
🙅SIDER JAUH-JAUH 💅💋
💟Happy Reading💟
~Aku punya banyak harapan, tapi setelah menemukanmu, kini harapanku hanya satu, yaitu hidup bersamamu.
.
Terlihat seorang gadis mengerucutkan bibir sebal. Dia membuat pemuda di hadapannya semakin terpikal-pikal.
"Jangan menertawaiku!" ujarnya kesal.
"Ehm, rupaya kekasihku menginginkan ciuman," ujar Tae.
"Aniyo! Aku hanya bertanya saja. Tumben kamu tidak menciumku seharian ini," rajuk Echa.
Tae tersenyum dan mengacak gemas rambut Echa. Dia mendaratkan ciuman singkat di bibir Echa.
"Aku sudah menciummu," ujar Tae.
"Terdengar tidak ikhlas," protes Echa.
"Hahaha ... Cup ... Cup ... kamu menggemaskan Queen," ujar Tae.
"Menyebalkan," gerutu Echa tapi bibirnya tersenyum.
Tae dan Echa berada di bukit ini. Andai Echa melihat, Tae akan memberitahunya soal rumah pohon itu.
"Sekarang senja sudah datang, kita harus pulang sekarang, Queen," ujar Tae.
Cahaya oranges itu menyilaukan mereka berdua. Echa sering menghayalkan seperti apa senja itu.
"Oppa ... Aku berharap kita bisa menikmati senja bersama-sama. Kita sama-sama menyaksikan senja," ujar Echa tersenyum membuat Tae ikut tersenyum.
"Sebentar lagi kamu akan melihat yang namanya senja," batin Tae.
Echa mengenggam tangan Tae. Dia menyerit saat tangan Tae begitu dingin.
"Oppa ... Tanganmu dingin," ujar Echa.
"Iya, cuacana sangat dingin. Ayo kita pulang," ajak Tae.
***
Echa POV
Wah ini memang musim dingin. Mungkin sepanjang jalan akan ada badai.
Tidak terasa sudah empat bulan aku bersama Taehyung. Dia memperlakukanku sesuai panggilnya padaku. Queen-ah aku benar merasa seperti ratu.
Hanya pada Tae aku bisa merasakannya. Setiap hari kita akan menjalani hari. Dia membawaku bermain, berjalan-jalan dan meniknati banyak jenis makanan.
Tae bahkan membawaku ke bukit. Bisakah aku namai bukit ini sebagai bukit cinta? Di sini tempatku melabuhkan curhatanku bersamanya.
Saat Tae mengatakan senja datang, saat itu juga aku dan dia mengusaikan cerita kamu untuk hari ini.
Senja itu indah, dan kata Tae senja kalah indah olehku, hehehe. Dia memang perayu yang handal.
Tapi aku punya definisi sendiri tentang senja. Bagiku senja adalah saat di mana aku dan dia akan saling menggenggam dan melangkah untuk pulang bersama.
Senja tidak pernah memisahkanku dengan pacarku.
Saat ini kamu tiba di Rumah. Mom berada di dapur dan aku meminta Tae mengantarku ke kamar mandi dapur.
"Taehyung, kamu ikut makan malam di sini, Nak," ujar Aeri.
"Enghh--" Tae melirik Echa.
"Benar kata, Mom. Kita makan malam bersama," ujar Echa.
"Baiklah," pasrah Tae.
Echa masuk ke dalam kamar mandi di tuntun oleh Tae. Sementara Aeri dan Tae mengobrol.
"Taehyung, kamu sudah tau kalau bulan dua bulan lagi dia akan operasi, " ujar Aeri senang.
Tae ikut tersenyum. Dia tidak bisa menutupi rona bahagianya.
"Arayo, Mom. Dia pasti senang sekali," ujar Tae yang diangguki Aeri.
__ADS_1
Echa tersenyum mendengarnya. Keinginannya untuk melihat sangat besar.
"Mom juga berharap teman TK-nya bisa bertemu dengannya kelak," ujar Aeri.
Tae selalu mendengar curhatan Echa menganai dirinya sendiri. Teman seTKnya. Andai dia tahu.
Echa hendak keluar karena Tae akan menggodanya jika membahas soal teman TKnya. Echa diejek mesum oleh Tae.
