
Sudah satu minggu Arya berada di akademi. Dan setiap harinya Arya selalu rutin berkunjung ke perpustakaan. Setelah sarapan pagi Arya akan langsung ke perpustakaan sampai menjelang tengah hari.
Saat tengah hari Arya makan siang diruang makan dan setelahnya kembali lagi ke perpustakaan sampai sore. Begitulah rutinitas Arya mengisi waktu kosong selama beberapa hari terakhir.
Arya sudah hapal posisi rak rak buku berdasarkan temanya. Ada lima rak buku bertemakan sejarah yang berada di sisi kanan pintu masuk dan di sisi kanan ada rak buku dengan tema pengetahuan umum.
Buku buku tentang bela diri dan kultivasi ada dibagian tengah ruangan. Ada berbagai jenis buku yang membahas bela diri dari berbagai negara. Beberapa buku juga merupakan salinan dari kitab beladiri kuno. Buku buku itu ditulis dengan berbagai aksara dan menggunakan berbagai bahasa.
Ada juga kitab kitab kuno yang berada pada rak khusus. Kitab kuno itu ada yang terbuat dari kertas, kulit kayu, kulit binatang dan kain. Ada juga rak khusus lain yang berisi lempengan lempengan tanah liat dengan pahatan huruf huruf kuno.
Selama lima hari terakhir Arya sudah menamatkan beberapa buah buku.
Hari ini Arya berencana akan memilih buku atau kitab yang akan dibacanya. Kali ini Arya mencoba mencari buku yang berada pada rak kitab kuno.
Semua buku atau kitab yang terdapat di rak ini semuanya menggunakan aksara dan bahasa kuno. Sebenarnya Arya juga tidak mengerti cara membaca aksara dan bahasa kuno tersebut. Tapi entah mengapa seperti ada dorongan baginya untuk menuju ke rak ini.
Setelah melihat dengan hati hati Arya memilih sebuah kitab berukuran agak besar. Kitab ini terbuat dari kulit hewan dengan kaligrafi indah pada covernya.
Meski kusam cover itu masih sangat indah untuk dilihat. Ada aksara yang tertulis disana yang sepertinya judul dari kitab itu. Itu hanya tebakan Arya saja karena dia tidak bisa membacanya.
Meskipun ukuran kitab itu lumayan besar untuk sebuah kitab kira kira berukuran kertas A3, kitab ini cukup tipis. Hanya ada empat halaman saja selain cover kitab.
Arya mengambil kitab itu dengan hati hati, membawanya ke meja dan membukanya perlahan.
Pada halaman pertama terdapat aksara yang sepertinya semacam prolog atau pengantar. Dan yang aneh adalah halaman setelahnya sampai dengan halaman terakhir kitab itu kosong tak ada satupun huruf disana.
Arya tidak habis pikir mengapa kitab ini kosong. Arya menyangka kemungkinan besar tinta tulisan pada kitab ini luntur karena termakan usia. Tapi setelah diperhatikan lebih teliti tidak ada sedikitpun bekas jejak tinta disana. Jikapun tinta tulisan itu luntur meski meninggalkan jejak tinta.
Arya membolak balik halaman kosong kitab itu. Arya mencoba melihat dari berbagai sudut mencoba memecahkan rahasia kitab kuno itu.
Setelah berulang kali membolak balik halaman mencari petunjuk akhirnya Arya menyerah.
__ADS_1
"Benar benar kitab yang aneh, kok ada ya orang membuat kitab tapi dikosongkan seperti ini" batin Arya
"Apa tujuan pembuat kitab ini" lanjut Arya dalam hati
Arya merenung mencoba mengingat yang sudah ia coba lakukan untuk memecahkan rahasia dari kitab itu.
Kemudian Arya baru ingat kalau ia pernah membaca untuk mengaktifkan sebuah benda dengan menggunakan darah.
"Hmmm sepertinya perlu dicoba" kata Arya dalam hati
Arya melukai sedikit ujung jari telunjuknya dengan menggunakan ujung peniti yang tidak sengaja dia temukan. Setelah itu Arya meneteskan sedikit darahnya ke halaman kosong kitab kuno itu.
Tetesan darah yang jatuh ke halaman kosong kitab kuno seperti diserap dan perlahan dari tetesan darah itu membentuk serangkaian tulisan aksara kuno.
