Princess Narkolepsi

Princess Narkolepsi
Dia sempurna


__ADS_3

Moscha masuk ke ruangan VVIP disebelah ruangan mamanya, Rischa memasukan deposito, Rischa dan keluarganya adalah orang kaya dengan restoran dibebarapa daerah yang dimilikinya, Rischa melihat Moscha, Corry meninggalkan Moscha dengan Rischa, dia meminta maaf atas segalanya, Moscha hanya berkata, “nggak apa kak, aku tahu posisi kakak,” Rischa mencium kening Moscha dan memeluknya, “besok aku kesini lagi ya dek,” Moscha hanya tersenyum, Rischa berpamitan dan menelpon supir papanya untuk menjemputnya. Kevin yang sampai di Bandara Soekarno Hatta, dengan  cepat naik ke mobilnya dan meminta supirnya melaju dengan cepat, papanya menelponnya, dan menceritakan kejadian selengkap-lengkapnya, karena mendengar cerita papanya dia berkata, “itulah pah,bayangin kalo dia sendirian, bisa dia yang dihajar dan dianiaya, aku nggak suka dia terlalu baik,” bapak dan seisi ruangan yang mendengar senyum-senyum, “kalau sampai dia mati, itu enam orang kumatiin juga sampai tujuh turunan,” Bonnie menjawab, “tanjakannya nggak bang?” dengan kesal GM menjawab, “jangan bercanda dek!!!” GM mematikan hp nya dan Bonnie terkejut dengan marahnya GM, mama berkata, “itu karena sayangnya abangmu ke kakakmu dek, ka pun juga tahu orang kuatir kau ajak bercanda,”. Sekitar 20 menit GM sampai di rumah sakit tanpa ke kamar orang tua Moscha dia masuk ke kamar Moscha yang sudah tertidur, Corry segera keluar, GM mandi dan mengganti pakaiannya, dia duduk di sebelah Moscha memandang wajahnya yang tertidur pulas, dia mene;pon Corry memintanya ke mall di sebelah rumah sakit bersama Bonnie membelikan Moscha piyama, karena menurut GM pakaian Rumah sakit nggak pantas untuknya, “kenapa nggak kesini bang?sampai lupa sama kami ya?” mama Moscha tersenyum, orang tua GM menuju ke kamar Moscha bersama Bonnie dan Corry, Kevin memeluk mama dan papanya, kemudian memukul kepala Bonnie, GM mengeluarkan kartu kreditnya dan berkata, “abang lapar dek, sekalian beli makanan yang panas-panas ya, ada supir abang, naik mobil abang aja, jangan sok jagoan ya, nanti tambah lagi yang masuk rumah sakit,” Bonnie dan Corry mulai menghormati Kevin, mama izin pulang, mereka juga datang bersama supir, mama bercerita Rischa tadi minta maaf ke mama Moscha dan Moscha, “mama heran ya sama keluarga ini, baiknya itu kaya apa sama orang, itu mbok Sumi nggak pernah nanya gaji, kalo mama lupa juga nggak ingatin, uang belanja kalo lebih dipulangin, sampai nggak mau berhenti, kayanya, aku sayang keluarga ini, gitu katanya, mama seh ya terima kasih banget kalau sampai kamu, mengasihi Moscha ya Vin, terus papahmu bilang si Rischa deposit biaya Moscha banyak ke admin,” GM dengan kesal menjawab, “papa kenapa terima coba!” papah hanya tersenyum “biar dia belajar bertanggung jawab nak”, mereka segera meninggalkan Kevin dan Moscha yang sedang tertidur, kevin mencium rambut Moscha yang harum, melihat kulit tubuhnya yang halus dan senyum seolah berkata, “dia habis merawat tubuhnya, sial 6 bualan waktu yang laa, buat aku memiliki kamu seutuhnya, sampai aku mati aku tidak akan melepaskanmu,” GM tertidur disamping Moscha, Moscha yang terbangun ingin ke kamar mandi tekejut melihat Kevin disebelahnya, dengan berlahan dia ke kamar mandi mendorong infusnya, ketika dia melihat darah di pahanya dia berteriak, “darah ... darah... darah...” dan pingsan, Kevin terkejut dia memencet tombol memanggil suster, suster melepas infus Moscha, Moschapun tersadar dan berkata, “aku mau pipis suster, aku kaget lihat darah dipahaku,” para suster tertawa dan meninggalkan Moscha setelah mengganti perban Moscha, Kevin menggendong Moscha ke kamar kecil mendudukannya di closet duduk menghadap ketembok dan memberikan tissue ke Moscha, Moscha berkata, “terus aku naikin celananya bagaimana ya?” karena begitu takutnya dia dengan darahnya, GM menutup matanya menaikan celana Moscha keposisinya dan menggendong Moscha ke kasurnya.

