Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
20


__ADS_3

🙅SIDER JAUH-JAUH 💅💋


💟Happy Reading💟


Langit nampak cerah tapi wajah gadis yang menikmati sarapannya bermuka mendung. Dia menguyah makanan yang disuapinya dengan malas. Perasaannya berkecamuk karena sang kekasih belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.


"Ck padahal janjinya cuma pergi tiga hari," gerutunya dalam hati.


Aeri menyuapi Echa dengan sabar. Dia tahu mood anaknya rusak. Setelah Echa menghabiskan makanannya, dia dan Aeri bersantai di depan TV.


Wajah Echa menegang saat berita tentangnya dan Kim Taehyung diperbincangkan publik. Dia tidak menyangka. Wah mereka sangat cepat.


Suara mobil membuat Aeri dan Echa menyerit heran.


"Mom akan melihatnya dulu," ujar Aeri.


"Mom ... ganti chanelnya," ujar Echa dan Aeri mengangguk. Dia menganti chanelnya.


Aeri bergegas ke pintu. Dia membulatkan mata dan tersenyum sedetik selanjutanya. Dia memeluk pria di hadapannya. Tentu pria itu membalas memeluknya.


"Taehyung, kamu tidak mengabari Mom," ujar Aeri.


"Mianhe, Mom. Aku terburu-buru ke sini," ujar Taehyung.


"Ah ne, ayo kita ke ruang tamu. Echa sudah kesal karenamu, eoh," kata Aeri sambil tersenyum geli.


"Hahaha aku sengaja Mom," ujar Taehyung.


Hati Aeri berdesir mendengar suara tawa Taehyung. Matanya terasa panas tapi dia berusaha tersenyum.


Well, siapapun melihat Taehyung saat ini mereka akan berpikir jika pria ini sehat-sehat saja. Pesonanya dan ketampanannya membuat wanita menatapnya tanpa berkedip.


Taehyung segera ke ruang tamu. Sementara Aeri memilih ke kamarnya, ia sengaja memberi waktu untuk Echa dan Tae.


Echa POV


Ughhh aku sebal. Taehyung meninggalkanku selama tiga hari dan aku mengerti jika dia seorang Billioner. Tapi apa ini, eoh?! Sudah empat hari. Terserah kalian mau mengataiku lebay tapi aku sangat merindukan kekasihku.


Hey ada apa dengan kalian? Aku gak salah kan? Dia memang kekasihku, hehehe. Aku sangat kesal sampai aku tidak bersemangat saat sarapan tadi.


Triplek's juga masih di sekolah. Aku merasa kesepian, walau mommy menemani tapi aku tahu mommy juga ada urusan. Aku mau melakukan apapun tidak bisa. Yah yah aku cacat, aku tahu itu. Hatiku selalu sakit jika tahu bahwa aku tidak bisa melihat dunia.


Tapi ada kabar baik kudengar saat hari di mana Tae pergi tanpa pamit. Aku mendapatkan donor mata. Wahh aku sangat bahagia. Sebentar lagi aku bisa melihat.


Memikirkannya saja persaanku sangat membuncah senang. Aku dedegkan membayangkan semua wajah keluargaku. Oeh apa ini, kenapa aku merasa pipiku memanas saat memikirkan rupa Taehyung. Aku bukan gadis yang mencintai seseorang karena fisik.


Entalah, jika menyangkut Kim Taehyung, kinerja jantungku lebih bekerja dua kali lipat. Sangat mendebarkan dan mengetarkan jiwaku.


Namun, hari ini aku akan merajuka padanya. Aku marah tentu saja. Dia membohongi soal dirinya. Kenapa dia tidak mengatakan sejujurnya jika ia adalah teman TK-ku dulu. Dia membuatku bercerita tentang dirinya, sangat memalukan.


Ngomong-ngomong, siapa yang datang? Kenapa mommy sedikit lama? Aku mengembungkan pipiku. Kebiasaanku saat menunggu lama.


