
💟Happy Reading💟
Hotel Gray Nuv 20:00 LA
Suasana di sini sangat ramai. Terlihat beberapa kolega bisnis Tae juga berada di sini.
Tae mengedarkan pandangannya. Dia mencari keberadaan, hingga seseorang menepuk pundaknya.
Tae menoleh.
"Mr. Hem Joon," sapa Tae.
"Ya, sedang mencari siapa? Terlihat kamu celangak-celinguk mencari seseorang."
"Saya mencari Park Jimin."
Hem Joon tahu kesungguhan Tae untuk menyembuhkan putri dari Jungkook.
"Saya harap kita menikmati pertemuan ini dulu. Besok kita mengadakan pertemuan pribadi dengan Park Jimin."
"Baiklah."
Tae menangkap wajah Tae lewat ekor matanya. Dia menatap Jimin sangat maskulin. Wajah pria itu lebih dua kali lipat terlihat dewasa. Garis rahangnya membuat wanita-wanita sibuk menggodanya untul. Di bawa ke ranjang.
"Mari kita temui tuan rumah di sini."
Tae mengangguk dan mengikuti Hem Joon. Entahlah, baginya Hem Joon sosok pria paruh baya yang punya sisi tegas dan kebaikan.
"Selamat datang di pesta kecil saya Mr. Joon dan Mr. Tae," ujar Kang Lee saat melihat dua tamu spesialnya.
"Terimakasih, Mr. Lee. Saya akan menikmati pesta kecil anda," Ujar Hem Joon.
Kang Lee tertawa mendengar gurauan Hem Joon. Mereka memang bersahabat dan mulai berbincang. Tentu Tae ikut berbincang.
"Heseok!" ucap Hem Joon dan Kang Lee terkejut.
"Hahahaha jangan terkejut melihatku di sini. Kau mengundang Heseok Group dan putraku tidak sempat."
"Hm, kau memang harus datang ke sini. Sejak menikah dengan wanita cantik. Kau jarang keluar," canda Mr. Lee membuat Yuna tersenyum malu.
Heseok merangkul Yuna dan memperlihat kemesraannya.
"Tentu aku betah di rumah bersama istri cantikku," ujar Heseok membuat mereka tergelak tawa. Tae hanya tersenyum tipis.
"Oh jangan melupakan fakta di sini ada pemuda yang belum menikah," sindir Joon.
Heseok dan Yuna menatap Tae. Dia ikut duduk di sana. Tae hanya tersenyum tipis.
"Mr. Billioner ini kenapa betah menyendiri?" tanya Heseok menggoda Tae.
"Hahahaha dia menyukai anak Mr. Jung. Kuharap mereka bisa menjadikan Tae sebagai menantunya."
Yuna dan Heseok kaget. Dia menatap horor Tae. Menyukai anak Mr. Jung? Yang benar saja. Jadi kabar kalau rumor Tae itu gay benar? Nasib Triplek's yang mana mencuri hati Tae.
Yuna dan Heseok tentu salah paham karena dia tahu Echa tidak pernah keluar rumah. Tidak mungkin juga Echa dan Tae saling mengenal.
Dahi Tae mengerut dan kedua pasangan itu tersenyum menutupi ketetkejutannya. Tae mendengus dalam hati saat menebak jika kedua pasangan itu pasti mengira ia menyukai anak Triplek's Jungkook.
"Saya pacaran dengan putri Jung Jungkook," ujar Tae santai membuat Yuna dan Heseok tersedak menuman.
__ADS_1
"Uhukk ... Apa?" tanyq Heseok memastikan.
"Jung Aecha adalah pacar saya," ulang Tae.
"Bagaimana bisa? Maksudku di mana kalian kenal dan kapan Echa mengenalmu? Dia bahkan tidak mau keluar rumah."
"Pesta Tender kemarin," ujar Tae.
Heseok mengangguk bersama istrinya. Dia ingat majalah koran banyak meliput berita Echa.
"Jaga dia baik-baik. Dia sudah saya anggap seperti cucu saya sendiri," ujar Yuna lembut.
Tae mengangguk dan pria menghampiri Yuna.
"Bunda, Ayah," sapanya.
"Hm anak Bunda masih mengenali Bunda dan Ayahnya. Bunda pikir sudah dilupakan," sindir Yuna membuat pria itu meringgis pelan. Dia ikut duduk di dekat Yuna.
"Kang Lee kau sangat keterlaluan. Kamu tahu dia putraku juga dan jika dia di sini harusnya kau tak mengundang kami semua," ujar Heseok.
"Kamu harus keluar rumah. Berhenti mengurung istrimu di dalam kamar. Benarkan Joon?" tanya Lee.
"Benar, lagipula Jimin tidak mungkin kalian buatkan adik," ujar Joon.
Heseok dan Yuna meringgis. Jimin menatap orang tuanya meminta pendapat. Yuna segera minum dan menghindari tatapan Jimin.
"Tentu Jimin harus memiliki adik. Dia dan Jhope harus memiliki saudara dari hasil pernikahanku dengan Yuna."
Jimin mengembuskan napas. Saat dia belum memiliki anak, orang tuanya malah proses membuatkannya adik.
"Lagipula di rumah sepi. Kedua anakku ini sangat sibuk sekali," bela Yuna.
Jimin menatap Taehyung. Dia tahu pemuda sukses di depannya. Tatapan Tae yang membuatnya tenggelam. Seolah melihat ada makna dibalik tatapan tajam pria itu.
"Bagaimana denganmu Jimin?" tanya Lee prihatin. Dia tahu perceraian Jimin dan Zia.
