
GM, segera berlari ke kantornya, dia memanggil Ibu Angel yang merupakan senior di kantor itu dan kepercayaan keluarganya, “ibu, bantu saya ada yang harus saya lakukan, mohon ibu temani saya dan aktifkan kamera ibu,” GM memanggil Rischa masuk, Rischa adalah seorang sekertaris handal, dia mampu menguasai 5 bahasa asing, tentu saja ini menjadikan dia sekertaris yang diidamkan oleh perusahaan manapun, selain modal yang dibawanya dari lahir cantik dan seksi, Rischa masuk ke ruangan GM dengan anggun, rok pendeknya membuat semua laki-laki mati suri, namun tidak dengan GM, dia menatap Rischa, “ada apa mas, eh maaf pak, ada yang bisa saya bantu?” sambil berdiri seolah dia sedang berada di catwalk. GM melempar foto-foto itu di depan mejanya, foto yang dia cetak dengan ukuran 14R, “apa ini Rischa?” sambil berdiri dengan kedua tangan di atas mejanya dan kepalanya tertunduk, Rischa dengan wajah munafiknya menjawab, “foto pak,” GM menggebrak mejanya dan berkata, “kenapa kamu sepicik itu?dari mulai surat-suratku dan sekarang foto ini, kenapa?apa seperti itu harga diri yang kamu punya?’ “Rischa meneteskan air mata dan berkata, “jika kamu menilai saya seperti kotoran aku ga perduli, aku yang menjadi temanmu, selama kamu di Jepang, aku dengarin semua curhatanmu, aku ada disaat kamu susah, sakit, senang, aku dengar semua kisahmu tentang Moscha, lalu drrrrrrrrrrrrrrrrengan mudahnya kamu menganggap aku tidak ada,” Rischa menangis sambil menatap dan menunjuk wajah GM, “kenapa kamu beri aku harapan,”. Dengan kesal GM menjawab, “kamu gila, aku membenci Moscha karena perbuatanmu, kamu simpan semua surat, kamu tidak mengirimnya ke Moscha, bahkan karena bodohnya aku, aku percaya kamu tidak akan berbuat sehina itu,” Ibu Angel dengan muka datar menatap GM dan Rischa. Rischa hanya berkata, “aku lebih mencintai kamu dari pada Moscha, aku mas, aku,” sambil memegang dadanya dan berteriak dengan keras. “dan aku puas untuk semua ini, foto itu aku yang kirim, kemana saja Moscha selama ini?apa dia tahu kamu sejak pergi dari Indonesia?selama ini ciumanmu, tubuhmu, tanganmu, adalah milikku, kenapa sekarang seolah kamu tidak pernah ada bagiku mas? Dan aku sampai harus bekerja di tempaymu hanya untuk dekat denganmu, sementara Moscha bebas berpelukan dengan laki-laki manapun,” Rischa dengan sinis tersenyum, “aku puas mas, aku puas dan aku ga menyesal sedikitpun, nggak,” GM melihat kearah bu Angel, bu Angel hanya mengangguk seolah berkata, “sudah pak,” GM dengan cepat berkata, “Rischa hubungan ini ga baik, aku mencintai Moscha, dia obsesiku sejak aku masih remaja, jadi tolong jangan rusak hubunganku dengan dia,” Rischa meninggalkan kantornya dan berkata, “kamu nggak pikir apa yang kurasa, kamu nggak tahu apa yang kurasa saat aku membaca setiap kata dalam surat suratmu seolah berkata, dia adalah jiwa dalam hidupmu, bayangkan hancurnya perasaanku,” sambil berteriak dengan nyaring dan menangis. GM menunduk dan kesal, “kamu perempuan gila, obsesimu benar-benar liar, kamu dengan tega melakukan cara-cara licik untuk egomu, kamu tidak tahu, yang kamu lakukan merusak hidup banyak orang, kamu sakit, kamu gila!!!!”.
