Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
8


__ADS_3

💟Happy Reading💟


Seorang pria duduk di dalam kelasnya dengan pandangan menerawan. Pikirannya tentang semalam ... Saat menyaksikan tawa bahagia Echa dengan Tae.


Dia khawatir jika Tae hanya mempermainkan perasaan nunanya. Dia akan mengbunuhnya jika sampai itu terjadi. Hingga sentakan di pundaknya membuat ia menoleh.


Ah ternyata Min Yoongi, sahabatnya.


"Gua sama Ryung nunggu di bascame. Lo kenapa malah diam di sini?"


"Gua ada kerjaan sedikit," bohong Ray.


"Kita ke sana."


Mereka berjalan bersisian. Yoongi memasukkan sebelah tangannya di saku celananya. Sementara poninya disapu-sapu manja oleh lembayu.


Ray,  dia hanya memasang wajah datarnya. Mengacak pelan rambutnya membuat netra siswi memebesarkan pupilnya.


Omg,  butuh napas bantuan liat ketampanan Ray dan Yoongi.


Brak!


Prang!


Saatnya adegan drakor live,  hehehe.


Seorang gadis menatap buku-buku serta tasnya berhamburan. Dia melotot tajam kepada kedua pria yang masih setia berdiri di hadapannya.


"Ck,  sialan!" umpatnya.


"Lo nggak merasa bersalah setelah menabrak gue?!" tanya gadis ini marah.


"Lo yang nabrak," kata Yoongi tenang.


Shit,  emang gue sih yang nabrak. <\i>


"Ta-tapikan lo setidaknya menghindar," elak gadis ini.


Yoongi dan Ray menatapnya datar. Hingga gadis ini gugup dan sedikit salah tingkah. Dia mendegus keras dan pergi.


Yoongi sempat melirik nama gadis itu.


"Han Ul Fie."


"Namanya Ulfi, cantik tapi ceroboh," ujar Yoongi dalam hati.


Ray dan Yoongi melanjutkan pangkah kakinya. Mereka melihat, Ryeong, Ryung, Yeonjun dan Soobin duduk santai di sana.


"Gua lapar!" teriak Ryung sambil memengangi perutnya.


Plak!


"Awhhh Hyung!"


Ryeong hanya tertawa melihat wajah kesal Ryung. Dia adalah pelakunya, memukul keras kepala Ryung. Menurutnya Ryung sangat memalukan teriak-teriak seperti tadi.


Ray hanya melirik sekilas penampilan Ryung. Baju keluar, kancing atas terbuka mempelihatkan dadanya. Rambutnya acak-acakan.


Ray meneliti kembali rambut Ryung. Ah warna biru itu, dia memakai cat rambut warna biru. Walah hanya sebagaian saja, tidak semua rambutnya.


"Bagaimana kalau kita ke rumah lo nanti?" tanya Soobin memberi usulan.


"Rumah siapa?" tanya Yoongi.


"Tripleks," ujar Soobin.


"Iya,  ke rumah gua bawa minum sendiri, makanan sendiri," ujar Ryeong membuat Yeonjun mendelik tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Hahahahahaha."


Mereka tertawa, menertawakan wajah sebal Yeonjun. Pasalnya dia yang hobi makan banyak.


Pemuda-pemuda ini terus mengobrol. Beginilag Triplek's jika di luar, saat bersama temannya,  dia akan menggunakan kata gua-lo. Berbeda jika di rumah,  mereka aku-kamu-sebab mommynya yang cantik itu akan mengomel.


***


Taehyung baru saja sarapan. Kini dia berada di bawah langit LA. Menghirup udara pagi dan tersenyum kecil mengingat wajah merona Echa.


"Jihwan ke mana?" guman Tae.


Jihwan pagi ini memang tidak sarapan bersamanya. Pria itu mendadak menghilang dan terlihat sibuk sekali. Hingga sampai sore ini,  pria itu belum muncul sama sekali.


Tae memeriksa emailnya dan melihat jadwal yang dikirim sekertarisnya. Ada pertemuan di Hotel Grey Nuv nanti malam.


Tae melirik jam melingkar di tangannya 18:06. Jika di Korea pasti masih pagi, perbedaan lima jam. Tae merogoh ponselnya.


Tutttttt ....


"Halo," sapa gadis seberang sana.


"Hm, aku merindukanmu," ujar Tae.


"Ta-Taehyung?" tanya gadis itu terbata-bata. Dia mengigit bantal menahan bahagianya.


"Ya, apa kamu sudah sarapan?" tanya Tae.


"Iya, aku sudah sarapan."


"Cepatlah pulang jika merindukanku. Aku juga merindukanmu," ujar Echa.


"Cac--"


Oh hampir saja Tae memanggilnya Caca.


"Ekhm, Echa aku akan pulang jika tugasku selesai."


