
.
~Tawamu, bahagiamu, dan candamu, akan tersimpan di dalam sudut hati terdalamku.
.
.
.
Daun-daun berguguran. Lembayu menyapa lembut. Matahari meredup.
Sepasang kekasih tengah duduk di sebuah bukit. Sang Pria tengan membaringkan kepalanya di atas paha kekasihnya.
"Sayang," panggilnya lembut.
"Ya?" jawab gadis itu tak kalah lembut.
"Andai kita harus berada di tempat yang jauh, bisakah kamu tetap berjalan? Menatap masa depanmu dan berbahagia?" tanya.
"Aku tidak akan pernah sanggup. Kamu bukan kakiku, aku tidak pernah menjadikanmu sebagai kaki, tidak pernah menganggap kamu sebagai kakiku. Aku menganggapmu sebagai penopang hidupku. Jika kita jauh ...." Echa menjeda ucapannya, hingga ia melanjutkannya.
"Bukan hanya tidak sanggup berjalan, bangkit pun tidak akan pernah bisa. Hidupku akan berantakan jika kita harus berjauhan," ujarnya.
Tangannya membelai surai hitam milik Taehyung. Echa tidak pernah menyesal selama ini hanya bukit dan rumahnya menjadi tempat kencan keduanya. Hari-harinya sangat berharga untuk dilalui bersama Tae.
Echa tidak perlu dibawa ke tempat mewah. Tidak perlu di ajak ke puncak. Itu akan membuatnya sakit hati karena dia tidak bisa menyaksikan itu semua. Beruntungnya ia memiliki Tae yang dapat mengerti keinginannya.
Taehyung diam mendengar jawaban Echa. Dadanya sesak.
"Kiss me," pinta Tae.
"Hem, kenapa kamu terus bertanya soal jarak? Kamu mungkin tidak menghitung berapa kali kamu bertanya soal jarak. Waeyo? Apa kamu ingin meninggalkanku?" tanya Echa tepat sasaran.
Deg. Dada Tae berdegup kencang.
"Tidak, aku tidak meninggalkanmu. Tidak benar-benar meninggalkanmu," ujar Tae cepat.
~Yah, aku tidak benar-benar meninggalkanmu, karena di atas sana pun aku akan menjagamu-Tae.
"Kiss me, Baby," ujar Tae.
Pipi Echa merona merah, Tae sudah merajuk meminta ciuman, hahaha.
"Kenapa kamu mesum begini, eoh?" tanya Echa.
"Palli," ujar Tae tidak sabaran.
Echa menunduk dan dia tersenyum saat bibirnya mendarat di bibir manis Taehyung. Taehyung menyambut ciuman Echa.
Echa mencoba menarik diri tapi Tae menahan tengkuknya. Matanya memejam merasakan sensasi permainan lidah Taehyung.
__ADS_1
Echa memukul dada Tae. Dia hampir kehabisan napas. Tae tertawa melihat wajah Echa.
"Ishh suka banget sih ketawain pacarnya sendiri," ketus Echa.
"Hahaha sini, Queenku. Kenapa hem?" tanya Tae sambil bangkit. Kebayang dong posisiya, saat kaki Echa lurus ke depan, Tae duduk di samping pahanya.
Badannya miring menghadap Echa dan mengusap bibir Echa lembut dengan jempol tangannya. Dia mengecup cepat bibir Echa dan buat pipi gadis itu makin meronah merah.
"Aigoooya Queenku malu-malu," goda Tae.
"Taehyung," rengek Echa.
Tangannya menggapai tubuh Tae. Dia menenggelamkan kepalanya di dada Tae. Sementara semua itu di rekam oleh kamera kecil yang berdiri tak jauh dari mereka.
Kamera vidio itu sengaja Taehyung simpan di sana. Dia ingin saat dia meninggalkan Echa, Echa melihat moment mereka berdua.
"Aku sangat mencintaimu, Tetet," ujar Echa sambil memeluk erat Taehyung. Hatinya gelisah.
"Aku lebih mencintaimu, Queenku Cacha," balas Tae sambil memeluk erat Tae.
Tiba-tiba Echa menangis. Saat Tae ingin menarik dirinya, Echa menolaknya. Pelukannya semakin erat.
Dia tidak tahu, tapi dadanya terasa sesak sekali. Seperti dia akan kehilangan sesuatu.
"Hikss kenapa dadaku sesak. Hiksss aku takut hikss takut kehilanganmu," lirihnya.
