
Tiba-tiba Tim dan Prof Tobing masuk, Tim dengan wajah yang dingin berjalan dibelakang Prof. Prof Tobing langsung memeriksa Moscha dan berkata, “Mos kita sudah sehat, dia hanya perlu istirahat, kalau saya usul sebaiknya 2 hari, semua orang pasti sembuh dengan dukungan teman-teman seperti kalian, biar dia istirahat.” Sambil duduk dan menatap Tim, “selama proses kompetisi, saya rasa Tim mampu menjaga Mos,” Dengan santai Tim menjawab sinis tanpa ekspresi, “disini banyak dokter cilik, jangan kuatir.” Dengan cepat mama menjawab, “tolong ya Tim, bantu tante, tolong”. Sambil menatap Tim dengan harapan, Tim menatap mama dengan tetap melipat tangan lalu menundukan kepala, Andi dan Ariel menyenggol Tim, agar menjawab dengan sopan. Tiba – tiba ayah datang, dengan tanpa basa-basi mencium kening Moscha, yang saat itu sedang menutup mata dan berkata, “Tulang, sepertinya boru kita harus dipaksa mengkonsumsi obat, jangan dikasih pilihan,”. Prof hanya menjawab, “sebaiknya begitu,”
Dengan santai Prof Tobing berkata, “sebaiknya Martheen, Jono, Nala, Nanang, Citra, Meiyanto dkk, meminjamkan atau melakukan video call untuk 2 hari ini,”. Dengan santai Martheen menjawab, “Prof, kalo aku kesini menjelaskan ulang juga ok, nginap juga nggak apa,” Nala menjawab sambil memukul kepala Martheen dengan bantal, “nggak ada yang minta elo nginep mas,”.
Ayah menatap para kurcaci satu persatu dan berkata, “terima kasih sudah jaga Moscha selama ini, om ucapkan terima kasih, mohon jaga Moscha terus ya,”. Tiba – tiba Meiyanto mengucapkan kata-kata yang paling tepat hari ini, “sebaiknya kita pulang, supaya Moscha cepat istirahat, dan cepat segera pulih,”. Dengan cepat Nanang memulai mencium tangan kedua orang tua Moscha, mendengar teman-temannya hendak pulang Moscha membuka matanya dan terkejut menyadari dia tidur dipangkuan Ernest, dengan menggarukkepala dia berkata, “Bonnie kenapa loe nggak ngomong dek, awas loe ya,” tanpa disadari wajahnya memerah. Irul yang sudah akrab dengan Bonnie berkata, “maaf mbak Mos, dari tadi mbaknya tutup mata mau kasih tahu secara sopan ya ora iso to mbak, permisi saya juga mau izin pulang,” tiba-tiba Moscha berkata, jangan pulang, besok berangkat dari sini aja nanti aku telpon orang tuamu, kamu disini saja,” tanpa perlawanan Irul menjawab, Njeh mbak Mos,” seluruh sahabat Moscha meledeknya karena kesal. Ernest menjawab, “biasa aja, gak usah merah muka loe, gw pulang ya, sambil memegang kepala Moscha, disusul dengan teman-teman Moscha yang lainnya, Nanang ada diakhir dan dengan tenang dia berjalan kearah Moscha dan berkata, “Mos, kalo ada apa\=apa kasih tahu ya, aku pasti datang,” Moscha mengangguk manja dan berkata, “iya mas, terima kasih,” dengan cepat Nanang mengacak rambut Moscha dan mencium keningnya, hal ini dilakukan Nanang tanpa diketahui para orang tua, sementara Tim meliriknya dari jauh dan menundukan kepalanya.
Setelah semua pulang, Ernest menunggu Tim di mobil, Moscha, Bonnie dan Irul masih duduk di ruang tamu, mereka tertawa, Irul terlihat menyiapkan bubur ayam yang sudah dibuatnya, sambil ikut makan bersama, terlihat Bonnie dan Irul menggoda Moscha, Bonnie berkata, “kak, elo jangan buat heboh lagi ah, gila loe kak, sampai para pangeran datang, padahal elokan biasa begitu ya mbak Irul,” sambil tertawa, “iya, gaya kaya laki-laki kog jadi pujaan, mbak Mos ini kalo di Jawa dibilang tukang parkir e,” sambil bicara pelan dan tertunduk senyum, dan tiba-tiba Bonnie tertawa kencang sambil memeluk Irul seperti kakaknya sendiri. Tiba-tiba Moscha melempar Bonnie dengan bantal dan berkata, “kalian berdua belum pernah diantok tawon ya,” tiba-tiba mereka bertiga kejar-kejaran seolah Moscha sudah sembuh. Tiba-tiba Prof, Tim, Bapak dan Mama keluar, mereka terdiam dan bapak berbicara, “sudah, nanti sakit lagi kau Mos, Bonnie, Irul bapak mau bicara, mulai esok Tim asisten opung akan mengawasi Mos, setelah Mos kembali ke sekolah Tim akan mengantar dan menjemput Mos jika ayah tidak bisa, kau boru akan kembali mengkonsumsi obat yang diberikan oleh opungmu, tidak ada toleransi.”
