudah kenal Vianji?"


"Hm!" Jawabnya dengan suara yang halus dan wajah yang ceria, "Sudah makan?"


"Barusan aku makan." Jawab Langit sambil berjalan keluar dari kantor menuju koridor, "Aku mau ke kamarku dulu."


"Samudra." Panggil Langit dari koridor.


"Iya." Jawab Samudra dari dapur.


Mereka berdua naik ke lantai 5 dan masuk ke dalam kamar, suasananya sama seperti terakhir kali Langit datang kemari, dan biasanya dia melihat Petra menjilati lantai dengan kalung listrik di lehernya yang sudah kehabisan baterai, tapi kali ini dia mendapati apartemennya begitu sepi, tapi tidak begitu sepi karena ada adiknya di sampingnya.


Dan juga seorang tunangan yang nanti akan tinggal di sini hingga dia mati.


"Aku mau masuk ke kamar dulu, ada yang mau kubicarakan dengan Panda." Kata Langit sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Iya, nanti kuantar susu." Jawab Samudra sambil menyalakan tv.


Langit duduk di kursi komputernya, masih menyala dan tidak pernah dimatikan, bahkan saat dia sedang berada di rumah sakit.


Untung saja tagihan listriknya terbayar secara otomatis melalui akun banknya rutin selama sebulan.


Tidak perlu menunggu lagi, Langit sudah bisa menonton videonya saat berada di gereja setan kemarin yang dikirimkan Panda tadi saat sedang berada di helikopter.


[Forte diun inshct, ung iz mein aiz, tunjukkanlah kebenaran padaku, wahai penunjuk arah, corplei ung aistruch iz aiz.]


[Kakak! Kakak! Kakak kenapa!]


[Ranger! Mundur!]


[In ert duest ein verne! Kuratos bier et minekamf ein inst! Hahgul! Hahgul! Hahgul mano et virsetat verne! Huaaahh!]

__ADS_1


[Cek tanda vital! Panggil bantuan!]


Videonya berhenti, Langit terkesima, dia tidak menyangka dirinya akan terlihat seperti itu secara visual.


Lalu Langit berdiri, mengambil sebuah cermin, dan mengamati matanya.


Kuning amber, begitu berkilau dan terlihat cantik, setidaknya bagi Langit sendiri.


Tapi dia yakin perubahan warna matanya ini berarti sesuatu, dan dia tidak tahu apa itu.


Setelah mengecek warna matanya, Langit duduk lagi di kursi komputer dan mengingat kembali kalimat yang keluar dari mulutnya saat berada di gereja setan.


'Tentu saja itu bukan aku yang berbicara, akus sedang dirasuki roh yang sudah mati, tapi seharusnya dia tidak bisa mengambil fungsi indraku seperti itu, mungkin entitas lain?' Langit bertanya-tanya dalam hati.


Langit membuka kamus bahasa Ukrish kuno di komputernya, dia tidak berhasil mendapatkan buku fisik, namun dia mendapatkan buku elektroniknya.


 


 


Terkutuklah urat nadimu! Akan dijatuhkan padamu hukuman oleh dewaku Keratos! Matilah! Matilah! Tak ada darah yang tersisa dari nadimu!


 


 


'Bukannya ini doa? Kalau tidak salah, ah.'


Langit segera mengetik pesan di komputernya, dia bertujuan untuk mengirimkan pesan ini kepada Putri dan Panda, dan dia bermaksud untuk menyuruh Putri agar dia mengirimkan pesan ini kepada atasan, mungkin presiden juga perlu tahu.


Langit : [Aku tahu dimana si perawan, kita tangkap dalangnya 4 hari lagi.]


Langit menunggu balasan dari keduanya, dia tidak bisa menunggu lama.


'Semua ingatan korban itu, dan doa ini, tidak salah lagi, ruangan yang kulihat saat itu adalah gereja setan di Margo Raya, kota Sarejo, daerah Hemar. Aku ingat ada kuil di-'


Panda : [Dimana? Kau yakin? Bisa kau jelaskan?]


