Princess Narkolepsi

Princess Narkolepsi
Si Maniak


__ADS_3

Sementara Moscha sampai dirumah, Tim menggendong Moscha dan membaringkannya di sofa ruang keluarga, keluarga Moscha seolah sudah menerima Tim sebagai bagian dari hidup Moscha, Corry membawa pakaian ganti Moscha dan mengganti pakaian Moscha dengan pakaian tidurnya, kali ini rupanya Corry mulai ingin mengubah Moscha menjadi putri tidur, dia mengenakan gaun tidur Moscha yang dulu dibelinya ketika perjalanan ke Thailand sekeluarga, gaun tidur biru toscha dengan renda transparan sepahanya, ketika selesai menggantikan pakaian Moscha, rupanya Irul yang disana menyadari Corry sedang menggoda Moscha, Irul segera menutup tubuh Moscha dengan selimut, namun Corry melipat tangannya dan berkata, “jangan kak”, Irul hanya diam seolah menahan marah dan mencari dimana Bonnie.


Setelah Tim dan sahabat-sahabat Moscha menceritakan apa yang terjadi di Yusenter, siapa yang datang, mengapa dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi membuat orang tua menyadari apa yang terjadi, mereka ketakutan, mama dan bapak tiba-tiba saling berpegangan, apalagi ketika Tim mengatakan Moscha menangis, Nanang bahkan menceritakan bagaimana Moscha memintanya untuk memeluk dan mencium keningnya. Mama semakin ketakutan, ayah mulai deg-degan dan menyesal mengapa mengizinkan rencana kakak perempuannya. Bapak mengajak mama ke rumah GM, namun mama tidak setuju, dia lebih memilih dimarahi Moscha dan menerima amukan Moscha daripada berhadapan dengan GM yang sombong, bapak dan mama meninggalkan mereka dan bicara di kamar mereka, mama menangis untuk segera membatalkan rencana mereka sebelum Moscha menyadarinya, bapak mengatakan, “tapi Moscha dulu bilang dia sayang sama Kevin ma, makanya bapak setuju,” sambil menghadap mama, dengan kedua tangan berada dikepala dan meremas rambutnya sendiri. 


Sahabat Moscha masuk ke ruang tamu, mereka terkejut melihat Moscha tertidur dengan gaun biru toschanya, kulit putihnya terlihat dengan jelas, bahkan rambut panjangnya yang terurai, ternyata, bibir Moscha merah saat dia tertidur, mereka mengelilingi Moscha, Tim, Martheen, Nala, Jono, Meiyanto, Nala, Nanang terdiam dengan masing-masing berbeda gaya, ada yang tangannya ke saku, dilipat di dada, bersandar ke tembok, berpegangan di sofa, bahkan Nanang duduk dibawah sofa tempat Moscha tidur sambil melihat wajahnya, seluruh yang berada disana seolah berlomba ingin memeluk Moscha dengan erat, momen ini dimanfaatkan oleh Corry, dia mengambil hpnya, mengabadikan moment tersebut dengan kamera hp resolusi hebatnya, yang setara dengan kamera merk mahal, pemandangan dimana para pangeran mengelilingi seorang putri, tidak tanggung-tanggung Corry mengambil foto mereka dengan fokus kewajah setiap pria satu persatu, dan mengambil yang bersama. Irul mengingatkan Corry, “dek, mbak Moscha lagi marah besar, jangan, kalau dia tahu akan besar dampaknya buat dia,” Corry yang tidak tahu apa yang terjadi menepis kata-kata Irul dan berkata, “kak Mos, orang paling sabar kak, dia ga akan marah,”. Irul hanya terdiam.


Mama dan Bapak keluar dari kamar, dan meminta Nanang mengantar Moscha ke kamarnya, dengan berlahan Nanang menggendong Moscha, dia merasakan kelembutan paha Moscha yang begitu putih, memandang wajahnya, rupanya Nanang begitu mengasihi Moscha dan air matanya tidak sengaja keluar, mengenai wajah Moscha, dalam hati dia berkata, “jangan lepaskan tanganmu, tunggu aku, aku akan membahagiakan kamu,”berbisikdalam hatinya, Irul membuka pintu kamar Moscha, kamar yang begitu dingin, berwarna biru toscha, luas, rapi, teratur membuat Moscha dikenal dengan karakternya. Nanang menyelimuti dan mencium kening Moscha, hal inipun diabadikan oleh Corry, tanpa disadari oleh Nanang. 