__ADS_1
Rischa seolah merasa puas dengan perbuatan yang dia telah lakukannya terhadap Moscha dan GM, “aku puas, iya aku yang telah menyebarkan fitnah terhadap kamu dan hubungan kita, aku yang telah menyebarkan foto-foto tersebut, aku yang telah mengirimnya untuk perempuan tanpa ekspresi itu,” Dengan tegas dia menunjuk wajah GM, “detik ini juga kamu saya pecat,” GM sambil menggebrak meja dan mengusir Rischa keluar, “kamu pikir aku kerja disini untuk uangmu?tidak, aku kerja disini untuk menghancurkan kamu dan impian gilamu!!!” dia segera keluar dan menutup pintu ruangan GM dengan sekuat tenaganya. GM dengan cepat mengutus sekertaris seniornya menemui Moscha, dan menunjukan video rekaman tersebut kepada Moscha. Moscha yang berubah pulang tanpa teman-temannya, tiba-tiba sebuah mobil limousine panjang berhenti tepat di depannya, saat itu teman-teman Moscha yang mengikuti Moscha dari jauh berhenti seperti biasa mereka adalah Ciput dan Jono, seorang wanita dengan rambut terikat rapi turun dari pintu depan, “selamat sore mbak Moscha, saya mohon mbak Moscha memberi saya waktu untuk icara sekitar 30 menit dalam mobil, dengan hormat saya memohon,” perempuan paruh baya ini membuat Moscha enggan menolak, karena sikapnya yang begitu santun. “saya tahu kamu siapa, 30 menit saya mulai dari sekarang,” dengan cepat sekertaris GM memutarkan video pada layar yang ada di mobil, setelah 22 menit Moscha berkata, “yang dikatakan perempuan itu benar, tapi perbuatannya yang tidak benar, saya tidak menyalahkan dia atas apa yang diperbuatnya, semuanya karena kebodohan bos Anda, saya memaafkan mereka utuk drama busuk yang mereka perankan, sekarang apa yang dia inginkan?” sambil menatap sekertaris senior GM, “Pak Kevin, ingin mbak Moscha memberi dia kesempatan,” Moscha menarik nafasnya dengan panjang sambil berkata, “kenapa bukan dia yang mengatakannya?” dengan muka dingin sekertaris GM ini menjawab, “saya akan sampaikan mbak,” Moscha melihat ke jam tangannya kemudian berkata, “sudah 30 menit, terima kasih,” sambil turun dari mobil dan sekertaris GM membungkuk sambil berkata, “terima kasih,”
__ADS_1
Sampai disana kenakalan mereka kembali seperti semula, Meiyanto dengan leluconnya menirukan gaya sosok perempuan, dia biasa mempraktekan bagiamana jika Moscha tampil dimalam pertama, Jono biasanya menyambutnya dengan seolah mempraktekan sebagai suami Moscha yang takut terhadap isterinya, kemudian Nala menimpali dengan berakting menirukan gaya Irul sebagai IRT Moscha yang begitu santun. Kelucuan-kelucuanpun terjadi, Tim yang tiba-tiba datang membuat mereka semakin tertawa terpingkal-pingkal karena Jono mengarahkan bibirnya ke arah Tim seolah berkata, “suami Moscha,” Tim yang tahu hal tersebut dengan cepat menjitak kepala Jono dan berkata, “kamu nanti yang begitu,” Tim duduk disamping Moscha, wajah Moscha tiba-tiba memerah, Nanang yang cemburu tertunduk dan melipat tangannya, Martheen memulai pembicaraan, “gw mau kasih tahu, gw akan lanjutin sekolah gw di Kanada, mungkin akan lama,” tiba-tiba keadaan menjadi sangat sendu, Jono dan Meiyanto yang merupakan sepupu juga mengatakan, “gw sama Jono akan studi di Italia untuk membuat inovasi baru bagi restoran-restoran kami dan pengembangannya, ini akan memakan waktu lama, kami nggak akan kembali dalam waktu 5 tahun ke depan. Sementara Nanang dan Nala akan kembali ke Jogyakarta, Moscha terdiam, tiba-tiba air matanya mengalir tak terhenti, “lalu siapa yang akan disampingku?” dengan cepat Irul dan Ciput berkata, “kami akan berusaha menerobos Universitas ternama di Indonesia mbak yang ada di Jakarta, dan aku pasti