Princess Narkolepsi

Princess Narkolepsi
Moscha's whole life


__ADS_3

Whole my life

__ADS_1


Rumah dengan warna orange, dengan halaman penuh bunga, serambi rumah, suasana keluarga yang sangat hangat dan terbuka. Mama itu orang yang sibuk membantu perekonomian keluarga, mengurus keluarga, cerewet, baik, perhatian dan galak (maklum orang batak). Bapak, lucu, berwibawa, pekerja keras, bertanggung jawab, sangat sayang dengan anak perempuannya, ga pelit, nasionalis, ramah, idola para tetangga. Bonnie, adik laki-laki yang begitu jago bela diri (Karate), manis, perhatian, suka belain kakaknya, diam tapi nyolot. Adik perempuan, Corry, pergaulannya luas, sukanya bergaya, nilainya nggak ada yang bagus, lemah dipelajaran, jarang ada di rumah. Moscha anak pertama yang adalah toko utama dalam kisah ini, lucu, humoris, perhatian, setia kawan, pokoknya, sangunis yang sempurna. Moscha pintar dalam pelajaran, banyak teman, karena adat batak menuntut anak pertama adalah pemikul nama keluarga, dia dituntut harus selalu ranking, dididik keras dan dituntut sukses. Hal ini dijalaninya dengan perasaan bangga karena dia tahu dia bisa diandalkan. Dan kisah ini dimulai dari ....

__ADS_1


Tiba-tiba, Nala yang tadi duduk dikursi depan kelas masuk dengan cepat dan bilang, “Ibu Nayla datang.” Setiap anak dalam kelas langsung mengumpulkan tas mereka semua di depan kelas, karena memang kelas Moscha adalah kelas unggulan. I MIPA XI kumpulan anak-anak dengan peringkat 1-3 yang dikumpul dalam satu ruangan. Ibu Nayla guru yang begitu menyayangi Moscha, karena Moscha mirip sekali dengan anak perempuannya yang meninggal karena kecelakaan. “Moscha, siapkan kelasnya nak” sambil merapikan tas dan kertas soal evaluasi. “lha, akukan bukan ketua kelas bu?kan Marteen tuh ketua kelasnya, nggak mau ah bu, malas pakai banget,” sambil ngedumel komat kamit. “Marteen bolehkan Moscha hari ini nyiapin kelas?”, satu kelas tiba-tiba bilang, “boleh bu”. Ciput bilang, “jangan lama-lama Cha” sambil ketawa bahagia. Ibu Nayla berpikir, hari ini tepat 3 tahun anaknya meninggal dan dia melihat Moscha dengan harapan ingin memeluknya. “bersiap... berdiri ... teman-teman sebelum kita memulai pelajaran kita hari ini mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, yang ateis silakan berdoa juga ...”sambil senyum Moscha tertunduk, dan Bu Nayla hanya memandang dengan senyum dan bilang, “amin”, “ Moscha lain kali jangan lama-lama berdoanya, emang apa yang kamu doain lamanya minta ampun nak?”, sambil membagikan soal dan lembar ujian kepada setiap baris secara terbalik. Nanang, yang duduk diujung kelas, lelaki yang selalu menjadi saingan Moscha bilang, “dia berdoa bu, supaya soal PG, uraian dan isiannya mudah bu”. Tiba-tiba kepala sekolah datang dan membawa seorang anak perempuan yang bertubuh subur, putih dan berambut panjang masuk, “selamat pagi anak-anak hari ini kita ada siswi baru, namanya Khoirul, Moscha, Irul akan duduk disamping kamu, Lara bisa pindah ke sebelah Nala” (Karena kursi di samping Nala kosong, kursi itu adalah kursi sahabat dekat Moscha yang bernama Scarlet, yang meninggal karena stress akibat kedua orang tuanya yang setiap hari berkelahi dan selalu menyalahkan dia sebagai pembawa sial dalam rumah tangga. Scarlet seperti seorang adek bagi Moscha). “Mos, coba kamu senyum ya nak” Kepala sekolah mempersilakan Khoirul duduk, “silahkan Khoirul”, “Njeh pak” Irul menjawab dengan logat Jawa sambil tersenyum. kepala sekolah meninggalkan kelas dan Ibu Nayla segera memberi kertas dan soal untuk Khoirul, “nak, kita UTS, kamu siapkan?”, “njeh bu, aku siap”. Moscha menatap wajah Khoirul yang begitu polos, Khoirul senyum-senyum sambil menunduk dan berkata, “saya izin duduk disini ya mbak Moscha”, “iya, jangan dicoret-coret mejanya, awas jangan sampai patah kursinya ya, awas loe kalo patah” Moscha bicara sambil menggenggam tangannya dan bibirnya komat-kamit dengan kata-kata yang seperti mantera. Suasana kembali hening, seperti sebuah pertarungan ujian masuk tes CPNS, tiba-tiba Nanang menyerahkan kertas ujiannya, dan menyerahkannya ke meja guru, dia memutar ke tempat Moscha dan bilang “ayo kita ke kantin aku yang bayarin aku tunggu di depan ya,” sambil mengacak-ngacak rambut seperti Moscha seorang kakak, Moschapun hanya bisa menendang dan menepis tangan Nanang karena dalam hatinya Nanang adalah pria yang dia kagumi kepintarannya. Tiba-tiba yang lain berdiri dan menyerahkan lembar jawaban beserta soal ke meja guru, Martheen menunggu Moscha menyelesaikan berdiri, Irul yang polos maju ke depan sambil bingung melihat Moscha yang ternyata tertidur dilembar ujiannya. Bu Nayla, “Moscha, bangun nak, waktunya habis nak”. Moscha diketahui mengidap narkolepsi, yang secara tiba-tiba bisa tertidur tanpa mengenal waktu dan tempat, meskipun setelah bangun dari tidurnya dia terlihat seperti tomboy dan cuek tapi tetap imut. “iya bu, ini tadi sudah selesai bu, kelamaan nunggu eh ketiduran”, dengan tanpa dosa dan cuek menggeliatkan tubuhnya, hal ini membuat Martheen, Nala, Meiyanto. Ciput dan Nanang sahabatnya begitu sering mengganggunya.

__ADS_1


__ADS_2