"Hahaha  ... Bersabarlah Chagiya," ujar Tae.


Blush. Pipi Echa merona merah.


Chagiya?  Aaaaa ini membuatnya blushing dua kali lipat.


Tae mengigit bibir bawahnya membayangkan wajah malu-malu Echa.


"Taehyung," panggil Echa selama terdiam cukup lama.


"Ya?"


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Echa yang memang tidak tahu jika di sana sudah malam.


"Tentu, di sini sudah malam," ujar Tae.


"Ha?" ucap Echa refleks cengo.


"Iya,  dan Jihwan datang. Aku harus menghadiri pertemua,  Chagiya. Aku tutup teleponnya."


"Ap--"


Tuuuuttttt.


"Hus, pria menyebalkan! Kenapa dia menutup teleponnya sebelum aku menjawabnya. Kesal sama Tae!  Kesal  ... Kesal ...."


Echa memutuskan untuk tiduran dengan memutar lagi BTS. Dia tanpa sadar terlelap.


***

__ADS_1


"Jihwan!" sentak Tae.


"Simpan pertanyaanmu,  hehehe." Jihwan cecengesan melihat Tae yang melotot menatapnya.


Dia sudah lengkap engan tuksedo Mliknya. Tae dan Jihwan berangkat ke Hotel.


Di dalam mobil. Jihwan membuka suara setelah lama diam.


"Aku bertemu dengan Dokter Zia," ujar Jihwan.


"Di mana?"


"Di kampusnya. Dokter Zia hanya memberi kartu namanya. Dia bersembunyi," ujar Jihwan.


Tae mengerutkan kening. Matanya menatap Jihwan. Meski Jihwan tidak menoleh,  dia tahu Tae tertarik dengan topik ini.


"Park Jimin ada di Los Angeles juga. Yang aku tahu dia mendapat undangan resmi juga di Hotel Grey Nuv. Aku rasa kedatangannya ke sini sekaligus mencari keberadaan Dokter Zia."


"Sangat mudah menemukannya," komentar Tae.


"Aku rasa Park Jimin tahu. Mungkin lebih tepatnya dia hanya mengawasi Dokter Zia selama ini. Apa yang sulit ia dapatkan infonya. Mungkin ada waktu yang ia tunggu untuk membawa pulang Dokter Zia."


Tae mengalihkan tatapannya. Menatap ke luar jendela.


"Mungkin dia menunggu Dokter Zia sampai wisuda. Aku rasa dia akan membawa paksa Dokter Zia."


"Khm,  apa kita harus kecolongan? Maksudku kita datang ke sini juga punya tujuan membawa Dokter Zia mengobati Echa."


"Harus lebih sengit daripada Park Jimin."


"Aku tidak percaya kita harus berurusan dengan CEO Park Group."


"Apapun akan aku lakukan demi Queenku."


Jihwan sangat tahu jika Echa sangat berarti bagi Tae. Jihwan akan mendukung Tae. Dia punya banyak hutang budi pada Tae,  saat dia nyaris mati,  Taelah yang membantunya.


"Ngomong-ngomong, Apa Dokter Zia mengenal Echa? Saat aku membujuknya dia menolak dengan keras kembali ke Korea, tapi saat ku menyebut nama Echa,  matanya jadi melunak. Aku rasa dia mengenalnya."


"Bisa jadi. Echa pernah jadi pasiennya dulu."


"Ah kita sampai. Bernegosasilah dengan Park Jimin,  jika bisa. Jangan sampai kita membuat masalah di sini. Namamu sangat baik, arasso?" tanya Jihwan solah menasehati anaknya.


Mata Tae memicing menatap Jihwan. Dia tidak percaya Jihwan membuatnya harus seolah mengerti.


Tuk!


"Aww aphayo!" rengek Jihwan saag Tae menjita kepalanya.


"Ck, jangan mengguruiku," ketus Tae.


"Yakk Kim Taehyung! Aku lebih 1 bulan tua daripada kamu!" teriaknya kesal.


"Hyung--aku Hyungmu," ujarnya lagi.


Tae diam.


Menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jihwan. Jihwan mendapat tatapan maut Taehyung,  cecengesan.


"Kemarilah!" desis Taehyung.


Jihwan memasang wajah datar dan menghampiri Taehyung.


Jihwan tersenyum tidak menduga. Taehyung merangkulnya. Inilah sahabatanya suka menyiksanya dan akan tetap merangkulnya.


Mereka memang sepertinya saudara. Jihwan juga tahu betapa Tae menyayanginya. Apalagi dia sempat menghilang dan pulang babak belur,  Tae memerahinya dan memeluknya erat. Saat itu sia mereka masih sepuluh tahun.


"Apapun yang terjadi di Hotel Gray Nuv, itulah yang harus aku hadapi."

__ADS_1


TBC


Follow :)


__ADS_2