__ADS_1


Setelah berita tersebut terbit dibeberapa majalah dan koran bahkan ke media online, dengan cepat karangan bunga, parcel dan semua hadiah datang ke kamar Moscha, dari gereja dan berbagai lembaga sosial. Martheen, Tim dan rekan-rekan lainnya terkejut ditambah mereka baru mengetahu bahwa mama Moscha menderita sakit tumor ganas di otaknya, dengan cepat mereka pulang ke Jakarta, Tim menelpon Ernest, memarahinya, “kenapa kamu nggak telpon?mau kamu apa?” Ernest hanya diam dan berkata, “lihat emailmu, lihat voice inboxmu mas, marah marah seperti orang kesurupan,” dengan cepat Ernest mematikan hp nya. Tim dengan cepat melajukan mobilnya, bersamaan dengannya Martheen berangkat ke Jakarta, mereka berpapasan dipintu masuk rumah sakit bersama dengan mereka ada sosok pria yang berpakaian begitu modis dan rapi, parasnya yang manis dan atletis mereka berjalan masing-masing, Tim dan Martheen hanya menatap, rupanya Martheen sudah menjadi begitu dewasa dan semakin dewasa dengan gaya berpakaiannya, mereka tiba dan ternyata disana Kevin dan Moscha sedang bermain catur, Moscha terkejut melihat 3 orang laki-laki masuk ke dalam kamarnya, ketiganya marah-marah namun membawakan coklat dan bunga. GM hanya tersenyum dan menyingkir dari Moscha, Moscha hanya terdiam membiarkan dirinya dipeluk dan keningnya mereka cium, mereka menyebar dan mengelilingi Moscha, Moscha dengan ternganga melihat mereka, matanya terhenti pada sosok lelaki yang menggunakan pakaian seperti Kevin, “pak Toni? Wkwkkwkwk, gila ganteng banget ya, bapak nurutin apa yang mama bilang ya” dia mengacungkan jempolnya dan berkata, “keren”, GM melihat pak Toni dan tersenyum, GM segera meninggalkan Moscha dan pergi ke kamar mama Moscha, “aku ke sebelah ya,” Moscha menutup wajahnya dengan bantal dan mengambil hp nya, “kog aku ditinggal?kenapa?” GM hanya mengirim sebuah foto wajahnya yang sedang menangis, Moscha bingung dengan situasi tersebut.

__ADS_1


“aku rindu kalian, aku telpon, aku sms, aku vc, aku coba zoom, kalian jawab 2 atau 3 hari kemudian, apa kalian hapus nomor kontakku di hp kalian?” Moscha seperti gadis yang manja di depan Martheen dan kawan-kawannya, sementara Toni menatapnya seolah berkata, “apa dia sosok yang sama saat dengan sosok yang dilaboratorium? Apa dia anak yang sama waktu ......?” Tim menjawab Moscha dengan berkata sesuatu, “kamu akan tahu buat apa aku seperti ini, kamu akan lihat,” sambil memegang tangan Moscha, sementara Martheen hanya berkata, “aku baca semua chatmu, tapi kamu perlu tahu, aku senang saat kamu merindukanku, aku akan buktikan bahwa aku akan ada disaat kamu sakit, seluruh chatmu aku simpan, ga perlu dibalas, karena suatu saat nanti satu perbuatanku akan membalas seluruh isi chatmu,” Moscha tersenyum dan tertawa, “masih kaya dulu ya, cintanya, makasih, aku rindu Nanang, Nala, Meiyanto, Jono, Debby, Ciput dan Irul, dalam segala hal, aku rindu seluruh waktu-waktu yang ada, rupanya Cuma aku yang banyak untuk menghubungi kalian, makanya sekarang aku sibukin diri jadi asisten pak Toni bahkan kami membuat proyek yang menciptakan siatu rpduk berlisensi yang bermanfaat bagi perusahaan, lingkungan dan bahkan kesehatan, makasih pak Toni,” Moscha memberikan kiss nya dan membuat tangannya berbentu hati ke arah Toni, Toni hanya menunduk dan mengalihkan wajahnya ke arah jendela tanpa berkata apapun sementara Moscha mengangkat hidung dan mulutnya sambil berkata, “ist bapak”, Tiba-tiba Irul, Ciput datang, mereka membawa banyak cemilan untuk Moscha, Irul dan Ciput segera memeluk dan mencium Moscha, Tim dan Martheen bersalaman dengan Ciput dan Irul, “Mos, loe ngapain coba ngelawan 6 laki-laki sendirian, sejago-jagoya elo ilmu bela diri, lelaki 6 orang itu ga masuk akal Mos, untung Mbok Sumi bisa juga bela diri, yang elo tolongin Rischa lagi,”sambil duduk dan menyuapi Moscha dengan buah anggur. Irul yang menyusun bunga-bunga dan parcel-parcel di kamar Moscha juga berkata, “mbak Mos itu baik, tapi kalau sampai kenapa-kenapa gimana mbak?lain kali bawa pedang aja mbak,” Moscha tertawa, “kenalin ini pak dosen Toni, aku asistennya, orangnya baik,” belum habis Moscha bicara Toni mohon izin pulang, “saya rasa saya pamit dulu, supaya Moscha istirahat,” sambil bersalaman dengan seisi ruangan, Moscha berkata, “terima kasih pak, besok datang lagi ya,” saat pak Toni berjalan berlahan Moscha berkata, “teman-teman 6 bulan lagi aku akan menikah dengan Kevin,” pak Toni yang memegang pintu menarik nafas dan membuka pintunya berlahan, keluar berlahan dan terdiam, seolah ingin mengemukakan sesuatu, dan berjalan menutup matanya, memukul tiang rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2