__ADS_1


Nanang mengambil posisi tepat didepan mama dan bapak,  mama memulai ceritanya, “tante, ga mungkin bisa tidak menceritakan ini, Pak Priyoga guru honor yang mengajar fisika di sekolah kalian adalah Kevin, mereka selisih 6 tahun, namun mereka begitu dekat, karena Kevin tidak pernah keluar rumah, bahkan Kevin mengikuti home schooling, oleh sebab itu mereka sangat dekat, sampai keduanya saling melindungi, namun Kevin adalah sosok yang begitu lemah, sementara Moscha begitu kuat, dia bisa bermain baseball, karate, Judo dari umur 6 tahun, ketika Moscha dijemput ke rumah Kevin dia membawa tongkat baseballnya, tanpa diketahui Moscha yang saat itu ke dapur, Kevin memegang tongkat baseball Moscha secara tidak sengaja terjadilah kecelakaan yang menyebabkan Moscha mengorbankan punggungnya melindungi GM, sementara GM mengalami luka di dadanya karena Moscha menyelamatkannya, jika tidak maka lampu hias diatas akan menimpa wajahnya dan dia akan mengalami luka parah, saat kejadian Moscha dibawa ke RS, dia tidak sadarkan diri selama 10 Minggu, Kevin merasa bersalah, dia menangisi Moscha, stiap hari menulis surat buat Moscha, tidak mau beranjak dari RS, sampai akhirnya papanya membuat keputusan pindah ke Jepang, didukung meningkatnya pesanan meubel jati ke Jepang. Selama di Jepang mereka tidak pernah menghubungi kami, baru 3 tahun lalu Moscha menerima surel dari orang tua Kevin, tante dan om menerima telpon, ternyata kesibukan mereka membuat mereka tidak sempat menghubungi kami,” sambil menangis dan melanjutkan ceritanya, “3 tahun lalu, kedua orang tua GM menginginkan Moscha menikah dengan Kevin, rupanya mereka memperhatikan Moscha setiap hari, entah mengapa om setuju, tanpa bertanya dengan Moscha, Priyoga kembali ke Jakarta, mereka memeli rumah baru, atas perintah orang tuanya dia mengajar di sekolah kalian untuk mengenal Moscha dan dia juga direktur ditempat Prof. Tobing bekerja menggantikan kakeknya,”


Sahabat Moscha mulai memahami alur kisahnya, mereka bertanya dimana surat yang ditulis GM selama Moscha berada di RS, mama mengambilnya dari kamar, rupanya mama menyimpannya setelah Moscha membacanya karena Moscha tidak memahami artinya, tapi mama memberitahu satu tahun lalu Moscha membaca ulang surat yang dituliskan GM kepadanya, wajahnya memerah, kemudian memberi surat itu kembali kepada mama, mama mengambil surat-surat itu dan membiarkan sahabat Moscha membacanya, rupanya, seluruh surat itu adalah tulisan tangan GM, disurat terakhirnya, GM mengatakan, 


“dear, cepat bangun, aku rindu, maaf sudah membuat kamu luka, aku minta maaf, jika aku bisa menggantikan kamu dear, aku mau, maaf, ini surat terakhirku, yakinlah aku akan kembali, mengulang mas-masa kita, aku mau menebus tidurmu, aku akan kembali, janji, aku akan memegangmu tanpa lepas sedikitpun, aku akan menjadikan kamu ratu, jangan marah, aku minta maaf, aku pergi, aku adalah pembuat masalah bagimu, aku menyesal, tunggu aku.”


Diatas Moscha terbangun, dia terkejut menggunakan gaun tidur yang dia sembunyikan, kemudian Moscha berteriak, “Corry ... Corry, kakak hajar kamu,” Corry yang sudah mengetahui hal tersebut akan terjadi segera kabur, memilih kabur dari rumah dan berkata, “ma, aku mandi dirumah debora, hancur aku dismack down kakak mah,”, dia segera berlari kencang dan menyalakan motor lelaki miliknya. Mama dan Bapak bersiap menerima amukan Moscha, di atas Moscha membaca diary nya dia menangis, ketika Irul masuk ke kamarnya, Moscha memeluk Irul dan berkata, “terima kasih, aku jadikan ini diari terbaikku ya, yang ditulis dengan tanganmu,” Irul memeluk Moscha dia merasakan sakitnya hidup Moscha dengan kekurangannya, “maaf mbak, nanti aku belajar steno, supaya tidak ada yang baca,”. Moscha hanya menganggkan kepalanya, Moscha meminta Irul mandi terlebih dahulu karena Moscha harus membaca Alkitabnya dan berdoa.

