
Di kamar Moscha dapat video Call dari Ciput kalo ketua OSIS yang legendaris dan tampan kaya Nickolaus Saputra besok masuk ke sekolah setelah pertukaran pelajarnya dengan negara Belanda selesai. “Mos, besok Ernest datang, loe bayangin tuh ya lelaki kebanggaan sekolah saingan Nanang datang, sekolah kita bakal kedatangan tamu lagi tuh, banyak, elo nggak marah?Nanang bakal dikalahin lagi.” Moschapun dengan tenang bicara, “apaan seh loe, berkompetisi itu perlu tapi berkoordinasi lebih perlu, jangan kompetisi aja, mumgkin ernest jago bahasa Belanda, emaknya sama engkong dan buyutnya aja dikubur disono, ya wajarlah, nah, yang kaget tuh kalo si Nanang yang Jawa totok, dikirim ke Belanda, mikir dah loe ya, eyang kung sama ti nya aja di Solo, aneh loe, lagi biar aja dia balik, kalo kaga balikkan namanya pindah Ciput.” Dengan wajah santai sambil mengerjakan tugas dari pak Kahar. “lha gw kan ngasih tahu, dia di kelas MIPA II, sebelah kita, kalo dia balik, kelas kita bakal turun pamornya neh, cari akal ngapa, masa kelas kita yang favorit, wakil OSIS, yang kaga Favorite ketua OSIS, elo jugakan LITBANG Moscha, bikin gebrakan kek, jangan ikut program terus, ngintilin Nanang terus.” Sambil makan kacang dan minum coklat panas, “apaan seh, berisik sudah ah gw mau kerjain tugas, loe kalo mau ngegosip kesini aja, sekalian beliin gw martabak jumbo spesial ya”. Sambil makan keripik Ciput bilang, “gak bisa, gw ada janji sama anak-anak ketemuan di PIM sama Martheen dan rekan-rekan Mos, elo katanya nggak bisa datang?gw jemput ya, Mos ... Mos ... Mos ... ah gila dia tidur di atas meja buset dah ....”. Langsung meneutup telpon dan menghubungi rumah Moscha memberitahu keluarganya Moscha tidur di atas meja dengan badan setengah dimeja dan setengah di bawah mengambang. Tapi tetap Moscha dengan wajah polosnya tetap cantik dan manis. Bapaknya Moscha berlari ke atas, segera menggendong Moscha dan memindahkannya ke tempat tidurnya yang penuh dengan motif Samurai X. “boru, maaf ya Bapak, nggak bisa temani kamu disetiap tidurmu inang, sabar ya inang, Bapak Cuma berdoa kiranya Allah selalu menyertaimu ya boru, maafin bapak ya sayang”, sambil mencium kening Moscha, tiba-tiba Ibu masuk, “Pah, apa di negara lain nggak ada ya terapi buat Moscha, takut mama pah, takut dia pas lewat sepi tidur, pas keadaan begitu ada orang jahat, Tuhan tolong sertai anakku Tuhan” sambil menangis dan mencium Moscha. “ayo keluar, biar kita bicara diluar saja”, sambil keluar, mematikan lampu, menutup kamar Moscha dan membiarkan posisi bukunya seperti terakhir ditinggalnya.
