
Tim segera bertanya, “Bonnie dan Corry mana om, tante?” mama menjawab “di atas, di kamar Moscha, kamu duduk dulu, mama buat teh hijau yang kamu suka juga ya mas Tim,” sambil berjalan tapi tiba-tiba Tim berlari ingin naik ke kamar Moscha, GM langsung, berkata dengan agak sedikit nyaring, “hey, kamu pikir kamu siapa?naik ke kamar anak perempuan, jaga batasanmu, kamu bukan pacar, suami atau tunangannya bukan?jadi duduk disini,” sambil berdiri dan memasukan tangannya ke saku celananya.
Tim melangkah mendekati Pak GM, dengan cepat dengan jarak hanya 1 meter dan berkata, “maaf pak, bapak mau ikut?kalo bapak mau tanya apa hubungan saya dengan Moscha, saya mau bilang saya akan jadikan dia istri dan ibu dari anak-anak saya,” sambil berjalan ke atas, tapi bapak segera menghentikan Tim, “jangan nak, duduk sini sebelah bapak” sambil memegang tangan Tim, rupanya GM sudah melihat bapak dengan tatapan matanya yang tajam, bapak yang tahu maksud GM menghentikan Tim dengan cara yang halus, mama dengan teh hijaunya mempersilahkan Tim minum karena jarak antara ruang tamu dan dapur jauh mama tidak mendengar apa yang terjadi, “minum Tim, kenapa Mos, nggak sama kamu ya nak?” Tim menghadap ke mama dan menatap mama dengan berkata, “tante tadi aku suruh dia tungu sementara aku masuk ruang operasi dengan Prof. Tobing, Mos bilang iya, tapi nggak tahu kenapa pas aku sudah selesai dia nggak ada ditempat, saya sudah cari dia kemana-mana tapi tidak ada, saya hubungi teman-temannya dan bertanya, tapi tidak ada juga, maaf om tante, saya tidak akan lalai lagi dan obat Mos, hari ini dia belum minumnya tante,” sambil bercerita dengan serius.
Dengan sinis GM menjawab, “tulang dan nantulang, aku ikuti apa yang mama dan tulang mau, pasti tulang dan natulang tahu apa yang sudah kulakukan untuk hal ini, tulang dan natulang, silakan bicara dengan mama dan papa,” sambil berdiri dan izin pamit dia berkata, “kamu, sebelum ingin menjadikan dia istri dan ibu dari anak-anakmu sebaiknya kamu berpikir, bagaimana menghargai adat seseorang!” dia segera pergi, dengan sigap bapak dan mama mengantar GM ke depan, Tim terkejut, ketika GM pergi, Tim bertanya kepada bapak dan mama, “sebenarnya siapa dia om?tan?apa hubungan dia dengan keluarga ini?sampai seberaninya dia dengan keluarga ini?” sambil berdiri dan mencium tangan bapak dan mama Moscha, “aku pulang om, tante, apa yang aku bicarakan tadi adalah hal yang bisa dipastikan serius dan benar om, dan aku akan buktikan seluruhnya, saya permisi om, esok saya jemput Moscha lebih tepat waktu,” sambil berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
Ditempat lain terdengar suara hempasan pintu yang begitu sangat kencang yang mengakibatkan seorang laki-laki dan wanita paruh baya turun dari atas dan berkata, “ada apa mbok?siapa ya?” sahut wanita ini sambil berteriak. Dengan segera para IRT rumah tersebut berlari dari dapur dan dari halaman belakang. Laki-laki paruh baya dengan kumisnya yang tebal, penuh karisma berkata, “ada apa ini?” Dengan cepat mereka melihat, “GM dengan badannya yang begitu ideal, kulitnya yang manis dan wajah brewoknya berkata sambil terduduk dengan gaya laki-lakinya sambil berkata, “perempuan apa sih ma, yang mama dan papa jodohkan buatku?perempuan yang ga punya etika, perempuan liar, perempuan yang badannya milik laki-laki yang disebutnya sebagai sahabat, aku sudah bilang, dia hanya orang biasa yang karena mama, aku harus menuruti dan meninggalkan perempuan cantik yang sempurna pilihanku hanya untuk perempuan liar yang kubilang milik bersama,” sambil berdiri, memegang kepalanya dan berjalan mondar-mandir di depan kedua orang tuanya.
