
~Sejatinya cinta akan datang kembali
🔰Sorry Typo🔰
💟Happy Reading💟
Kini di kamar nuangsa pink itu, seorang gadis duduk di tepi kasur dengan wajah cemasnya. Dia bahkan memiling gaunnya. Sudah sejam tadi dia selesai didandani oleh make over yang dikirim Jungkook untuk mendandani Aeri dan Echa.
Pintu terbuka membuat Echa tersentak kaget dan menoleh. Meski dia tidak melihat tapi Dia merasa langkah kaki itu semakin dekat.
"Sayang," ujar Aeri.
"Mom!" pekik Echa tidak sengaja.
Dia terlalu tengang. Aeri sampai tertawa renyah melihat wajah gelisah anaknya. Aeri mengerti jika Echa begitu gugup menghadiri pesta perusahaan Kim Taehyung.
"Nak, berhenti memiling gaunmu. Jangan risau karena semua akan baik-baik saja."
"Mom, aku ...." Napas Echa tertahan, dia menunduk dalam. Mencoba menyampaikan betapa tidak percaya dirinya sekarang. Apa yang Taehyung bisa lihat darinya? Hanya seorang gadis buta.
Mendengar Echa menghela napas berat. Aeri tahu jika putrinya memikirkan soal nasibnya. Aeri duduk dekat Echa dan memengang bahu Echa. Dia membuat Echa miring menghadapnya. Mengangkat dagu putrinyanya, meski ia tahu mata ruby itu tidak sanggup melihatnya.
"Nak ...." Lembut suara Aeri memanggil Echa membuat syahdu nalurinya merasa disentuh direlung paling dalam.
"Mom tahu apa yang kamu pikirkan. Dunia ingin melihatmu, Nak. Mereka tidak akan mengejekmu, kamu tahu 'kan Daddy kemarin bilang kalau dia tidak pernah menyumbunyikanmu. Bahkan kondisimu."
Echa menangis, dia memeluk Aeri. Jungkook memang selalu menjadi oengayomnya. Echa jadi merindukan Jungkook.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jungkook mengangetkan keduanya. Echa mengahapus air matanya tapi terlambat Jungkook melihatnya.
"Daddy," gugup Echa.
"Kapan kamu pulang, Sayang?" tanya Aeri.
"Baru saja, aku ingin menjemput kalian," ujar Jungkook.
Echa dituntun Jungkook dan Aeri. Mereka melihat ketiga putranya juga sudah siap. Echa tersenyum saat Tripleks menggodanya.
"Princess sangat cantik," goda Ryeon.
"Laki-laki akan terpaku melihat uri(kami) princes," ujar Ryung menambah untuk menggoda Nunanya.
"Aku ingin memeluk pinggangnya agar mereka tahu kalau Nuna hanya milik kita," ujar Ray mendapat jitakan kecil oleh Aeri.
"Hahahahah." Mereka semua tertawa. Obrolan kecil yang menemani sebelum berangkat ke pesta.
Diperjalanan Triplaks tidak berhenti mengoceh. Echa menimpali setiap pertanyaan adik-adiknya. Ia sedikit melupakan kegugupannya. Ray melempar pandangan di luar jendela. Melihat di mana ia kini berada.
Saat mobil berhenti, Echa merasa jantungnya berdetak kencang. Ia menelan ludah gugup. Mencoba mengatur napasanya.
Ray keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Echa. Menarik lembut tangan Echa, membuat sudut bibir kedua orang tuanya tersenyum.
Mereka berjalan masuk, dan mendapat sorotan kamara. Wartawan memang hadir untuk meliput kemeriahan pesta yang diadakan Kim Taehyung.
Semua wartawan berlomba-lomba mengambil Gambar Echa. Melihat gadis itu membuat dia yakin jika itu putri Jungkook yang buta.
"Oh Tuhan ... Gadis itu sanga cantik sekali."
"Putri Mr. Jung sangat cantik dan anggun sekali."
"Dia gadis yang malang."
Bisikan mengiri langkah Echa. Dia mengenggam lengan Ray kuat. Dia merasa mual karena takut.
Baru Echa merasa lega saat dia duduk di atas kursi. Ray mengusap tangan Echa lembut. Keluarga Jungkook menjadi pusat perhatian.
Tripleks yang tidak biasa mengikuti pesta. Echa yang tidak terlihat selama ini. Benar-benar keajaiban melihat mereka di sini.
Kim Taehyung yang mengadakan pesta mencoba menyapa tamunya. Meski tetap memasang wajah datar, orang menangkap keramahan dalam suaranya.
"Silakan dicicipi hidangannya Mr. Kay."
__ADS_1
"Tentu, Mr.Kim."
"Ngomong-ngomong, apa Anda sudah memiliki calon pendamping hidup?"