Tiba-tiba aku merasa seseorang duduk di dekatku, aku merasakan sofa sedikit bergerak. Aku tahu ini bukan mommy, bukan karena mata batinku hem. Jangan berpikir begitu, ini karena parfum yang tercium di hidungku.


Bau parfumnya sangat maskulin dan--what! Ini parfumnya Kim Taehyung. Pacar lacnutku yang pergi saat aku manangia. Aku akan menghukumnya!


Tiba-tiba tubuhku sudah dipeluknya. Hey ... hey aku sedang marah dan merajuk!


"Lepaskan!" desisku marah.


"Diamlah, Queen. Aku sangat merindukanmu," ujarnya membuat pipiku memanas. Huwaa dasar akuh, diginiin aja aku udah baper.


Tapi suaranya itu loh~sangat lembut dan penuh sayang.


Aku diam saja tapi tidak membalas pelukannya. Aku harus jual mahal. Meski aku ingin sekali memeluk tubuhnya. Aku juga rindu sama dia.


"Kamu berubah pendiam, hehehe. Aku tahu Queenku sedang marah, tapi bisa marahnya dipending dulu, hem? Aku sangat merindukanmu dan ingin mendapat sambutan rindu juga dari kekasihku yang cantik ini," ujarnya membuat pipiku merona malu.


Kim Taehyung, kamu benar-benar tahu membuatku tidak bisa marah padamu.


"Ekhm ak-aku juga merindukanmu tapi ak-aku juga marah," ujarku ketus.


***


Taehyung memandang wajah Echa yang dipeluknya penuh kerinduan. Dia terkekeh mendengar suara kekasihnya menjadi galak dan ketus.


Betapa manis dan menggemaskannya Echa. Dia ingin meciumnya, eoh otak yadong. Namun, lihatlah gadisnya yang merona malu tapi berusaha terlihat ketus dan marah.


Bahkan bibirnya sudah mengerucut sebal. Lihat pipinya yang mulai mengembung. Ucapannya bahkan terbata-bata.


Echa terlihat lucu. Wajahnya berusaha terlihat datar tapi pipinya memerah. Taehyung mengangkat tubuh Echa agar duduk pangkuannya.


"Aigo! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Echa horor. Dia bergerak berusaha turun dan Tae menahan geramannya. Bokonh sintal Echa menekan adiknya.


"Erghh Cacha kamu diamlah. Kamu bisa membangunkannya. Jika tidak ingin terjadi apa-apa, duduk manislah, Quuen," ujar Taehyung dengan wajah memahan geramannya.


Echa berhenti bergerak. Wajahnya memanas saat merasakan sesuatu yang keras di bawahnya. Echa tahu itu apa. Salahkan sepupunya Jena yang suka berbicara frontal di dekatnya.


Taehyung terkekeh geli melihat Echa yang medadak diam dengan tubuh yang menengan dan kaku.


Echa yang telanjur malu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Taehyung. Tangannya melingkar manis membalas pelukan Taehyung. Lagi-lagi Taehyung dibuat gemas. Dia mendaratkan kecupan di pipi Echa.


"Jangan menciumku aku sedang marah," lirihnya.

__ADS_1


"Ehm Queenku masih marah. Mianhe Chagiya, aku ada urusan mendadak. Aku juga tidak bisa meninggalkannya," Taehyung meringgis dalam hati~Aku tidak bisa meninggalkan urusanku karena aku harus bertahan setidaknya sampai kita melakukan operasi sayang.


"Hem," dehem Echa.


"Kamu masih marah?" tanya Tae hati-hati dan Echa mengangguk dengan cepat. Tae meringgis dalam hati, Echa ternyata keras kepala.


"Aku ingin kamu katakan, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku. Apapun akan aku lakukan untuk ratuku," ujar Tae menggoda Echa.


