
Keesokan harinya mereka jalan-jalan dan makan di pasar kota Thailand, untuk merefresh kelelahan mereka, namun kali ini Irul, Ciput dan Tim berjalan bertiga, dan membiarkan rekan-rekannya tertawa, bergembira, namun karena Ernest menyadari ada sesuatu dia bertanya, “ada apa mas?” Tim dengan lembut berkata, “ndak ada apa-apa dek, sana jalan,” rupanya Ernest mengubah arah cintanya ke Corry yang begitu cuek namun tetap cantik, rupanya penolakan Moscha membuat Ernest malas melanjutkan perasaannya, rupanya Ernest yang begitu tampan tidak sefanatik rekan-rekan Moscha. Corry menelpon Moscha lewat video call rupanya disana ada orang tua GM dan GM, “hai, kak wih ramai ya, kakak juara satuya O2Snnya pak Manik telpon bapak tadi kak, masa badannya kekar nangis
Nelpon bapak Cuma bilang, menang boru kita lae, oh iya kak, mama mau ngomong,” rupanya ibu GM langsung ikut bicara, “apa kabar boru hasian, tulang sudah tepati janji surat-suratnya sudah dengan mama ya inang,” langsung memeluk mama Moscha, dengan cepat mama berkata, “biar kamu aja yang buka, mama nggak mau ikut campur,” GM langsung bicara, “kamu gimana hasian?” sambil tersenyum dan bicara dengan lembut. Moscha menjawab dengan berlahan, “aku baik-baik aja, Cuma ada beberapa bagian kaki, tangan yang memar, ya syukur ada dokter Tim disini,” sambil menarik tangan Tim, seolah ingin membuat GM cemburu, Tim sinis dan segera meninggalkan VC Moscha, Ciput segera menarik Moscha sambil berkata,”kita balik yuk, mau belajar,” sambil menarik Moscha. Moscha merasa apa yang dikatakan Citra benar dan mengakhiri VC nya dengan keluarganya. Martheen dan rekan-rekannya menyadari sikap lain dari Irul, Citra dan Tim. Namun mereka menghiraukan apa yang terjadi, karena mereka fokus pada kompetisi esok, mereka terbagi dalam masing-masing kelompok, Moscha, Irul dan Citra merupakan kelompok yang diunggulkan.
Tiba-tiba Ernest menerima chat dari Corry tengah malam, “mas, sudah lihat gambarnya belum?”. Ernest menjawab, “sebentar.” Namun Ernest terkejut dan berkata, “dapat dari mana neh Rie?” Corry dengan emosi menjawab, “dari setan tanpa nama, kegiatan kalian kapan selesai mas?” Ernest menjawab,” Rie jangan kamu kirim ke rekan-rekan Moscha ya, nanti fokusnya gagal,” Corry menjawab, “aku baru dapat 5 menit yang lalu, terus aku telpon kamu, selesaikan pertandingannya, kan tinggal Saitechi aja yang belum ya mas?” Ernest bilang, “sabar kita tunggu esok ya Rie, mas mau istirahat buat esok,”. Corry dengan cepat berkata, “sukses ya mas, satu lagi aku mau balas, perbuatan mereka ke Moscha jadi siap-siap aja lihat, IG, FB, Twitterku ya, kamu pasti kaget,”. Dengan cepat Corry mematikan hpnya.
