
Masuk di laboratorium kimia, Mos terkejut karena semua sudah terkonsep dengan begitu signifikan, ketika dimulai pelatihan2 jam pertama berjalan dengan sangat menegangkan, terjadi beberapa kesalahan, dosen dan mahasiswa pendamping berdiskusi mengapa terjadi, Pak Priyo, guru honorer termuda yang sudah menyelesaikan S2 nya, Pak Pri masuk dan menemukan ke kacauan pada rumus senyawa molekul yang mereka uraikan di atas, Pak Pri yang begitu tampan, bertubuh tinggi, ideal dan berpakaian rapi, masuk ke dalam laboratorium, pak dosen tiba-tiba mendatangi pak Pri mereka seolah bercakap-cakap dan pak Deni meminta pak Pri menjelaskan rumus molekul yang seharusnya, dengan melipat tangannya pak Pri menjelaskan secara terperinci mengenai senyawa molekul kimia dan menunjukan hasil yang semestinya, Moscha memandang pak Pri, seolah tidak percaya, guru fisika mampu menyelesaikan senyawa molekul kimia yang sedemikian rumit. Kemudian, Pak Pri keluar, seolah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
“Ternyata kamu”
__ADS_1
Kegiatan ini berlangsung terus menerus sampai H-3, seperti biasa Tim mengantar Moscha pulang, tiba-tiba di tengah jalan Tim menerima telpon dari prof. Yang memintanya ke RS untuk membantunya melakukan operasi karena tim operasi kekurangan satu orang. Tim segera memutar balik laju mobilnya. “tuan puteri kita ke RS dulu ya, ga apakan soalnya, opungmu yang suruh, paling lama 40 menit, kamu telpon mama ya, kasih tahu aku minta maaf,” sambil menambah kecepatan mobilnya. Moscha segera menelpon mamanya dan menutup telponnya.
__ADS_1
Sesampainya di RS, Tim masuk ruang ganti dokter, sepertinya dia mandi, mengganti pakaian dan menghampiri Moscha, “tunggu disini, kamu dengar tunggu disini,” sambil meninggalkannya dan masuk ruang operasi bersama dengan Prof dan dokter lainnya. Merasa ancaman Tim begitu keras, Moscha tidak jadi menelpon rekan-rekanya, dia berjalan ke arah lain RS yang begitu besar itu, seperti hotel, dia naik ke atas dengn eskalator. Tiba di kantor dia melihat guru misterius yang ngeselin, sok cool dan ribet, keluar dari kantor diikuti seorang wanita yang berjalan dibelakangnya sambil menyebutkan nama, nominal dan segala permasalahan yang ada di RS tersebut, Moscha mengikutinya dan mereka berhenti di ruangan yang bertuliskan “direktur”. Moscha semakin terkejut dan berkata, “mungkin dia mau laporan atau jual obat kali” sambil tersenyum. Tiba-tiba wanita tadi keluar dan menghela nafasnya, terdengar dia mengucapkan kata, “tumben datang, ganteng tapi kog ribet banget ya,” sambil meninggalkan ruangan tersebut. Moscha yang berdiri di depan pintu melihat wanita itu dan berpikir, sementara dibelakangnya Priyo berdiri, melihat gadis berseragam SMU yang tingginya sedadanya sambil melipat tangannya dan berkata, “anak SMU mau ngapain ke sini?jangan bilang kamu mau ke dokter kandungan.” Moscha terkejut dan memeluk tasnya, dia menggigit bibirnya dan berkata, “eh bapak, siapa yang mau ke dokter kandungan?bapak kalo tuh nganter korban ke dokter kandungan, atau jangan- jangan jualan obat ya ke RS ini?ya ampun pak, berat amat hidupnya, sudah jadi honorer, eh keliling nawarin obat ke RS ini,” sambil berbicara nyolot, menjinjit tumit belakangnya dan menjulurkan lidahnya, meledek pak Priyo. Pak Priyo membalasnya dan menarik Moscha, “iya korbannya kamu, ini mau kuantar ke dokter kandungan sekarang,” Moscha mengelak namun rupanya guru misterius itu memiliki muangthai dan berhasil mengunci tangan Moscha dengan baik, rupanya benar dia membawa Moscha ke dokter spesialis kandungan, yang sudah banyak memiliki pasien, ketika dia masuk perawat dan dokternya berdiri dan memberi salam, “malam pak, ada yang bisa kami bantu?”. Dengan sopan Priyoga menjawab, “mau tanya apa saja yang diperlukan untuk ruangan ini?apa ada obat yang kurang?” sambil memasukan tangan ke sakunya. Dokter hanya menjawab, “sementara semua cukup pak, seluruh peralatan sudah sangat optimal, terima kasih pak,” Pak Pri hanya berjalan dengan angkuh, Moscha terlihat terdiam dan memperhatikan, sepertinya untuk hal seperti ini Moscha sulit memahami apa yang terjadi. Priyoga berjalan, diikuti oleh Moscha dari belakang, tiba-tiba guru misterius berhenti dan membuat Moscha menabrak tubuhnya dari belakang, Priyoga berbalik dan menjentikan tangannya ke jidat Moscha sambil berkata, “sekarang sudah paham?”, dengan memegang jidatnya yang kena sentil dia berkata, “paham apaan?ga penting amat!”sambil berjalan berlalu, tiba-tiba Priyoga menarik tangan Moscha dan menyeretnya ke tempat parkir, Moscha tidak bisa melepaskan tangannya yang dipegang keras, dia hanya bisa berteriak, “sakit gila, dasar