Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
18


__ADS_3

🙅SIDER JAUH-JAUH 💅💋


💟Happy Reading💟


~Jangan pernah sesali apa yang aku lakukan, karena itu kewajiban yang harus aku memang lakukan untukmu.


.


.


Sepoi-sepoi angin membuat beberapa helai rambut pria yang duduk di taman terayung-ayung. Netranya kurus ke depan, bahkan ini sudah dua jam lamanya dia di sini.


Pria di sampingnya juga tidak banyak bicara. Dia hanya nenunduk dengan sesekali terdengar helaan napas berat.


"Aku tidak percaya ini. Rasanya tidak adil untukmu. Aku ingin berteriak," lirihnya tapi terdengar marah.


Laki-laki di sampingnya tersenyum tipis. Ia tahu ucapan laki-laki di sampingnya ini bukan bualan. Melihat frutrasi dan kegelisahannya tiap hari.


"Aku ditakdirkan untuk menjaganya. Aku pun melakukan ini hanya untuknya. Jangan sesali apapun yang terjadi, karena garis takdirku memang seperti ini. Setidaknya dia akan mengingatnya sampai kapanpun," ujarnya.


"Taehyung," sentak Jihwan.


Yup, kedua pria ini adalah Jihwan dan Taehyung. Mereka berada di 'tempat' yang rutin Tae kunjung. Well, ini bisa disebut tiga harinya. Dia akan datang ke sini dan habiskan waktu selama tiga hari.


"Kita bisa cari jalan lain, Jebbalyo," mohon Jihwan.


Tae terhenyuh melihat wajah Jihwan. Dia sudah menganggap Jihwan seperti adiknya sendiri.


"Jihwan-sshi ... kamu 'kan tahu keadaanku. Cepat atau lambat semua juga akan terjadi. Jangan sedih, ingat besok aku harus kembali ke Korea," ujar Tae.


"Aku ikut denganmu," ujar Jihwan.


"Em, bagaimana dengan sayatan di perutmu? Apa sangat dalam?" tanya Tae mengungat jika Jihwan mengalami insiden.


"Ah ne, tapi sudah diobati. Aku tahu kecelakaan yang aku alami dari Park Jimin. Dia cemburu buta denganku."


Rahang Tae mengeras dan Jihwan kebablakan melihatnya. "Yakk Hyung! Aku bahkan bisa membunuhnya sendiri. Kamu tidak perlu mengerahkan apa-apa. Ini hanya kesalah pahaman saja. Jangan menyentuhnya, Zia bisa saja sedih dan--membatalkan operasinya," ujar Jihwan.


Taehyung mengangguk. Dia masuk ke dalam dan dibantu oleh Jihwan. Tangan Jihwan bergetar saat kulit tangannya menyentuh tangan Tae. Sangat dingin.

__ADS_1


Jihwan mengadahkan kepala menatap senduh Tae. Pria ini terlihat kuat walau bibirnya terlihat pucat. Dia membantu Tae berbaring di atas berangkas.


Pasti dibenak kalian bertanya-tanya soal keadaan Taehyung. Jika kalian mengingat beberapa kejadian-kejadian dengan lontar kata Taehyung, kalian akan paham.


Seperti ucapannya, dia akan membawa cahaya untuk ratunya-Cacha.


Jihwan melihat Tae mengerutkan kening menahan sakit. Jihwan mendekat dan air mata menetes mebasahi wajahnya.


"Hyung," panggil Jihwan parau.


"Ooljima (jangan menangis)," lirih Taehyung.


"Gajima (Jangan pergi) hiks jebbal," isak Jihwan saat tangan Tehyung semakin dingin.


"Paboya(bodoh) ... Gweachana (aku baik-baik saja). Hentikan tangismu. Kamu adalah laki-laki. Yak  ... Apa aku sekarat? Aku bahkan baik-baik saja. Ini hanya efeknya saja. Sudahlah, aku hanya menunggu waktu. Jangan menyesalinya," ujar Tae sambil meringgis pelan.


Jihwan bukan berhenti menangis,  dia makin terisak. "Kereyo?! Hikss waeguerae (Apa yang salah) Hiksss kamu satu-satunya yang aku punya hikss setelah Kai Hyung meninggal, u baru mendapat sosok Hyung setelah kamu menolongku hikss," teriak Jihwan dengan isak tangisnya. Bahkan tubuhnya bergetar dengan air mata bercucuran. Tidak peduli kemejanya basah karena air mata. Dia teramat sakit.


Tae meneteskan air mata. Dia sama menganggap Jihwan sebagai adiknya. Dia baru merasakan adanya keluarga setelah mengenal pria ini.


"Ottoke (Bagaimana ini)? Na seulpueda (aku sakit). Ooljima (Jangan menangis), kere ... Aku mengerti kamu takut. Aku juga sama takutmu. Ini takdir yang tidak bisa dielak Jihwan-ah," kata Tae serak.


