Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
7


__ADS_3

💟Happy Reading💟


Sejak pulang dari Tama kota,  Echa banyak diam. Ryung berulang kali mengajak Echa bicara tapi Echa hanya diam.


Aeri sedih melihat air mata Echa jatuh dan cepat juga anaknya mengusap. Aeri menarik kepala Echa bersandar di dadanya. Echa mengigit pelan bibirnya.


Bukan hanya penolakan Taehyung yang membuatnya menangis. Tapi keadaannya. Dia menangis karena dia merasa tidak pantas.


Setelah sampai di rumah,  Echa meminta Aeri mengantarnya ke kamar. Ryeong dan Ray menatap Echa dengan kening mengerut. Banyak pertanyaan yang timbul di benak mereka.


Ryung mendekati kembarannya. Duduk dengan tangan saling bertautan. Meski Ryung tidak bicara,  Triplek's juga tahu,  jika kembarannya itu sedih. Ikatan mereka kuat.


"Sayang Mom in--"


"Mom,  tinggalin Echa sendiri," ujar Echa parau.


Echa berjalan pelan. Jungkook yang sudah mandi menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu kamar Echa. Dia merangkul Aeri dan ikut memandang putrinya.


Echa mengira Aeri sudah pergi. Sementara Aeri bertahan di posisonya bersama Jungkook. Air matanya tak kuasa ia bendung.


Echa yang merasa dadanya diremas kuat. Kakinya tersenandung di lipatan karpet kamarnya. Aeri hanya menggelengkan kepala dan menutup mulutnya agar Echa tidak mendengarnya.


Triplek's juga melihat Echa jatuh. Ray membuang pandangannya. Ryeong mengadahkan kepala menahan air matanya. Sementara Ryung matanya sudah memanas.


Echa yang duduk di atas karpet menjerit. Dia menangis meluapakan perasaan sakitnya selama bertahun-tahun ia pendam.


"ARGHHHHHH HIKSSSSS AKHHHH HIKSSSS!" Dia menjerit pilu.


Brak! Echa melepar tongkatnya lipatnya hingga mengenai cermin di kamarnya.


Prang!


"HIKSSSS AKU BUTAAAA HIKSSS AKU BENCI DIA!  AKU BENCI DIA HIKSSS! KENAPA HARUS HIDUP JIKA AKU TIDAK ADA ARTINYA! HIKSSSSS."


Jungkook menahan tangan Aeri. Dia berusaha kuat di depan istri dan anak-anaknya. Aeri ingin berlari memeluk Echa. Namun,  Jungkook menahannya.


"HIKSSSS AKU ANAK SIAL! HIKSSSS AKU ANAK MOMMY AERI BUKAN DIA HIKSSS! AKU BENCI TERLAHIR DI RAHIMNYA HIKSSS."


Jungkook meneteskan air mata mendengar tangis pilu putrinya. Jikapun bisa dia tidak ingin Echa lahir di rahim Ahin. Wanita yang tidak pantas disebut seorang ibu.


"Hiksss  ... Aku ingin melihat  ... Hiksss  ... Mom  ... Dad hiksss ... Aku ingin melihat indahnya dunia hiksss hiksss jangan jadi mata dan kaki untukku  ... Hiksss aku ingin melihat tanpa harus meraba untuk tahu isi dunia. Hiksss Tuhan  ... Izinkan aku merasakannya kembali," lirihnya.


Wajah Echa sangat semabab. Dia mencoba bangkit dan terus terisak. Dia menabrak kasurnya dan terjebab di sana.


Echa menangisi ketidak berdayaannya. Kenapa juga ibu kandungnya harus membencinya? Apa salahnya?


Dia memukul kasurnya dan mengcengkram kuat seprai. Dia akhirnya lelah dan jatuh tertidur.


Aeri melepas pelukan suaminya. Mata dan hidungnya memerah. Dia memeluk tubuh Echa. Mendekap sang Putri yang menerima ketidak adilan dunia.