masuk, mbak Ciput juga,” secara bergantian mereka memeluk Moscha, Martheen berjanji, “Mos, jika Tuhan mengizinkan kamu untukku, aku akan menjemput kamu, atau kamu mau ikut aku?” sambil menatap Moscha dan menggenggam tangannya dia bertanya, Moscha yang menangis memeluk Martheen dengan erat sambil berkata, “i am gonna miss u,” Martheenmemeluk Moscha dan berkata, “i will be always with you dear,” semuanya bergantian memeluk Moscha. Suasana yang tadinya seperti sebuah ulang tahun berubah menjadi sebuah pesta perpisahan. Tiba-tiba GM datang, semua yang memeluk Moscha melepaskan pelukannya dan menatap GM, “Moscha aku mau bicara, apa bisa?” Moscha terdiam dan menatap mata GM dengan tajam, GM tiba-tiba menarik tangan Moscha, Tim menarik tangan kiri Moscha dan berkata, “saya rasa kamu bukan manusia rendahan,” sambil berdiri dan menatap mata Moscha, dengan cepat Moscha berkata, “nggak apa tunggu aja,” Moscha mengikuti GM dan berhenti di basement tempat mobil GM diparkir, GM mempersilakan Moscha masuk, mobil mewah yang begitu nyaman, tiba-tiba wajah Moscha yang putih memerah, jantungnya tiba-tiba seperti merasa cemas, rupanya GM menelpon mamanya yang ternyata berada di sebuah RS ternama di Singapura, sambil menangis mama GM berkata, “kasih tante kesempatan ya boru,” hal ini membuat Moscha mengangguk dan berkata, “iya bou, maafin Moscha,” air matanya berderai sambil berkata, “kenapa bou nggak telpon bapak,” mama GM menjawab, “nomor bou diblokir inang, bou minta maaf atas kelakuan Kevin, bou malu, tapi kasih bou dan amang bou kesempatan ya inang,” Moscha yang merupakan wanita tomboy tiba-tiba mengangguk anggukan perkataan bounya seperti seorang anak kecil, tiba-tiba karet rambut Moscha putus menyebabkan rambutnya yang lebat terurai membuat wajahnya semakin cantik, GM menatap Moscha, ketika telpon dimatikan, Moscha terkejut melihat tatapan GM ke arahnya dan berkata, “apa lihat-lihat?” GM terkejut dan berkata, “kamu cantik,” dengan cepat Moscha menjawab, “kambing aja pakai lipstik pasti loe bilang cantik,” GM tersenyum dan melihat kearah jendela disebelah kanannya seolah berkata, “kamu cantik banget,” dengan cepat GM berkata, “kamu sduah lihat pengakuan Rischa, aku nggak salah, aku di jebak, perempuan itu gila,” sambil menatap Moscha, “dia nggak gila, dia cinta mati sama kamu, Cuma caranya salah, yang dia bilang nggak ada yang salah, dan kamu adalah laki-laki bodoh yang terlalu mudah percaya dan terlalu gede nafsu!!!” GM mengunci pintu mobilnya dan berkata, “apa kamu sedikitpun tidak memliki cinta buatku?” Moscha dengan santai menjawab, “kenapa nggak buktikan?kita lihat, apakah kamu bisa buktiinnya?aku kasih kamu kesempatan terakhir, jadi tolong jangan sia-siakan,” ketika tangan Moscha ingin membuka pintu, dengan cepat menarik tangan Moscha dan berkata, “kalau begitu, ayo kita menikah setelah kamu tamat sekolah, kamu tetap akan kuliah meskipun kita sudah menikah,” Moscha hanya menjawab, “kesalahanmu sudah dua kali, ini kesempatan terakhir, biar kita lihat sejauh mana kamu sungguh-sungguh,” kali ini Moscha dengan jelas mengatakan bahwa dia akan memberikan kesempatan terakhir, teman-temannya yang menunggu di atas berkata, “kamu nggak apa-apakan?” Moscha menatap wajah teman-temannya dan berkata, “jangan lupakan aku dimanapun kalian berada,” Nanang memeluk Moscha dan berkata aku akan berada di dekatmu kapanpun kamu memintanya,” Moscha memeluk Nanang dan berkata, “jika aku bisa memaksa diriku mencintaimu, maka aku akan memaksanya,” Nanang mencium telinga Moscha dan berkata, “aku tunggu sampai kamu tidak memaksa perasaanmu mencintaiku.”
__ADS_1