
Tahun keduabelas era monster.
Matahari belum lama menunjukan dirinya. Pancaran sinar matahari belum mampu menghapus dingin pagi sepenuhnya.
Sebagian penjaga diatas dinding Benteng Kecil tampak tertidur dengan berbagai posisi. Sebagian yang lain meskipun masih mengantuk masih berusaha untuk tetap terjaga dan waspada.
"Tar.... Tar hei Tarno" kata Sardi berbisik pada temannya Tarno yang masih tampak mengantuk setelah berjaga semalaman
Sardi dan Tarno adalah anggota kelompok Sena yang saat ini bertugas jaga di menara sudut tenggara pada benteng lapis pertama.
"Ada apa sih" jawab Tarno enggan karena masih dikuasai rasa kantuk
"Coba kamu lihat di tepian hutan disana" kata Sardi
Tarno dengan malas mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjukkan Sardi. Semak semak yang berada ditepian hutan itu terlihat bergerak gerak, tampak kelebatan bayangan samar.
Tarno mengambil teropong dan mengamati area itu. Seketika itu juga rasa kantuk yang menguasainya hilang.
"Mons..... mons.....monster" kata Tarno gugup
"Apa monster" seru Sardi kemudian mengambil teropong dari tangan Tarno dan mengamati area yang dicurigainya tadi.
"Benar No itu monster" kata Sardi
Sardi segera mengambil peluit yang tergantung dilehernya lalu meniupnya.
Suara peluit yang berbunyi nyaring membuat penjaga di menara pengamatan yang lain waspada.
Tarno mengambil Handy Talky dan segera melaporkan adanya pergerakan monster.
"Copy copy komando ganti" kata Tarno
"Copy disini komando ganti" jawab seseorang di pusat komando
"Copy menara tenggara satu melapor melihat monster ganti"
"copy diterima, ada berapa ekor ganti"
"Copy belum diketahui ganti"
"Copy laporan diterima lanjutkan dan tetap waspada ganti"
"Copy siap ganti, menara tenggara satu selesai"
Gito yang bertugas di pusat komando telah menerima laporan dari Sardi dari menara tenggara satu dan dengan segera melaporkan kepada Sena.
Sena segera memberikan pengumuman kepada semua anggota kelompoknya agar bersiap siap akan adanya serangan monster dan segera menjalankan protokol keselamatan yang telah dibuat bersama.
Sena selaku pemimpin kelompok telah menyusun semacam protokol keselamatan bagi semua penghuni Benteng Kecil seandainya terjadi serangan monster.
NGUUUUUUUUUNG
Alarm dibunyikan sebagai pertanda adanya serangan monster.
Maka begitu alarm tanda bahaya telah dibunyikan warga tidak panik dan dengan tertib menjalankan protokol keselamatan.
Wanita dan anak anak serta mereka yang tidak dapat bertarung dengan tertib memasuki bunker perlindungan dibawah tanah. Bunker bawah tanah itu terhubung melalui lorong dibawah tanah dengan gua perlindungan.
Sementara warga yang dapat bertarung segera mengambil perlengkapan dan senjata. Dalam waktu singkat mereka telah menempati posisinya masing masing.
Ada sekitar dua ratus delapan puluh tujuh anggota kelompok yang kini siap bertarung. Mereka dibagi kedalam dua posisi. Seratus orang dibagian benteng kedua dan sisanya di benteng pertama.
Sena mengambil tempat di menara yang berada diatas pintu masuk benteng pertama.
Setiap orang sudah bersiap dengan senjata masing masing. Sebagian besar menggunakan panah sebagai senjata, selain itu juga ada beberapa pucuk senapan dengan amunisi batu kristal energi.
Enam meriam energi juga telah disiapkan berikut batu kristal energi yang akan menjadi amunisinya.
Ratusan bom molotov tersusun dalam kotak kotak kayu, obor sebagai pemantik apinya juga telah dinyalakan.