Echa menetralkan detak jantungnya yang mendebar bak lampu disko. Mana posisinya seintim ini dengan Tae. Mukanya sudah seperti kepiting rebus.


"Apapun?" ulang Echa membuat Tae mengatakan,"Ya."


"Aku punya tiga permintaan," ujar Echa semangat. Bahkan dia sudah tersenyum lebar. Tae jadi geli sendiri, tadi Echa marah-marah dan merajuk tapi sekarang? Ahh ratunya.


"Apa permintaanmu, Chagiya?" tanya Tae.


Echa mengetuk-ngetuk bibirnya dan terlihat berpikir keras. Tae mencubit pelan pipi Echa dan menyelipkan anak rambut Echa yang nakal mrnutupi wajah kekasihnya.


"Aku mau kamu membelikanku es krim," pinta Echa.


"Gampang, aku akan mebelikannya untukmu, Chagiya," ujar Tae.


"Aku juga mau kamu makan malam di sini," ujarnya Echa dengan wajah memelas membuat Tae mengacak rambutnya.


"Aku akan makan malam di sini, berhenti memasang wajah memelasmu karena aku akan makan orang," ujar Tae ambigu.


Echa menyeritkan dahi, hingga terlihat tiga garis kecil di dahinya. Tae mengusap dahi Echa hingga kerutan itu hilang.


"Siapa?" tanya Echa sambil memengan tangan Tae yang bermain di pipinya.


"Tentu saja kamu," ujar Tae santai.


Echa terbalalak. Dia mencubit perut Tae membuat Tae terbahak.


"MESUM!" teriak Echa. Tawa Tae semakin menggelegar membuat Aeri yang sedang duduk di kursi meja makan tersenyum tipis.


"Aw awa awahh hahaha." Tae terus meringis dan terawa karena Echa memukulnya. Echa berhenti saat napasnya terasa tersenggal. Dia menyandarkan kepalanya di dada Taehyung.


"Berikan aku es krim," tagihnya.


"Hem, permintaan ketigamu apa?" tanya Tae.


"Nanti, belikan aku dulu es krim," ujar Echa yang bernogosasi.


"Baiklah, aku akan keluar sebentar."


***


Echa menikmati es krimnya disuapi Tae. Bibir mugilnya mulai berceloteh kembali. Beberapa kali Tae melemparkan ejekan membuat gadis itu mencibir kesal.


Taehyung berdehem. Echa sangat penasaran soal Tahyung yang menyembunyikan dirinya.


"Taehyung," panggil Echa dengan wajah serius.


"Ye?"


"Aku ... ingin bertanya satu hal," ujar Echa setelah menjeda ucapannya.


"Apa?" Tae masih menyuapi Echa dengan es krim cup besar di tangannya.


"Kenapa kamu menyembunyikannya padaku? Harusnya kamu memberitahuku jika kamu teman TK-ku. Aku merasa bodoh merindukanmu tapi kamu tidak pernah mengatakan hal ini padaku. Kamu tahu betapa tersiksanya aku memikirkan temanku yang ternyata sudah di depanku bahkan mendengar ceritaku tentangnya."


Echa menjeda ucapannya. Dia mengambil napas sedangkan Tae diam melihat binar kecewa di mata Echa.


"Waeyo? Apa kamu suka melihatku tersiksa? Apa kamu tertawa saat aku menceritakan tingkah bodohku di depanmu? Aku--aku sangat khaatir, hikss aku tahu dulu kamu sering hiks menangis. Lalu, aku tidak bisa hiks hikss datang lagi karena hikss aku hampir mati hikss ak-aku hikss aku buta hikss," ujar Echa sambil terisak membuat Tae memeluknya cepat.


"Maaf sayang. Aku menyesal jika pada akhirnya ini melukai kamu. Aku ingin ini supprise buat kamu nantinya tapi Tuhan tidak mengizinkannya. Maaf, aku tidak tahu kamu akan sekecewa ini padaku," sesal Tae.


"Bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Echa sambil menarik diri.


Deg.


~Kabarku tidak baik-baik saja selama ini, tapi setelah menemukanmu, rasanya aku baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja," dusta Tae.


Tidak mungkin dia jujur soal kondisinya. Demi Tuhan Tae tidak ingin Echa menangis.


"Syukurlah, aku sangat khawatir dan yernyata orang yang aku khawatirin selama ini adalah pacarku sendiri," sindir Echa membuat Tae cecengesan.


Cup.


Tae mendaratkan bibirnya di bibir Echa. Echa kaget tentu saja, ck siapa sekarang yang suka menyosor? Tae tersenyum saat Echa mambala pangutannya.


Lidahnya dan lidah Echa saling bertukar seliva. Membelit dan mengecap rasa bibir mereka. Taehyung mengekspor semua mulut Echa. Dia merasa bibir Echa semakin manis.


Tae menarik dirinya saat Echa memukul pelan dadanya. Mereka sama-sama menghirup oksigen.


Tae mengusap lembut bibir Echa. Rasa es krim itu juga ikut ia cecap di dalam mulut Echa.


"Suapi aku es krim," pinta Echa membuat tangan Tae terulur menyupainya kembali.


"Katakan permintaan ketigamu," ujar Taehyung.

__ADS_1


Bukannya dia tidak sabaran. Dia mau mengambulkan pinta Echa sebelum dia meninggalkan Echa. Hufghh, dia menyesali takdirnya, tapi dia mayayangkan waktunya yang sebentar dengan ratunya.


***


Echa tertawa saat Taehyung tidak sabaran menangaih permintaannya. Dia berdehem dan mengenggam tangan Taehyung.


"Permintaan ketigamu apa, Chagiya?" tanya Tae.


"Ehm, aku mendapatkan donor mata," ujar Echa sambil memperlihatkan deret giginya. Dia tersenyum bahagia membuat Taehyung ikut tersenyum. Ini cukup buatnya untuk melihat senyum Echa.


"Lalu?" tanya Tae.


"Aku ingin kamu menemaniku di saat aku operasi. Tidak beranjak dari sisiku. Aku ingin kamu menemaniku," pinta Echa dengan wajah lembutnya.


Deg.


Tes.


Tidak dapat lagi dibendung air mata seorang wanita yang mendengar permintaan putrinya. Dia terisak dan mencoba meredakan suaranya.


Taehyung tersenyum miris. Dia mengenggam balik tangan Echa dan mengecupnya singkat.


"Aku berjanji, Chagiya," kata Taehyung mantap.


Tentu dia bisa memenuhi janjinya. Saat dioperasi tubuhnya dan tubuh Echa akan berseebarangan. Dia akan menemani kekasihnya. Dia bahagia, jika seandainya hari itu juga dia harus mengembuskan napas terakhirnya, setidaknya dia berada di samping kekasihnya.


"Gomawo," ujar Echa tulus. Dia mengusap tangan Taehyung. "Tapi aku takut, aku takut operasinya gagal," lirihnya.


"Kamu harus percaya, Tuhan akan membantu kamu. Kita perlu banyak berdoa. Kamu jangan berpikir sendirian, dan berjuang sendiri. Kita sama-sama berjuang, Sayang," ujar Taehyung lalu membantin,"Dan sayangnya perjuangan kita hanya bisa membawamu ke puncak, tapi tidak denganku. Apapun ini aku sangat bahagia jika membuat bagian diriku ada pada dirimu."


"Aku percaya. Apalagi jia kamu ada di sisiku. Aigoo! Aku tidak sabar untuk melakukan operasi. Kamu tidak perlu menyuapiku lagi, menuntunku lagi karena sebentar lagi aku akan melakukannya sendiri," ujar Echa bahagia yang mengutarakan keinginannya. Dia tidak melihat mata Taehyung sudah memanas.


