Princess Narkolepsi

Princess Narkolepsi
Manusia munafik


__ADS_3

Tim segera bertanya, “Bonnie dan Corry mana om, tante?” mama menjawab “di atas, di kamar Moscha, kamu duduk dulu, mama buat teh hijau yang kamu suka juga ya mas Tim,” sambil berjalan tapi tiba-tiba Tim berlari ingin naik ke kamar Moscha, GM langsung, berkata dengan agak sedikit nyaring, “hey, kamu pikir kamu siapa?naik ke kamar anak perempuan, jaga batasanmu, kamu bukan pacar, suami atau tunangannya bukan?jadi duduk disini,” sambil berdiri dan memasukan tangannya ke saku celananya. 


Tim melangkah mendekati Pak GM, dengan cepat dengan jarak hanya 1 meter dan berkata, “maaf pak, bapak mau ikut?kalo bapak mau tanya apa hubungan saya dengan Moscha, saya mau bilang saya akan jadikan dia istri dan ibu dari anak-anak saya,” sambil berjalan ke atas, tapi bapak segera menghentikan Tim, “jangan nak, duduk sini sebelah bapak” sambil memegang tangan Tim, rupanya GM sudah melihat bapak dengan tatapan matanya yang tajam, bapak yang tahu maksud GM menghentikan Tim dengan cara yang halus, mama dengan teh hijaunya mempersilahkan Tim minum karena jarak antara ruang tamu dan dapur jauh mama tidak mendengar apa yang terjadi, “minum Tim, kenapa Mos, nggak sama kamu ya nak?” Tim menghadap ke mama dan menatap mama dengan berkata, “tante tadi aku suruh dia tungu sementara aku masuk ruang operasi dengan Prof. Tobing, Mos bilang iya, tapi nggak tahu kenapa pas aku sudah selesai dia nggak ada ditempat, saya sudah cari dia kemana-mana tapi tidak ada, saya hubungi teman-temannya dan bertanya, tapi tidak ada juga, maaf om tante, saya tidak akan lalai lagi dan obat Mos, hari ini dia belum minumnya tante,” sambil bercerita dengan serius.


Dengan sinis GM menjawab, “tulang dan nantulang, aku ikuti apa yang mama dan tulang mau, pasti tulang dan natulang tahu apa yang sudah kulakukan untuk hal ini, tulang dan natulang, silakan bicara dengan mama dan papa,” sambil berdiri dan izin pamit dia berkata, “kamu, sebelum ingin menjadikan dia istri dan ibu dari anak-anakmu sebaiknya kamu berpikir, bagaimana menghargai adat seseorang!” dia segera pergi, dengan sigap bapak dan mama mengantar GM ke depan, Tim terkejut, ketika GM pergi, Tim bertanya kepada bapak dan mama, “sebenarnya siapa dia om?tan?apa hubungan  dia dengan keluarga ini?sampai seberaninya dia dengan keluarga ini?” sambil berdiri dan mencium tangan bapak dan mama Moscha, “aku pulang om, tante, apa yang aku bicarakan tadi adalah hal yang bisa dipastikan serius dan benar om, dan aku akan buktikan seluruhnya, saya permisi om, esok saya jemput Moscha lebih tepat waktu,” sambil berjalan menuju mobilnya.


Ditempat lain terdengar suara hempasan pintu yang begitu sangat kencang yang mengakibatkan seorang laki-laki dan wanita paruh baya turun dari atas dan berkata, “ada apa mbok?siapa ya?” sahut wanita ini sambil berteriak. Dengan segera para IRT rumah tersebut berlari dari dapur dan dari halaman belakang. Laki-laki paruh baya dengan kumisnya yang tebal, penuh karisma berkata, “ada apa ini?” Dengan cepat mereka melihat, “GM dengan badannya yang begitu ideal, kulitnya yang manis dan wajah brewoknya berkata sambil terduduk dengan gaya laki-lakinya sambil berkata, “perempuan apa sih ma, yang mama dan papa jodohkan buatku?perempuan yang ga punya etika, perempuan liar, perempuan yang badannya milik laki-laki yang disebutnya sebagai sahabat, aku sudah bilang, dia hanya orang biasa yang karena mama, aku harus menuruti dan meninggalkan perempuan cantik yang sempurna pilihanku hanya untuk perempuan liar yang kubilang milik bersama,” sambil berdiri, memegang kepalanya dan berjalan mondar-mandir di depan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ternyata wanita dan perempuan paruh baya itu adalah orang tua dari GM, sang mamapun berkata, “maksud kamu Moscha?boru kesayangan mama yang selama ini belum mama dan papa temui lagi?kenapa?baru kali ini mama lihat kamu semarah ini?sambil mengusap bahu GM dan mengajaknya duduk tenang, papa GM yang merupakan keturunan ningrat dari Jawa, “kamu kenapa?apa kamu nggak bisa bicara baik-baik dengan Moscha?dia anak yang baik, pintar, papa dan mamamu ga akan memilih dia tanpa melihat bibit, bebet dan bobotnya,”


