
🙅SIDER JAUH-JAUH💅
💟Happy Reading💟
Hari ini, Echa sudah lengkap dengan pakaian santainya. Yeah sejak kepulangan Taehyung, mereka sering menghabiskan waktu.
Echa merasa bahagia setiap waktu yang mereka lalui. Mengingat perlakuan manis Tae. Kata-kata yang membuatnya harus memerah malu.
Baru saja memikirkannya, dia sudah senyum-senyum sendiri. Echa mengigit pipinya dalam. Berusaha menahan teriakannya yang ingin keluar karena bahagia.
Tok-Tok!
"Ya!"
"Nuna, pacarmu ada di bawah," ujar Ryeong.
"Eungh, bantu aku," pinta Echa.
Ryeong menuntun nunanya. Setibanya di bawah Tae tersenyum melihat Echa. Wajah tanpa polesan meke up itu terlihat cantik sekali. Memang Tae tidak mempermasalahkan Echa tanpa make up. Malah kelihatan natural cantiknya.
"Mom, kami pamit dulu," ujar Tae.
"Hati-hati di jalan," ujar Aeri.
Tae dan Echa pergi. Hari ini Tae ingin mengajak Echa ke sebuah tempat yang ia sukai sejak kecil.
Hingga dia tiba di sebuah bukit-bukit dengan rumput hijau kecil. Echa tersenyum tipis saat merasakan angin membelai kulitnya. Ah suasana di sini sejuk, tenang dan damai.
Tae menarik tangan Echa duduk di atas bukit itu. Tae menekuk lututnya dan memeluknya. Echa sendiri lebih memilih kakinya lurus. Tangannya menopan di padang rumput.
Keduanya sama-sama diam. Tae menerawan ke depan. Hingga dia menoleh melihat wajah manis kekasihnya.
"Kita di mana?" tanya Echa.
"Kita di sebuah bukit. Tempat ini ... sangat aku sukai sejak kecil. Dulu aku sering ke sini saat aku ada masalah," ujar Tae.
"Di sini sangat sejuk! Aku menyukainya!"
"Iya, aku pun menyukai tempat ini."
"Kamu harus sering-sering mengajakku ke sini."
Tae mengacak surai Echa gemas. Dia tertawa melihat bibir Echa mengerucut. Tatapan Tae melunak mengingat bukit ini. Bukit yang menyaksikan penderitaannya.
__ADS_1
Flashback
Plak!
"Hiksss Appa!" teriak anak kecil itu.
Plak! Plak! Blam!
"Hiksss Eomma! Hiksss Eomma!"
Wanita tua yang dipanggil Eomma itu hanya menatapnya jijik. Dia menatap kukunya lalu berlalu begitu saja.
"Cho Sum-ni! Mau ke mana kau jalan?!" teriak laki-laki yang dipanggil Appa oleh anak kecil itu.
"Urus saja urusanmu Kim Han Jae! Urus anakmu itu. Jangan campuri urusanku!" teriak Sumni murka.
"Kau mau menjajakan tubuhmu lagi?! Kau yang harusnya mengurus anak sialan ini!"
Tae kecil menangis menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Dia memeluk lututnya takut.
Prang! Jae membanting vas bunga hingga berserakah. Urat lehernya semakin menonjol. Sumni tidak mau kalah, dia menatap berang suaminya.
"Jika kau tidak bisa mengurusnya harusnya kau buang saja dia. Jangan mencari masalah denganku," ujar Sumni menyakiti hati kecil putranya.
"Sumni!" teriak Jae marah. Sumni sudah berlalu pergi. Jae muraka dan menarik tangan Tae kasar.
Brak!
"Hiksss Aphayo hiksss Appa!" teriak Tae sakit.
"Berhenti menangis! Kau anak sialan! Kau harusnya mati saja!"
Jae salalu meninggalkan Tae setelah menyiksa anaknya. Tidak peduli jika tubuh Tae berdarah. Bahkan tubuh kecil itu meringkih di atas lantai yang dingin.
Air matanya menetes hingga matanya buram. Dia sudah berhenti terisak. Memikirkan nasibnya kapan saja bisa mati ditangan orang tuanya.