"Hiksss Mommy Ibu nak  ... Hikss Tuhan menghadirkanmu lewat dia  ... Hikss kamu anak Mom,  hanya tumbuh di rahim orang lain," isak Aeri.


Jungkook ikut masuk dan berbaring di dekat Echa. Kini Echa di tengah-tengah Aeri dan Jungkook.


Lembut kasih seorang ayah yang tulus. Membelai surai hitam milik putrinya. Bagi Jungkook Echa tetap Princess kecilnya.


Cup. Dia mendaratkan ciuman di kening Echa. Triplek's ikut masuk. Mereka berbaring dekat Jubgkook dan Aeri.


Kasur Echa yang berukurang king size dengan posisi mereka yang miring bukan bersejejar kepa ranjang membuat mereka muat.


Ryeong memeluk Ray dan Ray memeluk Aeri. Sementara Ryung memeluk Jungkook. Aeri mengusap tangan Ray yang memeluk pinggangnya. Jungkook hanya menepuk tangan Ryung.


Dia tahu ketiga jagoannya sangat lemah soal keluarga. Sama seperti dia. Jungkook bangga pada ketiga putranya. Biarlah posisi mereka seperti ini. Saling menguatkan.


***


Taehyung menandatangi berkas di hadapannya. Ia berbincang sedikit dengan Mr. Hem Joon. Jihwan juga ikut menimpali.


Mr. Hem Joon pria tua yang beribawa. Taehyung menyukai sikap Hem Joon yang berbeda dengan rekan bisnisnya yang lain.


"Bagaiamana dengan kehidupanmu,  Jihwan? Jangan terlalu motfosir diri bekerja. Kalian masih terlalu muda," ujar Hem Joon dan tertawa melihat pemuda di depannya.


"Haahahaha." Jihwan cecengesan ditanya soal kehidupan. Dia melirik kesal Tae.


"Aku ingin menikmati hidup dikelilingi wanita-wanita cantik. SAYANGNYA hehehe SELALU SIBUK BEKERJA, hehehe," ujar Jihwan sengaja menekan katanya. Dia menyindir Tae.


Hem Joon tertertawa melihat tingkah Jihwan. Sangat berbeda sekali dengan Tae. Mereka memang cocok bersama. Jihwan bisa mengimbangi sikap serius Tae.


"Kalau Anda Mr. Tae?"


"Saya memiliki seorang gadis yang saya cintai," ujar Tae mantap.


Jihwan memutar bola matanya dan memutar bibirnya.


"Oh sangat beruntung. Di mana dia?"


"Dia di kota ini. Putrinya Jung Jungkook."


"Hmm, kemarin saya melihatnya sekilas. Berita juga banyak meliput tetangnya hingga pestamu usai. Dia memang gadis yang cantik."


"Dia buta."


Hem Joon tersenyum mendengar nada sedih Taehyung. Bisa ia tebak betapa berharganya seorang Jung Aecha di hidup Taehyung. Mempengaruhi titik gratifasi hidup Mr. Billioner muda ini.


"Aku akan mencari bantuan untuknya. Aku punya Dokter kenalan. Dia muda dan cantik. Sayangnya,  dia melanjut pendidikan S3-nya. Padahal saat aku menghadiri pesta penggelaran wisuda, dia mendapat gelar crumble Dokter terbaik."


"Siapa namanya?" Taehyung dan Jihwan penasaran. Taehyung berharap dokter yang di maksud Hem Joon bisa memberinya bantuan.


"Dia dokter Zia,  saya lupa nama lengkapnya karena dia orang Asia Tenggara," ujar Hem Joon.


*Piss maapkan Othor Om Hem Joon,  harus membuatmu yang lupa hehehe


"Di mana dia?" tanya Tae.


"Dia ke LA saat bercerai dengan suaminya."


"Dia sudah menikah? Siapa nama suaminya?" tanya Jihwan polos membuat Tae miliriknya tajam. Jihwan meneguk ludahnya*Gleb.

__ADS_1


Tae tidak percaya jika Jihwan selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya tapi kenapa pertanyaan bodoh itu keluar. Hem Joon sudah mengatakan jika Dokter Zia bercerai tandanya sudah menikah. Arghh bodoh!