"Kalian tahu keadaanku setelah kepergiannya. Aku harap kamu mengundangnya paman," ujar Jimin.
"Ya, aku mengundangnya dan dia mungkin tidak datang saat tahu kamu ada di sini."
"Jimin, Bunda harap jika Zia ada di sini, jangan dekati. Biarkan dia tenang, Nak. Setidaknya dengarkan kata Bunda. Cukup sampai dia menyelesaikan kuliahnya."
"Aku Tahu, Bunda. Aku akan membawanya pulang setelah ini. Tidak peduli secara paksa atau kasar."
Joon menatap Taehyung. Dia mengangguk saja. Toh kebetulan topiknya juga sama.
Well mari kita simak percakapan serius ini. Tae mulI berdehem, membuat mereka menatapnya.
"Saya ada perlu dengan Dokter Zia. Saya harap anda jangan memaksanya."
Jimin menatap Taehyung tajam. Tentu Tae tidak gentar sedikit pun. Dia bahkan pernah berada di situasi lebih mengcekam. Semua bisa ia kendalikan dari pengalam yang ia dapat.
"Ada perlu apa kamu dengan Zia?" tanya Jimin tajam.
"Itu urusan saya dan anda tidak berhak tahu," ujar Tae tenang.
Lee dan Heseok kagum melihat ketenangan Taehyung. Pria ini memang wajar jika sukses di usia mudanya.
"Katakan!" desis Jimin tersulur emosi. Dia memang tidak akan segan-segan membunuh pria yang mendekati Zia.
__ADS_1
Selama ini Zia menghindari laki-laki yang mendekatinya. Dia terkejut saat laki-laki mendekatinya, keesokannya berita kematian itu sampai di telinganya.
"Tenanglah, Jimin. Dia kekasih dari Echa, dia tidak memiliki maksud lain. Memang murni urusan bersama Zia," ujar Joon mencoba menangahi obrolan yang mulai mengcekam.
Jimin membuang napas kasar. Hingga dia melihat Zia dan seorang laki-laki tertawa. Taehyung ikut menoleh dan memejamkan mata melihat Jihwan dengan santai mengobrol bersama Zia.
"Jihwan, kamu ingin mati, eoh?" sunggut Tae dalam hati.
Jimin hendak bangkit tetapi ditahan Heseok. "Ingat kata Bundamu, Son," ujarnya.
Jimin ingin memecahkan semua gelas di depannya. Dia memang jadi pria tempremental sejak Zia dan dia cerai.
***
Echa dan Aeri duduk sepanjang hari di taman belakang rumah mereka. Echa meneceritakan pada Aeri tentang hubungannya dengan Tae hingga ia digoda habis-habisan.
"Hum, tenyata auuhhh ... Manis sekali putri Mom. Dia sudah besar dan punya pacar," goda Aeri.
"Mommy!" rengek Echa.
"Hahahaha ... Cieee blushing," ejek Aeri membuat Echa mayung.
Aeri menarik kepla Echa berbaring di pangkuannya. Mereka duduk di kursi panjang. Tangan Aeri mengusap lembut surai hitam Echa.
"Kamu tahu, Nak. Saat kamu kecil, kamu suka sekali memukul Daddymu saat dia mencium, Mom," ujar Aeri menceritakan masa kecilnya bersama Echa dulu.
"Haahaha benarkah, Mom?" tanya Echa geli. Dia bisa membayangkan wajah sesangra Jungkook yang gagal mencium Aeri karenanya.
"Hoh, itu benar."
"Mom, aku dulu mencium seorang bocah laki-laki. Dia anak cengeng yang terus merengek pulang."
"Hm, Mom mengingatnya."
Echa menerawan saat dja sekolah dulu. Di dalam kelas penuh kenangan bersama pria kecilnya.
"Mom tahu, saat ibu guru meminta kita mengambar ibu, ayah dan anak. Dia menangis, Mom. Dia merusaki buku gambarnya."
"He ... Apa dia senakal itu?"
"Dia baik Mom. Dia juga pintar, dia paling cepat menyelesaikan tugas. Saat Echa memintanya duduk di dekatku, dia mulai berhenti menangis. Dia akan memeluk Echa saat pagi dia datang. Dia mulai menangis lagi, Mom."
Aeri mengerutkan kening. Hampir keningnya menyatu. Dia berpikir keras.
"Apa dia dijahati?" tanya Aeri.
"Dia yang jahat, Mom. Mom harus lihat kelakuannya saat di minta menyanyi. Dia malah naik di atas menangis, heheh" kekeh Echa mengingat hari itu pria kecilnya harus mengisi ruang kelas dengan suara tangis bukan menyanyi.
"Emm, dia mungkin sudah besar sekarang," guman Aeri.
"Aku berharap begitu, Mom. Masihkah dia suka menangis? Tidak ada yang memeluknya lagi. Echa menciumnya dan memeluknya, Mom. Tapi ... Echa tidak tahu sekarang ia di mana," ujar Echa sedih memikirkan nasib teman se-TKnya.
"Mom yakin dia tumbuh jadi pria yang kuat. Dia pasti merindukan kamu, Nak. Semoga kalian bisa bertemu kembali," ujar Aeri.
"Meski kita bertemu, aku mungkin tidak menegnalinya, Mom. Melihat rupanya saja aku tidak bisa. Tapi aku berharap, ia benar-benar datang," ujar Echa dalam hati. Dia tetap mengaminkan ucapan Aeri.
Anak ibu-ini kembali bercerita soal masa kecil Echa.
TBC
__ADS_1
Follow dan jangan jadi sider :)