Sambil bicara dengan GM secara berlahan. Mama yang merupakan tante kandung Moscha adalah otak dibelakang perjodohan ini, karena Moscha dan GM adalah pariban. GM sekeluarga tinggal di Jepang, karena papa dan mama GM adalah penguasaha Meubel dan kain sutra yang terkenal di manca negara. Moscha hanya mengenal namboru dan amangborunya by surel dan WA saja, selebihnya tidak pernah bertemu, setiap Moscha berulang tahun namborunya selalu mengirimi hadiah ulang tahun sesuai dengan yang diminta oleh Moscha, tapi tahun ini mereka akan memberikan hadiah ulang tahun langsung kepada Moscha secara langsung, “Priyoga, kali ini kamu cobalah dekat dengan Mousenya mama selama 2 tahun, jika memang kamu tidak memiliki hati, mama membebaskan kamu dari perjodohan ini, dan jika Moscha mencintai kamu, maka mama tetap akan melangsungkan perjodohan ini,” dengan sedikit menjauhi Priyoga, “karena kamu tidak ingat, jika bukan karena Moscha maka kamu akan mengalami cacat seumur hidupmu, pada bagian wajahmu yang tampan ini, tolong mama, beri mama kesempatan menunjukan ke kamu Moscha adalah jodohmu yang terbaik,”


Papa segera mengingatkan GM, pada peristiwa ketika dia memecahkan meja dan tidak sengaja tongkat baseballnya terlempar ke arah lampu hias diatasnya, dia terpeleset, Moscha yang melihatnya segera berlari dan membiarkan punggungnya menahan Priyoga, Moscha melihat lampu akan jatuh mengenai wajah Pri, dia melempar Pri hingga tengkurap dan Moscha sekali lagi melindungi wajahnya dengan punggungnya dan jatuh pingsan, peristiwa ini terjadi saat Moscha masih berusia 8 tahun dan Priyoga berusia 14 tahun, Moscha merupakan atlet karate sejak berusia 6 tahun, sementara Priyoga adalah sosok laki-laki yang begitu lemah karena sakit paru-paru yang di deritanya, Priyoga adalah anak yang lemah hingga kedua orang tuanya memusatkan usaha dari Jepang untuk fokus pada kesembuhan Priyoga. Ketika Priyoga mengingat hal tersebut, dia hanya terdiam, dia baru sadar bahwa luka dipunggung belakang Moscha adalah tanda bahwa Moscha adalah orang yang pernah menyelamatkan dia dari maut, tapi entah mengapa rasa benci dihatinya mengalahkan kebaikan Moscha. “ma, pa, jika dua tahun Moscha tidak mencintai saya, itu artinya aku bebas, baik, saya akan membuat dia membenci saya, bahkan menjauhi saya,”. Mama hanya tertunduk, “sebenci itu ya kamu sama Moscha?”. Papa dengan santai berkata, “biasanya kalau benci itu awal dari sebuah cinta ma, papa kog ga pernah lihat Raden Priyoga Kesuma marah seperti hari ini ya ma?” GM pergi meninggalkan kedua orang tuanya membawa jasnya dan pergi ke kamar atas, tanpa berbicara sedikitpun.


Papa berteriak, “Besok Moscha tanding lho di Yusenter, ikut ndak mas?seleksi babak nasional, dia itu pilih science atau karate ya mas?sambil tertawa. Pri berhenti sejenak, dia baru tahu kalau esok Mos, bakal ke Yusenter, Pri malu bertanya jam berapa kepada orang tuanya, melihat respon Pri, mama berkata, “wah ada yang kepo, masa gurunya nggak tahu muridnya seorang atlet wkwkwwkw?jangan dikasih tahu jamnya pa,” sambil menengok, mengintip GM dari kejauhan. GM bingung jam berapa Mos, esok seleksi babak nasonal, pantas ada beberapa kali Moscha izin masuk laboratoriun, dari kamarnya dia menelpon pak Kaharudin, dan mengetahui bahwa sekolah tidak memiliki perwakilan, dikarenakan kecelakaan, esok acara akan dimulai pukul 09. 00 WIB. 

__ADS_1


 Mama dengan santai bicara, “bisa pa, bisa, kamu tuh pa, coba urus RS milik Romo yang dikelola para asistenmu dan setahun ini dikelola Pri, apa maju atau mundur, ga usah urus aku dan menantuku,” sambil meminta para IRT memasukan semua yang dimintanya. Papa hanya diam dan tersenyum, GM yang melihat, berjalan melewati mereka dan berkata, “saya duluan, RS aman ma, jangan kuatir, ga bakal mundur, karena tanah di belakang sudah habis,”


Sementara di Yusenter, sudah ramai berkumpul para atlet dari seluruh Jakarta, Moscha dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang ternyata kabur dari program pendampingan, rupanya Moscha hari ini melarikan diri dari Tim, karena Tim, bapak dan mama tidak mengetahui tentang seleksi ini, Nanang seolah tidak menyukai pilihan Moscha, Martheen menjadi perhatian para gadis yang ada disekitar Moscha, sementara Jono, Nala dan Meiyanto begitu setia memperhatikan Moscha dan memberikan pengarahan kepada Moscha tentang trik mendapatkan poin dalam setiap pukulan maupun tendangan, Moscha seolah mendengarkan hanya sepintas, karena apa yang dibicarakan oleh 3 sahabatnya sudah dia pahami dengan baik. Sementara Irul mendampingi Moscha dan memperhatikan seluruh alat perlengkapan pelindungnya, “mbak, jangan sampai kena pukul dan tendang ya, nanti kalau embak e sakit, tim ISTO dan Saitechi kita kepriben mbak?” 


