
Sementara Moscha sampai dirumah, Tim menggendong Moscha dan membaringkannya di sofa ruang keluarga, keluarga Moscha seolah sudah menerima Tim sebagai bagian dari hidup Moscha, Corry membawa pakaian ganti Moscha dan mengganti pakaian Moscha dengan pakaian tidurnya, kali ini rupanya Corry mulai ingin mengubah Moscha menjadi putri tidur, dia mengenakan gaun tidur Moscha yang dulu dibelinya ketika perjalanan ke Thailand sekeluarga, gaun tidur biru toscha dengan renda transparan sepahanya, ketika selesai menggantikan pakaian Moscha, rupanya Irul yang disana menyadari Corry sedang menggoda Moscha, Irul segera menutup tubuh Moscha dengan selimut, namun Corry melipat tangannya dan berkata, “jangan kak”, Irul hanya diam seolah menahan marah dan mencari dimana Bonnie.
Setelah Tim dan sahabat-sahabat Moscha menceritakan apa yang terjadi di Yusenter, siapa yang datang, mengapa dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi membuat orang tua menyadari apa yang terjadi, mereka ketakutan, mama dan bapak tiba-tiba saling berpegangan, apalagi ketika Tim mengatakan Moscha menangis, Nanang bahkan menceritakan bagaimana Moscha memintanya untuk memeluk dan mencium keningnya. Mama semakin ketakutan, ayah mulai deg-degan dan menyesal mengapa mengizinkan rencana kakak perempuannya. Bapak mengajak mama ke rumah GM, namun mama tidak setuju, dia lebih memilih dimarahi Moscha dan menerima amukan Moscha daripada berhadapan dengan GM yang sombong, bapak dan mama meninggalkan mereka dan bicara di kamar mereka, mama menangis untuk segera membatalkan rencana mereka sebelum Moscha menyadarinya, bapak mengatakan, “tapi Moscha dulu bilang dia sayang sama Kevin ma, makanya bapak setuju,” sambil menghadap mama, dengan kedua tangan berada dikepala dan meremas rambutnya sendiri.
__ADS_1
Sahabat Moscha masuk ke ruang tamu, mereka terkejut melihat Moscha tertidur dengan gaun biru toschanya, kulit putihnya terlihat dengan jelas, bahkan rambut panjangnya yang terurai, ternyata, bibir Moscha merah saat dia tertidur, mereka mengelilingi Moscha, Tim, Martheen, Nala, Jono, Meiyanto, Nala, Nanang terdiam dengan masing-masing berbeda gaya, ada yang tangannya ke saku, dilipat di dada, bersandar ke tembok, berpegangan di sofa, bahkan Nanang duduk dibawah sofa tempat Moscha tidur sambil melihat wajahnya, seluruh yang berada disana seolah berlomba ingin memeluk Moscha dengan erat, momen ini dimanfaatkan oleh Corry, dia mengambil hpnya, mengabadikan moment tersebut dengan kamera hp resolusi hebatnya, yang setara dengan kamera merk mahal, pemandangan dimana para pangeran mengelilingi seorang putri, tidak tanggung-tanggung Corry mengambil foto mereka dengan fokus kewajah setiap pria satu persatu, dan mengambil yang bersama. Irul mengingatkan Corry, “dek, mbak Moscha lagi marah besar, jangan, kalau dia tahu akan besar dampaknya buat dia,” Corry yang tidak tahu apa yang terjadi menepis kata-kata Irul dan berkata, “kak Mos, orang paling sabar kak, dia ga akan marah,”. Irul hanya terdiam.
Mama dan Bapak keluar dari kamar, dan meminta Nanang mengantar Moscha ke kamarnya, dengan berlahan Nanang menggendong Moscha, dia merasakan kelembutan paha Moscha yang begitu putih, memandang wajahnya, rupanya Nanang begitu mengasihi Moscha dan air matanya tidak sengaja keluar, mengenai wajah Moscha, dalam hati dia berkata, “jangan lepaskan tanganmu, tunggu aku, aku akan membahagiakan kamu,”berbisikdalam hatinya, Irul membuka pintu kamar Moscha, kamar yang begitu dingin, berwarna biru toscha, luas, rapi, teratur membuat Moscha dikenal dengan karakternya. Nanang menyelimuti dan mencium kening Moscha, hal inipun diabadikan oleh Corry, tanpa disadari oleh Nanang.
__ADS_1
Sahabat Moscha mulai memahami alur kisahnya, mereka bertanya dimana surat yang ditulis GM selama Moscha berada di RS, mama mengambilnya dari kamar, rupanya mama menyimpannya setelah Moscha membacanya karena Moscha tidak memahami artinya, tapi mama memberitahu satu tahun lalu Moscha membaca ulang surat yang dituliskan GM kepadanya, wajahnya memerah, kemudian memberi surat itu kembali kepada mama, mama mengambil surat-surat itu dan membiarkan sahabat Moscha membacanya, rupanya, seluruh surat itu adalah tulisan tangan GM, disurat terakhirnya, GM mengatakan,
dear, cepat bangun, aku rindu, maaf sudah membuat kamu luka, aku minta maaf, jika aku bisa menggantikan kamu dear, aku mau, maaf, ini surat terakhirku, yakinlah aku akan kembali, mengulang mas-masa kita, aku mau menebus tidurmu, aku akan kembali, janji, aku akan memegangmu tanpa lepas sedikitpun, aku akan menjadikan kamu ratu, jangan marah, aku minta maaf, aku pergi, aku adalah pembuat masalah bagimu, aku menyesal, tunggu aku.”
__ADS_1
Penggalan surat ini membuat mereka mengerti mengapa Moscha tidak bisa menerima laki-laki lain, mereka menyadari betapa Moscha yang lama menunggu hancur berkeping-keping melihat GM dengan wanita lain, mereka saling menatap satu sama lain, bapak menyadari kesalahannya, “bapak salah, semua karena bapak, bapak nggak tahu ternyata Pri lupa sama semua tulisan tangannya, besok bapak akan membatalkan pertunangan mereka, bapak nggak mau Moscha hancur ditangan orang egois seperti Priyoga meskipun mamanya adalah kakak om.” Setelah mereka berbincang cukup lama, mereka baru menyadari bahwa sekarang jam 24.00 Wib, mereka pulang, namun seperti biasa Irul menginap di rumah Moscha, kali ini Irul tidak bertemu Bonnie yang sedang berada dirumah opungnya. Mama menyiapkan pakaian Irul memintanya mandi air panas, Irul tidur disamping Moscha, dia menuliskan seluruh kejadian hari ini di buku harian Moscha tanpa terlupa sedikitpun, bahkan dia menuliskan apa yang dilakukan Corry, rupanya Moscha mengetahui Irul adalah seorang sahabat yang paling perduli, keesokan harinya, Irul bangun jam 04. 00 Wib sholat subuh, sementara mama, papa, Corry doa pagi. Setelah selesai Corry, mama dan Irul masak dan bersih-bersih.