__ADS_1


Waktu jam 06. 00 Wib, Moscha dan Irul turun ke bawah, mereka makan, Irul mulai deg-degan, rupanya, Moscha tidak marah karena di diary yang ditulis Irul, bapak berjanji akan membatalkan pertunangannya, bapak dan mama yang diam dan tertunduk menunggu Moscha bersuara, “pak, hari ini tepati kata-kata bapak, aku nggak mau jadi boneka, aku bisa memilih ke kasihku sendiri,” bapak meneguk makanannya, minum kopinya dan berkata, “bapak janji kak,” dengan tersenyum, mama menangis meminta maaf, “maafin mama ya kak, maaf ya sayang,” Moscha dengan dinginnya makan dan berkata, “jika bapak tidak menepati janji maka aku pastikan, aku nggak akan tinggal disini, Mos akan tinggal di tempat panti sosial atau dimanapun asal tidak dirumah ini, yag penuh dengan kepalsuan,” Moscha menghentikan makannya, meletakan sendoknya, dia berdiri dan berkata, “ma, mana surat-surat sial yang pernah dibuat Kevin?” mama segera berdiri dan masuk ke kamarnya, rupanya ini pertama kali Moscha marah sambil menangis dan mengancam, kasih mereka ke Moscha begitu besar, mereka sadar Moscha demikian karena selama ini Moscha sedikitpun tidak pernah melawan dan selalu menuruti apa yang diinginkan mama dan bapaknya. “ini suratnya nak,” mama memberikan suratnya kepada Moscha, Moscha dengan dingin mengucapkan, “terima kasih ma, aku pergi” sambil mencium tangan mamanya, ayah yang berpikir akan dicium tanganya oleh Moscha cepat-cepat berdiri dan membersihkan tangannya, namun rupanya Moscha tidak memperdulikan bapaknya, Irul segera tertawa ke arah ayah dan memberikan jempolnya, rupanya Moscha juga membawa semua hadiah yang pernah diterimanya dari Kevin, hari ini Moscha naik motor karena dia sudah meminum obatnya, motor Yamaha Yzf R25, berwarna hitam digunakannya dengan mantap, menggunakan alat-alat keselamatan bermotor, Irul duduk di belakang, Moscha sengaja datang terlambat, ketika dia masuk parkir, Irul turun terlebih dahulu, rupanya sahabat-sahabat Moscha sudah berdiri ditempat parkir dan melihat Moscha, tiba-tiba mobil GM berplat cantik dengan mobil mewahnya masuk, dia melihat Moscha yang sedang memarkir motornya, dia memperhatikan Moscha dengan seksama, ketika Moscha membuka helmnya, rambutnya yang panjang terurai dan terjatuh begitu rapi, dia membuka pelindung lututnya, sikutnya dan jaketnya, meletakkannya dia atas parkir, Moscha melihat tempat parkir melihat mobil di sebelah kanannya, dan itu adalah mobil GM, dia menghampiri mobil tersebut, GM seolah tidak perduli, dia membuka pintunya, Moscha membuka pintu mobil GM sebelahnya, dia duduk, GM hanya tersenyum sinis dan berdiri sambil berkata, “ngapain kamu, tempat itu bukan untukmu, apa kamu mau aku gendong kamu seperti teman-temanmu?atau mencium keningmu?”belum sempat GM habis bicara, Moscha melempar surat-surat yang pernah ditulis oleh GM dulu, ke belakang mobil GM, dia juga melempar, kalung, cincin, anting yang diberi oleh GM ke depan muka GM, Ciput dan Debby dipanggil Jono untuk mendampingi Moscha, Ciput berdiri dibelakang mobil GM, Debby berdiri disamping pintu Moscha, GM terkejut Moscha melempar semua yang dia berikan, Moscha berkata, “dengar Kevin, GM, atau siapapun nama anda, saya harap anda membaca sendiri apa yang anda tulis, dan saya sudah muak dengan surat-surat sial itu, dan sampai saya mati saya tidak akan menerima apapun dari Anda,” Moscha segera menutup tasnya dan ketika dia membuka pintu mobil GM, GM masuk dan menyalakan mobilnya, mengunci mobilnya secara automatis, Moscha yang terkejut berteriak, “berhenti, aku bilang berhenti, berhenti brengsek,” GM membuka pintu jendela mobilnya, melihat teman-teman Moscha yang segera menyalakan mobilnya, namun GM meminta pak Sitompul menutup gerbang. Mereka tidak bisa keluar tanpa izin guru piket hal ini sulit, rupanya Debby dan Ciputpun terkejut karena mobil GM dengan cepat pergi dan nyaris menyerempet mereka. 