Perisai tombak pedang parang juga telah siap untuk melakukan pertarungan jarak dekat seandainya monster mampu menerobos.
Hampir semua anggota kelompok Sena menggunakan zirah pelindung untuk melindungi tubuhnya. Zirah itu mereka buat sendiri dari bahan bahan yang mereka temukan. Meski sederhana paling tidak mampu sedikit melindungi tubuh.
Sena sendiri menggunakan zirah berwarna hitam yang hampir menutupi seluruh tubuh. Zirah itu dirancang dan dibuatnya sendiri menggunakan bahan mineral logam hitam yang dia temukan.
Tangan kirinya menggenggam busur yang juga bewarna hitam selaras dengan warna zirahnya.
Puluhan anak panah dengan mata logam khusus dan batang panah terbuat dari kayu tersusun rapi dalam beberapa keranjang dari anyaman bambu.
Sena tampak gagah layaknya jenderal perang. Dengan tenang dia terus memperhatikan pergerakan monster.
Tidak lama kemudian terdengar suara raungan keras dan serentak monster monster itu berlari menyerbu kearah benteng kecil.
AARRRRRGHHHHHHH
__ADS_1
Monster yang menyerang kali ini tidak banyak jumlahnya hanya sekitar puluhan saja. Monster yang menyerang kali ini memiliki kekuatan paling tinggi pada level C-UT. Beberapa diantaranya bertype humanoid yaitu jenis monster yang berjalan tegak dengan dua kaki seperti manusia.
Ada empat jenis monster yang menyerang kali ini. Jenis pertama adalah monster serigala hitam yang berukuran sebesar sapi dewasa.
Jenis kedua monster banteng dengan tiga tanduk tajam dikepalanya.
Jenis ketiga monster yang berbentuk seperti trenggiling dengan ukuran sebesar kambing besar memiliki sisik keras ditubuhnya.
Terakhir monster bertype humanoid monster beruang baja. Pada badannya tumbuh eksosskleton atau rangka luar yang keras membuat monster beruang ini seperti menggunakan zirah pelindung. Memiliki cakar dan taring besar lagi tajam.
"Pemanah bersiap" teriak Sena memberi komando
Segera anggota kelompok yang bersenjata panah mengangkat busur dan memposisikan anak panah pada busur.
Monster monster itu semakin mendekati benteng.
"Bidik" kata Sena
"Penembak meriam tembak" kata Sena
Penembak meriam pun melepaskan tembakan. Berbeda dengan meriam biasa yang saat menembak mengeluarkan suara ledakan, meriam energi qi nyaris tidak bersuara hanya terlihat kilatan cahaya yang keluar dari moncong meriam dan suara berdesing yang menandakan kalau meriam itu telah menembak.
Duar duar duar
Bunyi ledakan keras terdengar beberapa kali. Ledakan yang ditimbulkan oleh peluru energi beberapa kali lebih kuat dari peluru meriam biasa.
Seketika enam belas monster mati seketika terkena tembakan meriam. Diantaranya tiga ekor monster Beruang Baja yang mati dengan kondisi tubuh penuh luka.
"Pemanah tembak"
Puluhan anak panah terbang mengincar titik lemah sasaran. Beberapa anak panah meleset dari sasaran. Beberapa anak panah lainnya mengenai sasaran tetapi tidak pada titik lemah sehingga monster yang terkena tidak langsung mati meskipun beberapa anak panah tertancap di tubuhnya.
Hanya ada tujuh ekor monster yang tumbang dan mati terkena anak panah yang tepat menyasar titik lemah.
"Senapan bersiap" kembali Sena memberi komando
"Tembak" kata Sena memerintahkan
Sepuluh monster tumbang terkena tembakan peluru energi.
"Tembak"
Kembali sepuluh monster tumbang terkena tembakan yang tepat sasaran.
Jumlah monster kini tinggal separuhnya, tanpa mempedulikan kawanannya yang mati monster monster itu terus maju merangsek kearah benteng.
