
Sementara di Yusenter, sudah ramai berkumpul para atlet dari seluruh Jakarta, Moscha dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang ternyata kabur dari program pendampingan, rupanya Moscha hari ini melarikan diri dari Tim, karena Tim, bapak dan mama tidak mengetahui tentang seleksi ini, Nanang seolah tidak menyukai pilihan Moscha, Martheen menjadi perhatian para gadis yang ada disekitar Moscha, sementara Jono, Nala dan Meiyanto begitu setia memperhatikan Moscha dan memberikan pengarahan kepada Moscha tentang trik mendapatkan poin dalam setiap pukulan maupun tendangan, Moscha seolah mendengarkan hanya sepintas, karena apa yang dibicarakan oleh 3 sahabatnya sudah dia pahami dengan baik. Sementara Irul mendampingi Moscha dan memperhatikan seluruh alat perlengkapan pelindungnya, “mbak, jangan sampai kena pukul dan tendang ya, nanti kalau embak e sakit, tim ISTO dan Saitechi kita kepriben mbak?”
__ADS_1
Moscha berdiri, rupanya berikutnya adalah seleksi bagi cabang olahraga karate, Moscha berhadapan dengan atlet dari SMU Jakarta Timur, dia dipanggil, wasit memberi peraturan, untuk tidak mengenai bagian yang sudah ditentukan, jangan keluar garis dan bermain sportif, setiap pukulan, tendangan yang masuk memiliki poin. Moscha menghindari tendangan dan pukulan lawan dengan menangkisnya dan mengelak.
__ADS_1
Ketika wasit memerintahkan Moscha dan lawannya kembali ke tempat awal Moscha memberi hormat dan memasang kuda-kudanya dengan kuat, dengan tak terduga Moscha mengeluarkan tendangan berputarnya, hal ini membuat lawannya keluar dari garis dan terjatuh, namun dia segera berdiri dan kemba;i ke posisinya, wasit mempersiapkan, ternyata Moscha sudah memahami serangan lawan dia mengarahkan tendangannya dengan keras ke dada dengan keras hingga lawannya langsung tergeletak, stelah menerima pukulan dan tendangan dari Moscha, dengan menghitung, akhirnya wasit menyatakan pemenangnya adalah Moscha, orang tua GM begitu bangga, mereka mencari jalan ke tempat dimana Moscha beristirahat, namun rupanya mereka dilarang masuk dan menunggu Moscha diluar, sementara GM menelpon seseorang yang ternyata adalah kekasihnya selama di Jepang, ternyata Rischa ada di luar gedung dan menemui GM, seluruh mata tertuju pada Rischa yang begitu cantik dengan balutan gaun dan kulit putihnya.
__ADS_1
Rupanya GM membawa Rischa keruangan tunggu Moscha disana dia bertemu orang tuanya, Richa dengan anggun menyalam dan menyapa orang tua GM, seperti diduga mama mengacukannya dan berbisik, “ih wanita plastik datang, dang pola gabe marpura-pura ramah ho tu ibana da, molo hubereng berlebihan ho tuh ibana, dang modom di kamar ho, hu baen, do you understand what i mean?” sambil berbisik dan mencubit pinggang papa. Rischa terus menempel dengan GM, namun entah kenapa GM tidak seperti biasa, “ga usah pegangan, malu dilihatin tuh,”. Mama berteriak. “Mouse ... Mouse ... Mouse ..., ini mama boru,” dengan nyaring, sambil melambaikan tangannya, sahabat Moscha yang ada disana melihat, Nanang yang melihat bagian wajah Mscha yang terpukul memegangnya, mengompresnya dan memberikannya salep, “kamu, tolong sudahi seleksi ini, kamu nggak perlu bela nama sekolah hanya untuk terpandang,”sambil memegang wajah Moscha dan menatapnya, Marthen yang berada disana, menghampiri Nanang namun kali ini diikuti oleh Nala, Meoyanto dan Joni, Martheen berkata, “gw rasa loe nggak perlu pegang-pegang wajah dia, karena dia calon istri gw,” sambil menghempas tangan Nanang dari wajah Moscha, dengan tenang Moscha berkata, “sssssttttt sudah ya, jangan buat malu, gw bakal jadi istri loe berlima asal ikhlas wkwkwkkwkwkw,” sambil tertawa, “dengar, gw nggak tahu apa yang akan kita lewati, tapi gw percaya, kita nggak aan rusak persahabatan demi sebuah kata sampah, yaitu cinta, dengarkan?” Moscha mencium pipi mereka satu persatu, “tuh adilkan”. Irul dan Moscha tertawa terbahak-bahak, GM melihat Moscha mencium sahabat-sahabatnya bergantian, dia memukul dinding gedung tanpa bicara, papa yang melihatnya menyadari bahwa anaknya cemburu. Setelah mama berteriak tidak terdengar, ayah memenggil Moscha dengan nama kesayangannya yang hanya orang tua GM dan Moscha yang tahu, “bomis ... bomis ... bomis .., palang dan malang datang neh... “ Moscha mencari suara itu, ternyata dari pintu kanan, Moscha tersenyum, sahabat-sahabatnya terkejut, karena baru kali ini Moscha tersenyum dan lesung pipitnya sampai terlihat, berlari dan melepas pelindung kepalanya, memeluk mama, dengan erat dan tanpa menunggu lama papa memeluk dan mengangkat badan Moscha yangkecil dan memutarnya, “om kangen sama bomis neh, lama nggak VC lagi, sayang,”, sambil mencium kening Moscha, mama juga menangis, dengan senyuman, “ya Tuhan kog bomis kita jago banget ya pa, sayang apa sakit pukulannya?”sambil memegang pipi Moscha yang memar, “nggak tante, nggak apa, oh iya bang Kevin yang gendut mana?Moscha kangen lho,” sambil melihat kanan-kiri dan mencari keluar pintu, dia melihat pak GM dengan gadis cantik, dan menyapanya, “eh pak es batu misterius ada disini, wih pacarnya cantik banget, cepat-cepat dinikahin pak, ntar kalo jatuh ke pia lain bapak tambah sangar ngajarnya,” sambil mencari seseorang, mama dan papa, melihat ke arah Moscha dan menghampirinya, “Mos, kamu cari siapa sambil melihat ke arah GM kesal dan mengacukan Rischa, “cari Kevin, tante, mana ya?” papa tersenyum dan menggoda Moscha, “serius ga mengenali Kevin?masa yang dulu tidur sama-sama lupa sama abangnya?” sambil merangkul mama, Moscha memiringkan kepalanya, mengangkat alisnya dan segera memaksa agar mama dan papa memberi tahu dimana Kevin, Rischa menghampiri Moscha dan berkata, “kamu Moscha ya, saya Rischa kekasihnya Priyoga,”sambil menyodorkan tangannya, namun Moscha seolah tidak melihat tangan Rischa dan berkata, “ok bu, semoga cocoksampai beranak dan berkembang biak,: hal ini membuat Rischa menurunkan tangannya dan kembali menghampiri GM dengan wajah kesal, mama menarik tangan GM dan membawanya ke depan Moscha yang masih terus bicara kepada papa GM sambil menceritakan masa kecil Mos dan Kevin, “Mos, ini siapa?”kata mama,Mos terkejut dan seolah cuek sambil berkata, “oh, tante kenal, ini guru Fisika kami tan, namanya pak Priyoga,” seolah mencari seseorang yang begitu spesial
__ADS_1