Tim dan Prof, pamit pulang, Irul dan Bonnie membawa piring kotor ke dapur bersama mama, Bapak dan opung berjalan duluan, sementara Tim masih berdiri di depan Moscha dan berkata, “enak ya, setiap waktu banyak cowo cium kening kamu, pegang kepala dan peluk kamu, nyaman ya?sambil mendekati Moscha dan berbisik, aku nggak akan cium kening yang dicium banyak orang, aku nggak akan peluk tubuh, yang dipeluk banyak orang, kamu jangan pikir aku dapat tugas ini karena aku mau seperti kurcaci-kurcacimu yang menjijikkan, fokus ke materi kompetisimu, supaya hidupmu isinya bukan cinta yang fake nggak guna,” Tim berjalan seolah tidak memperdulikan Moscha. Sementara Moscha terkejut dan terdiam mendengar bisikan Tim tanpa bergeming sedikitpun.
__ADS_1
Tiba-tiba matanya mengeluarkan air mata. Tanpa disadari Irul dan Bonnie melihatnya, “kenapa kak,” dengan cepat Moscha menjawab, “kelilipan cabe rawit”, Moscha menarik tangan Irul dan membawanya naik ke atas dan masuk ke kamarnya, “aku mandi dulu ya, kamu istirahat ya, tarik aja kasur bawahnya, kasurku double bed, tarik aja ya, aku mandi dulu,” Moscha masuk ke kamar mandinya, Irul menutup jendela kamar Moscha yang hampir seluruhnya kaca, dan menghadap ke arah matahari terbit, Irul baru menyadari ketika dia menutup gordyen kamar Moscha dia terkejut melihat piala-piala dan piagam karateka dan olimpiade Moscha yang ada di ruangan khusus tersembunyi yang tadi dia tidak lihat, tiba-tiba Moscha keluar dan melihat Irul memandang ruangan rahasia Moscha, “itu ruang aku belajar, kenapa?mau masuk, Moscha membawa Irul masuk, ternyata diruangan itu Moscha memiliki perlengkapan laboratorium dan ada pipa yang merupakan jalan turun ke bawah garasi jika dia terburu-buru, tiba-tiba Irul melihat rak buku yang bertuliskan, ”before sleep”. Moscha menjawab, “aku selalu menuliskan saat-saat sebelum aku tidur dalam sebuah buku, jadi kemanapun aku pergi aku selalu membawa buku yang berisikan kegiatanku hari-hari jadi aku tidak kehilangan ingatan kalau aku tertidur.” Tiba-tiba Irul melihat ada satu buku yang diberi pembatas merah, “ ini kenapa mbak”, Moscha terdiam dan tertunduk, “gw kehilangan satu buku, yang gw nggak ingat, apa, siapa, bagaimana, mengapa gw melakukan sesuatu?tiba-tiba gw ada di UKS sama temen temengw. Agw nggak tahu apa yang gw lakukan hari itu di lab, gw juga nggak tahu siapa yang bawa gw ke UKS, yang pasti hari itu gw blank dan memulai catatan harian gw yang baru untuk hari itu.”
Irul berpikir betapa beratnya beban Moscha jika dia tidak mencatat apapun yang dia lakukan, bahkan Irul mulai mengatahui bahwa Moscha memiliki pola Moscha dalam menghadapi situasi dirinya.
Moscha mengajak Irul istirahat, “ yuk tidur, esok kamu berangkat sama bapak pagi Rul, Bonnie juga ikut, jangan kuatir, nanti aku telpon si mbokmu ya, pulangnya kamu diantar Ciput ya,”. Irul memperhatikan seteelah berbicara Moscha menuliskan apa yang dibicarakannya secara steno dan berkata, “Njih mbak, matur suwun ya,”ternyata Moscha sudah tertidur. Irul menangis melihat betapa mengerikannya hidup Moscha dengan sakit yang dideritanya. Dia menyelimuti Moscha dan tidur.
Keesokan harinya, Irul bangun jam 04.00 Wib, sholat subuh, setelah selesai dia turn ke dapur dan ternyata, keluarga Moscha sedang baca Alkitab dan doa pagi, tanpa terlihat Irul ke dapur, dia mencuci piring dan membersihkan dapur, memanaskan dispencer, menyiapkan roti dan susu. Setelah selesai ibadah pagi mama terkejut melihat Irul di dapur, mama mencium Irul dan memeluknya, “terima kasih ya boru, sudah bantu mama,”. Ayah tersenyum dan bicara, “semoga dapat menantu seperti Irul ya ma” sambil tertawa, Irul terdiam, wajahnya yang putih dan bulat memerah dan tertunduk. Mama yang melihatnya mengalihkan pembicaraan, “ayo siap-siap bapak dan Bonnie berangkat pagi, nanti Ciput antar kamu pulang ya nak,” Irul berkata, “iya tante,” dan berjalan ke kamar Moscha, ternyata, baju irul sudah dicuci mama, disetrika, ternyata tanpa sepengetahuan Irul dan Moscha, mama masuk ke kamar.