"Ya Tuhan, jangan biarkan dia tahu. Melihatnya menangis saja lebih menyakitkan daripada kanker ganas yang menggrogoti tubuhku," batin Tae.
"Baiklah," ujar Echa.
Tae mengusap lembut pipi Echa dan mengecup kedua mata Echa. Dia mengeluarkan sebuah surat yang sering ia bawa jika ke bukit.
"Cacha, aku naik dulu ke rumah pohon. Aku ingin menyimpan sesuatu di sana," ujar Tae.
Echa yang hafal kebiasaan Tae mengangguk. Di atas sana Tae menyimpan banyak surat. Surat untuk Queennya dari kecil hingga sekarang.
Dia tersenyum melihat foto palaroid Echa banyak terpajang di sana. Dengan capat ia turun dan mengajak Echa seperti biasa bermain di atas bukit.
Echa berdiri tanpa tongkat. Dia berjalan dan mencoba mengejar Tae. Walau langkahnya sangat hati-hati.
"Tetet, kamu tidak boleh curang. Jangan lewati lingkaran. Aku tidak akan mau berbicara denganmu," ancam Echa membiat Tae tersenyum geli.
"Ya ya ya Queen, aku masih ada di dalam lingkaran. Cepatlah tangkap aku," ujar Tae.
"Hoh, aku akan menangkapmu," ujar Echa kesal.
Dia berjalan turus ke depan. Tepatnya ke arah Taehyung. Dia memang buta tapi mata hatinya seolah menuntunnya untuk berjalan ke arah Tae.
Wajah Tae terlihat bahagia saat Echa datang kepadanya. Dia menunduk saat tinggal selangkah lagi Echa di depannya. Echa yang tidak tahu jika ada Tae di depannya terus berjalan.
"Tetet, jika aku keluar dari lingkaran kamu harus menengurku dan membantuku masuk kemb--CUP."
__ADS_1
Pupil mata Echa melebar. Bibirnya mengatup. Dia telah menabrak sesuatu yang lembut dan hangat. Ini--ini bibir. Jangan bilang bibir Taehyung!
"Heheheh kamu memang gadis penyosor," ujar Tae membuat Echa mundur tapi Tae menahan pinggang Echa.
Echa mencabikkan bibir tanda protes. Tae semakin gemas dibuatnya. Dengan gemas dia mengacak rambut Echa.
"Tetet, aku sudah menangkapmu! Haahaha yess aku berhasil!" teriak Echa bahagia.
Dia tertawa lebar, membuat Tae merekam baik-baik senyum gadisnya.
"Ya, kamu berhasil menangkapku dengan bibirmu," ujar Tae frontal membuat Echa mencubitnya.
"Aw aw aw," rintih Tae.
Erghh tangan Echa sakit juga kalau mencubit.
"Jangan menggodaku, sekarang tangkap aku," ujar Echa sambil mendirong pelan dada Taehyung.
Taehyung mundur dan tidak menutup mata. Maafkan dia Queen sungguh sedetik pun Tae tidak rela untuk melewatkan melihatnya.
Echa semangat bergesar. Dia tidak tahu jika Tae menatapnya.
"Taehyung, carilah!" teriaknya semangat.
"Emhh, Cacha kamu di mana? Aku kesulitan menangkapmu," ujar Tae yang membuatnya geli sendiri.
"Hahahaha." Echa tertawa tanpa suara.
Lama-kelamaan Tae belum menangkapnya membuat Echa kesal padahal Tae berada di belakangnya.
"Tetet, kamu sangat payah mencariku," ujarnya mengejek Taehyung.
Hap.
Echa kaget tentu saja. Tiba-tiba tangan melingkae manis di pinggangnya. Echa memiringkan badannya. Wajah Tae maju menatap miring Echa.
"Senja datang," lirih Tae.
Terlihat langit kemerah-merahan menampar wajah mereka. Di atas bukit mereka Tae memeluk Echa dari belakang. Tangan Echa mengenggam tangan Tae yang melingkar di pinggangnya.
Echa menoleh ke samping. Meski ia tidak melihat Tae tapi rasanya dia saling memandang. Netra hitam Tae menatap dalam mata ruby Echa.
Hari ini dan serusnya, ia akan mengajak Echa lebih sering keluar. Dia masih punya waktu empat minggu untuk kemotrapi tapi ia tidak mau lagi.
Tidak perlu menghilang tiga hari, karena baginya berdekatan dengan Echa saja sudha serasa diberi obat.
TBC
Voting juga Chingu :)
Gomawo 💕
__ADS_1