Dalam perjalanan Moscha diam, GM yang rapi dengan kemeja yang tergulung disikutnya dan celana bahan hitamnya menatap wajah Moscha, “kenapa diam?ngomong, cepat ngomong,” dengan tenang Moscha bicara, “ diam dan berhenti, sekarang,” sambil menatap ke depan. GM berhenti di depan taman, dengan sombong dia berkata, “surat-surat itu ditulis oleh tangan anak kecil yang lemah dan bodoh, aku hafal semuanya, dengar baik-baik, aku nggak akan mau dijodohkan sama perempuan liar seperti kamu, satu lagi sekarang ada Rischa, orang yang cantik, pintar, baik dan kaya raya, sesuai dengan saya,” seolah tidak memperdulikan kata-kata GM Moscha menjawab, “kamu yang dengar baik-baik, sekarang juga bapak dan mamaku ada di rumahmu, mereka akan membatalkan pertunangan sialan, dengan pariban brengsek yang egois, terima lasih sudah tunjukin brengseknya elo yang baunya kaya kotoran manusia, kamu pikir saya suka dijodohkan dengan anda?nggak sedikitpun nggak, oh iya satu lagi, aku juga kembalikan semua pemberian mama dan papamu lewat orang tuaku, satupun belum ada yang kupakai, bahkan merknyapun masih ada,” seolah tidak percaya GM menghubungi orang tuanya, dan ternyata tidak diangkat, dia menelpon rumahnya dan bibi yang mengangkatnya, bibi mengatakan bahwa orang tua GM menangis mendengar permintaan Moscha, saat GM lengah, Moscha membuka pintu manual dan melarikan diri, GM mengikutinya sambil berteriak, “masuk ke mobil sekarang, cepat,” Moscha berlari namun tiba-tiba Rubicon hitam menghampiri Moscha, meminta Moscha naik dan ternyata itu Tim, GM begitu marah, dia tidak menyangka Moscha yang dulu begitu baik berubah, GM menghubungi Moscha karena tidak diangkat dia mengirim foto saat Moscha tertidur dimobilnya dan bagaimana dia tidur dipangkuan GM, sambil berkata, “kamu turun dari mobil sial itu atau aku sebarkan foto ini sekarang,” dengan santai Moscha menjawab, “sebarin aja, bagus dong supaya pacarmu tahu busuknya kamu,” Tim memperhatikan senyum sinis Moscha yang begitu sadis. GM kembali mengirim pesan, “kamu bilang aku egois?selama 2 tahun aku kirim surat tulisan tangan, yang tidak pernah kamu balas, ataupun kamu sent by surel, jadi kamulah yang paling egois disini!!!!!!” Moscha dengan santai menjawab, “kamu jangan mengarang kisah baru dan menyudutkan saya, aku ga perduli,”


Tim dan Moscha kembali ke sekolah dan hari ini hari terakhir mereka pendampingan 2 hari sisanya para siswa diajak refreshing mereka pergi ke dufan tempat kesayangan Mosccha. GM mengajak Rischa juga ke Dufan, seolah-olah tidak tahu bahwa murid-muridnya refreshing ke Dufan juga, tiba-tiba Debby dan Ciput berteriak, “Irul, perasaan kita baru aja keluar dari rumah hantu, eh ternyata, kuntilanaknya ikutin kita ya, “ sambil tertawa terbahak-bahak, Irul melihat kebelakang dan berbisik, “oalah lah kog niat banget ya mbak, mereka ikutin kita, “ Debby memgacak-acak kepala Irul dan berkata, “bukan kita dek, tapi Moscha,” merekapun kembali tertawa, Debby begitu mencintai Martheen, Moscha tahu itu, dan Moscha minta maaf untuk hal itu, Debby yang mengetahui perasaan Moscha begitu kasihan dengan Moscha, Debby adalah model terkenal dari sebuah majalah remaja dan dia sering berjalan di catwalk, tidak heran dia ingin sekali mendandani Moscha, namun selalu gagal.


