
Sementara itu dirumah Tim dan Ernest, ayah, ibu, Ernest dan Tim berada di meja makan, ayah memulai pembicaraan, “Tim, hari ini hari ke 2 pendampingan ya, hari ini ayah dengar dari Prof. Kamu akan mendampingi Moscha juga dalam hal kesehatan ya?kasihan Mos, padahal ayah si yakin kalau dia ga punya keanehan seperti itu, dia pasti bakal jadi gadis tergenius di nusantara, anaknya cuek banget ya, jadi ingat seseorang wkwkkwkwk,”sambil melirik ke ibu, “siapa?maksud ayah aku, aku cuek tapi aku kan pintar,”. Ayah menjawab, “dia juga pintar bu, kalau dia berbicara tentang strategi, ayah hampir aja menguras dompet ayah, untuk membantu Tim science memperoleh apa yang mereka inginkan, aduh jika bisa, dikloning ayah mau tuh Moscha jadi istri Tim dan Ernest,”. Dengan cepat Ernest menjawab, “aku berangkat dulu, yah, bu, mas, aku mau ke sekolah lebih dulu.”sambil berjalan mencium tangan ayah dan ibu bergantian. “nggak sama mas aja dek?” Tim menjawab, “nggak, ntar jadi nyamuk,” berjalan ke depan berlahan, rumah yang begitu damai, ayah berteriak, “kamu naksir Moscha ya Nest?” ayah tertawa, tanpa menjawab, Ernest berjalan dan mengendarai motor besarnya.
Mbak Darsi, mengantarkan jus alpukat ke ruang tamu, “lho, mas Ernestnya mana ya bu?tadi minta jus Alpukat, ini bekalnya ketinggalan e,” sambil melihat-lihat meja makan. “Ernest sudah berangkat mbok, biar Tim bawa ke sekolah,” sambil mengambil bekal Ernest dan memberikannya ke Tim, “iya bi, aku berangkat jemput tuan putri tidur dulu yah, bu, ntar aku dikritik lagi kalo lambat,” membawa bekal dan tas nya ke dalam mobil sambil mencium tangan ayah, ibu dan mbok Darsi. Mama merasa penasaran dengan sosok Moscha yang tidak pernah ditemuinya, “gimana sih Tim, Moscha tuh, kog mama penasaran ya,” sambil melirik ayah. “cantik mah, nanti mama lihat ya, kita tonton dia ada tanding komite seleksi O2SN mah,”. Tim tekejut, “lho, bukan dia ikut ISTO dan Saitechi?”
__ADS_1
Ayah dengan bangga berkata, “itu anak dulu Tim, ayah dengar ditantang, ayah dengar mereka bilang Moscha tomboynya minus atau cacat gitu, karena gayanya seperti laki-laki dia ditantang, dia bilang, kita ketemu di seleksi O2SN karate, dia ikut Tim, itu cewek yang bilang dia tomboy abal-abal habis, ditendang dia keluar garis,” ayah bercerita seolah dia pengagum Moscha. Ibu semakin penasaran. Tim menyimak ayah dengan santai, “aku berangkat,”. Ayah dan ibu melanjutkan pembicaraan mereka tentang Moscha. Dalam hati Tim berkata, dasar virus, vaksinnya Cuma M-05.