“mas Martheeeeeeennnnnnnn, bukannya kemarin pulang jam 19.38.48 WIB ya mas, mbak Mos baik-baik aja mas,”. Marthen tidak puas dengan jawaban Irul, “tadi pagi dia ngapain Rul?”, sambil mendekatkan kursinya dengan meja Irul, melihat kelakuan Matheen, Nala memukulnya dengan buku, “loe gila ya, bikin anak gadis si mbok ketakutan,”. Meiyanto tertawa terbahak-bahak, “pemain baru tuh bro, lain si Ciput”. Nanang yang baru datang dengan jaket levisnya tanpa menooleh berjalan ke kursinya seolah menghiraukan siapapun yang ada di kelas itu. Kelaspun segera dimulai seperti biasa.
__ADS_1
Dalam ruang pertemuan umum para pendamping sudah hadir dengan membawa beberapa proyek-proyek kimia yang sudah diajukan oleh peserta Science, jam 10. 00 WIB, para peserta yang di ajukan Moscha dan Group Science. Ada Tim, Ariel, Andi, rupanya karena perdana dosen terkait dengan senyawa kimia juga turun tangan untuk 1 bulan pertama sebagai motor dan penganalisa pendampingan yang dilakukan mahasiswa pendamping, bukan hanya science, bahasa dan IPS juga turut melakukan kegiatan pendampingan seperti yang diajukan Moscha dan genk nya. Tapi kali ini karena desakan juara 1 yang diacukan oleh group Science, Tim sebagai ketua timmelakuakn pelatihan yang begitu sangat disiplin, waktu yang digunakan begitu ketat, spara siswa diberi waktu istirahat hanya 15 menit dengan waktu latihan 4 jam, hari pertama begitu melelahkan tanpa Moscha, tidak ada satupun makanan yang disentuh karena tekanan.
Tim meberikan tekanan materi begitu signifikan agar setiap siswa mulai terbiasa selama 3 bulan ke depan. Irul yang ada pada Asam dan Basa Penetralannya, mulai terkejut dengan cara kerja yang berat, mulai memilih makanan, untuk membuatnya kembali fokus.
Ketika jam 14. 00 WIB kegiatan pendampingan selesai dan para siswa diizinkan pulang lebih awal, namun Tim memberikan tugas kepada setiap Tim untuk melakukan pengamatannya di rumah tentang senyawa kimiawi yang akan diubah menjadi sebuah produk teknologi.
Tepat subuh, Corry yang sudah ada di rumah bangun pagi dan duduk di meja makan bersama dengan seisi rumah, mulai bicara, “kak, gw dengar loe pendampingan ya hari ini?gw jemput ga pulangnya?hari ini aku free kak,” sambil makan roti, dan menggoyangkan kakinya. Ayah yang mengetahui gelagat Corry mulai berkata, “emang kapan kau sibuk?free terus aja kerjamu, coba kau belajar benar-benar, ga usah ikut naik turun gunung, pusing bapak lihat kerjamu boru, asal ditanya bagaimana evaluasinya boru, UN dll nya kau jawablah kecil itu, bisasemua kujawab pak, ujungnya nilai rata-rata Cuma 4,00.”
Bonnie yang bungsu dan mama tertawa, “gampil itu pak, gampil, eh nilainya ambles, salah gurunya juga sih pak, orang pertanyaannya yang berkaitan dengan alam, misalnya, Gunung apa yang ada disana?berapa tingginya?bagaimana cara masak air digunung, nah seratus tuh,”sambil tertawa. Moscha hanya menjawab, “ga usah, kk dijemput sama pesuruh opung, Tim, pulangnya juga diantar, kaya jalangkungkan?”sambil memakan roti dicocolnya dengan selai melon favoritenya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar klakson motor, seperti biasa, Beni, pacarnya Cory menjemput, “ma, pah berangkat ya, hari ini dijemput soalnya, kaki pada pegel, kak, dek, gw duluan ya, makanya kak, punya pacar,”. Sambil mencium, bapak, mama, Moscha bergantian, Bonnie dijitaknya, “elo ya kak, kalo ga mau cium lewatin aja, ga usah pakai jitak-jitakan ah, lagi pagi amat, elo mau ngepel sekolah ya,” sambil berteriak karena Cory dengan cepat ke ruang depan.