"Lempar"
Bom molotov meledak menyalakan api yang sangat besar. Beberapa monster dengan segera terkena api dan tubuhnya terbakar.
"Semua serang"
Semua anggota kelompok menyerang dengan senjata yang dipegangnya. Ada yang menggunakan panah senapan dan tombak yang dilempar.
Setelah jaraknya cukup dekat dengan tembok benteng beberapa monster mengeluarkan serangan jarak jauh. Beberapa monster memang diketahui mampu melancarkan serangan energi qi.
Beruang baja membuka mulutnya lebar lalu meraung keras mengeluarkan gelombang suara super sonik menyerang anggota kelompok Sena yang berada diatas tembok benteng.
Beberapa anggota kelompok yang terkena serangan gelombang suara seketika tumbang dengan kondisi terluka parah terutama pada bagian telinga.
Melihat itu Sena segera mengambil tindakan, Sena mengarahkan busur panah membidik ke arah leher Beruang Baja yang merupakan salah satu titik lemah dari monster itu.
Sssshhhuuuuuut
Anak panah lepas dari busur menuju sasaran.
Jleb ....... Aaarrrghhhh
Anak panah tepat mengenai sasaran diiringi suara raungan keras dari Beruang Baja yang lehernya terkena anak panah.
"Penembak bidik kepala Beruang Baja" teriak Sena keras memberi komando
Dua berkas sinar melesat dari dua moncong senapan mengarah ke kepala Beruang Baja.
Duar duar
Dua ledakan kecil terdengar saat peluru energi mengenai sasaran. Beruang Baja terakhir itu pun tumbang dengan kepala hancur menyusul Beruang Baja lain yang terlebih dahulu mati terkena hantaman peluru energi dari meriam.
Tersisa belasan monster, yang masih terus berusaha untuk naik keatas tembok benteng.
Tiga ekor Banteng Tiga Tanduk berhenti beberapa meter dari tembok benteng. Dari ketiga tanduk muncul kilatan kilatan petir yang kemudian menyatu di tengah tengah. Tiga kilatan petir menyatu membentuk bola petir.
Banteng Tiga Tanduk melemparkan bola petir diatas kepalanya kearah kelompok sena yang berada diatas tembok benteng.
"Awas serangan" Sena memperingatkan anggotanya
__ADS_1
Duar duar duar
Tiga ledakan terdengar keras saat bola bola petir itu menghantam tembok benteng. Beberapa orang terluka parah terkena serangan bola bola petir.
"Serang ketiga Banteng itu" kata Sena
Sena kembali mengangkat busur dan membidik salah satu Banteng Tiga Tanduk.
Slash
Anak panah melesat menuju sasaran yang kali ini sasaranya adalah bagian mata Banteng Tiga Tanduk.
Trak
Anak panah patah terkena tanduk Banteng yang keras. Sesaat sebelum anak panah menembus matanya Banteng Tiga Tanduk menggerakkan kepala dan menangkis serangan anak panah dengan tanduk miliknya.
"Ahh sial" kata Sena melihat serangannya gagal
Sena mengangkat kembali busurnya kali ini dia menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan anak panah.
Para penembak juga menunggu saat yang tepat untuk melepaskan tembakan kearah tubuh banteng. Banteng Tiga Tanduk memiliki kulit yang keras dan tebal. Tembakan peluru energi memang dapat menembus kulit monster ini tapi belum dapat membuatnya tumbang.
Beberapa anak panah melesat menuju salah satu dari Banteng Tiga Tanduk. Dengan lincah Banteng Tiga Tanduk menghindar dan menangkis serangan yang datang. Saat Banteng Tiga Tanduk mengangkat kedua kaki depannya saat itulah celah pertahanannya terbuka. Bagian bawah mulut sampai ke leher adalah titik lemah dari Banteng Tiga Tanduk.