maniak, woi lepas nggak,” karena takut berisik, Moscha hanya bicara agak sedikit berbisik tapi keras, karena sekitarnya melihat ke arah mereka berdua, seolah berkata, “idih perempuannya gak banget dan ya ampyun cowoknya gila ganteng banget ya, ngapain tuh cewe ada disitu,” Masuk ke tempat parkir, membuka pintu mobil, menguncinya dan masuk ke dalam mobil, memasangkan safe belt Moscha dan melajukan mobilnya dengan cepat ke arah yang Moscha tidak kenal, “eh, pak vampire, semprul, kalo bawa mobil, pelan-pelan ya, bapak pikir saya karung beras apa?pelanin gak, paaaaakkkkkkk Priyoga diningrat megalomen batman, pelanin ga mobilnya,” sambil memegang pada kursi dan memeluknya, dengan erat, keringat Moscha mengalir namun Pak Pri seolah tidak perduli, tiba-tiba karena terlalu ketakutan, Moscha tertidur, dengan keringat bercucuran padahal dia berada di mobil mewah milik Pak Pri. Priyoga menghentikan mobilnya, ditempat sunyi, dia berteriak, memaki dan seolah-olah kesal dengan keberadaan Moscha, dia melihat Moscha yang tertidur dengan wajahnya yang basah dan seragamnya yang juga basah, Pri melihat buku diari Moscha yang ternyata ada tulisan steno yang pak Pri tidak mengerti dia memotonya dan mengirim fotonya ke sekertarisnya, Pri terkejut melihat wajah Moscha yang begitu lembut, dia berbicara dengan suara yang nyaring, “kamu, adalah perempuan yang paling aku benci, kamu pikir kamu sempurna?nggak sama sekali, nggak!!!”. Ternyata dengan cepat sekertaris GM menelpon bahwa lembar akhir yang ditulis oleh Moscha seperti ini, “bertemu GM dengan penampilan berbeda, seperti biasa penuh misterius, ga punya IG, FB, Twitter, WA, Telegram, ga bisa mengamati, dewasa, ngeselin, tugasnya banyak banget, sok disiplin, killer, nggak jelas, tapi seperti biasa seolah gw mau tahu semua hal tentang dia, ikutin ah, di ruang direktur dengan seorang perempuan, ke poli kandungan, tarik tangan keras banget, di mobil si GM ...” Pri mengembalikan buku Moscha ke dalam tasnya, melewati dadanya, dia menyeka keringat Moscha yang bercucuran, tanpa berkedip, dengan trik jahatnya dia menganti baju Moscha dengan kaos baseball dalam mobilnya, GM terkejut ketika melihat luka di punggung belakang Moscha, sama seperti yang ada pada dadanya. Kulit putih Moscha, ternyata tidak sesuai dengan penampilannya, GM melihat Moscha lebih dekat dan tiba-tiba dia melihat bibir Moscha, ingin menciumnya tapi rasa benci lebih kuat dari nafsunya, dia melajukan mobilnya ke arah rumah Moscha. Sampai di depan rumah Mos, dia mengklakson, mama, bapak, Bonnie dan Corry yang dari tadi menunggu Moscha terkejut, GM menggendong Moscha yang sedang tertidur pulas, mama dan bapak mengenal GM dengan baik, terutama mama. “terima kasih Pri, kenapa bisa sama kamu?bukannya dia sama Tim di RS?” bapak langsung menimpali pertanyaan mama, “ketemu dimana rupanya kalian?kenapa Moscha pakai baju baseball?”. GM dengan santai meletakan Moscha di sofa ruang tamu, sambil berkata, “ketemu di RS, sepertinya dia mulai sedikit mengenali saya tante, om, lain kali jangan kasih dia ke laki-laki yang tidak bertanggung jawab, lucu ya tante, dia mengizinkan laki-laki memeluk dan menggandengnya, apa dia tidak merasa risih?”. Bonnie dan Corry menyerang balik GM, “elo kenapa dengan PD menyentuh dan bahkan menggendong kakak gw?” Bonnie membuka suara dengan slowly but sure. Corry melipat tangan, mengangkat alis dan tersenyum sinis, “ah elo dek, dia cemburu, karena Moscha ga pernah lirik dia, terus jangan-jangan elo ya yang gantiin baju Moscha, gw kasih tahu ya, meski gw ga se genius kakak gw, tapi gw tahu dengan pasti apa yang terjadi,”. Dengan cepat mama meminta Bonnie dan Corry membawa Moscha ke ruang atas, badan Moscha yang kecil membuat Bonnie mampu menggemblok kakaknya, Corry menjaganya dari belakang. Bapak merasa bangga dengan adik-adik Moscha yang mampu membela kakaknya, “Pri, om ga tahu ya, apa yang terjadi, tapi Moscha dan teman-temannya sudah seperti saudara, jadi om yakin, mereka mampu menjaga diri mereka,” sambil menatap GM dengan tenang. Mama menyuguhkan teh hijau kesukaan GM, “minum amang,”. GM tergoda dengan harum teh hijau buatan tante yang rasanya sudah diingat dari kecil, “terima kasih tante,” tanpa malu-malu dia menghabiskan teh panas tersebut kemudian tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar, ternyata Tim yang sudah hafal, langsung membuka pagar yang tidak terkunci, melihat mobil mewah yang parkir di depan mobil mama dan bapak, dia terkejut, Tim berlari, masuk dan dia terkejut ada pak GM di dalamnya, Tim menyalam tangan mama dan bapak, bapak yang menyukai Tim, memeluk Tim seolah memanas-manasi GM.
__ADS_1