Senyumnya pudar mendengar ucapan Taehyung.
"Mom, sebenarnya ... Aku teman TK Echa dulu. Dia sering aku panggil Cacha," ujar Tae membuat Aeri kaget.
"Omo," kaget Aeri.
Brak!
Echa menabrak meja. Tae segera menghampirinya.
"Hiksss ... Kenapa kamu sembunyikan fakta itu?!" tanya Echa sedih.
"Ca, ak-aku ...." Tae menhentikan ucapannya.
Aeri ikut mendekat, tatapan Aeri berubah khawatir.
Tae memeluk Echa yang memberontak. Tae menatap Echa nanar.
"Cha, aku harus pergi. Maaf membuat kamu kecewa. Aku tidak bermaksud. Aku pergi hanya tiga hari saja," ujar Tae dan segera pergi.
Echa menangis dan memeluk Aeri juga. Dia kesal dengan Tae. Apa-apaan dia main pergi saja.
Echa selalu saja kesal sama Tae. Pria itu punya waktu untuk menghilang selama tiga hari. Pengusaha, jadi wajar sibuk--pikirnya.
***
Keseokannya Echa melas sekali untuk bangun. Dia bahkan tidak mendapat telepon dari Tae.
"Akhhh Taehyung! Aku marah padamu tapi kamu malah sibuk!" ujarnya kesal.
"Hahahaha!"
Suara tawa itu membuat Echa menoleh. Meski dia tidak melihat dia mengenali pemilik suara ini.
"Ne, Eonni. Eonni kamu harus tahu betapa jeleknya wajahmu saat marah-marah," ejek Jena membuat Echa semakin sebal.
"Hos," dengusnya.
Jena tertawa dan duduk di atas ranjang Echa.
"Kamu tidak sekolah?" tanya echa karena masih pagi-pagi saja sepupunya sudah nangkring di rumahnya.
Jena meringgis,"Aku ingin sarapan di sini, Eonni. Eomma dan Appa keluar kota tadi malam."
"Ha? Jadi kamu sendirian di rumahmu tadi malam? Kenapa tidak ke sini saja?" tanya Echa khawatir.
"Eonni aku pemberani. Tadi malam da manangerku kok yang menemani. Aku juga bisa meminta sahabatku Ulfie datang untuk menginap," ujar Jena.
"Arasso, kamu menginap saja nanti malam. Eonni sangat kesepian," rengek Echa membuat Jena tertawa gemas.
"Ne," ujar Jena mendengus geli.
"Siapkan Eonni air hangat dan kita turun ke bawah."
Jena menyiapkan air hangat untuk Echa. Dia juga sudah menyiapkan baju untuk Echa. Jena menyanyangi Echa karena dia merasa memiliki kakak perempuan.
Echa dan Jena ke bawah dan ikut sarapan.
"Pagi Jena," sapa Ryeong melihat Jena. Beda halnya dengan Ray dia merenggut tidak suka.
"Wah keponakan Uncel di sini. Kapan kamu di sini? Apakah kamu menginap tadi malam," sapa Jungkook.
Jena membantu Echa duduk dan dia menghampiri Jungkook. Memeluk pamannya. Dia sangat dimanjakan juha oleh Jungkook. Aeri tersenyum melihat tingkah Jena.
"Uncel aku akan menginap nanti malam di sini," ujar Jena membuat Ray mencibir tidak suka.
"Ck, pagi-pagi makan di rumah orang seperti tidak punya makanan saja di rumahnya," cibir Ray mendapat teguran dari Aeri.
Jena memutar bola mata kesal
Dia duduk dihadapan Ray. Mengambil piring yang disodorkan Aeri.
__ADS_1
"Ck, ini kan bukan hanya rumahmu Oppa. Rumah orang? Toh ini rumah Uncel dan Auntyku," ujarnya kesal.
Ray menatap Jena tajam.
Untung cinta gue sama lo, Ray. Batin Jena sudah meradang. Dia mengabaikan tatapan Ray.
"Sudahlah, Jena kamu ingin makan apa? Oppa ambilkan untukmu," ujar Ryeong.
