
Martheen mendekatinya dari belakang ketika Moscha menggeliatkan tubuhnya, “adek gw baru bangun, sakin pintarnya”, tiba - tiba tubuh dan wajah mereka saling berhadapan, namun untuk hal ini Moscha bahkan tidak merasakan apapun bahkan sengaja menyodorkan wajahnya ke dada Martheen, sementara Martheen terdiam, deg-degan pikirannya yang selalu bertahan untuk tetap menutupi perasaannya dari Moscha dengan dalil menganggapnya sebagai adik berusaha tetap tenang untuk tidak mendekap Moscha dengan erat dan mendorong wajah Moscha dengan dua jarinya. “Moscha, Martheen, jangan berlebihan, oscha, cuci muka habis itu ke kantor temuin ibu yang nak,” sambil merapikan meja guru. “ngapain bu?lho sayakan Cuma tidur bu?itu hak saya yang dilindungi oleh konstitusi bu, bahkan dunia gaib dan non gaibpun mendukungnya bu, masa tidur aja dilarang, salah sayakan dikit bu, benarnya banyak, Ibu (sambil berteriak) senang amat suruh saya ke kantor,” Sambil menutup mulut Moscha Martheen, “buset neh beo MIPA XI, rame amat ya, ayo makan dulu.” Di depan pintu rupanya Nanang sudah menunggu Moscha dan memperhatikan kelakuan Moscha sambil tersenyum tipis, dia tahu Moscha menyukainya dan ingat bagaimana Moscha yang dengan polos bilang satu-satunya anak laki-laki yang dia suka adalah Nanang, sambil berlari mengejar mikrolet (nanang membayangkan hal tersebut, dia menyesal tidak menjawab pernyataan Moscha yang dikatakannya tanpa ekspresi, Nanang berpikir Moscha hanya sedang ngelantur). Dengan menarik telapak tangan Moscha yang dirangkul oleh Martheen membuat Moscha terkejut dengan wajah memerah, “mau kemana?tarik main tarik aja, izin dulu aturan, gw makhluk hidup kali punya hati dan perasaan xixixixxxix ... tarik tarik aja emang gw truk gandeng ... (sambil membiarkan tubuhnya ditarik dan tertawa tawa menoleh ke belakang). Martheen, sini loe, Mei yani ikut kaga loe, Nanang mau traktir, eh Jono, ayo gabung yuk, Nanang mau bayarin dia lagi dapat togel kayanya wkwkkwkwkwkwkkw lepas ah, gw bisa jalan sendiri Nanang, awas ah, malu tahu kaya nyebrang jalan aja digandeng-gandeng”. Kali ini rupanya Nanang sudah bilang kepada sahabatnya yang lain untuk tidak mengikuti dia dan Moscha, Nanang sempat berdebat dengan Martheen untuk hal ini. Karena diantara 7 sahabat itu (Nanang, Moscha, Martheen, Ciput, Jono, Meiyanto, Scarlet, Nanang merupakan sosok yang paling berkarisma meskipun dia tidak lahir ditengah keluarga yang kaya raya seperti sahabatnya yang lain, ayah Nanang merupakan seorang pedagang buku dan majalah bekas di pasar Senen, mamanya berjualan gado-gado, setiap hari Nanang harus berangkat mengantar ibunya ke pasar subuh untuk belanja sayur, Ibu nanang merupakan ibu yang sangat lembut dan baik hati, tidak jarang rumah Nanang adalah tempat bagi rekan-rekannya berkumpul). “Makan apa Mos?aku yang pilih ya, biasanyakan pilihan kita sama” sambil menuju ke ibu sitompul pemilik warung. Tiba-tiba Moscha teringat Khoirul, seperti biasa Moscha yang tomboy tapi perduli, berlari dengan kencang menuju kelas, Nanang menoleh dan terkejut, lalu dia mengejar Moscha, melihat keadaan itu sahabat yang duduk terpisahpun bingung, “gila Moscha, emang tuh anak ya, apa hatinya ketutup daki kali ya, kaga tahu kali ya, perasaan orang buset dia mah, malas gw lihatnya, ga tahan gw mau kasih tahu aja rasanya.” kata Moscha sambil menggaruk kepalanya (ciput yang lebih tomboy dari