Jalankan pelukan hangat, memandang wajahnya saja orang tuanya enggan. Dia tidak tahu dosa apa yang ia lakukan. Hingga ia dibenci.
Tae selalu menyeret tubuhnya yang terluka ke bukit ini. Membiarkan lembayu yang meniup luka-lukanya karena tidak ada yang sudah meniup lukanya. Beraharap lembayu membawa pergi luka di hatinya juga.
Hingga dia bertemu seorang gadis kecil. Mencium, memeluk dan menepuknya dengan sayang. Hingga ia tahu ada yang menyanyanginya selama ia mendapat siksaan selama ini.
Flashback end
__ADS_1
Mata Tae berkaca-kaca mengingat masa kecilnya. Dia mengusap wajahnya. Hatinya mendadak pilu. Bahkan dia tidak membenci orang tuanya, hanya kecewa saja. Hingga kedua orang tuanya mati, hanya ada tatapan kebencian yang ia dapat. Tae berusaha manghalau rasa sesaknya.
Ingin rasanya dia memeluk tubuh orang tuanya dulu saat bersimbah darah, tapi tatapan mereka begitu membenci Taehyung.
Tae mencoba melupakan itu. Gadis di hadapannya hampir sama dengannya, hanya saja Echa lebih beruntung karena mendapat kasih sayang yang utuh. Meski ibu kandungnya termat jahat.
"Taehyung," panggil Echa. Dia merasa dadanya sesak.
"Ya?" ujar Tae sedikit parau.
Echa diam, instingnya benar. Dia meraba tangan Taehyung.
"Gweanchana?" tanya Echa khawatir.
"Ne, gweancahana," jawab Tae sambil mengelus surai hitam Echa.
"Taehyung ... aku memang buta tapi hatiku tidak pernah buta untuk melihat dirimu. Ne jebbal, keotjimal hajimara (aku mohon, jangan berbohong)," ujar Echa memohon.
Tae memeluk tubuh Echa. Dia menangis pertama kalinya lagi. Menyembunyikan rasa sakitnya lewat sikapnya. Echa menepuk-nepuk tubuh Tae.
"Ah kenapa aku merasa Dejavu dengan ini? Sepertinya pernah aku lakukan," ujar Echa dalam hati.
Tangannya terus mengusap Tae. Membiarkan Tae menumpahkan tangisnya. Mata Echa terbelalak kaget.
Teman se-TKnya! Ah benarkah jika itu Tae? Dia menarik dirinya, meraba pipi Tae. Mengusapnya lembut air mata Taehyung. Echa memajukan wajahnya dan--CUP.
Tae memejamkan matanya. Echa mengalungkan tangannya di leher Tae. Perlahan mengusap lembut surai hitam Tae. Tae memperdalam ciumannya.
Hingga napas keduanya tersenggal. Tae menarik diri dan mendaratkan kecupan hangat di dahi Echa.
"Tuhan betapa aku mencinta gadis di hadapanku ini. Izinkan aku membahagiakannya. Cukup selama ini dia menderita," pinta Tae dalam hati.
Echa gadis buta yang mencoba tetap bertahan hidup meski keadilan tak pernah ia terima. Hingga ia merasa keadilan itu datang lewat malaikatnya.
Aku harap dunia tahu jika kamu satu-satunya pria yang membuatku tak bisa beranjak dari detak jantung yang menggila tapu nyaman.
Aku pun tahu jantung kita seirima berdetak. Aku akan mencintaimu sampai jantungku berhenti berdetak. Jika pun seandainya aku tak mendapat izin dari Tuhan untuk melihat wajahmu, aku berharap Tuhan hadirkanmu lewat mimpiku.
Seandainya boleh aku pinta, aku ingin sedikit egois. Melihatmu dan terus bersamamu.
Tae dan Echa menjadikan bukit ini sebagai tempat favorit mereka. Mereka akan menjalani hari di sini bersama-sama.
Echa t'lah jatuh cinta pada bukit ini sejak pertama Rae mengajaknya. Ia akan bercerita bersama Tae hingga sang senja datang untuk menutup cerita mereka sore harinya.
__ADS_1
TBC