Princess Narkolepsi

Princess Narkolepsi
Mencoba diam


__ADS_3

Dirumah sakit Tim menggendong Moscha dan membawanya ke ruang Prof. Tobing, Prof terkejut dan berkata, “inang hasian, Moscha, kenal dimana kamu Tim”dengan cepat Prof. Tobing memeriksa Moscha dengan seksama mengelus kepala Moscha dan mencium keningnya. Tim terkejut dan berkata, “kenal dimana sama hamster sombong ini Prof?anak ini sombongnya kaya yang punya samudera Atlantik, terus sebenarnya dia sakit apa ya prof?diagnosaku dia Cuma sakit kurang darah, demam kukasih obat, kukompres demamnya turun Cuma tiba-tiba dia sempoyongan karena tensi rendah, sadar, eh tiba-tiba jatuh dan sampai sekarang seperti ini,” sambil melpat tangannya di dada dan tidak melepaskan pandangannya dari Moscha. Prof Tobing tertawa dan berkata, “dia tidur saja, kalau tensi rendah itu karena dia memang kelelahan, seluruh organ tubuhnya sempurna, Cuma hamster ini terdiagnosa narkolepsi ringan, namun smenjak SMP kelas IX, dia menolak untuk meminum obat yang sudah diresepkan kecuali hanya jika ketika di sedang Ujian Nasional atau menikuti olimpiade dan itupun sepengetahuan panitia dan saya memberikan surat keterangan tersebut.” Sambil terduduk disamping Moscha. Tim tiba-tiba menyadari gejala yang dialami oleh Moscha dan  mulai tersenyum, kemudian dia berkata, “berarti stelah ini dia tidak akan meningat apa yang telah terjadi ya Prof,” sambil tersenyum tenang, karena dia akhirnya tahu bahwa Moscha akan melupakan apa yang tadinya dia katakan. Prof. Tobing berkata, “oleh sebab itu teman-temannya dari SMP, 6 kurcaci itu selalu mengikuti dia dan akan menceritakan kembali apa yang terjadi, kepada boruku ini, mamanya si Moscha itu keponakan saya dan dia adalah cucu kesayangan saya Tim, jadi saya mengenal dia dengan sangat baik, dia ramah, kasus Mos, unik dia mengidap Narkolepsi tapi memiliki IQ yang begitu tinggi, sementara pengidap lainnya tidak demikian, Mos anak yang baik, kamu harus mengenal dia dengan baik Tim, kalo sudah kenal, awas jatuh cinta sama cucuku ini, karena aku nggak mau laki-laki dengan ekor banyak macam kamu, menempel ke dia.” Prof berpindah dan menyelimuti Moscha bahkan mengambil guling Moscha yang selalu dipakainya diruangan itu, rupanya ini adalah kesekian kalinya Moscha datang ke tempat opungnya Prof Tobing.  Tim duduk melihat Moscha dan mengingat kejadian tadi, dimobilnya dan berpikir, “cewe apaan neh ya, apa kalo sadar dia akan seperti itu?” tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki banyak orang dan Prof Tobing berkata, “para kurcaci sudah datang, siap-siap kamu akan disingkirkan, disana ada 5 laki-laki yang saya ketahui mencintai dia, namun Moscha tidak pernah menyadarinya, bahkan ....... nanti kamu lihat,”sambil melihat tim dari atas kacamatanya yang berada di tepat dihidung bawah. 