Ternyata wanita dan perempuan paruh baya itu adalah orang tua dari GM, sang mamapun berkata, “maksud kamu Moscha?boru kesayangan mama yang selama ini belum mama dan papa temui lagi?kenapa?baru kali ini mama lihat kamu semarah ini?sambil mengusap bahu GM dan mengajaknya duduk tenang, papa GM yang merupakan keturunan ningrat dari Jawa, “kamu kenapa?apa kamu nggak bisa bicara baik-baik dengan Moscha?dia anak yang baik, pintar, papa dan mamamu ga akan memilih dia tanpa melihat bibit, bebet dan bobotnya,”
Papa segera mengingatkan GM, pada peristiwa ketika dia memecahkan meja dan tidak sengaja tongkat baseballnya terlempar ke arah lampu hias diatasnya, dia terpeleset, Moscha yang melihatnya segera berlari dan membiarkan punggungnya menahan Priyoga, Moscha melihat lampu akan jatuh mengenai wajah Pri, dia melempar Pri hingga tengkurap dan Moscha sekali lagi melindungi wajahnya dengan punggungnya dan jatuh pingsan, peristiwa ini terjadi saat Moscha masih berusia 8 tahun dan Priyoga berusia 14 tahun, Moscha merupakan atlet karate sejak berusia 6 tahun, sementara Priyoga adalah sosok laki-laki yang begitu lemah karena sakit paru-paru yang di deritanya, Priyoga adalah anak yang lemah hingga kedua orang tuanya memusatkan usaha dari Jepang untuk fokus pada kesembuhan Priyoga. Ketika Priyoga mengingat hal tersebut, dia hanya terdiam, dia baru sadar bahwa luka dipunggung belakang Moscha adalah tanda bahwa Moscha adalah orang yang pernah menyelamatkan dia dari maut, tapi entah mengapa rasa benci dihatinya mengalahkan kebaikan Moscha. “ma, pa, jika dua tahun Moscha tidak mencintai saya, itu artinya aku bebas, baik, saya akan membuat dia membenci saya, bahkan menjauhi saya,”. Mama hanya tertunduk, “sebenci itu ya kamu sama Moscha?”. Papa dengan santai berkata, “biasanya kalau benci itu awal dari sebuah cinta ma, papa kog ga pernah lihat Raden Priyoga Kesuma marah seperti hari ini ya ma?” GM pergi meninggalkan kedua orang tuanya membawa jasnya dan pergi ke kamar atas, tanpa berbicara sedikitpun.
__ADS_1
Papa berteriak, “Besok Moscha tanding lho di Yusenter, ikut ndak mas?seleksi babak nasional, dia itu pilih science atau karate ya mas?sambil tertawa. Pri berhenti sejenak, dia baru tahu kalau esok Mos, bakal ke Yusenter, Pri malu bertanya jam berapa kepada orang tuanya, melihat respon Pri, mama berkata, “wah ada yang kepo, masa gurunya nggak tahu muridnya seorang atlet wkwkwwkw?jangan dikasih tahu jamnya pa,” sambil menengok, mengintip GM dari kejauhan. GM bingung jam berapa Mos, esok seleksi babak nasonal, pantas ada beberapa kali Moscha izin masuk laboratoriun, dari kamarnya dia menelpon pak Kaharudin, dan mengetahui bahwa sekolah tidak memiliki perwakilan, dikarenakan kecelakaan, esok acara akan dimulai pukul 09. 00 WIB.
Keesokan harinya mama, papa bangun pagi sekali, mereka memesan bunga untuk Moscha, ternyata mama sudah membelikan Moscha banyak hadiah, “Mbok bantu saya bawa barang- barang, bi Inah, ayo cepat jangan sampai tertinggal, handuk untuk lap keringat, jusnya, air mineral ayo cepat,” papa yang begitu heran berkata, “ma, sayang sih sayang, tapi ya masa bawa macam-macam, memangnya bisa kamu lap keringat menantumu?oalah ma ... ma?”
Mama dengan santai bicara, “bisa pa, bisa, kamu tuh pa, coba urus RS milik Romo yang dikelola para asistenmu dan setahun ini dikelola Pri, apa maju atau mundur, ga usah urus aku dan menantuku,” sambil meminta para IRT memasukan semua yang dimintanya. Papa hanya diam dan tersenyum, GM yang melihat, berjalan melewati mereka dan berkata, “saya duluan, RS aman ma, jangan kuatir, ga bakal mundur, karena tanah di belakang sudah habis,”
__ADS_1