Pesan masuk dari Panda membuat Langit tersadar dari lamunannya, dia segera mengetik di komputernya.


Langit : [Aku sangat yakin, gereja Baran di Margo Raya adalah gereja setan pusat dari semua. Aku yakin karena aku melihatnya sendiri saat ada di Kyuto.]


Putri : [Ah, kejadian kemarin? Oke, aku akan minta surat tugas dari atasan.]


Panda : [Apa yang kita butuhkan?]


Langit merenung, dia sudah memiliki segalanya, kasus orang tuanya sudah selesai, dia memberikan dua orang itu ke Oakrose untuk, entahlah, mungkin dijual sebagai budak, atau dimutilasi dan menjual "spare-part" manusia.


Dia memiliki adik yang cemerlang, masa depannya terjamin, dan sebentar lagi dia menikah, membuat orang lain menjadi sosok ibu bagi Samudra.


Apa lagi yang dia butuhkan? Apa yang dia cari?


'Mungkin mengakhiri ini semua?' Pikir Langit sambil berjalan keluar kamar.


"Kakak? Ada apa?" Tanya Samudra yang sedang membac buku di ruang tengah.


"Tidak ada, mana Vianji?"


"Dia di kamar sebelah, itu pintunya."


Langit tidak menyadari pintu itu sebelumnya, renovasi apartemennya tidak menyentuh lantai 5 dan 6, mungkin Vianji yang mengaturnya agar dia bisa mudah tinggal di apartemen ini.


"Kamu keberatan?" Tanya Langit pada adiknya.


"Hm-m." Samudra hanya menggeleng sambil membuka lembaran lain bukunya.


Langit berlalu meninggalkan adiknya yang sedang membaca dan masuk ke kamar sebelah, tempat Vianji berada. Di sana, dia sedang mengurusi beberapa dokumen yang sepertinya penting.


"Hei." Sapa Langit.


"Hei." Jawabnya sambil tersenyum, "Maaf, aku melubangi apartemenmu."


"Tak apa, kamu sibuk?"


"Untukmu?" Vianji meletakkan dokumen-dokumen itu begitu saja di meja, dia lalu menghampiri Langit yang sedang duduk di sofa dan duduk di pangkuannya, "Aku tidak pernah sibuk."


Langit tersenyum, "Aku tidak tahu kamu seagresif ini."


"Orang berubah, Sayang." Jawabnya sambil menyibak rambut di jidat Langit, "Kamu tidak."


"Sulit untukku."


Vianji mengecup dahi Langit, setelah itu dia tersenyum dan berdiri dari sofa.


"Besok kembalilah ke sekolah, ujian kelulusan akan dimulai, dan kita akan pergi ke istana negara." Kata Vianji sambil mengambil sebuah dokumen yang ada di tumpukan kertas di mejanya, "Aku sudah membuat jadwalmu hingga dua hari ke depan, ini."


Langit membacanya dengan seksama, Vianji benar-benar menjadi seorang calon istri yang merangkap sebagai asisten.


"Aku dijadwalkan untuk ke istana negara besok setelah ujian, setelah itu menghadiri peresmian restoran di Harphia."


"Yap, istirahatlah sekarang."


"Aku ingin mengganti jadwal ini." Kata Langit sambil berdiri dari sofa, "Aku harus memimpin tim khusus ke Margo Raya."


"Tugas kepolisian ya, aku diberitahu Samudra tadi, kalian hanya anggota cadangan sementara."


"Lebih tepatnya polisi militer independen."


"Jika benar begitu, bagaimana kalau setelah kunjungan ke istana negara? Helikopter akan menunggu di helipad istana dan transit ke hangar Sakureja, lalu naik pesawat ke Margo Raya."