Sementara di rumah Mos menunggu Tim, sambil memegang buku diary hari ini, takut dia tertidur, obatnya ada ditangan Tim. Tiba tiba, Tim memarkir mobilnya, membuka pintu pagar, melewati kebun-kebun bunga dan buah milik mama dan bapak, melewatinya serasa sejuk. Tim masuk melewati Moscha yangmenunggunya didepan pintu, mama dan bapak menyambutnya, “om, tante, izin bawa puterinya ya, nanti aku antar pulang,” sambil mencium tangan kedua orang tua Moscha. Mama dan ayah semakin menyanyangi Tim, “bapak dan mama ucapkan terima kasih ya Tim, titip Mos ya,” sambil menepuk pundak Tim, mama membawakan teh panas dalam botol kaca untuk Tim. Moscha tersenyum sinis, “ma, itukan botolku, ma, kenapa dikasih”. Mama hanya menyenggol Moscha berharap Moscha diam. Mereka mengantar Tim dan Moscha ke dalam mobil, dalam perjalanan Tim mencari alat untuk uji coba senyawa kimia untuk pendampingan hari ini, “aduh tertinggal dikamar, ada yang ketinggalan, kita ke rumahku sebentar ya tuan puteri,” sambil melihat kaca spion atas, Tim melaju dengan cepat mobil Rubiconnya, Moscha terlihat ketakutan karena kecepatan mobil yang di bawa Tim, “mas tolong ya, mengendarai mobilnya jangan kaya bawa angkot yang ngejar setoran, buat kasih makan anak bini, ada gw disini, helloooowwww,” sambil pegangan dengan pegangan kiri atas. Tim melirik dan tersenyum, “ini pelan,”.
__ADS_1
“lho, kog dukun?aku bukan dukun lho, aku orang pintar,” sambil tertawa. Moscha berkata, “rumahnya jauh om?”. Tim menjawab, tuh rumah yang pagar hitam, Tim membunyikan klakson bi Atun membuka pintu, “lho mas kog balik lagi,” sambil menutup pagar, sementara Moscha masih di dalam mobil, Atun terpesona melihat gadis cantik ada di mobil Tim, Atun berlari ke dalam, Moscha bingung sambil tersenyum melihat Atun. Atun mengadukan ke Ibu bahwa ada bidadari dalam mobil Tim. Ibu berjalan amat cepat bersama Mbok Darsi, rumah yang luas membuat jarak ke depan terlihat menjadi sangat jauh. Ibu berdiri di depan mobil Tim, Moscha yang tertunduk terkejut melihat ada sosok wanita ayu yang cantik berdiri di depan pintu melihat mobil Tim, Moscha langsung turun dari mobil Tim dan menghampiri Ibunya Tim, dengan rambut panjangnya yang terurai dan lebat, “selamat pagi Ibu,” mencium tangan Ibu, mbok Darsi dan bersalaman dengan bi Atun, senyum lebar Moscha membuat lesung pipinya yang jarang diperlihatkan keluar. Ibu mengajak Moscha masuk ke rumah, menyuruhnya duduk dan meminta bi Atun membuatkan teh hijau hangat, “ga usah tante, nanti aku lambat,” sambil memelas dan melihat jam, ibu menjawab, “ya ga apa nanti tante yang bilang ke kepala sekolahnya, namanya siapa ndok?sambil membelai rambut Moscha, Moscha dengan sopannya membiarkan ibunya Tim membelai rambutnya, “aku Moscha tante,” Teh hijau dengan cepat sampai ke depan Moscha, mama meniupkan teh tersebut dan meminta Moscha meminumnya, “tante, nggak usah aja, saya bisa kog, mbok, terima kasih tehnya, terima kasih ya, tante apa bisa panggilkan Tim, nanti aku lambat,” mama langsung menelpon sekolah Moscha dan berbicara dengan kepala sekolahnya, berkata bahwa Moscha dan Tim akan datang pada jam pendampingan karena sedang mencari alat untuk mendukung uji coba cipta penemuan melalui kimia senyawa. Moscha menarik nafas, dengan berpikir pasti akan ada banyak pertanyaam muncul, Tim berhasil menemukan alat yang dicarinya ada di kamar Ernest, rupanya setelah membahas dengan Ernest dia lupa memasukannya ke dalam tasnya, Tim berjalan berlahan, dia tersenyum melihat