Pertanyaan Kay membuat Taehyung mengerasakan rahangnya. Dia tahu pria-pria disekelilingnya hanya mengincar harta saja.
"Sepertinya belum," kata Kay mengundang gelak tawa. Taehyung menyeringai.
"Saya punya seorang putri yang cantik. Namanya Lee Jung Hae," ujar Kay dengan wajah dilengkapi senyum memuakkannya.
Yang lain pun sama, dari nada bahasanya sopan. Tapi dalamnya mengandung unsur sindiran dan mereka seolah-olah mempromosikan putri-putrinya.
"Saya sudah punya calon istri," Ujar Tae membukam semua pengusaha hasu harta itu. Kay mengangkat alisnya tanda tidak percaya.
"Urusan pribadiku bukan saatnya dibahas. Nikmati pesta ini dan maklumi hidangannya yang tidak seberapa."
Persetan hidangan tidak seberapa. Bahkan kuenya saja 500 ribu jika dirupiahkan. Pemuda itu melenggos pergi. Dia mengedarkan pandangannya.
Dia kini naik ke podium. Beridiri penuh wibawa dan menjadi sorotan.
"Saya sebelumnya ingin mengatakan Terimakasih atas kehadirannya. Pesta ini ... ... ... demikian dari saya."
Prok-prok. Tepuk tangan riuh setelah Tae menyelesaikan pidato singkatnya. Echa tersenyum haru mendengar suara Taehyung.
"Echa kamu mau ikut Daddy? Daddy ingin menghampiri kolega bisnis Daddy," tawar Jungkook.
"Tidak Dad, aku di sini saja."
"Mom akan menemanimu"
"Mom ikutlah bersama Daddy, kami yang kan menjaga Nuna," ujar Ryeong.
"Ryeong cobalah mulai sekarang berbaur, kamu yang akan jadi penurus Daddy," ujar Aeri. Memang perusahaan akan dipimpin oleh Ryeong.
"Arasso Mom," ujar Ryeong mengalah.
"Ech mohon tinggalkan Echa sendiri. Echa Gweanchana (Baik-baik saja)."
"Andwe, jebbal," ujar Echa sambil menangkupkan tangannya.
Sial mata ruby itu bagaiakan hipnotis untuk semua orang. Ray, Ryung dan Aeri terpaksa mengalah. Sebelumnya Echa sudah diambilkan minuman dan kue. Dia menikmati kuenya.
"Ahh aku ingin pipis," ujarnya gusar.
Dia meraih tongkatnya dan keadaan sangat ramai. Ditamabah dentuman musik dan seluyuran orang.
Echa menabrak seseorang. Dia mulai ketakutan. Hingga dia merasa ditarik.
Apapun ini, Echa bersyukur karena suara bising mulai tidak terdengar. Dia juga merasa sepi.
Pria di hadapannya menatap gadis yang kini mengehela napas lega. Mata itu melemparmya pada masa lalu. Membuat otaknya memutar kenangannya.
"Mata rubynya sangat mirip dengan mata ruby Caca," batin pemuda ini.
"Maaf, bisakah kamu mengantarku ke toilet," ujarnya gugup.
Bahkan suaranya sama. Dia menarik tangan kecil Echa yang pas digenggamnya. Membawa Echa sampai ke depan toilet.
Echa didorong pelan masuk dan Echa bernapas lega saat mendengar pintu ditutup kembali. Dia keluar setelah mebuang air kecil.
Pintu terbuka membuat pria yang bersandar di tembok menengakkan badan. Menuntun kembali gadis ini.
"Emmm terimakasih, bisakah kamu mengangarku kembali ke sana," ujar Echa gugup.
Merasa pipinya dibelai lembut, Echa tersentak. Dia mundur tapi pinggangnya ditahan. Echa mulai berpikiran tidak-tidak. Hingga dia merasa napas pria itu menerpa wajahnya.
"Aku yakin kamu adalah dia. Aku merindukanmu."
Cup.
Mata Echa membesar. Dia kaget saat bibirnya dicium. Suara itu bahkan membuatnya sulit berpikir jernih.
__ADS_1
Hanya sebuah kecupan singkat hingga Echa merasa tidak ada seseorang. Echa kaget saat tubuhnya dipeluk tiba-tiba.
"Nuna, aku sangat khawatir saat tidak menemukanmu di pesta," ujar Ryung.
"Gweanchana. Ryung bisa mengantarku kembali?" tanya Echa.
Ryung membawa Echa ke aula tadi. Pesta kian semakin meriah. Sementara pria berjas hitam menyesap minuman di gelasnya pelan. Menatap lurus ke arah wanita yang dibantu duduk.
"Apa yang terjadi padamu? Inikah alasannya kamu tidak pernah kembali lagi?" ujarnya dalam hati. Dia perih melihat gadisnya.