"Hahaha, namanya Mr. Park Jimin. Pengusaha juga,  putranya Mr. Heseok."


Taehyung mengangguk. Dia tahu Mr. Heseok dan Mr. Jimin anak tiri Mr. Heseok. Dunia sangat sempit, dia tahu jika Jimin adalah adik dari Mr. Jhope yang notabenya adik ipar dari Mr. Jungkook. Artinya Paman dari Echa.


"Kapan dia kembali?" tanya Jihwan.


"Butuh 6 bulan lagi hingga dia selesai. Sudah lama dia pergi. Kuharap hubungan Jimin dan Zia bisa kembali rujuk."


Ham Joon masih ingat kedua mempelai itu tersenyum bahagia di atas altar. Kabar perpisahannya mengejutkan publik. Ham Joon berharap juga bahwa kalian sadar jika itu sedikit potongan squelnya Jimin dan Zia.


"Saya harus pergi. Senang dengan kerja sama kita  Mr. Taehyung."


"Iya,  Mr. Hem Joon."


Mereka berjabat tangan dan meninggakan Taehyun bersama Jihwan. Pikiran Taehyung berkecabang.


"Cari tahu soal Dokter Zia," ujar Taehyung pelan.


"Apa kita bertemu dengannya saja di LA? Bukannya kita juga ada urusan di sana sebelum ke Kanada. Menunggu dia pulang terlalu lama."


"Baiklah. Siapkan pesawatnya. Kita pake pesawat pribadiku ke sana."


Jihwa mengangguk dan menelepon. Dia mengangguk pada Taehyung. Meninggalkan enam uang merah di atas meja. Mereka pergi.


Taehyung berjanji akan membawa cahaya itu untuk Echa. Dia masih mengingat bayangan wajah menangis Echa di taman.


"Jihwan,  sebaiknya kamu siapkan keperluan. Aku ada urusan sebentar," ujar Tae.


Jihwan mengangkat alis. Dia tidak heran jika Tae punya banyak urusan, tapi jam 11:23 begini urusan apa gerangan?


"Ck,  jangan kepo!" ketus Tae.


"Pergilah. Kita berangkat 2 jam lagi. Aku akan tidur sebentar."


Tae meninggalkan Jihwan. Dia tidak yakin tapi hatinya tidak tenang. Biarlah dia dianggap tidak lunya sopan santun bertamu malam-malam. Dia sangat merindukan gadisnya.


Tae menatap rumah megah di hadapannya. Mengehela napas dan membunyikan klakson. Satpam melihat Tae dan berbicara dengannya.


Tae menunggu di luar saat satpam ingin menayakan pada majikannya.


"Tuan," ujar satpam saat mengetuk pintu dan Raylah yang muncul.


Ray masih belajar dan terga karena besok ujiannya.


"Ada apa?"


"Ada tamu,  Tuan. Dia memaksa ingin masuk."


Ray mengangkat alis. Siapa yang bertamu di tengah malam begini. Dia menyuruh satpam mempersilakan masuk.


Taehyung kini berdiri di depan Ray. Dia memasang wajah datarnya sama seperti Ray. Ray meneliti wajah Tae dan dia ingat jika pemuda ini yang membuat Nunanya senang menonton TV meski tidak melihatnya.


"Masuklah," ujar Ray dingin.


Jungkook dan Aeri melihat Tae duduk tenang di atas sofa. Aeri melempar senyum lembutnya dan Jungkook berdehem penuh wibawa.


"Ada apa gerangan Mr. Tae?" tanya Jungkook saat mendaratkan bokongnya.


"Saya ingin bertemu dengan putri Anda," ujar Tae berani.


Aeri tersenyum,  dia memang yakin bahwa Tae akan datang. Dia melihat ketertarikan di mata pemuda itu saat memandang putrinya. Jungkook yang tidak tahu-menahu mengerutkan kening. Dia memasang wajah datar dan penuh intro.