Keesokan harinya kelompok sekolah Moscha tersebar dalam 4 bagian dan dengan cepat mereka menahului lawan-lawannya, Tim Moscha, Irul dan Ciput melangkah seolah mereka pasti sukses, Moscha dengan pasti menjawab pertanyaan dari para tim penilai, ada satu lawan dari negara tetangga yang begitu kuat, namun berkat persiapan masak untuk kebergunaan bidang kesehatan. Dan mereka sukses kali ini kelompok Jono, Nala dan Meyanto luput dari peringkat satu dan mereka berada diperingkat 3, namun 3 kelompok lainnya menguasai peringkat 1. Kompetisi hari ini melelahkan dan menguras tenaga, tiba-tiba Tim memeluk Moscha dengan erat dan berkata, “kamu hebat beo MIPA ,” Moscha merasakan detak jantungnya bedgup kencang, Nanang menunduk, Moscha melihatnya dan melepaskan tangan Tim, “sudah mas, malu.” Moscha mendatangi Nanang dan merangkul tangannya dan berkata kepada rekan-rekannya, “ayo kita makan-makan, pialanya dibagi esok,” mereka semua meloncat dan berlari, tiba-tiba bunyi hp mereka berbunyi secara bergantian, hanya hp Moscha yang tidak berbunyi, rupanya Ciput sudah membagikan gambar yang semalam dikirimnya melalui hp Moscha, Moscha tiba-tiba mengeluarkan kotak hp dari tasnya, “Irul ini hadiah dari aku buat kamu, pakai ya, sudah ada kartunya, pulsa dan kuotanya, ternyata Iphone 10, Irul menangis dan berkata, “mbak Moscha kog baik banget ya, terima kasih mbak,” Irul memeluk Moscha sambil menangis, “iya, dipakai ya, jangan dijual, ayo sekarang aku yang traktir, karena aku dapat transferan neh dari om Hendrik, tante Debora lumayan banyak neh, ayo makan,” sambil meloncat kegirangan.
__ADS_1
Teman-teman Moscha yang pria terkejut dan mulai menyalahkan Ciput dan Irul, namun mereka menyadari bahwa yang dilakukan Irul, Ciput, Ernest dan Tim sudah tepat, kali ini, Nanang menatap wajah Moscha dengan begitu miris, seolah ingin menelan GM dan menginjak-injaknya. Hal ini sama seperti yang ingin dilakukan teman-teman lainnya. Tiba-tiba Corry mengirim chat ke Ernest dalam bentuk SC akun FB, IG, Twett, rupanya Moscha menyebar foto Moscha dengan baju tidur biru toscha berenda yang dikelilingi para sahabat, kemudian mengirim foto saat Tim menggendong Moscha dan mencium keningnya, juga foto-foto mesra Moscha dengan teman-teman prianya, Ernest mengirim pesan tersebut kembali ke rekan-rekannya dan mereka dengan cepat memberi komentar satu sama lain pada postingan Corry, seperti biasa Martheen dengan begitu romantis mengatakan begini dalam kolom komentar postingan Corry,
“mawar memiliki keindahan yang mempesona meski dia berduri, tapi jika mawar toscha itu memiliki duri diseluruh bagiannya, jika itu dia, aku akan berusaha menyingkirkan durinya dengan darahku,”
Berbeda dengan Nanang yang seperti terbawa emosi dengan gambar-gamabar yang dikirim Ciput, “Tuhan menciptakan kamu begitu unik, terlihat galak, tapi begitu lembut, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengirimkan aku bagimu?kamu akan kumiliki!”
Meiyanto lebih gila lagi, “ Moscha ayu kita pemberkatan, gw akan peluk elo kemana-mana, “
__ADS_1
Rupanya Nala tidak mau ketinggalan, “mungkin kalian menatapnya, namun kalian tidak memeilikinya, wkwkkwkw”
Moscha heran dan bertanya, “ada apa ya?kog sibuk pegang hp semua? Lagi chat pacar ya?ga asik ah, sudah dulu dong main hpnya,” mendengar Moscha berkata demikian seluruh rekan-rekannya langsung memasukan hp ke dalam saku mereka termaksud adik kelas. Moscha tiba-tiba menomplok dipundak Tim yang kuat dan membawanya berjalan, mereka tiba di Khao San Road makan sepuasnya, Moscha meminum obatnya agar tidak tertidur tiba-tiba.
