
Tidak terasa sudah satu bulan Arya berada di Akademi Garuda Sakti. Selama tiga minggu terakhir Arya dengan rutin berlatih teknik Sembilan Aji bagian pertama.
Perkembangan Arya sangat pesat dibanding siswa lain yang satu angkatan. Berkat teknik Sembilan Aji yang dipelajarinya kini tingkat kultivasi Arya telah berada pada level E-4.
Dengan level ini membuat Arya menjadi siswa terkuat diangkatannya. Bahkan dengan levelnya saat ini sudah setara dengan tingkatan kultivasi siswa yang lebih senior.
Semakin tinggi level kultivasi maka akan semakin sulit untuk naik ke level berikutnya. Tidak hanya butuh usaha dan kerja keras, juga butuh sumber daya yang sangat banyak.
Sekarang Arya sedang berada diperpustakaan. Hampir tiga minggu terakhir Arya tidak pernah memyentuh Kitab Sastrajendra. Kali ini Arya akan mencoba membuka halaman ketiga dari Kitab Sastrajendra.
Kitab Sastrajendra memiliki nama lain yaitu Kitab Tanpa Aksara. Dinamakan demikian karena memang Kitab Sastrajendra seolah tidak memiliki satu hurufpun didalamnya. Kitab Sastrajendra bagi sebagian besar orang hanyalah sebuah kitab kuno yang berisi kertas kosong. Mereka tidak tahu bahwa ada rahasia tersembunyi dalam kitab itu.
Arya termasuk orang yang beruntung dapat memecahkan rahasia Kitab Tanpa Aksara. Itupun baru bisa membuka halaman pertama dan kedua kitab itu.
Arya memberanikan diri untuk mencoba membuka halaman selanjutnya karena merasa telah memenuhi syarat untuk membuka halaman selanjutnya.
Syarat untuk membuka halaman selanjutnya adalah harus terlebih dahulu menguasai semua teknik yang dijelaskan pada halaman kedua.
Jika sebelumnya untuk membuka Kitab Tanpa Akasara nama lain dari Kitab Sastrajendra adalah dengan menggunakan tetesan darah, maka untuk membuka halaman ketiga tidak menggunakan metode darah seperti itu lagi melainkan dengan menyalurkan energi qi.
"Hmmm aku akan coba mengalirkan energi qi milikku" gumam Arya
"Semoga saja" kata Arya berharap dalam hati
Arya meletakan Kitab Tanpa Aksara diatas meja baca, membukanya perlahan. Setelah sedikit mengulangi lagi membaca halaman pertama dan kedua, Arya memandangi halaman ketiga yang masih tampak kosong.
Sebelumnya Arya pernah mencoba meneteskan darahnya untuk membuka halaman ketiga namun cara itu gagal. Arya meletakkan telapak tangan kanannya keatas halaman dan kemudian secara perlahan mengalirkan energi qi miliknya.
Begitu Arya mengalirkan energi qi muncul cahaya keemasan dari halaman ketiga Kitab Tanpa Aksara. Beberapa saat kemudian cahaya keemasan itu hilang. Dan tiba tiba Arya merasa kalau Kitab Tanpa Aksara itu mulai menyedot energi miliknya. Awalnya energi qi yang diserap cukup kecil tapi lama kelamaan energi qi milik Arya yang diserap oleh Kitab Tanpa Aksara semakin besar.
Sudah separuh lebih energi qi Arya yang diserap oleh Kitab Tanpa Aksara dan belum ada tanda tanda kalau itu akan berhenti.
Arya mulai panik, meskipun energi qi dalam dantian habis itu dapat diisi ulang. Namun mengisi ulang energi qi dalam dantian membutuhkan banyak waktu dan sumberdaya.
Tubuh Arya gemetaran, dia sudah mencoba untuk melepas telapak tangannya dari Kitab Tanpa Aksara, tetapi tidak bisa.
Energi qi milik Arya kini tersisa tidak sampai duapuluh persen lagi.
Ketika energi qi Arya hanya tersisa sepuluh persen lagi barulah Kitab Tanpa Aksara berhenti menyerap energi qi milik Arya tersebut.
__ADS_1
"Puih akhirnya selesai juga" kata Arya
Arya merasa tubuhnya sangat letih dan lemah akibat energi qi miliknya diserap paksa oleh Kitab Tanpa Aksara.
"Ahh untung saja levelku sudah naik, barusan itu hampir saja membuatku celaka" Arya bersyukur dirinya telah naik level jika masih berada pada level sebelumnya Arya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.
Perlahan lahan cahaya keemasan mulai membentuk rangkaian aksara kuno. Seiring hilangnya cahaya keemasan muncul aksara kuno menyusun kata membentuk kalimat pada halaman Kitab Tanpa Aksara yang sebelumnya kosong.
Arya segera mengeluarkan pena dan buku catatannya untuk menyalin aksara yang barusan muncul.
Halaman ketiga Kitab Sastrajendra atau Kitab Tanpa Aksara menjelaskan bagian kedua dari Sembilan Aji. Bagian kedua ini adalah kelanjutan dari bagian pertama sebelumnya.