Bersamaan dengan itu muncul seberkas sinar menuju ke kepala Arya dan langsung hilang setelah masuk kedalam kepala.
Arya merasakan kepalanya pusing saat terkena sinar dari kitab kuno. Arya memejamkan mata mencoba menahan rasa sakit dikepalanya.
Tiba tiba saja Arya mampu membaca aksara yang terdapat dikitab kuno itu.
"Kitab Sastrajendra" gumam Arya membaca judul kitab
Tidak hanya mampu membaca aksara kuno itu Arya juga mampu memahami maknanya. Sastrajendra berarti warisan leluhur.
Tidak ada keterangan siapa pengarang kitab Sastrajendra ini.
Arya membuka halaman pertama kitab kuno yang berisi beberapa aksara. Disana diterangkan kalau kitab Sastrajendra adalah sebuah kitab yang berisi hubungan manusia dengan alam yang dirangkum dalam Sanga Aji atau Sembilan Ajian.
Arya akhirnya tahu kalau kitab Sastrajendra menggunakan aksara brama dengan bahasa sanksekerta. Aksara brama jauh lebih tua dibandingkan aksara palawa yang biasa ditemukan dalam prasasti kerajaan.
Arya membuka halaman kedua, disana terdapat kalimat yang menyebut Sembilan Ajian. Dimana Sembilan Ajian dibagi menjadi tiga bagian dan masing masing bagian terdapat tiga ajian.
__ADS_1
Bagian pertama dari sembilan ajian disebut Dasar Kehidupan. Ada tiga ajian dalam bab dasar kehidupan yaitu Aji Dharani (tanah/bumi), Aji Amreta (air), Aji Pawana (udara/angin).
Menurut kitab Sastrajendra ketiga Aji ini adalah unsur dasar penyusun kehidupan.
Halaman kedua ini menjelaskan sifat dari ketiga Ajian. Seperti sifat Aji Dharani yang bermakna tanah atau bumi. Sifat tanah adalah menerima dan berguna artinya tanah menerima apapun yang diberi kepadanya entah itu baik atau buruk.
Contohnya tanah menerima kotoran bahkan sampah sekalipun. Namun sesuatu yang buruk yang diterimanya akan diubah tanah menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat. Misalnya kotoran yang tadi diberikan akan diubah oleh tanah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat.
Tanah mengajarkan bagaimana yang disebut dengan ikhlas. Menerima yang buruk tapi mengubahnya menjadi baik.
Setelah membaca halaman kedua Arya coba membuka halaman selanjutnya. Tapi sama seperti sebelumnya halaman itu masih kosong tanpa ada satupun aksara tertulis disana.
Arya coba mengulangi percobaannya pertamanya dengan kembali meneteskan darahnya pada halaman ketiga.
Darah itu jatuh dan saat menyentuh kulit hewan yang menjadi bahannya seketika itu juga darah tersebut hilang lenyap tak berbekas. Arya menunggu apa yang alan terjadi setelah darahnya diserap halaman itu.
Beberapa lama menunggu masih tidak ada reaksi seperti sebelumnya. Bagian halaman ketiga masih tetap kosong tidak berubah. Tidak ada satupun aksara yang muncul disana.
"Hmmmm begitu ya" gumam Arya
"Sepertinya aku harus menguasai dulu halaman kedua barulah aku bisa membuka halaman ketiga" kata Arya
Arya menghapal bait bait kalimat yang tertulis pada halaman kedua. Kalimat itu disusun dalam sebuah syair.
Tidak butuh waktu lama bagi Arya untuk menghapal seluruh syair yang ada pada halaman kedua itu.
Arya menutup kitab kuno itu dan kemudian melafalkan syair yang baru saja dihafalnya. Ini dilakukannya berulang ulang sampai dirinya yakin tidak ada yang terlupakan.
Selesai menghapal Arya mengembalikan kitab Sastrajendra ketempatnya semula.
Iseng iseng Arya mengambil salah satu kitab kuno didekat kitab Sastrajendra. Dan ajaib, Arya bisa membaca aksara yang terdapat pada sampul kitab kuno itu.
__ADS_1
Pada sampul depan kitab kuno itu tertulis judul Kitab Obat yang dibuat oleh seseorang yang bernama Raja Obat dari Tenggara.