Jangan salah bung,  meski Tae sultan masa kini. Jungkook akan bersikap seperti seorang Ayah yang melindungi putrinya.


"Putri saya sudah tidur."


"Kamu mau minum apa,  Nak? Biar Mom buatkan dan panggilkan Echa," ujar Aeri senang berbanding balik dengan Jungkook.


Jungkook menatap Aeri meminta penjelasan. Aeri hanya tersenyum menanggapi.


Tae mebalas senyum Aeri.


"Apa saja Mom," ujar Tae.


Jungkook terbelalak kaget. What?! Mom? Sejak kapan pemuda ini memanggil istrinya Mom. Jungkook tidak mau ambil pusing. Dia berbincang dengan Tae,  karena dia tahu Tae juga pembisnis dan termasuk clientnya.


Mereka asyik mengobrol. Hingga Aeri datang dengan napan di tangannya. Dia pergi ke kamar Echa setelah meletakkan minuman tadi.


Ceklek.


Aeri masuk ke dalam dan Echa yang menyandar pada kepala ranjang dengan ponsel yang memutar musik menoleh.


"Siapa?" tanyanya serak. Efek menangis.


"Ini Mom,  Nak."


"Mommy,  ada apa?"


"Echa  ... Di luar ada tamu. Dia ingin bertemu dengan Echa."


"Siapa Mom?"


"Emm temui saja,  Nak."


Echa mengangguk dan penasaran. Dia menduga-duga mungkinkah sepupunya atau pamanya.


Tae melihat Echa dan tertegun melihat mata bengkak Echa. Jungkook menarik tangan Echa dan mendaratkan ciuman di pipi Echa. Echa tersenyum lembut.


Aeri memberi kode pada Jungkook untuk meninggalkan Echa. Dia ingin memberi waktu dan ruang pada keduanya.


Jungkook mengangguk dan berdiri. Aeri melihat Ray masih asyik mengetik di depan TV dengan buku yang terbuka.


"Ray,  tidurlah, Nak. Belajarnya besok malam lagi."


Ray mengangguk patuh. Dia pergi ke kamarnya begitupun Jungkook dan Aeri. Kini tinggal Echa dan Tae. Tae mendekat ke arah Echa.

__ADS_1


Echa mencium bauh parfum yang sama di taman. Dia menengan, apalagi saat tubuhnya dipeluk.


"Mianhe."


Tae hanya bisa meminta maaf. Echa tidak percaya jika orang yang dipikirnya kini berada di sini dan memeluknya erat.


Dia menjadi gugup dan salah tingkah. Tae menarik dirinya dan mengusap lembut pipi Echa. Echa memejamkan mata saat Tae mencium bibirnya lembut. Merasa napas Echa teregah,  dia menyudahi ciumannya.


Wajah Echa memerah malu. Dia memukul Tae pelan. Tae tertawa melihat Echa salting.


"Aku bukannya menolak, maaf pekerjaanku mendesak."


"Ii-iya." Echa gugup.


Dentum jantungnya menggila.


Oh biarkan waktu berhenti sekarang.


"Aku harus pergi ke LA nanti dan ke Kanada juga."


Raut wajah Echa berubah sedih tapi dia tetap tersenyum. Mengatakan lewat senyumnya bahwa dia baik-baik saja. Tae tahu Echa sedih.


"Aku mencintaimu," ujar Tae membuat Echa terbelak kaget.


"A-apa? Emm-aaaku," ujar Echa gagap.


"Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku sangat mencintaimu."


Echa merasa jantungnya semakin menggila.


Tiba-tiba Echa mengingat wajah pria kecilnya. Dia tidak tahu perasaannya. Dia sangat nyaman berada di dekat Tae,  tapi dia merasa sakit juga saat mengingat pria kecilnya.


Echa sangat sedih jika pria kecilnya menangis tanpa ada dia yang memeluk menciumnya. Masihkah dia cengeng?


Andai Echa tahu jika pria cengeng itu tumbuh jadi pria ampanman. Begitu tangguh dan kuat. Andai dia tahu tugasnya dulu kini digantikan pria kecilnya.