ibu tertawa bersama Moscha, dia terkejut ternyata ada lesung pipi di wajah Moscha, mama mengajak Moscha ke ruang tamu, Tim berlari sembunyi, ternyata mama meminta bibi, mengambilkan sisir, ikat rambut. Moscha merasa risih,” tante, jangan ah, aku malu”. Sambil wajah meringis dan memeluk tasnya, seolah hendak dipakaikan kebaya, Tim yang melihat wajah Mos tertawa perlahan-lahan. Mama membuat rambut Moscha begitu indah dengan kepang kelabangnya yang begitu cantik, mama ingin menggunakan jepitan kupu-kupu di rambut Moscha milik Adelle keponakan Tim, Moscha terkejut dan berdiri, “jangan tante, kan jadi kaya bencong aku nanti, nggak mau ah,” wajah Moscha memerah, apalagi mama tiba-tiba memotong poni Moscha, dan memajukannya ke depan, Ibu, bi Darsih dan bi Atun tertawa, “mbak Moskan perempuan masa jadi bencong,” jawab Atun, “lah wong, cantiknya sama seperti barbie masa dibilang bencong?” bi Darsi menimpali, Ibu segera mengambil Hpnya dan meminta Atun mengabadikan moment tersebut, Moscha mengangkatalisnya, menutup matanya dan tersenyum ke arah kamera, seperti orang bingung, Tim mulai menyadari Moscha sudah tidak nyaman, dia segera menghampiri Moscha, mencium ibu dan izin pada bi Darsih dan Atun. Moscha belum jauh, Ibu sudah menelpon ayah dan berkata bahwa dia sudah bertemu cah ayu dengan lesung pipi nya, Moscha tersenyum dan berjalan di belakang Tim yang bertubuh ideal, Moscha melihat lambang perguruan silat di ruang depan dan melihat foto Tim yang sedang komite, dia melihat sambil berjalan yang membuatnya tersandung, tanjakan, dia memeluk pinggang Tim dari belakang dengan keras, “aduh sakitnya,” dari kaos kakinya keluar darah, Tim segera memegang tangan Moscha yang berada dipinggangnya, Tim terkejut melihat Moscha yang berdarah, Moscha yang takut melihat darah langsung berwajah pucat, mama langsung memutuskan telponnya, “kenapa nak, sambil teriak,” Tim menjawab, “Mbok ambilkan alkohol, betadine dan air bersih ya, kain kasa juga,” sambil membuka kaos kaki Moscha, “kenapa bisa jatuh nak,” Moscha hanya menjawab dengan senyum meski wajahnya pucat dan mengeluarkan keringat mengangkat mama yang terjongkok dikakinya untuk segera duduk disampingnya, “ga apa tante, Cuma aku takut darah, jadi ya takut,” Tim melihat dan membersihkan kaki Mos dan berkata, “ayo tuan puteri kita berangkat nanti cita-citamu ngerampok ISTO dan Saetachi gagal,” Tim berjalan seolah cuek dan tidak perduli, Ibu, bi Darsi dan bI Atun memegang tangan Moscha dan mengantarnya ke dalam mobil, Moscha melambaikan tangannya dari dalam mobil, dengan sinis Tim berkata, “puas ya ada yang muja-muja kamu, ibuku tuh emang gitu semua temanku perempuan yang datang ke rumah ya digituin, jangan ge er, belum kamu lihat Jesica, pacar Ernest di Belanda cantiknya, issst kaya barbie beneran, jadi jangan ge er mbak Moscha,” Moscha hanya terdiam dan tidak perduli.
Di sekolah Nanang, Nala, Meiyanto, Irul, Jono, Martheen, ciput dan Deby menunggu Mos dan Tim di depan ruang lab utama, mereka melihat Tim dan Mos datang bergandengan, dan kaki Moscha yang di perban, melihat sahabatnya dari kejauhan Tim berkata, “hebat ya, ditunggu banyak laki-laki, yang mana pacar kamu?atau setiap hari gantian, enak jadi kamu ya, lepasin tangan gw”, Moscha melepas tangan Tim, Tim berjalan mendahuluinya, melihat hal tersebut Irul berlari mendekati Moscha dan merangkulnya, dengan cepat Martheen berlari dan merangkulnya, melepaskantangan Irul dari tubuh Moscha, Mos menggandeng tangan Irul.
__ADS_1