
Tiga hari kemudian.
Hari ini hari minggu, tidak ada pelajaran dikelas pada hari ini atau dengan kata lain ini adalah hari libur. Kebanyakan siswa memanfaatkan hari libur dengan beristirahat diasrama atau meminta izin untuk sekedar berjalan jalan diarea kedua Distrik Magelang.
Sesuai dengan yang telah dijanjikan, hari ini adalah hari dimana Arya bertemu dengan Guru Besar Isnu. Sehabis sarapan diruang makan Arya langsung menuju ke Paviliun Obat.
Arya tiba di Paviliun Obat satu jam lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Gedung Paviliun Obat berdesain tradisional modern. Keunikan gedung Paviliun Obat ada pada atapnya yang berbentuk atap joglo khas bangunan tradisional Jawa. Atapnya sendiri terbuat dari genteng tanah liat berkualitas tinggi. Kayu kayu penyangga atap terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi begitu juga dengan panel pintu dan jendela.
Mendekati bangunan gedung Paviliun Obat bau khas tanaman herbal semakin terasa. Arya masuk kedalam lobby gedung yang terbuka. Ada seorang pria berusia kisaran dua puluh tahunan berada di meja resepsionis.
"Selamat pagi senior" sapa Arya ramah
"Selamat pagi, apakah ada yang bisa saya bantu" jawab petugas resepsionis ramah
"Saya diperintah oleh Guru Besar Isnu untuk menghadapnya" jelas Arya
"Oh begitu, apakah anda yang bernama Arya ?" tanya petugas resepsionis
"Ya benar, saya Arya" jawab Arya
"Guru Besar Isnu belum datang tapi beliau berpesan jika anda sudah datang sebelum beliau anda diminta untuk menunggu" jelas petugas resepsionis
"Sebelumnya perkenalkan saya Lado" kata petugas resepsionis memperkenalkan diri
"Kalau begitu boleh saya panggil senior kakak Lado" kata Arya
"Ya ya tentu saja boleh, dan aku akan memanggilmu dik Arya" kata Lado
"Ikuti saya dik" lanjut Lado meminta Arya untuk mengikutinya
Lado membawa ke Arya masuk kebagian dalam gedung Paviliun Obat. Bagian dalam Paviliun Obat terdapat banyak ruangan. Bau khas tanaman herbal bahan baku obat memenuhi udara didalam gedung. Dari kaca pintu terlihat didalam beberapa ruangan ada beberapa orang yang tampak sibuk bekerja, sebagian terlihat sedang membuat obat sementara sebagian lainnya sedang meneliti bahan bahan obat.
Arya tidak menyangka gedung Paviliun Obat yang terlihat sepi dari luar ternyata malah sebaliknya dibagian dalamnya. Ada banyak orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Lado membuka pintu salah satu ruangan.
"Ayo masuk ini ruangannya" kata Lado
Ruangan ini cukup luas, ada sebuah meja besar dari kayu jati ditengah ruangan. Diatas meja kayu tersebut terdapat satu set alat penyulingan modern yang terbuat dari kaca. Ada dua buah rak besar didinding ruangan yang berisi aneka jenis tanaman herbal dan bahan bahan pembuatan obat lainnya. Disalah satu sisi ruangan ada meja batu dengan dua tungku obat dia
__ADS_1
gambar : contoh alat penyulingan
"Silahkan dik Arya tunggu disini, kalau butuh sesuatu adik dapat memanggil saya melalui alat komunikasi itu" kata Lado sambil menunjuk ke sebuah alat komunikasi yang berada diatas meja
"Terima kasih kak" kata Arya
"Kalau begitu kakak kembali kedepan dulu" kata Lado yang kemudian keluar dari ruangan
Arya meletakkan tas miliknya keatas meja lalu kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan dan sebuah buku salinan Kitab Obat Warisan Raja Obat dari Tenggara.
Arya kemudian berjalan menuju rak penyimpanan bahan pembuatan obat.
"Ah ini jahe hitam jenis jahe yang sangat langka" gumam Arya
"Ada juga ginseng api, bunga bintang salju, jamur tulang dan ini daun tapak darah"
Arya terus mengamati bahan bahan obat yang tersusun rapi didalam rak. Arya benar benar kagum dengan koleksi bahan pembuatan obat yang dimiliki oleh Paviliun Obat.
Setengah jam kemudian Guru Besar Isnu tiba.
Melihat kedatangan Guru Besar Isnu, Arya langsung menghampirinya dan membungkukkan badan memberi hormat.
"Salam hormat dari murid untuk Guru Besar" kata Arya
Guru Besar Isnu duduk dikursi yang ada dan kemudian meminta Arya duduk dikursi yang posisinya berhadapan. Keduanya hanya dipisahkan oleh meja jati.