Pria kecilnyalah yang kini mememeluknya saat dia menangis. Meciumnya dan menengangkannya seperti dulu yang ia lakukan.


"Aku juga mencintaimu," lirih Echa.


Shit!  Wajahnya memanas.


Debarannya jantungnya menggila.


Bibir Tae terangkat memebntuk senyuman. Dia memeluk Echa. Meluapkan perasaan bahagianya.


"Mm tapi  ... tapi  ... Aku buta," lirihnya.


"Aku mencintaimu tulus apa adanya bukan ada apanya. Bagiku kamu segalanya."


Echa tersenyum.


"Apa aku princessmu? Seperti Daddy, Mom,  dan Triplek's yang menyanyangiku. Menganggapku princessnya karena mencintaiku," ujarnya polos.


"Hahaha you My Quuen not Princess," ujar Tae.


Baginya Echa bukan hanya sekadar princess tapi seorang ratu yang merajai hatinya. Yang bertahtah dengan anggun di hatinya.


Tae mencium bibir Echa kembali. Merasa napasnya tersenggal Echa memukul dada Tae.


"hos  ... hoss  ... apa sekarang kamu yang jadi pria penyosor, eoh?" tanya Echa sebal.


"Aku hanya menciummu, bukan menyosormu. Aku melakulannya bukan secara tiba-tiba seperti kamu di taman," ujar Tae menggoda Echa.


Blush. Wajah Echa memerah malu. Dia mencubit pinggang Tae.


"Awww kamu mencubitku," ringgis Tae saat tangan Echa ternyata mencubitnya keras.


"Wlekk  ... siapa suruh menggodaku," ejek Echa.


"Anak nakal," ujar Tae dan menggelitik perut Echa. Echa tertawa lepas dan membuat bibir Triplek's yang mengintip tersenyum. Jungkook dan Aeri menggelengkan kepala dan memlih masuk kembali ke dalam kamar. Triplek's juga,  dia percaya jika Tae memang sumber kebahagian Echa.


"Hahahaha hos hahahah hentihhakan hahhaha," ujar Echa meronta-ronta.


Wajahnya sudah memerah dan kesusahan bernapas. Tae berhenti menggelitiki Echa. Dia mendekap Echa. Betapa sayangnya dia pada queenya ini.


"Aku harus pergi. Aku janji akan menemuimu jika urusanku di sana selesai."


Echa mengangguk. Dia bahagia setidaknya merekasa saling mencintai.


"Hati-hati di sana," ujar Echa.


"Iya dan aku punya nomormu. Aku akan menghubungimu jika ada waktu. Kamu harus mengangkatnya,  hemm?"


Echa mengangguk, "Arasso."


Echa memeluk tubuh Tae. Dia ingin berlama-lama dengan Tae tapi dia tidak mau egois juga. Tae harus bekerja.


"Aku akan mengantarmu ke kamarmu."


Tae mengangkat tubuh Echa. Menggedongnya brithal styl. Dia berjalan dan melihat kamar dengan tulisan Princess Aecha.


Dia tahu ini kamar Echa. Tae membukanya dan melihat nuangsa kamar Echa serba pink. Dia membaringkan tubuh Echa di atas kasur.


Echa masih mengalungkan tangannya di leher Tae. Posisi mereka intim. Wajah Tae sangat dengan wajah Echa yang kini berbaring.


Embusan napas keduanya saling menampae kulit wajah mereka. Menggelitik penuh menggoda. Tae memajukan wajah dan mendaratkan ciuman di bibir ranum Echa.


Echa memejamkan mata merasakan sensai ciuman lembut Tae. Baginya ini memabukkan.


"Saranghaeyo," ujar Tae di sela ciumannya.


Echa tersenyum.


"Nado Saranghae Oppa," ujarnya juga.


Tae menarik dirinya dab menyelimuti Echa. Dia mengecup kening Echa dan pamit. Echa tersenyum lebar. Dia mengigit pipinya dalam. Berusaha tidak menjerit bahagia. Memang benar setelah ada hujan akan ada pelangi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2