__ADS_1
Sementara itu di Cafe rekan-rekan Moscha, Ciput, Martheen, Nanang, Meiyanto, Jono dan Nala berkumpul dengan formasi meja tambahan karena caffe tersebut adalah milik keluarga Jono yang sering dipukul kepalanya oleh Moscha, sepertinya mereka sedang membahas kegiatan yang akan dilaksanakan mengenai lomba ISTO dan Saitechi Competition, juga debat ilmiah yang akan diikuti kelas Science. Nala meletakan buku biru muda milik Moscha yang dia berikan kepada Nala untuk disampaikan kepada rekan-rekannya, “Neh titipan bebeb, gila bahkan dia sudah menuliskan nama-nama siapa saja yang sdh dia mata-matai dan teryata dia sudah wawancara, loe bayangin tuh ya, gimana tuh rasanya diwawancara beo MIPA XI, gila ya, ada yang bisa lawan dia nggak pas diwawancara?”, sambil membayangkan wajah Moscha saat mewawancara anak-anak MIPA yang dipilihnya, karen Moscha adalah ketua tim eksekutif Science club di SMU itu. Ciput tersenyum sambil berkata, “loe tahu nggak tuh anak seluruh kelas, dia punya daftar track record nilai tuh anak-anak, bayangin deh tuh ya, si gilakan perfeksionis banget, untuk dia ada penyakitnya kalo kaga bakal habis tuh satu sekolahan, gw yang dampingin dia aja stress nyuk”, membayangkan kejadian saat Moscha mewawancara tim science, bagaimana Moscha tertidur 15 menit merupakan anugerah bagi para peserta. Nala tersenyum tenang dan tertawa dalam hati mendengar kelakuan Moscha, sementara Martheen berwajah seolah tanpa ekspresi sama sekali. Jono yang otaknya bocor dipukuli Moscha karena terus menyatakan cintanya angkat bicara, “gw neh ya, kalo dia tidur ada rasa pengen cium bibirnya, peluk dia dan belai rambutnya, pengen banget,” tiba-tiba Nala dan Martheen berdiri bersama-sama bilang, “awas loe”, sambil menggebrak meja. Jonopun tertawa dan berkata,”bercanda ah, lagi juga gw pasti tanggung jawab kok, tenang aja ya”. Meiyantopun bilang, “elo bertiga jangan sampai Moscha merasa nggak nyaman dengan perasaan elo-elo pada ya, tuh anak kalo sdh mulai nggak nyaman dia bakal pergi dan pindah sekolah, kalo itu terjadi gw bakal ikutin kemanapun dia pergi, paham loe” sambil minum juice alpukatnya dan menikmati sushi di mejanya. Nalapun terdiam, “sudah neh menurut elo gimana?apa neh anak-anak semuanya sudah solid?”tanyanya kepada Martheen, selain tampan Martheen juga pintar dalam pelajaran Kimia, “kalo gw pernah lihat dia ikut kegiatan orangnya bagus, sebaiknya kita tanya Moscha, teknik dia nyaring 8 orang dengan nilai yang sama dalam tiap bidang gimana?coba gw telpon”, langsung mengambil hpnya yang merupakan jenis hp limited edisi, “percuma, pas gw telpon tadi, dia lagi kerjakan penjabaran analisa dia tentang beberapa jenis tumbuhan yang memiliki manfaat terhadap penyakit tumor, pas ngomong antar martabak spesial jumbo dia taruh badannya di meja eh kaga jawab-jawab gw panggil, pasti tidur dia tuh, makanya gw telpon keluarganya, tuh anak mah error”, sambil geleng-geleng kepala. Martheen “besok, ketua OSIS balik, kita wajib laporan mengenai hal ini, sebaiknya kita pakai analisa Mos untuk maju ke ISTO dan Saitechi Competition, mengenai pembinaan Mos ada singgung nggak?” Mei menjawab, “ada seperti biasa alumni-alumni dilibatkan terutama mereka yang pernah memegang predikat juara pada setiap kompetisi”. Jono, “kita lihat wajib baca, apa yang Mos tulis neh, supaya pas rapat dengan OSIS, dan seluruh dewan guru terkait kita bisa depend sama strategi Moscha, memaparkan bagaimana kita bisa tembus dan ngerampok seluruh piala dengan strategi tim kita, kemudian satu lagi, besok rapat jam 14.00 Wib, jadi perlu buat Moscha mempelajari tambahan-tambahan dari kita, terutama terkait dengan materi-materi dengan bentuk baru, kisi-kisi baru, teknik, penemuan-penemuan baru dan metode-metode gabungan yang menghasilkan suatu Teknik baru yang menghasilkan inovasi baru”, Nala memikirkan hal lain terkait dengan tim pengajar, “eh elo tahu nggak kalo kk nya ernest itu juara 1 mewakili Indonesia diajang kompetisi Science Internasional dengan menemukan netralisir unsur hara lahan gambut, dia juga orang yang jago matematika, juara 1 OSN dan juara satu ISTO, sekarang gw dengar-denger sih, dia dapat masuk universitas ternama di Indonesia, beasiswa penuh, nah gw dengar dia bakal berkunjung besok pagi ke sekolah, mungkin sama Ernest kali ya, tapi gw denger abangnya dingin dan tengil, nggak bisa diajak kerja sama, apalagi sama perempuan, tapi semoga aja dia nggak alergi sama si Mos ya, dia kan sepertiga tubuh, jiwanya terkurung dalam pekatnya laki-laki wkwkwkkwkw, kalo dia nggak pintar, nggak mungkin kepsek kasih dia izin pakai seragam laki-laki ke sekolah,”, sambil tertawa nyaring dan membayangkan kakaknya Ernest dismack down Mos. Ciput menjawab kesal, “iya benar, gw protes tuh sama kepsek, eh kata kepsek, kalahin Moscha dulu baru boleh ikutin Moscha, habis gitu si Moscha, ngegodain gw, sambil ketawa-ketawa, kan kampret ya, untung temen gw dari kecil, kalo kaga sudah gw jitak tuh orang,”sambil memakan mienya dengan lahap, tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak. Dan melanjutkan pembicaraan secara serius.