Langit menghela nafas, "Oke, sepertinya aku akan mulai sibuk besok."


"Oh ya, senin depan hari kelulusan. Mau sekalian mengumumkan pertunangan kita?" Tanya Vianji sambil menunjukkan cincinnya.


"Boleh."


Langit kembali ke kamarnya, dia tidak melihat ada pesan lain selain yang terakhir ditanyakan oleh Panda dan Putri, keduanya mungkin memang sangat paham dengan perilaku Langit dan mau menunggunya kapanpun hingga dia siap.


Langit : [Kita akan berangkat besok pukul 16, kita akan pakai strategi yang sama seperti kemarin. Gereja Baran itu luas, kita bawa 4 sonar, 1 jammer, Abominator, kali ini tim runduk bawa CARMS dan ikut operasi darat.]


Putri : [Ok.]


***


Keesokan harinya, Langit keluar dari mobil yang dikendarai oleh Vianji. Karena secara teknis guru diperbolehkan untuk membawa mobil, Langit tidak dimarahi oleh para guru yang melihatnya membawa mobil dan parkir di parkiran guru.


"Hei, Langit. Lama tidak melihatmu." Sapa seorang kenalan Langit di lorong sekolah.


Langit tidak menjawab anak itu, melainkan mendorong bahunya untuk menyingkir dari jalan yang akan dilewati Langit. Vianji mulai terbiasa dengan kebiasaan Langit yang seperti ini, apalagi adiknya yang sedang fokus membaca buku catatannya.


"Aku ke kantor dulu, kamu bersiaplah ujian." Katanya sambil berbelok ke kantor guru, Langit hanya mengangguk mendengar Vianji mengatakannya.


"Ujian kelulusan kelas 3 ada di ruang SCL nomor 5, aku di nomor 6." Kata Samudra mengingatkan kakaknya.


"Iya, terimakasih. Aku akan selesai cepat." Kata Langit sambil masuk ruang ujiannya.


Sistem ujian akhir di SMA Negeri Pertanjang sangat simpel, karya tulis yang sudah dikerjakan akan dipresentasikan di akhir ujian dengan beberapa guru yang menjadi juri sekaligus penentu apakah murid yang mempresentasikan karya tulisnya layak untuk lulus atau tidak.


Sebelum mempresentasikan karya tulis, murid harus mengerjakan ujian mata pelajaran berbasis komputer di ruang komputer. Waktu yang disediakan adalah 120 menit per mata pelajaran, dan semua mata pelajaran bisa diselesaikan satu per satu dalam satu hari.


Masa ujian akhir adalah 6 hari, dan dalam 6 hari, semua murid sudah harus selesai ujian mata pelajaran, dan mempresentasikan karya tulisnya.


Bagi Langit yang seorang jenius, hal ini tentu saja mudah baginya. Menyelesaikan semua ujian mata pelajaran kurang dari 80 menit baginya seperti menghabiskan waktu percuma.


"Hei, kau lihat itu?" Tanya seorang pengawas ujian yang duduk di belakang dan mengawasi murid-murid yang sedang ujian dari belakang.


"Dia? Memang gila."


"Aku diberitahu kepala sekolah, dia adalah murid jenius nomor 1 di sekolah ini, tidak heran dia hanya perlu mengerjakan mata pelajaran terakhir."


"Iya, teman-temannya saja hanya mengerjakan satu, lalu pergi ke perpustakaan dan kembali lagi nanti siang setelah makan."


Langit berdiri dari kursinya, dia melepas sepatunya dan melemparkannya ke wajah salah satu pengawas yang mengawasinya dari belakang.


"Hei! Apa-apaan kau?!"


Langit meletakkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar tidak berisik. Setelah itu, dia duduk lagi di kursinya dan lanjut ujian.


"Sialan, mana sepatunya? Berikan padaku."


"A-apa yang mau ka-"


Duak


 


 

__ADS_1


__ADS_2