Melihat celah yang terbuka segera Sena melepas anak panah. Dua orang penembak juga melepaskan tembakan bersamaan saat Sena melepas anak panah.
Duar duar jleb
Dua ledakan terdengar saat peluru energi lebih dahulu menembus bagian bawah mulut Banteng Tiga Tanduk menyusul kemudian sebuah anak panah yang menembus lubang bekas tembakan langsung ke otak Banteng Tiga Tanduk.
Seekor lagi monster Banteng Tiga Tanduk berhasil dibunuh masih bersisa dua ekor lagi.
Sementara itu terlihat beberapa ekor monster Trenggiling dan Srigala tubuhnya terbakar api dari ledakan bom molotov. Monster monster itu bergulingan kesana kemari berusaha memadamkan api yang membakar tubuhnya. Suara raungan seram keluar dari mulut monster monster itu.
Beberapa orang melemparkan tombak untuk membunuh monster yang terbakar.
Jleb jleb
Suara tombak yang berhasil mengenai sasaran, monster yang terkena tombak seketika tumbang.
Hanya tersisa sembilan ekor monster lagi. Dua ekor monster Banteng Tiga Tanduk, seekor monster Trenggiling dan enam ekor monster Srigala.
"Lemparkan bom asap pembius" kata Sena memerintahkan
Sena berniat menangkap sisa monster ini hidup hidup. Monster dalam kondisi hidup bernilai sangat mahal. Monster ini nantinya akan dijadikan bahan penelitian oleh para ilmuwan.
Sementara monster yang telah mati juga dapat dimanfaatkan. Inti monster dan bagian bagian tubuh tertentu dari monster sangat dicari oleh kultivator.
Duar duar duar
Ledakan dari bom asap pembius yang dilemparkan. Seketika areal disekitar monster dipenuhi asap pekat bewarna kuning.
Sena dan anggota kelompoknya segera menyingkir mengambil jarak agar tidak terkena asap pekat itu.
Buk buk buk
Terdengar suara seperti benda jatuh. Tidak dapat dilihat secara pasti karena asap kuning itu sangat tebal hingga menghalangi pandangan. Senyum kecil terlihat dibibir Sena, dirinya tahu pasti suara itu menandakan beberapa monster telah roboh tidak sadarkan diri terkena efek racun pembius.
Buk buk
Kembali suara itu terdengar.
Sena dan kelomloknya tetap tenang menunggu diposisinya sampai asap kuning pekat itu perlahan menghilang.
Setelah asap kuning menghilang tampak tubuh monster yang bergelimpangan. Pertempuran berakhir dengan kemenangan dipihak Benteng Kecil.
Tidak ada yang gugur dipihak Sena hanya ada beberapa orang yang terluka.
Untuk saat ini mereka berhasil mengatasi serangan monster karena jumlah monster yang menyerang sedikit dan level kekuatan monster juga rendah.
Sena khawatir kalau serangan ini sebenarnya hanya untuk mengetes kekuatan yang dimiliki Benteng Kecil. Sena merasa ada keberadaan yang sedang mengamati mereka dari balik rimbunnya hutan.
Tapi yang terpenting sekarang adalah membereskan sisa sisa pertempuran dan kembali mempersiapkan diri untuk pertempuran yang akan datang.
"Anggota yang berada di benteng kedua segera menuju kesini" kata Sena melalui Handy Talki meminta anggota yang berada di benteng kedua membantu.
Setelah semuanya berkumpul, Sena langsung membagi tugas.
"Bawa yang terluka keruang perawatan"
"Persiapkan tali khusus, ikat segera monster yang masih hidup"
"Yang lain segera kumpulkan inti monster dan bagian tubuh yang dapat kita manfaatkan"
"Sebagian lagi tetap diatas tembok benteng tetap waspada dan jangan lengah"
__ADS_1
Dengan sigap dan cekatan semua anggota kelompok melakukan apa yang diperintahkan Sena sebagai pemimpin mereka.