Princess Narkolepsi

Princess Narkolepsi
aku ingin tahu


__ADS_3

Kevin kembali bekerja meninggalkan Moscha, mereka setiap kali saling menghubungi satu sama lain, mama Moscha setiap 3 bulan sekali dirawat di rumah sakit kadang 3 bulan sekali, bapak sibuk fokus merawat mama, setiap pulang kantor pasti kembali ke rumah sakit, pagi berangkat dari rumah sakit, Moscha, Bonnie, Corry dan mbok Sumi, selalu menjaga mama, mbok Sumi selalu menyiapkan apa yang diperlukan keluarga ini dengan sangat rapi, mama merasa sangat dikasihi oleh keluarganya. Kali ini mama dirawat, Bonnie, Corry, bapak sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, mereka video call dari lokasi masing-masing dan berjanji akan cepat berada di sana, Moscha yang ada di lab dari subuh hari itu, bergantian dengan Mbok Sumi, “nak, mbok pulang, kamu mau makan apa?” Moscha memegang tangan mbok, “mbok pulang saja, istirahat, kami akan cari makan disini,” dengan tersenyum menyembunyikan keletihannya, “iya mbok, terima kasih sudah mau merawat kami, terima kasih, tidak jijik merawat saya,” sambil memegang tangan Mbok Sumi, Mbok Sumi merasa sedih dengan ucapan mama, “nggak apa bu, saya ikhlas,” Moscha mengeluarkan uang dari tasnya, namun mbok Sumi menjawab, “nggak usah mbak Mos, bang Kevin dan orang tuanya sudah transfer ke saya untuk gaji, transport dan uang belanja bulanan keluarga ini,” Moscha dan mama terdiam malu, mbok Moscha mencium pipi Moscha dan kening ibu dan pergi pulang, di tengah jalan mbok menerima telpon dari Kevin dan memintanya belanja menghabiskan seluruh uang bulanan untuk keperluan rumah tersebut, dari mulai gula dan seluruh isi kulkas mereka yang berada 3 buah. Sementara di dalam ruangan, “Mos, di depan ada salon, kita ke salon yuk, mama bosan, mama mau merasakan uangmu, Moscha dengan cepat memencet bel dan meminta kursi dorong untuk mamanya, suster mengantarnya dan berkata, “ibu Kemuning biar saya antar ke salonnya,” namun Moscha tidak mau dan melarang suster tersebut memberi tahu pihak salon siapa mereka. Sampai di salon, mama dan Moscha melakukan perawatan rambut, mama meminta Moscha, masker wajahnya, rambutnya dan melakukan lulur, sementara mama dengan senang menatap anaknya yang hampir lupa merawat tubuhnya, mama juga tersenyum karena Moscha meminta salon memijat mamanya juga, mereka menikmatinya dan ternyata mereka menyadari mereka berada di salon 2,5 jam. Moscha yang menggunakan long dress, berambut panjang, berkulit putih membuat pihak salon mengaguminya. Sesampai di kamar Moscha terkejut melihat dosennya berada di muka kamar dengan parcel buah dan bunga mawar berwarna biru muda kesukaan mamanya, dari jauh mama bertanya, “waduh siapa lagi tuh nak?” Moscha dengan menundukan wajahnya berkata, “dosenku ma, akukan asisten dosennya, kenapa ya ma, padahal tugasku sudah beres,” mama menoleh, “mungkin mau lihat mama kali nak, kalo anaknya secantik kamu, pasti mamanya lebih cantik, untung mama habis dari salon,” Toni mencium tangan mama dan memeluknya, “saya Toni dosen Moscha sambil melepaskan tangan Moscha dari kursi roda mama, Moscha bingung, laki-laki berkulit sawo matang tersebut seolah sudah kenal lama dengan mama, Moscha menarik bibir kananya ke atas dan mengangkat kirinya ke atas, “ada perlu apa pak?” dengan santai Toni menjawab, “mau besuk ibu dari asisten saya, nggak usah ge er saya rasa silaturahmi itu perlu dijalin,” seolah masa bodo, mama mengajungkan dua jempolnya ke Toni, dekat kasur Toni mengangkat mama Moscha ke tempat tidurnya. Mama tertawa, “Mos kami memang galak pak,” namun Toni dengan wajah serius berkata, “tapi gara-gara dia banyak mahasiswa saya sekarang tertarik mata kuliah saya terutama yang pria, itu kenapa ya bu?kog bisa mereka tertarik apalagi kalo saya ndak masuk dan digantikan Moscha?” mama tersenyum