Rischa menggandeng GM dengan begitu lembut, sesekali mencium pundak GM dn memeluknya dari belakang, Jono dan Meyantopun mempraktekan hal tersebut, hal ini membuat mereka tertawa senyaring-nyaringnya seolah Dufan milik mereka, Gm melepaskan pelukan Rischa. Nalapun berteriak, “jangan sayang kenapa engkau melepaskan aku,”sontak Martheenpun marah karena Nala berakting sebagai seorang wanita. Moscha dengan santai berkata kepada teman-temannya kita naik ontang-anting yuk,” Moscha seperti anak kecil jika soal Dufan, kali ini Nanang tidak ikut karena dia diminta mamanya untuk mengantar Catering pernikahan ke Bandung, mereka mengantri diontang anting, kali ini Tim berada di depan, Moscha, Ernest, Jono, Meiyanto, Nala, Martheen, Debby, Irul, Ciput. Melihat GM diam saja dirangkul oleh Rischa, Moschapun tiba-tiba berbisik kepada Tim dan berkata, “kak, aku peluk kakak dari belakang ya?” Tim menoleh ke arah kanan, dan Tim tahu Moscha sedang memanfaatkannya, Ernest begitu sakit melihat pemandangan itu, Jono berbisik kepada Ernest, “bro, Moscha lagi buat GM cemburu, jangan kuatir, loe pasti sudah dengar dari Nala kisah sesungguhnyakan?”Ernest tetap tidak bergeming, Moscha yang memeluk Tim membuat Tim menarik tubuh Moscha ke depannya dan memeluk tubuh Moscha dari belakang, ini membuat Moscha bingung, rupanya Tim memanfaatkan momen ini sebagai sebuah kesempatan, Tim memeluk erat Moscha dan mencium rambutnya, Moscha bersyukur kejadian itu hanya berlangsung satu menit dan merekapun segera menempati tempat masing-masing, Moscha naik tepat disamping Ernest, lemparan tali yang begitu kencang membuat mereka berteriak nyaring, Moscha begitu gembira. 

__ADS_1


Dari kejauhan GM memperhatikan Moscha dan meminta Rischa untuk tinggal sebentar, setelah ontang anting berhenti rupanya Moscha terlihat agak pusing, dia memilih jalan yang berbeda dengan teman-temannya dan dia tersadar ternyata yang disekelilingnya bukan sahabatnya, dengan cepat GM menarik tangan Moscha, membawanya ke lokasi yang begitu tenang, Moscha yang merasa tidak enak diperhatikan orang mengikuti kemana tangan GM menariknya, GM menghentikan jalannya ditempat parkir, Moscha mulai memposisikan kakinya terbuka, “kamu mau apa?”sambil meletakan tangannya di dada, GM mendekati Moscha dan berkata, “kamu mau fotomu yang setengah telanjang dimobilku kukirim ke mamamu?” sambil menundukan kepalanya ke telinga Moscha, Moscha terkejut dan berkata, “kamu pikir, mama percaya dengan apa yang kamu katakan?lagi pula ya, kamu sudah punya pacar yang aku yakin kalian sudah tidur bersama setiap hari, “sambil tersenyum sinis dan membuka kacamata hitamnya, GM memegang keras tangan Moscha kemudian dengan kasar membawa Moscha menempel kesebuah mobil yang terparkir dan berkata, “kenapa?kamu cemburu?sekarang aku akan melakukannya ke kamu seperti yang kamu pikirkan ke Rischa,” tiba-tiba GM mencium bibir Moscha dengan begitu ganasnya, mengangkat tubuh Moscha, menahan kedua tangan Moscha dengan tangannya, GM menikmati ciuman yang dia lakukan dengan Moscha, Moscha seolah tidak berdaya, namun karena amarahnya pada GM kaki kanannya menendang dengan keras kaki GM, Moscha menggigit lidah GM dengan, GM terkejut dam berkata, “kamu suka main kasar rupanya,” GM melanjutkan ciumannya kali ini, Moscha seolah mengikuti gerakan GM, Moscha teringat, di dada GM ada luka, dia mencubit luka itu dan GM melepaskan Moscha karena nyeri yang masih terasa, Moscha berlari seolah dia tidak memiliki ilmu bela diri, kacamatanya terjatuh, GM tersenyum puas, 


__ADS_2