"Hari ini seperti janjiku kepada anaknda, aku akan mulai membimbingmi untuk menjadi seorang alchemist" kata Guru Besar Isnu
"Berhasil atau tidaknya itu tergantung dari seberapa besar tekad yang anaknda miliki, bakat hanyalah faktor keberuntungan tambahan saja, percuma memiliki bakat besar namun tekadnya tidak ada" Guru Besar Isnu mulai menjelaskan
"Syarat berikutnya yang mendukung keberhasilan seorang alchemist adalah kemampuan menghapal bahan bahan pembuatan obat yang meliputi nama, sifat, kandungan dan kegunaan dari bahan bahan obat" lanjut Guru Besar Isnu
"Kemudian syarat berikutnya harus memiliki simpanan energi qi didalam tubuh yang cukup besar setidak tidaknya energi qi yang tersimpan paling rendah sebesar seribu douqi atau pada tingkat kultivasi D-5" kata Guru Besar Isnu menjelaskan syarat minimal level kultivasi untuk menjadi seorang alchemist
"Itulah alasannya mengapa pelajaran meracik obat baru akan diberikan pada semester kedua untuk siswa tahun kedua"
"Yang membedakan pembuatan obat dari seorang alchemist yang juga seorang kultivator dengan metode pembuatan biasa adalah penggunaan energi qi didalam proses pembuatan obat dan juga obat yang dihasilkan berbeda, obat yang dihasilkan oleh alchemist kultivator mengandung energi qi didalamnya sementara yang dihasilkan alchemist biasa tidak mengandung qi"
__ADS_1
"Obat yang memiliki kandungan qi didalamnya berkhasiat berkali kali lipat dari obat biasa, tidak hanya untuk seorang kultivator tapi juga orang biasa"
"Namun tidak semua obat ini dapat dikonsumsi oleh orang biasa, contohnya pil energi ini, yang jika dikonsumsi oleh seorang kultivator maka akan membantu mengisi kembali energi qi didalam dantian dengan lebih cepat, tapi jika di konsumsi oleh orang biasa tidak akan memberikan khasiat apapun" kata Guru Besar Isnu memberi contoh dengan menunjukkan sebuah pil obat berukuran sedikit lebih kecil dari kelereng, pil obat tersebut berwarna biru dan memancarkan sedikit cahaya, dan jika disentuh akan terasa kandungan energi qi didalamnya
"Sampai disini dulu penjelasannya apakah anaknda ada yang kurang jelas dan ingin ditanyakan ?" kata Guru Besar Isnu
"Untuk saat ini belum, murid cukup memahami penjelasan dari Guru Besar" jawab Arya
"Baiklah, sekarang ulurkan tangan kananmu, aku akan mengecek berapa banyak qi yang tersimpan dalam tubuhmu" kata Guru Besar Isnu
Arya mengulurkan tangan kanannya seperti yang diminta. Guru Besar Isnu menyentuh pergelangan tangan kanan Arya dan mulai menyalurkan qi miliknya.
"Apa ........ anaknda sudah berada dilevel D-4" kata Guru Besar Isnu terkejut dengan hasil pemeriksaannya
"Ini .... ini ...... sangat luar biasa .. untuk seorang anak berusia sebelas tahun berada di level D-4" gumam Guru Besar Isnu dalam hati
Awalnya Guru Besar Isnu hanya akan memberikan Arya pelajaran teori terlebih dahulu karena Guru Besar Isnu mengira level Arya belum mencukupi.
"Kalau begitu aku harus mengubah rencana pelajaran yang telah aku buat" kata Guru Besar Isnu dalam hati
"Kamu sudah memenuhi syarat minimum untuk menjadi seorang alchemist" kata Guru Besar Isnu
Arya tersenyum senang mendengar hal itu.
"Sekarang aku ingin tahu sampai sejauh mana pemahaman anaknda tentang bahan bahan obat" kata Guru Besar Isnu kemudian berdiri dari duduknya
Guru Besar Isnu lalu meminta Arya untuk mengikutinya. Mereka berdua menuju rak penyimpanan bahan bahan obat.
"Anaknda tentu sudah membaca Kitab Obat Warisan Raja Obat dari Tenggara meskipun belum seluruhnya, dan Kitab Ensiklopedia Bahan Obat yang telah aku berikan salinannya" kata Guru Besar Isnu
Arya menganggukan kepala menandakan kalau dia sudah melakukan apa yang dikatakan Guru Besar Isnu barusan.
"Coba anaknda sebutkan nama dari bahan obat itu berikut penjelasan sifat, kandungan dan kegunaannya" kata Guru Besar Isnu sambil menunjuk kearah rak penyimpanan bahan obat
Arya mulai mengambil satu persatu bahan obat dan kemudian menyebutkan namanya berikut penjelasan sifat, kandungan dan kegunaan dari bahan obat tersebut. Arya menjelaskan dengan sangat lancar. Tidak terasa sudah lebih dari tiga puluh bahan obat yang dijelaskan oleh Arya dengan tepat dan benar.
"Anak ini benar benar istimewa" puji Guru Besar Isnu dalam hati karena kagum melihat apa yang ditunjukkan Arya kepadanya
"Baiklah itu cukup" kata Guru Besar Isnu
__ADS_1