dan berkata, “mungkin karena bapak terlalu kaku, coba bapak lebih santai, sesekali modis, mama menunjukan pakaian-pakaian milik Kevin kepadanya, “nah seperti ini pasti deh bapak akan digandrungi para wanita,” Moscha yang kesal dengan dosen tersebut, namun karena tuntutan rektor dan proyek-proyek Toni dengan perusahaan – perusahaan ternama memaksanya mengikuti Toni seperti terpancing dollar berkata, “benar pak, saya yakin kuntilanak dan kerabatnya pasti nempel juga sama bapak, “ sambil menutup wajahnya dengan bantal dekat sofa, mama melempar buah apel kepada Moscha sambil berkata, “sopan dikit”. Toni dengan cepat menelpon seseorang dan mengirim foto-foto tersebut agar dibelikan olehnya, Moscha bingung karena dia yakin baju-baju Kevin sangat mahal, namun dia tersenyum, Toni bergegas pergi dan mencium mama dan memeluknya, “tante, aku pulang, besok jika ada waktu ke sini lagi,” Moscha tersenyum, “ mengantar pak Toni ke depan, Toni mengangkat kaca matanya sambil menatap Moscha dengan tajam, “kamu biasa ngeledek orang ya?” Moscha mundur dan berkata, “apaan seh pak?maaf kali  kalo salah, biasa aja pak,”  tiba-tiba pak Toni memukul kepala Moscha dan menyentil jidatnya, Moscha kesakitan dan berkata, “sakit tahu,” sambil berlalu pak Toni berjalan memasukan tangannya ke kantong dan berjalan menunduk, Moscha heran kenapa tiba-tiba dia kesini, mama dan Moscha tertawa, tiba-tiba bapak menelpon, “ma, mau makan apa?bapak mau beli kwetiaw Asen neh, mama mau apa?” Moscha berteriak “aku bakmi full seafood pak, Bonnie dan Corry juga biasa yang pedas ya pak”, mama tersenyum, “aku minta bubur ayam saja pak,” Moscha menelpon Mbok Sumi dan berkata, “mbok kalau ke sini bawa baju ganti kami ya, ndak usah  bawa makan, mbok sudah makan?” Mboknya berkata, “siap nak, mbok segera ke sana, sekalian ambil baju kotor ibu, bapak dan mbak ya, mas Bonnie dan mbak Corry baru sampai mbak, ini lagi makan, mau berangkat, mbak Mos mau jus alpukat ndak?” dengan cepat Moscha menjawab, “mau mbok, taruh dibotolku yang besar ya mbok yang tahan dingin,” si mbok seolah bahagia, “siap mbak,” Corry dan Bonnie segera berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil mamanya, sampai dirumah sakit, mereka tertawa, menunggu ayah, ketika sampai mereka makan bersama-sama, mbok Sumi seperti keluarga bagi mereka, setelah beberapa lama, “mbok pulang sama aku ya, aku mau ambil buku-bukuku, esok mahasiswa UTS,” mama terkejut, “malam nak, esok pagi aja kamu kesini mama takut kamu kenapa kenapa,” Moscha dengan tenang berkata, “nggak apa ma, aku pasti balik,” mereka dengan cepat ke motor Moscha, Moscha mengganti longdressnya dengan celana setumit, dalam perjalanan Moscha melihat sebuah mobil dikelilingi 4 motor laki-laki, di jalan sepi, Moscha melihat dari kejauhan, mbok Sumi langsung menelpon pihak polisi setempat, Moscha mengacungkan jempolnya kepada mbok Sumi, mbok Sumi terkejut melihat Moscha mengeluarkan gespernya yang tajam dari dalam tasnya, mbok disini aja, polisi bilang apa?”sambil Moscha mengikat rambutnya dan tetap menggunakan helmnya, “10 menit mbak,” ternyata mbok Sumi juga mengikat rambutnya dan melipat lengan bajunya, “mbok mau ngapain?” Moscha maju dan berteriak, “ngapain kalian?” Moscha manggulung gesper tajamnya di tangan kanan dan kirinya, lelaki tersebut berkata, “weh ada perempuan, belagu banget neh, kita berenam dia sendiri, sama mbok-mbok jamu lagi,” mereka melihat motor Moscha dan berkata, “habis kita hajr, kita bawa motornya,” Moscha dengan tertawa mengatakan, “eh tikus got, nyentuh gw aja loe nggak bisa apalagi motor gw, jangan-jangan elo kencing celana nggak bisa bedain mana gas mana kopling,” Moscha dengan tenang menghajar satu persatu pria tersebut, mbok Sumi yang melihat Moscha menerima pukulan 1-3 kali langsung turun tangan, rupanya