Tae menahan air matanya. Dia tidak boleh lemah di hadapan Jihwan. Laki-laki itu kelihatan terpuruk sekali.


"Sebaiknya kamu pergi cari makan. Aku sangat lapar," ujar Tae.


Jihwan mengangguk dan mengusap air matanya. Dia menyelimuti tubuh Taehyung.


Selah Jihwan pergi Tae melepas ringisan yang ia tahan sejak tadi. Dia batuk-batuk. Bibirnya semakin pucat.


"Uhukk  ... Uhukkk." Tae menutup mulutnya dan meraih tissu untuk melap noda darah yang keluar dari mulutnya.


Dia menydarkan tubuhnya. Memejamkan mata saat sakit itu menggogoti tubuhnya. Wajah gadisnya terbayang-bayang.


Well,  selama menjalani hari empat bulan bersama Echa. Taehyung sering pergi tiga hari dan kembali lagi. Tapi apa daya, Echa tidak dapat melihat.


Bahkan saat Tae harus batuk darah,  dia tidak tahu. Meski dia sering khawatir mendengar batuk Taehyung tapi Taehyung selalu berhasil mengalihkan Echa hingga gadis itu malah baper dengan kata-katanya.


***

__ADS_1


Taehyung POV


Tidak ada yang paling membahagiakan dalam hidupku selain menemukan ratuku. Dia tumbuh jadi gadis cantik jelita. Wajahnya, matanya, bibirnya--ah semua yang ada dalam dirinya sangat indah.


Aku mencintainya melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku jadi pria melankolis karenanya. Hanya Jung Aecha yang berhasil merubah diriku. Mendobrak semua pintu yang menutup diriku.


Aku teramat senang menjalani hari-hari bersamanya. Hahaha,  aku jadi teringat saat rona merah harus menghiasi wajahnya. Bibirnya akan mengercut lucu saat dia kesal padaku.


Aku akan menciptakan moment untuk enam bulanku bersamanya. Aku tidak sabar melihat dia menatap dunia. Aku juga tidak sabar, melihat mata ruby itu melihatku kembali walau keadaan sudah berbeda.


Hufgghhh, mengingat selama ini aku selalu menghilang tiga hari. Itu aku lakukan ketika kondisiku memburuk lagi. Aku tahu penyakitku sudah lama.


Ketika tanganku dingin, aku terpaksa membohongi Cacha jika cuaca menag dingin. Aku tidak mau melihat mata rubynya sedih.


Bahkan saat batuk pun aku akan mengatakan jika aku keseringan makan es krim. Queenku memang sangat polos dan lugu, ia selalu percaya apa yang aku katakan.


Bagaimana semangatnya dia merencanakan hari-hari yang akan kita lalui. Menceritakan teman TKnya yang notabenya adLah aku sendiri.


Besok,  yah besok aku bisa bertemu dengannya lagi. Jika aku pamit selama tiga hari, aku tidak mengabarinya. Efek pengobatan yang aku terima tidak bisa mengtrol kondisiku.


Sebut saja aku menghilang selama tiga hari karena kemotrapi. Di luar aku tampak baik-baik saja. Meski selama ini aku akan sakit jika di sekitarku tak lagi ada orang.


Alasanku masih menghirup udara adalah queenku. Dia satu-satunya napasku saat ini. Entah, aku hanya perlu menggu dua bulan lagi.


Aku mengumpat pada diriku. Aku bersyukur dengan keadaan tapi bukan berarti senang. Akulah orang yang sangat menginginkan mata ruby itu melihat kembali. Tapi, aku bersyukur juga dalam kondisiku seperti ini, dia tidak melihat masa-masa sulitku.


Aku tahu besok aku sudah kembali ke Korea. Aku yakin, Queenku akan merajuk. Mengingat pertemuan terakhir kita tidak mengenakan.


Ahh dia menangis kala itu. Apa yang akan aku katakan padanya. Dia memangis saat tahu aku teman TKnya. Mungkin dia merasa aku membodohinya karena dia bercerita dengan antusias.


Aku ingin menciumnya. Rasanya aku akan mati menahan rinduku. Ahh bogishipda Cacha. Aku tahu dia akan marah padaku. Aku akan meluluhkan hati Queenku, hehehe.


"Saranghae Cacha," lirih Tae sebelum dia menutup mata. Dia terlelap dengan senyum mengingat wajah kekasihnya. Besok sangat dinantikan olehnya.


Sementara Jihwan membuka pintu pelan. Melihat wajah damai Taehyung. Dia menaruh bungkusan plastiknya di atas nakas. Perlahan dia menarik kursi dekat bangkar Tae.


Wajahnya berubah senduh. Dia merasa sesak teramat dalam. Dia akan melakukan apapun untuk Taehyung. Dia akan berjuang, walah perjuangan ditentukan oleh takdir.


TBC

__ADS_1


__ADS_2