Moscha, begitu kesal dengan sifat Moscha yang pintar tapi menurut dia batu). Meiyanto menimpal, “gw aja nembak dia berkali-kali ya, jemput pakai motor, mobil, pakai celana pendek, panjang, rambut hitam, merah, kuning, hijau, ungu, makan Pizza, bakso, kikil kaga diterima coy, malah dia pernah bilang mau selamanya sahabatan sama kita ber 7 selamanya sampai mati katanya, gila bocah tuh ya, malah pernah di mobil gw ngomong panjang lebar bakal bahagiain dia, ga bakal biarin dia kerja, biar dia dirumah aja, gw bakal kasih dia pembantu, gw ngomong macam-macam sudah tuh ya, e si gila itu kaya biasa tidur” saat itu juga satu kursi panjang ketawa dengar cerita Meiyanto sampai terpingkal-pingkal bahkan sampai makan keluar dari mulut mereka, pukul-pukulan kepalapun terjadi. Tiba-tiba mereka diam, saat Moscha datang sambil memegang tangan Khoirul sementara Nanang yang tinggi, manis melipat tangan berjalan di belakang mereka, mereka tahu bagaimana Moscha adalah sosok tomboy yang mampu membela temannya, oleh sebab itu satu kelas mengasihi Moscha, meskipun penyakit tiba-tiba suka tidur dadakan selalu menghinggapinya. “duduk loe,ngapain loe di kelas, emang loe nggak makan, di sekolah ini kita pulang sore, kalo elo nggak makan, loe nggak akan bisa mikir dan bakal sakit. Kenapa loe nggak ke kantin?ada yang ngancem elo?kasih tahu gw?”sambil menggenggam tangan dimeja seolah menghakimi Khoirul yang nggak tahu apa-apa. “mbak Mouse aku nggak ke kantin karena aku nggak punya uang jajan mbak?jajanannya mahal-mahal mbak, uangku Cuma sepuluh ribu, mbokku Cuma jualan pecel keliling mbak, bapakku ya Cuma tambal ban mbak, sama bengkel kecil, baru buka mbak.” Sambil tertunduk, berbicara dengan logat Jawanya. “Nanang jatah gw double ya, satu buat dia”, lalu Ibu Sitompul dengan kerudungnya mengantar sambil memukul Nanang, dengan logat bataknya dia bilang, “habis kau Nak, menteri sosial turun tangan, kalo aku berdoa bah, supaya boruku itu jadi menteri Perumahan supaya setiap lihat orang dipinggir jalan dapat rumah langsung, hahahhahahah.” Nanangpun membalas, “doain jadi istri saya aja inang”. Sambil berbisik ke telinga Inang Sitompul. “Makan duluan ya” kata Moscha, gw makan sama Nanang, bakmi udang, masih lama Nang?”. “sebentar lagi, sayang tunggu ya. Tiba-tiba Moscha menguap langsung dengan sigap Nanang mencubit tangannya. “sakit tahu, makan bakmi aja gw dicubit sampai biru, sadis amat sih”. “tuh bakmi kita sudah datang”.
Khoirul seolah sadar lirikan Ciput dari jauh yang menaikan alisnya dan menyuruhnya kebelakang. “Mbak Mouse saya ke belakang ya, nggak enak disini”, “terserah”, jawab Moscha. Jono, segera menyediakan tempat duduk bagi Khoirul, yang berbadan gempal dan polos itu. Jono menatap Moscha dan Nanang, dia tersenyum seolah ingin berkata, "semoga nyali loe gede bro, dan semoga si Moscha otaknya kaga anggap loe bercanda ya bro", sambil tertawa tipis. Nala yang melihat Jono tertawa segera melemparkan tissue kewajahnya dan berkata, "eh Jawa pasti loe lagi mikir ya, andai aja loe berani kaya Nanang," Jono pun dengan tenang bicara sambil mengaduk bakmi seafoodnya dan berkata, "ah, gw emoh saingan sama elo-elo pada ngerebutin orang yang jago bela diri, yang ada ntar gw pas jadi suami, dia yang kerja gw yang ngurus anak dan melahirkan." sontak kantinpun ramai mendengar Jono bicara, dan semejapun terpingkal pingkal sambil memukuli Jono