mbok Sumi menguasai ilmu silat, mereka menghajar 6 pria tersebut dengan membabi buta, ternyata seorang wanita keluar dari mobil dan memeluk Moscha dengan erat, “Rischa,” kata Moscha dengan terkejut, Rischa terkejut dan berkata, “kamu kenal aku?” Moscha membuka helmnya dan berkata “aku Moscha kak, “ Rischa memeluk Moscha dan berterima kasih, ban mobil Rischa disobek dengan pisau tajam oleh para perampok, Moscha dan mbok mengikat kaki 6 orang tersebut dengan rantai milik Rischa, polisi yang datang, membantu Richa menghubungi mobil derek, tiba-tiba Moscha menahan sakit pada paha kirinya akibat tersayat pisau perampok tadi, Rischa terkejut melihat darah Moscha, mbok Sumi dan polisi segera membawa Moscha ke rumah sakit, karena darah terus keluar, rupanya Moscha terlalu takut dengan darah yang keluar dari tubuhnya ketika sadar ada darah yang mengalir dia terkejut dan pingsan. Rischa memeluknya dan berkata, “pak polisi, kita ke internasional hospital,” Moscha yang pingsan sesekali memanggil Kevin ... Kevin ... Kevin... Rischa menelpon Kevin namun tidak diangkat, mbok Sumi menelpon Kevin, “mas, mbak Moscha,” sambil memperlihatkan tubuh Moscha dipangkuan Rischa, Kevin dengan cepat berkata, “brengsek kamu Rischa,” dia mematikan hp nya dan pergi ke bandara menelpon mama dan papanya, yang sudah ada di RS menjaga mama Moscha, mama Moscha dan mama GM terkejut, seluruh dalam ruangan termaksud Corry dan Bonnie langsung menunggu di IGD, saat Moscha dan mbok Sumi masuk IGD bersama Rischa, Corry menarik tangannya, “awas kamu kalo kakak kami kenapa-kenapa,” Rischa menangis seolah berkata, “terserah,” mbok Sumi menarik tangan Bonnie dan Corry menceritakan kisah yang sebenarnya, pihak polisipun menanyai mbok Sumi dan Rischa, Bonnie segera mendatangi mama dan nantulangnya, menceritakan keadaan yang sebenarnya, polisi segera membuat laporan, wartawan memoto Rischa, Moscha dan mbok Sumi, Moscha disebut “wanita pemberani,” oleh para wartawan, rupanya Rischa adalah wanita dengan pencapaian karier terhebat di bidang akuntansi perpajakan yang namanya terkenal, bapak dan papa melihat Moscha sadar dan berkata, “jagoan kami takut darah,” sambi tertawa, Moscha menutup wajahnya dengan bantal, Rischa masuk kekamar Moscha dan berkata, “terima kasih ya Mos, aku nggak tahu apa ang terjadi kalau nggak ada kamu, “ sambil menangis, “om aku minta maaf, aku minta maaf”, papa GM hanya berkata, “Rischa kamu baik, cantik, pasti semua laki-laki suka sama kamu, tapi belajarlah untuk rendah hati nak, dan perlu belajar empati, agar cantikmu sempurna,” Moscha hanya melihat pahanya dan berkata, “kalau tanganku yang luka kuhajar perampok itu,” Rischa meminta perawat memindahkan Moscha ke ruangan VIP, papa GM berkata, “biar disebelah ruang mamanya saja,” rupanya Rischa terkejut, “ mama Moscha dirawat disini juga ruang apa om?” bapak dan papa Moscha membritahu nama ruangannya dan Rischa dengan cepat menuju ruangan tersebut, Rischa mencium mama Moscha dan GM, mama Moscha berkata, “kamu nggak apa-apa nak?” Rischa terkejut dengan kebaikan mama Moscha, “baik tante maaf Moscha luka karena saya,” mama Moscha menarik tangan Rischa dan berkata, “nggak apa, Moscha itu biar darah setetes aja kalo keluar dari tubuhnya dia bisa nangis ketakutan, apalagi kalo banyak, dia bisa pingsan,” mama mengambil tissue dan meminta Rischa menghapus air matanya, Rischa menatap mata mama Moscha yang begitu baik, mama GM menyipitkan matanya dan berkata, “kamu Rischa, lihat, orang yang hatinya kamu sakiti baiknya seperti apa, tante tuh ya, percaya kamu kalau belajar sedikit aja untuk tidak angkuh dan sombong, tante percaya kamu dapat lelaki yang lebih mengasihi kamu dibanding Kevin,” Rischa memohon maaf atas perbuatannya, mama Moscha berkata, “sudah kak, aku yakin dia baik,”.


__ADS_2