Setelah selesai mereka kembali ke hotel, Moscha, Ciput dan Irul tertidur, ketika Moscha tertidur, Ciput mencolek Irul, “lihat deh neh banyak banget yang komen di status Corry,” sambil berbisik dan secara berlahan memindahkan dirinya ke dekat Irul, Irul yang biasa lembut tiba-tiba berkata, “kog ada ya mbak, yang seperti itu?apa nggak tahu ya, kalau bisa ketahuan?kaya kutu busuk ya mbak?”
Keesokan harinya mereka menghadiri penerimaan piagam, medali dan hadiah dan huforia berlangsung begitu meriah, setelah selesai mereka bergegas kembali ke Indonesia, di pesawat Moscha duduk dengan Tim, tiba-tiba Moscha menerima chat dari nomor yang tidak dikenal dan dia melihat foto-foto GM dan Rischa yang sedang bercumbu dalam kantor GM di RS, Moscha menoleh ke arah jendela, dia meremas hp yang dipegangnya dan mengepal tangannya, Tim memperhatikan Moscha dan bertanya, “ada apa?kayanya tadi kamu yang paling heboh?apa belum puas dapat juara?” sambil menutup matanya, karena sahabat Moscha yang lainpun tertidur, Moscha tidak menjawab pertanyaan Timothy, dia hanya terdiam, dia berpikir mungkin laki-laki brengsek ini adalah laki-laki gila perempuan, sehingga yang didalam otaknya hanya berisi tentang ****. Air mata dari pipi Moscha mengalir, rupanya suara isakan Moscha yang sudah berusaha disembunyikannya terdengar Tim, dalam keadaan menutup mata Tim bertanya, “kenapa?tumben nangis, terharu ya dapat juara, kebiasaan nonton sinetron, cengeng,” Moscha yang menoleh ke Tim menangis sinis seolah berkata, “dasar laki-laki ngeselin,” namun tiba-tiba Moscha menaikan pembatas kursi duduk mereka dan tiba-tiba memeluk Tim erat sambil menangis dan membasahi kemeja Tim dengan air mata dan ingusnya, Tim terkejut dia membuka matanya, dia melihat hp Moscha yang terjatuh dan melihat gambar foto yang pernah dilihatnya sebelumnya
__ADS_1
Sambil memeluk Moscha dia berkata, “aku sudah lihat foto itu, dua hari lalu, sebelum mertuamu dan calon suamimu yang kaya telpon,” Moscha terkejut dan berkata sambil menangis, “kenapa nggak kasih tahu, siapa saja yang tahu?” rupanya Moscha yang tomboy menjelma menjadi sosok imut berwajah merah. “semua temanmu tahu kemarin, sengaja aku suruh Irul dan Citra menahannya karena takut kamu kecewa,” sambil menghapus air mata dari pipi Moscha. Moscha terdiam dan berkata, “sepertinya semua harus diakhiri,” Tim dengan lembut menjawab, “diselidiki dulu, takut kita yang salah”, Moscha menatap Tim dan Tim menatap Moscha, mereka bertatapan cukup lama, tiba-tiba Tim bersandar ke kursinya dan menutup matanya bahkan melipat tangannya, Moscha tetap menatap Tim dan berkata, “apa kamu juga akan melakukan hal yang sama ke pacarmu?” Tim dengan sikap yang sama berkata, “mungkin, mana ada kucing dikasih ikan menolak,” Moscha seolah menyesal menanyakan pertanyaan yang konyol dan berkata, “oh jadi hal seperti ini biasa, sekarang aku akan menjadikan seluruh sahabatku sebagai pacarku setelah turun dari pesawat ini, pertama Nanang, Martheen, Nala, Meiyanto, Jono dan setiap hari aku bakal kencan sama mereka bergantian,”sambil tersenyum sinis, dan Tim seolah menyindir menyakitkan, “bukannya sudah ya, merekakan bisa peluk, rangkul, gendong dan cium kening kamu,” seolah mengajak berdebat Moscha menjawab, “sekarang akan kubuat lebih,” Tim menahan keinginannya untuk membalas Moscha dengan sebuah gerakan yang dari pertama bertemu Moscha ingin dilakukannya