~
Ray mengetatkan rahan saat lengannya terus digelut manja oleh sepupunya. Bagaimana centilanya gadis ini merecoki Ray dari tadi.
Jung Jena adalah anak kedua Hana dan Jhope sebelum tentunya ada putra mereka yang meninggal. Bisa dikatakan Jena adalah anak pertama mereka. Jena adalah gabungan nama Jhope dan Hana. Dia gadis berusia 15 tahun dan masih SMP. Tapi tubuhnya sudah bahkan mirip orang dewasa.
Jena tumbuh menjadi remaja yang cantik. Mengingat fashion Hana dan di mana ibunya menekuni itu semua. Kecantikan Hana menurun pada sang Putri.
Sikap putrinya sangat agresif, centil, bawel, pemaksa dan juga keras kepala seperti Hana. Beruntungnya sikap Hana yang bisa memukul tidak menurun pada sang Putri.
Sikapnya mengambil Jhope, dia gadis mudah berbaur. Dia bukan gadis lugu dan polos, otaknya sangat miring. Jena bisa dikatakan dewasa sebelum waktunya.
"Jena lepaskan," desis Ray.
"Andwe! Jebbal Oppa," ujar Hana menggoda.
Hana dan Jhope hanya menggelengkan kepala melihat Jena. Dia menuruti keinginan Jena, lagipula Ray 'kan sepupunya.
Namun semua orang juga tahu jika Jena melontarkan kata cinta pada sepupunya. Mereka hanya tertawa dan menganggap Jena anak satu-satunya jadi bersikap manja. Apalagi dia masih remaja labil.
"Oppa!" teriak Jena kesal membuat beberapa tamu melihatnya.
Ray menatap tajam Jena membuat gadis itu menatapnya takut. Jena tidak terbiasa dibentak. Dia mudah menangis dan tangisnya itu dibenci oleh Ray.
Dia menarik tangan Jena. Menjauh dari pesta. Rey kini tiba di tempat sepi. Dia mendorong tubuh Jena hingga terbentur di dinding.
"Akhh!"
Ray mengabaikan suara Jena. Dia sangat merah sekarang.
"Jangan mengangguku Jung Jena. Aku tidak mencintaimu. Tidak akan pernah."
Ray pergi setelah mengatakan itu. Air mata Jena jatuh. Dia menangis terisak menatap punggung Ray. Dia mencintai Ray sejak masih kecil. Saat Ray hadir di pesta ulang tahunnya saat usia lima tahun. Ray memberiknya boneka dan memeluknya.
Boneka itu bahkan menjadi boneka kesayangan Jena karena sampai saat ini Ray tidak pernah memberinya kado. Pria itu lebih memilih diomeli Aeri. Semua terjadi saat Jena mengatakan jika mencintainya.
"Hiksss ... Apa yang salah? Hikss ... Aku mencintaimu Oppa," lirihnya.
Ryung yang melihat Ray menarik Jena mengikutinya. Dia keluar dari persembunyiannya. Dia memyayangi Jena seperti menyayangi Echa. Memeluk adik sepupunya. Ryung tidak mencintainya.
"Jena kamu itu keluarga Jung--" Jena melepas pelukan Ryung. Dia benci diingatkan sedarah dengan Ray.
"Hikss aku mencintainya!" teriak Jena parau.
"Dengarkan aku dulu,"Â tegas Ryung membuat Jena takut.
Ryung menangkup wajah Jena. Membuat gadis itu menatapnya. Wajah Jena sudah sumbab.
"Kamu keluarga Jung. Keluarga Jung tidak akan pernah menyerah, apalagi jatuh begitu saja. Ingat Mamamu, dia wanita yang kuat."
Jena tersenyum mengerti ucapan Ryung. Sepupunya mendukungnya. Dia memeluk Ryung.
"Gomawo Oppa," ujarnya serak.
"Benahi penampilanmu. Beginikah gadis yang selama ini disanjung-sanjung, eoh? Bernatakan sekali," ejek Ryung membuat Jena mencibir dan tertawa.
Dia membenahi penampilannya. Selama ini Ray sering melontarkan kata-kata menyakitkan. Jena kembali bersemangat.
"Akan aku buat kamu menerimaku, Ray. Bahkan kamu yang akan memintaku untuk berada di sisimu," ujar Jena penuh tekad.
Ryung tersenyum kecil mendengar tekda kuat dan percaya diri Jena. Dia menarik tangan Jena. Jena dengan sikap centilnya bergelut manja di lengan Ryung. Banyak gadis menatapnya sinis dan Jena kembali menatapnya sinis dan tentu dengan dagu diangkat, memperlihatkan betapa angkuhnya dia dan berkuasa.
__ADS_1
TBC