Moscha berdiri, rupanya berikutnya adalah seleksi bagi cabang olahraga karate, Moscha berhadapan dengan atlet dari SMU Jakarta Timur, dia dipanggil, wasit memberi peraturan, untuk tidak mengenai bagian yang sudah ditentukan, jangan keluar garis dan bermain sportif, setiap pukulan, tendangan yang masuk memiliki poin. Moscha menghindari tendangan dan pukulan lawan dengan menangkisnya dan mengelak.


Ketika wasit memerintahkan Moscha dan lawannya kembali ke tempat awal Moscha memberi hormat dan memasang kuda-kudanya dengan kuat, dengan tak terduga Moscha mengeluarkan tendangan berputarnya, hal ini membuat lawannya keluar dari garis dan terjatuh, namun dia segera berdiri dan kemba;i ke posisinya, wasit mempersiapkan, ternyata Moscha sudah memahami serangan lawan dia mengarahkan tendangannya dengan keras ke dada dengan keras hingga lawannya langsung tergeletak, stelah menerima pukulan dan tendangan dari Moscha, dengan menghitung, akhirnya wasit menyatakan pemenangnya adalah Moscha, orang tua GM begitu bangga, mereka mencari jalan ke tempat dimana Moscha beristirahat, namun rupanya mereka dilarang masuk dan menunggu Moscha diluar, sementara GM menelpon seseorang yang ternyata adalah kekasihnya selama di Jepang, ternyata Rischa ada di luar gedung dan menemui GM, seluruh mata tertuju pada Rischa yang begitu cantik dengan balutan gaun dan kulit putihnya. 

__ADS_1


Moscha maju dibagian ke ke 2 untuk final, kali ini lawannya adalah Jakarta Utara yang sudah mengalahkan Jakarta Pusat, Moscha sepertinya sudah melihat kekuatan lawannya, memberi hormat dan wasit memulai pertandingan, lawan menyerang Moscha bertubi-tubi dan berhasil memukul wajah Moscha, 2 kali, Moscha menghindar, dan akhirnya wasit menghentikan dan mengembalikan mereka ke posisi semula, memberi hormat, Moscha dengan cepat memukul bertubi-tubi lawan dan tanpa ampun menendang dada, kaki, memberi pukulan dan akhirnya dengan tenaganya yang kuat dia memberikan tendangan atasnya dengan begitu keras, dan mengakibatkan lawannya terjatuh dan tidak bisa berdiri. Wasit mengangkat tangan Moscha dan memastikannya maju ke final. 


Rupanya GM membawa Rischa keruangan tunggu Moscha disana dia bertemu orang tuanya, Richa dengan anggun menyalam dan menyapa orang tua GM, seperti diduga mama mengacukannya dan berbisik, “ih wanita plastik datang, dang pola gabe marpura-pura ramah ho tu ibana da, molo hubereng berlebihan ho tuh ibana, dang modom di kamar ho, hu baen, do you understand what i mean?” sambil berbisik dan mencubit pinggang papa. Rischa terus menempel dengan GM, namun entah kenapa GM tidak seperti biasa, “ga usah pegangan, malu dilihatin tuh,”. Mama berteriak. “Mouse ... Mouse ... Mouse ..., ini mama boru,” dengan nyaring, sambil melambaikan tangannya, sahabat Moscha yang ada disana melihat, Nanang yang melihat bagian wajah Mscha yang terpukul memegangnya, mengompresnya dan memberikannya salep, “kamu, tolong sudahi seleksi ini, kamu nggak perlu bela nama sekolah hanya untuk terpandang,”sambil memegang wajah Moscha dan menatapnya, Marthen yang berada disana, menghampiri Nanang namun kali ini diikuti oleh Nala, Meoyanto dan Joni, Martheen berkata, “gw rasa loe nggak perlu pegang-pegang wajah dia, karena dia calon istri gw,” sambil menghempas tangan Nanang dari wajah Moscha, dengan tenang Moscha berkata, “sssssttttt sudah ya, jangan buat malu, gw bakal jadi istri loe berlima asal ikhlas wkwkwkkwkwkw,” sambil tertawa, “dengar, gw nggak tahu apa yang akan kita lewati, tapi gw percaya, kita nggak aan rusak persahabatan demi sebuah kata sampah, yaitu cinta, dengarkan?” Moscha mencium pipi mereka satu persatu, “tuh adilkan”. Irul dan Moscha tertawa terbahak-bahak, GM melihat Moscha mencium sahabat-sahabatnya bergantian, dia memukul dinding gedung tanpa bicara, papa yang melihatnya menyadari bahwa anaknya cemburu


__ADS_2