"Kamu tahu, hal yang ingin aku lakukan setelah operasi adalah saat membuka mata kamulah orang pertama yang mau aku lihat," ujar Echa dengan senyum tipisnya.


"Maafkan aku Cacha, aku hanya bisa mendampingimu saat operasi tapi tidak untuk proses penyembuhanmu," ujar Tae dalam hati.


"Tetet," panggil Echa sambil tersenyum geli.


"Ya Cacha," jawab Tae.


"Hahaha nama kita sangat lucu, aku ingin memanggilmu dengan nama pemberianku," ujar Echa.


"Ya, aku juga mau memanggilmu Cacha. Nama permberianmu sangat tidak bagus," protes Tae.


"Hahahaha, itu sangat bagus. Namami yerdengar kiyut. Aku jadi ingin memanggilmu setiap saat," ujar Echa.


"Kamu akan memanggilku setiap saat tapi aku harap kamu baik-baik saja," guman Taehyung.


"Ye? Barusan kamu bilang apa?" tanya Echa.


"Tidak ada. Sekarang kita jalan-jalan saja. Aku ingin Kencan denganmu hari ini."


Echa mengangguk.


Tanpa disadari Echa, Taehyung kaget saat darah tiba-tiba keluar dari hidungnya. Dia merogoh sapu tangannya tapi ketinggalan.


"Taehyung, ayo!" ajak Echa.


Taehyung merasa kepalanya berkunang-kunang. Dia menarik Echa kembali duduk. Perlahan kepalanya disandarkan di bahu kecil Echa.


"Taehyung," panggil Echa.


"Sebentar saja. Aku pusing," lirih Taehyung.


Echa mendadak khawatir. Wajahnya cemas dan tangannya terulur mengusap kepala Tae. Tae mendahkan kepalanya melihat eajah khawatir Echa. Matanya memanas,  tapi bibirnya terkunci rapat. Dia membiarkan darsh menetes di bajunya.


Pemandangan di depan menyesekkan hati wanita itu. Dia adalah Aeri. Anaknya yang buta sedang mengelus penuh kasih sayang kekasihnya. Sementara Taehyung, pria yang terkena kanker itu menyandarkan tubuhnya yang mulai melemah.


Napas Taehyung masih ada karena cintanya begitu kuat dan besar untuk bertahan demi Echa.


Ya,  setidaknya hanya maut yang memisahkan cinta mereka. Echa selalu berdoa agar kelak ia melihat Taehyung dan hidup bahagia dengan kekasihnya.


Taehyung? Harapannya untuk hidup ada tapi dia sadar kondisinya juga. Dia hanya berharap Echa dapat melihat dunia kembali dan bahagia meski tanpa dia.


Aeri berjalan gontai ke arah Tae. Membuat pria itu mengusap cepat darahnya tapi malah membuat wajahnya penuh darah.


"Mommuy," ucap Tae tanpa suara.


Aeri meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Mata sembab Aeri menjelaskan segalanya kepada Taehyung bahwa wanita iti tahu kondisinya.


Tae diam dan tahu cepat atau lambat, kondisinya akan diketahui oleh Aeri dan Jungkook. Dia hanya menunggu waktu.


Tae melempar senyum menenangkan untuk Aeri. Aeri menyodorkan sebuah tissu kepada Taehyung. Taehyung meraihnya.


"Ekhm," dehem Aeri.


Pipi Echa langsung memerah malu mengi gat posisinya dengan Taehyung.


"Mommy," gugupnya.


"Sebaiknya kita makan siang dulu sebelum kalian berangkat keluar," ujar Aeri. Dia akan bicara dengan Taehyung masalah ini jika suaminya sudah kembali.


Dia perlu berbicara juga dengan Hana dan Jhope. Kalau Jimin rasanya pria itu sibuk karena berada di LA.

__ADS_1


TBC


Jejaknya :)


__ADS_2