Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
10


__ADS_3

~Separuh napasku ada di dalam dirimu. Aku tidak akan sanggup hidup bila separuh napasku pergi


💟Happy Reading💟


Author POV


Saat ini Tae, Jihwan dan Zia melakukan pertemuan. Zia tergesa-gesa menghampiri Tae dan Jihwan yang telah duduk di meja nomor 12.


"Maaf,  saya baru selesai praktek," ujar Zia.


"Tidak apa-apa," kata Jihwan cepat. Eoh? Apa Jihwan benar-benar jatuh cinta pada Zia?


Zia tersenyum dan melihat wajah datar di hadapannya. Dia begitu dingin dan Zia tahu siapa pemuda ini.


"Emm, jadi?" tanya Zia mengantung.


"Saya ingin Anda menangani Echa," ujar Tae to the point.


Jihwan sesekali menyeruput jusnya. Melihat Zia dan Tae berbicara serius. Dia memutar bola mata kesal. Hey bung, kita ini mengadakan pertemua di cafe biar kesannya santai kalau ngobrol. Tapi lihat ... Mereka seperti membahas meeting.


"Ekhm, bisakah kalian tidak sekaku ini mengobrol? Oh ayolah,  kita ini teman," ujar Jihwan santai. Zia tertawa mendengar ucapan Jihwan. Teman apanya? Bahkan dia lebih tua daripadanya. Jihwan memang lucu.


Tae menggeram dalam hati. Bisa-bisanya pria ini mengatakan itu. Jihwan hanya cecengesan mendapat tatapan geli Zia.


"Diam," desis Tae membuat Jihwan merenggut tidak suka tapi tidak berani protes.


"Saya masih ada waktu untuk 6 bulan menyelesaikan kuliah saya. Saya harap Anda mengerti. Soal Echa,  saya mengenalnya dan saya akan membantunya."


"Hufggh  ... Baiklah. Tapi jelaskan apa kendalanya sampai operasi Echa belum dilakukan? Soal uang--itu tidak mungkin."


Zia terdiam cukup lama. Menerawan saat gadis itu hendak di operasi tapi jatuh dari tangga,  hingga syaraf dekat matanya mengalami pembengkakan serius.


Jika dipaksa,  dia bisa buta seumur hidup.


"Datanglah besok ke rumah sakit tempat saya praktek. Saya akan menjelaskan lebih terperinci di sana."


"Baiklah."


"Pendornya  ... Apa sudah ada?"


"Aku harus memastikannya besok. Aku harap itu cocok untuknya."


"Siapa namanya?"


Jihwan dan Zia menatap dalam Tae. Hingga mereka harus tahu siapa pendonornya.


***


Seorang gadis berjingkak-jangkirik di dalam kamarnya. Dia baru saja menerimana telepon dari kekasihnya.


"Yes! Yeyyy dua hari lagi dia pulang!" teriaknya bahagia.


Tripleks yang ingin mengajak Echa mengobrol tersenyum melihat nunanya seperti orang gila. Saking bahagianya, doi udah pulang.

__ADS_1


"Nuna!" teriak Ryeong.


"Eh sejak kapan kamu di sini?"


"Sejak Nuna teriak-teriak," godanya.


Pipi Echa memerah malu. Dia mengerucutkan bibir kesal. Ray, Ryung dan Ryeong tertawa puas melihat wajah Nunanya.


Ray menarik Echa hingga mereka tiduran di kamar Echa. Ryeong dan Ryung juga ikut tiduran.


"Nuna  ... Apa kamu bahagia memilikinya?" tanya Ray.


"Sangat bahagia. Kamu tahu aku menyukainya sejak mendengar suaranya. Aku tahu wajahnya pasti sangat menyebalkan saat menjawab semua pertanyaan wartawan dengan suara datarnya."


"Emm, lalu bagaiamana kalau dia jelek, Nuna?" tanya Ryung.


"Aku tidak mencintainya karena fisik. Kamu harus tahu jika media selalu mengoceh betapa tampannya Tae. Aku jadi merindukannya ketika membahasnya. Aaaaaa  ... Begoshipda!" teriak Echa membuat Triplek's tutup telinga.


Mereka geleng-geleng kepala melihat tingkah Echa. Hingga suara melengking membuat Triplek's menutup mata cepat. Echa tertawa saat pinggangnya dipeluk. Ummm sepertinya Triplek's pura-pura tidur.