__ADS_1


Yang dikatakan Prof. Tobing benar, 6 kurcaci, 3 simpatisan datang, dan segera memenuhi tempat tidur Moscha. Tim menggepal tangannya seolah benci dengan keadaan itu. Martheen dan Nanang yang begitu berkarisma memegang tangan Moscha dan berkata bersamaan secara tidak sengaja, “ kamu pasti lelah,” mereka saling bertatapan, Prof. Tobing berkata, “jangan berkelahi didepan seorang gadis yang ketika sadar dia tidak mengingat apa yang terjadi, jika kalian memang laki-laki, nyatakan cinta, jangan sembunyi-sembunyi, buat malu saja,”. Cipu dengan semangat menimpali perkataan Prof., “ bukan nggak pernah prof, sudah berkali-kali tapi ditolak wkwkkwwkwkwk, layu sebelum berkembang,”sambil tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Moscha bangun dari tidurnya dan berkata, “ngapain gw disini?opung?jelasin ada apa sebenarnya?” Tim berdiri didepan Moscha dan menjelaskan seluruhnya dengan sangat rinci secara mendetail. Moscha menarik nafas panjang, dia hendak menangis, tanpa sadar diapun membaringkan kembali tubuhnya dan tidur miring ke arah Martheen dan berkata, “motor gw siapa yang bawa Theen”, sambil menggenggam tangan Martheen. Martheen mencium kening Moscha dan berkata, “Ernest yang bawa motor loe, sekarang gw yakin dia ada di rumah loe, Irul juga, tas loe juga Irul yang bawa.” Debby maju ke depan Moscha membungkuk dan menangis, “Mos, gw sayang sama elo, besok-besok kalo elo kecapean jangan dirasa sendiri ya,” Debby mencium rambut Moscha, memang dari seluruh siswa di kelasnya Moscha adalah siswi yang umurnya 1 tahun di bawah yang lainnya. “opung prof, telpon papah ya, kasih tahu opung aja yang antar aku pulang, ga usah jemput, kalo sampai papah yang kesini, habis aku pung disuruh periksa ini itu, vitamin ini itu,” dengan cepat prof menelpon papahnya Moscha, dan memberi tahu bahwa dia dan Moscha dalam perjalanan pulang, padahal mereka masih berada dalam ruangan. Dengan segera Prof berkata “kalian semua ayo kita pulang ke rumah Moscha, saya tahu kalian pasti semua menggunakan motor, cepat sebelum ayahnya Moscha yang luar biasa sayang sama Moscha datang, satu persatu mencium kening Moscha dan menunggu Moscha di tempat parkir, “Tim, saya ikut kamu, Prof menggandeng Moscha, tapi tiba-tiba berhenti dan berkata, “kau gendonglah dia Tim macam lambat kali jagoanku ini berjalan,”Tim menggemblok Moscha, hingga akhirnya Moschapun seolah pasrah dan meletakkan wajahnya dipundak Tim karena dia manusia paling cuek, diapun menempelkan hidungnya ditelinga Tim, Prof yang melihat hl ini tertawa dan dengan yakin dalam hati berkata, “dia akan menjadi pasangan yang cocok untuk Mos, pada Martheen dan Nanang.” Sambil berjalan keluar dan menuju tempat parkir. Martheen yang melihat Tim menggendong Mos, segera mematikan motor besarnya dan berjalan menghentikan Tim, tapi Tim menghindari dengan berjalan dari sisi lain sambil berkata, “eh lulusin dulu sekolah loe, baru kita adil dan selevel dalam memperebutkan perempuan, lagian hamster yang ada dibelakang gw bukan level gw.” Mendengar perkataan Tim, Moscha terdiam dan merasa terpukul dan berkata, kalaupun didunia ini Cuma ada kera dan elo, kalau disuruh memilih gw bagus nikah dengan kera,”kemudian Moscha turun dan memeluk Martheen dan meminta Martheen membawanya pulang, Martheen membawa Moscha dan mengikat badan Moscha dengan kain yang memang sudah disiapkannya jika dia tahu Moscha membawa motor ke sekolah. Rekan-rekan Moscha mengikuti Martheen dari belakang, Tim dan Prof juga mengikuti Moscha dengan mobilnya di mobil Prof menyadari ekspresi wajah Timothy yang penuh kebingungan, “kau itu Tim, lain kali kalau bicara dengan anak perempuan jangan seperti bicara dengan preman, akhirnya kau sendiri yang malu,” sambil tetap menatap ke depan melihat motor Martheen. Tim dengan muka datarnya berkata, “biasa aja Prof, anak-anak sekarang manjanya minta ampun.”

__ADS_1


Dengan dibantu oleh rekan-rekannya Moscha masuk ke dalam rumahnya, rambutnya yang berombak panjang dibiarkan terurai, membuatnya semakin terlihat bertambah cantik dan kehilangan roh tomboynya, dengan segera mereka disambut oleh mama, Bonnie, Irul dan Ernest di rumah, dengan penuh kuatir mama menyambut Moscha namun dengan wajah yang santai Moscja masuk dan diduduk disofa besar tepat di sebelah Ernest, Ernest terlihat santai seolah tidak perduli dengan lirikan tajam para serigala yang ada diruangan tersebut. Dan sepertinya kepala Moscha masih sedikit pusing sehingga dia tidak sadar yang duduk disebelahnya adalah Ernest, Moscha berpikir itu Bonnie, dengan santai dia meletakan bantal didekat Ernest dan meletakan kepalanya dibantal dengan menguraikan rambutnya dipangkuan Ernest, dengan tanpa ekspresi, Ernest terdiam, sementara Bonnie, Irul dan teman-temannya senggol-senggolan. Masing – masing berbicara berbisik-bisik dengan mata tetap ke depan. Seolah ingin menegur Moscha bahwa bantalnya ada dipangkuan Ernest.

__ADS_1


__ADS_2