Sama seperti bagian pertama bagian kedua ini berisi tiga aji yaitu Aji Brama (Api), Aji Kayon (Kayu/Tanaman) dan Aji Wesi.
Jika pada bagian pertama menyiratkan dasar kehidupan maka bagian kedua ini menyimbolkan pelengkap kehidupan.
Aji Brama (Api) menjelaskan bahwa dengan kekuatan api manusia dapat memenuhi kebutuhannya untuk hidup. Manusia dapat menggunakan api untuk segala keperluannya. Api dimanfaatkan untuk memasak makanan, sebagai penerangan bahkan untuk membuat aneka peralatan dan senjata.
Kekuatan api bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Dapat mendatangkan manfaat sekaligus membawa bencana. Tinggallagi bagaimana cara api itu digunakan dan tujuan penggunaannya.
Aji Kayon (Kayu/Tanaman), tanaman pemberi kehidupan. Menyediakan sumber pangan bagi mahluk hidup lainnya. Kayu memberikan perlindungan bagi manusia. Manusia memanfaatkan kayu untuk bahan membuat tempat tinggal.
Aji Wesi (Besi/Logam), Logam sebagai bahan pembuatan peralatan dan senjata. Logam menjadi akar dari kemajuan peradaban manusia. Logam atau besi memjadikan manusia menjadi mahkluk yang lebih superior dari mahluk lainnya.
Dengan menguasai ketiga aji pada bagian kedua ini akan membuat teknik serangan seorang kultivator meningkat beberapa kali lipat.
Selesai menyalin Arya melafalkan kalimat kalimat yang tertulis pada halaman ketiga Kitab Sastrajendra. Selesai Arya melafalkan kalimat kalimat itu muncul seberkas cahaya keemasan dari dalam kitab langsung menuju kearah kening Arya.
Arya merasakan kepalanya sakit luar biasa saat cahaya itu menghujam kepalanya. Arya melihat cahaya keemasan berubah menjadi aneka bentuk aksara kuno yang kemudian membentuk kata lalu serangkaian kalimat.
Selanjutnya Arya seperti sedang menyaksikan tayangan sebuah film yang menampilkan seseorang yang melakukan gerakan gerakan seperti sebuah jurus dari teknik beladiri. Semua itu terekam dengan sangat jelas dalam kepala Arya.
Setelah beberapa saat bayangan itu hilang. Arya terduduk lemas, tubuhnya dibasahi oleh keringat. Arya menarik nafas panjang beberapa kali.
"Akhirnya aku berhasil membuka halaman ketiga" gumam Arya
Apa yang dilakukan oleh Arya selama ini sebenarnya tidak luput dari perhatian Guru Rita. Awalnya Guru Rita bersikap biasa saja kepada Arya. Bagi Guru Rita adalah sesuatu yang wajar kalau seorang siswa keperpustakaan.
Tapi kemudian Guru Rita tertarik kepada Arya karena hanya Arya lah yang paling rajin mengunjungi perpustakaan dibanding siswa lainnya.
__ADS_1
Guru Rita mengamati kalau setiap hari Arya selalu mengunjungi perpustakaan. Dan Arya menghabiskan waktu cukup lama didalam perpustakaan.
Seperti kali ini Guru Rita sedang memperhatikan apa yang sedang Arya lakukan. Guru Rita menjadi penasaran dan kemudian berjalan menuju ke meja Arya dengan perlahan.
Arya tidak menyadari kehadiran Guru Rita karena sedang berkonsentrasi mempelajari isi halaman ketiga Kitab Tanpa Aksara.
"He em" Guru Rita berdehem yang sukses membuat Arya terkejut
"Eh Guru Rita" kata Arya
Guru Rita memperhatikan kalau ada buku catatan dengan tulisan aksara kuno diatas meja.
"Apakah kamu bisa melihat aksara dalam kitab itu" tanya Guru Rita menunjuk Kitab Tanpa Aksara
"Ya" jawab Arya singkat sambil menganggukkan kepala
"Aksara pada buku catatan ini isi dari kitab itu"
"Ya" kembali Arya menjawab dengan singkat
"Dan kamu bisa membaca aksara kuno itu" tanya Guru Rita yang semakin takjub dengan Arya
"Ya" jawab Arya
"Ha ha ha ha ha" Guru Rita tertawa senang
"Akhirnya rahasia Kitab Tanpa Aksara terpecahkan, kamu benar benar jenius Arya"
"Kitab Tanpa Aksara" kata Arya bingung
"Tapi kitab ini bernama Kitab Sastrajendra" lanjut Arya
"Kitab Sastrajendra" kata Guru Rita mengulang perkataan Arya
"Ya Kitab Sastrajendra" kata Arya kembali menegaskan
"Ya ya baiklah baiklah" kata Guru Rita
"Begini saja, apakah kamu mau menjelaskannya kepadaku" tanya Guru Rita
__ADS_1
"Mengapa tidak, aku akan menjelaskannya kata Arya