"Oppa, aku mau makan roti saja dengan selai kacang,ahh jangan! Hehehe aku lupa dilarang makan kacang, padahal sangat ingin," ujar Jena sedih. Manengernya sudah mempringatinya. Bahaya untuk wajahnya.
"Makan sedikit saja. Jika Manangermu memarahimu, Oppa yang akan memarahinya. Bahkan kamu harusnya banyak makan. Tubuhmu sangat kurus," protes Ryeong.
"Hahaha uhggg manisnya Oppaku," ujar Jena sambil mencium pipi Ryeong.
Terlihat seorang pria terburu-buru mengambil tempat. Bajunya masih keluar. Rambutnya acak-acakan.
"Morning Ryung Oppa," sapa Jena.
"Wah wah princes kedua Jung ada di sini," ujar Ryung cecengesan. Jena tertawa mendapat godaan Ryung.
Kediaman Jung setiap hari, sarapan bersama dengan kenakalan putra mereka juga.
***
Echa dan Jena duduk di atas kasur Echa. Sejak tadi Jena sudah capek mendapat wajengan dari Aeri. Dia bolos sekolah.
"Eonni ...." Echa berdehem saat Jena memanggilnya.
"Menurut Eonni apa cinta harus dilepaskan saat tidak dapat diraih?" tanya Jena.
"Hem, lepaskan tapi pertahankan. Jena, Eonni tahu kamu mencintai Ray. Kamu tahu Ray sangat dingin. Dia keras dan memang mendapatkan cintanya sangat sulit," ujar Echa.
"Itulah Eonni kenapa setiap hari aku memilih belajar mencari cara agar dia jatuh cinta daripada belajar matematika di sekolah," kilah Jena. lemon bucin hehehe.
"Hahahaha, kamu memang wanita agresif," komentar Jena.
"Eonni, temanku chat. Dia boleh ke sini?" tanya Jena.
"Siapa? Ulfie?" tanya Echa bertuntun.
"Iya, kita bisa mengobrol. Girls quality time," kata Jena.
Wah ide bagus. Biar dia juga lupa kekesalannya sejenak dengan Taehyung.
Mereka terus mengobrol sampai Ulfie datang. Beberapa kali mereka saling mengejek. Echa juga merasa memiliki teman jika Jena dan temannya datang.
"Eonni, Jena juga pernah memakai lipstik terang untuk menggoda Ray Oppa," ujar Ulfie membuat Jena medelik padanya.
"Hahaha," tawa Echa pecah mendengar gerutuan Jena.
"Hufggg gue payah. Ray bahkan belum jatuh cinta padaku," ujarnya.
"Lo jual mahal dikit sama Ray Oppa. Lo keliatan cabe-cebeab yang menempel padanya. Bukan jatih cinta tapi malah iffel," kata Ulfie.
"Argh gue seksi dan menggoda. Ray aja matanya katarak gak bisa liat kalau gue bening," sunggut Jena.
"Ray kagak katarak tapi lo keliatan bicth buat dekati dia," ujar Ulfie sakras.
Pletak!
"Awhhhh," ringgis Ulfie. Jena memukul kelapa Ulfi hingga gadis itu merenggut tidak suka.
Memang ya sahabat paling utama mengejekmu, tapi dia yang akan menolongmu juga.
Seperti Ulfi dan Jena, kedua gadis ini akan saling mengejek dengan kasar tapi mereka saling menyayangi.
Ulfie setiap hari mendengar curhatan Jena mengenai sepupunya itu.
"Gue gak masalah jadi cabe-cabean bya Ray. Bahkan gue siap buka paha buat dia," ujar Jena membuat Echa dan Ulfie mendegus bersamaan.
Jena terbahak melihat reaksi mereka berdua.
"Aku tidak bisa jual mahal padanya. Uhhh ini membuatku frustrasi," ungkap Jena sambil mengigit ujung bantal Echa.
"Aarghh Ray Oppa ... Chagiya ... Saranghaeyo!" teriak Jena sambil menelengkupkan kepalanya di atas bantal.
Echa dan Ulfie mengolok-olok Jena. Hingga Echa teringat Taehyung. Awas saja, jika tiga hari nanti selesai, dia akan mendiamkan Tae. Dia akan merajuk.
TBC
__ADS_1