"Eonni! Eonni  ... Eonnie!"


"Yeeeee!" teriak Echa yang membuat Ray di dekatnya merenggut karena berisiki. Dia mendaratkan ciuman di pipi kanan Echa.


Cklek.


Pintu terbuka.


"Waeyo?" tanya Echa.


"Omo  ... Aigooya, ternyata Triplek's ada di sini," katanya tapi matanya tertuju pada Ray.


Siapa lagi dia?


Jung Jena.


Jena menatap jahil Ray,  dia tahu mereka hanya pura-pura tidur. Jena melangkah hati-hati.


"Ehum, Eonni! Tripleks tidur?" tanyanya membuat Echa tersenyum geli.


"Sepertinya ti  ... Dur," ujar Jena mengejek. Wajah tenang mereka.


Jangan lupa dia anak artis papan atas. Hana menurunkan bakatnya pada anaknya.


"Padahal aku kangen sama Oppa Ray," rengek Jena manja.


"Tapi dia tidur," ujar Echa.


"Guereyo? Maka aku juga akan tidur Eonni," ujar Jena membuat Ray tertawa dalam hati,  hingga dia membuka matanya cepat saat mendengar ucapan Jena.


"Tidur di atas tubuh Ray Oppa," ujarnya. Dia tertawa saat Ray bangun dan menatapnya tajam.


"Hahahahaha." Jena terus tertawa. Ryeong dan Ryung menggaruk tengkuknya tidak gatal. Echa sudah tertawa terpikal-pikal.

__ADS_1


"Ck," decak Ray dan meninggalkan kamar Echa.


Jena melunturkan senyumnya. Dia tersenyum tipis. Ryeong dan Ryung melihat kesedihan sepupunya. Echa tahu jika Jena mencintai Ray.


"Jena dengan siapa kamu ke sini?" tanya Ryeong.


"Dengan Ulfi Oppa, dia temanku."


"Ayo kita ke bawah,  temanmu pasti menunggu terlalu lama."


"Ne, Eonni kaja!" ajak Jena.


Echa ikut bergabung dengan mereka. Ryung memanggil Soobin, Yeonjun dan Yoongi.


"Apa kita harus makan-makan besar? Membakar daging dan sosis? Wahh  ... Jinjja!" Jena hebo sendiri.


Hingga Ray datang dan duduk dekat Echa. Ulfi mengerutkan kening melihat Ray. Dia  ... Ahh siapa pria ini? Seperti tidak asing. Aigoyaaa!  Pria dingin berasama temannya yang ia tabrak.


Hingga Yoongi, Yeonjun dan Soobin datang.


"Jadi apa yang kita lakukan untuk adik manis ini?" tanya Soobin karena mereka memang mengenal Jena.


"Hehehe Oppa, kita akan membuat pesta!" teriaknya bahagia.


"Heoh, aku tidak percaya. Ini rumah siapa?" guman Ray.


Echa mencubit pelan pinggan Ray. Jena hanya tertawa mendengar sindiran Ray.


"Auntyyy!" teriak Jena membuat Aeri kaget. Keponakannya sangat heboh.


"Hey nak, kapan kamu datang?" tanya Aeri.


"Emm beberapa menit yang lalu. Aunty kami ingin berpesta di sini," ujar Jena sambil memasang puppy eyesnya.


"Boleh, Aunty ke dapur dulu."


Aeri akan membuatkan minuman dan memberikan cemilan kepada mereka. Mendengar gelak tawa mereka yang memenuhi ruangan membuat bibirnya ikut berdenyut. Dia tersenyum.


Aeri meletekkannya di atas meja. Membuat Jena melayangkan protesnya.


"Aunty tak harusnya repot-repot begini. Jena bisa mengambilnya sendiri," ujarnya membuat Aeri gemas melihatnya.


"Makanlah," ujar Aeri dan meninggalkan mereka.


Dia merogoh ponselnya saat ada notif.


"Echa mendapatkan donor mata dan 6 bulan yang akan datang, Zia kembali melalukan pengecekan serius untuk mata Echa."


Aeri merasa matanya memanas mendengar berita bahagia itu dari suaminya. Tuhan  ... Siapa pendor baik hati itu? Dia bersyukur Echa bisa memiliki peluang melihat kembali.


TBC


Follow gak rugikan? Berarti banget kalau difollow :)

__ADS_1


__ADS_2