__ADS_1
Sementara itu disalah satu rumah yang mewah dan asri, dengan suasana Modern dan hangat, terdengar ketukan pintu seolah sedang membangunkan pintu kamar seseorang, “mas Tim ... mas Tim ... mas... bangun mas, sudah jam 18.00 WIB mas, Mas Ernest pulang jam 19.00 WIB,” sambil mngetok pintu, secara berlahan, “iya bi Darsi, mandi dulu ya bi,”menjawab dengan lembut dan santun. Bi Darsi adalah sosok ART yang dari ikut keluarga ini sejak mereka belum lahir. Jadi Bi Darsi seperti anggota keluarga yang selalu ada di setiap waktu kehidupan mereka, menemani mereka dalam susah dan senang mereka. Sambil menyiapkan makan malam ibu berbicara,”ayah, ayo makan, mbok apa Timothy sudah bangun?”dengan lembut, “sudah bu, lagi mandi, mungkin sebentar lagi bu,” sambil ke dapur dengan sedikit membungkuk, “bi, ini jadwal makan, sudah saja kerjanya kan ada mbak Atun, bibi makan dulu nanti sakit, makan buah ya bi, adakan masih di kulkas?” Bibi menjawab dengan pelan, “njeh bu” berlalu ke dapur. Ayah adalah sosok yang begitu hangat dan karismatik bahkan sangat lembut sekali. Dia mencintai istrinya dengan sepenuh hati, “ma, aku rasa aku bahagia memiliki kamu di dunia ini, begitu baik, setia dan mendidik anak-anak dengan begitu baik, saya terberkati,” sambil mencium kepala mama dan duduk di meja yang telah disediakan. “Imo ... Imo ... Imo ... sambil berteriak dari lantai bawah dengan nyaring memanggil Timothy dengan panggilan sayang yang sangat rahasia, dan hanya diketahui oleh keluarga saja, tapi perlu diketahui Tim akan marah jika dipanggil dengan panggilan tersebut. Sambil berlari dari atas Tim segera menghampiri mamanya dan berkata, “ma, sdh deh ya jangan manggil kaya gitu ah, akakun bukan anak kecil lagi ma, lagi juga, sudah tahu, anak kesayangan mama pulang hari ini makanya mau dijemput neh, raden Ernestnya,” sambil tertawa ayah bicara dengan tidak lupa menyuapi nasi ke mulutnya, “kalau sampai ada anak gadis yang dengar kamu dipanggil Imo hilang karismamu nak” tertawa nyaring,”
__ADS_1
“hati-hati jangan ngebut, pelan-pelan aja bandaranya nggak pindah juga”, jawab ayah, “hati-hati ya, telpon kalo sudah sampai bandara”, mama bicara sambil berdiri mencium Tim. Tim langsung bergegas dan mengeluarkan mobil dari bagasi, tiba-tiba dia kembali lagi dan berteriak dari ruang tamu dengan nyaring, “mbok Darsih sayang aku berangkat ya”, tanpa menunggu jawaban dia bergegas keluar dan mengendari mobilnya. Bi Dasrsih berlari dari belakang melewati ruang makan mengejar Timothy. “bi, Timnya sudah berangkat, nggak usah lari-lari nanti bibi jatuh,” dengan lembut ibu menghampiri bi Darsih, “mas Tim, panggil saya bu, kutakut ada apa-apa,” jawab bi Darsih dengan berlahan. “iya Tim izin dengan bibi, diakan dari bayi sudah dipelukan bibi, terima kasih ya bi.” Ayah berbicara dengan lembut kepada bi Darsih.
__ADS_1
Sementara dalam perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta, Timothy mendapat telpon dari Theo dan Ariel teman kuliahnya yang ternyata alumni dari SMU Internasional School tempat adiknya, Ernest bersekolah, Tim menggunakan handsfreenya sambil mengendarai mobilnya dengan perlahan, “Ya ada apa?gw dijalan jemput ade gw, ngomong yang penting aja, soalnya takut tabrakan, ntar gw nggak sempat nikah bingung malaikat!!!”sambil tertawa. Theo bicara sambil tertawa, “bro, elo masuk Tim pendampingan pembinaan ISTO dan Saitechi Competitionkan di SMU Internasional School tempat adek loe sekolah, surat permohonan mereka sudah lama masuk dan sudah di acc dosen bro.”
__ADS_1