
Tiba-tiba setelah satu jam tertidur Moscha bangun dan kaget,”ih gila ya gw tidur ditungguin kaya orang melahirkan, keluar loe semua, bukaan 6 neh, semprul loe semua, keluar ah,reseh, mama kenapa nangis coba, keluar ah, panas neh, keluar ga, eh tedy bear sini loe,” Andi yang tampan dengan tubuh semoknya mendekati Moscha, dan tiba-tiba Moscha membisiki telinganya dan bilang, “gendong dong, kaya dulu di SD,” sambil tertawa, dan memeluk Andi dengan begitu eratnya seperti seorang adik, hal ini membuat Tim terkejut, dan melihat seluruh rekan-rekannya mengepalkan tangannya, tiba-tiba Ernest berdiri dan berkata, “sudahkan dramanya gw mau lhat hasil rapat yang nggak jelas tadi,”sambil berjalan melempar kompresan ke mangkok kompress, tiba-tiba Moscha memegang tangan Ernest dan bilang, “makasih Nest, makasih ya, sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Ernest, Tim melihatnya dan tiba-tiba jantungnya berdetak keras. Akhirnya seluruh rekan Moscha keluar, karena Tim mengusulkan agar Moscha beristirahat, “eh mas mahasiswa, ini aku istirahat kenapa ya?kalo demamkan ga perlu gini-gini banget,”sambil merapikan pakaiannya dan bergegas berjalan ke kelas, namun tiba-tiba dia sempoyongan, Irul dan mama menangkap badannya, dengan dingin Tim menangkap Moscha dan membaringkannya ke tempat tidur, “besok kamu istirahat, sepertinya ini dampak dari keletihan yang kamu lakukan secara berlebihan,”sambil membuka kancing baju Moscha dan kembali mengukur suhu tubuhnya, Moscha dengan sigap memegang tangan Tim dengan keahlian karatenya, Tim melumpuhkan Moscha dengan gerakan silatnya, “kamu, bukan sedang komite, kamu sedang sakit, aku yang buka kancingnya atau aku yang buka?”, sambil berdiri, menatap tanpa ekspresi dan berdiri tenang, Irul dan mama memandang Moscha dan Irul berkata, “mbak, aku yang buka, mas Tim kan mau periksa aja mbak,” sambil mendekati Mos, mamapun berkata, “kan ada mama,”. Tiba- tiba Tim berkata, “sebaiknya Mos, ditinggal sendiri, supaya nggak banyak gaya dan manja,”sambil berdiri dan berwajah dingin, mama dengan Irul menunggu dimuka pintu, sementara Mos dengan alis naik ke atas berdiri dan bilang, “kamu Cuma koas yang belum jadi dokter, jadi ga usah melewati aturan, lagi juga ya, kamu belum mengangkat sumpah seorang dokter, jangan-jangan ga hafal, jadi bagus aku naik taksi kedokter yang sesungguhnya,” sambil memegang kepalanya dan sempoyongan berjalan namun terhenti karena tiba-tiba dia merasa sekelilingnya berputar, Tim menahan tubuh Mos dengan dingin dan berkata, “yang bilang gw sudah dokter siapa?yang mau kasih elo resep siapa?elo terlalu sombong, sekarang diam, jangan sok pintar” sambil membisikan kata-kata tersebut ditelinga Moscha dan membaringkannya, Tim sadar kemudian dia menghubungi prof. Tobing di RS Keluarga, “dokter, sepertinya ada hamster tengil dengan tekanan darah rendah yang sempoyangan, sepertinya saya akan membawanya ke sana, apa {rof ada ditempat?” dengan dingin menatap Mos, kemudian mengatakan pada Irul dan mamanya untuk merapikan tas Moscha dan ikut bersama dengan Tim ke RS Keluarga. Namun mama merasa enggan dan berkata, “tante tunggu di rumah aja ya nak, supaya kamu lebih leluasa” sambil memegang tangan Tim dan Irulpun pergi ke kantor bersama dengan mama untuk izin pulang lebih cepat. Tim mengendong Mos, yang setengah sadar menyadari ada laki-laki dengan muka tembok yang menggendong dia, Tim memasukannya ke mobil dan menidurkannya di kursi belakang, sambil berkata, “eh hamster, gw ga kenal elo ya jadi jangan berpikir macam-macam,” ketika hendak melepaskan tangan kanannya dari tubuh Mos, tiba-tib Mos menarik leher Tim tepat di depan wajahnya hingga hidung mereka saling bertemu dan berkata berlahan dengan mata tertutup seolah antara sadar dan tidak sadar, “eh kera albino, emang siapa yang mau kenal elo, ngelihat elo aja gw ga nafsu,”tiba-tiba dia tertidur. Tim merasakan detak jantungnya dengan sangat cepat. Karena saat itu bibir Tim tepat dengan bibir Mos. Dengan segera Tim melajukan mobil rubiconnya ke RS. Keluarga tempat Prof. Tobing mengabdikan dirinya.
__ADS_1
Sementara Irul mengambil tas Mos, tiba-tiba hampir seisi kelas ikut beranjak dan membawa tas mereka, akibat Irul mengatakan kepada guru bahasa Indonesia Ibu Nurbaini bahwa Mos masuk rumah sakit dan dia diminta menemani Moscha bersama ibunya ke rumah Mos, mendengar hal tersebut, Meiyanto, Nala, Martin, Nanang, Ciput dan Jono bahkan genk Debby berdiri, kemudian Ibu Nurbaini berkata, “jika kepala sekolah mengizinkan maka saya akan memberikan izin kepada kelas ini pulang di jam saya, tapi ikuti 1 jam pertama pelajaran ini, dan saya akan mendukung kalian, setuju?” tiba-tiba mereka terduduk dengan tertib namun Ibu Nurbaini mengizinkan Irul untuk mengambil tas Mos dan pulang. Meskipun mereka duduk namun mereka menunggu bel pertama pelajaran bahasa Indonesia berakhir.
__ADS_1
Bonnie mengantar Irul ke kamar Mos, disana dia meletakan tas dan pakaiannya ditempat yang telah disediakan oleh Mos, dengan rapi dan tepat diberanda dengan pintu kaca yang besar menghadap arah matahari, Irul berpikir,”oalah mbak Mos, sampeyan galak tapi kog kamarnya apik tenan, rapi dan teratur, lah aku opo mbak?” tiba-tiba Bonnie berkata, “kak, aku turun ya, kakak istirahat aja dulu, kasihan kalo kk mau mandi, kak Moscha ada siapin handuk untuk teman-temannya, punya kak Scarlet masih lengkap kak,” sambil menunjukan lemari-lemari yang dimaksud oleh Bonnie. Irul merasa segan dan berkata, “dek, apa boleh ya aku telpon si mbokku karo bapakku, mau kasih kabar aku ditempat mbak Moscha, aku kuatir mereka cari-cari aku dan lapor polisi dek,” sambil tersipu malu dan menggoyang-goyangkan badannya. Bonnie dengan menjawab dan tersenyum, “ayo kak kuantar,” Mereka turun ke bawah dan melihat mama tertidur dikursi ruang tamu, Bonnie berjalan mengendap diikuti Irul, setelah Irul selesai menelpon kedua ornag tuanya dan menjelaskan dengan lembut Irul bicara, “dek, dapurnya dimana ya?”. Bonnie membertahukan bahwa dapurna ada dibelakang, namun Bonnie juga berkata bahwa di rmah ini tidak ada asisten rumah tangga. Dengan santai Irul menjawab, “lha asisten rumah tangga mahal dek, bagus dikerjakan sendiri uangnya bisa untuk kita,”. Irul berjalan ke dapur, ke kamar Moscha, mengambil selimut dan menyelimuti mamanya Moscha, Bonnie terkejut dan merasa yang diperbuat Irul sama dengan kakaknya Moscha. Irul ke dapur dan membuka kulkas disana banyak sekali ikan, sayur, buah, dapurnya besar, Irul masak bubur ayam untuk Moscha, menggoreng bawang dan mensuir daging ayam yang sudah direbusnya, sepertinya Irul sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Setelah selesai memasak bubur ayam, Irul memasak ikan goreng dan tumis sayur untuk keluarga ini makan, karena Irul tahu keluarga Moscha batak maka Iruk membuat sambal terasi yang pedas. Kemudian memasukannya ke lemari makan, mencuci buah, memanaskan air. Setelah itu Irul membersihkan dapur seolah tidak pernah ada orang yang masak.
__ADS_1