Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
16


__ADS_3

🙅SIDER JAUH-JAUH💅


SPOILER Jimin-Zia😌😷


💟Happy Reading💟


Seorang wanita memegang erat ponselnya hingga buku tangannya memutih. Wajahnya mengeras. Dia marah dengan keadaan.


Brak!


Dia menoleh saat pintu kamarnya di buka kasar. Cepat-cepat dia memperbaiki bathrobe-nya. Matanya menelisik tajam.


"Apa yang kamu lakukan di sini?!" tanya marah.


Dia mencoba menutupi ketakutannya.


"Tentu aku menghampiri istriku," ujar pria itu santai.


"Ck, kita sudah bercerai Jimin. Tidak bisakah kamu mengerti kita sudah tidak ada hubungan apa-apa," ujar Zia membuat Jimin mengepalkan tangan kuat.


"Kita akan rujuk kembali," ujar Jimin sambil menyeringai.


"Apa kamu gila, eoh? Lupakanlah,  aku ingin hidup tenang. Inikah dinamakan cinta? Kenapa kamu begitu tega padaku?" tanya Zia sedikit marah.


Jimin mengetuk-ngetuk dagunya. Menatap intes Zia. Sesungguhnya Jimin sedang mengontrol dirinya.


"Apa yang kamu lakukan pada Jihwan? Kamu membuatnya masuk rumah sakit?! Kamu--" Zia menunjuk Jimin berang.


Tap.


Jimin melangkah ke arah Zia. Zia memundurkan tungkainya. Bahkan pegangan di bathorebenya semakin kencang.


"Jimin-ah!" sentak Zia.


Jimin menyeringai nelihat ketakutan Zia. Dia mengunci tubuh Zia di dinding. Napasnya menerpa wajah Zia. Zia memalingkan wajah.


"Itu akibat laki-laki yang mencoba mendekati milikku. Beruntung aku belum membunuhnya," ujar Jimin membuat Zia menatapnya cepat.


"Jika kamu berani membunuhnya, aku tidak akan segan-segan untuk ikut bunuh diri," ujar Zia cepat membuat hati Jimin sakit. Sebegitu berharganya Jihwan untuk Zia? Arghhh!


"Kamu membelanya,  Sayang," lirih Jimin yang terdengar menakutkan di telinga Zia.


Zia sejujurnya sakit melihat Jimin begini. Berubah dratastis.


Zia mendorong kasar Jimin saat Jimin menciumnya kasar.


"Emphhhhh ahhh," erang Zia mencoba melepaskan ciuman Jimin.


Air matanya sudah jatuh membahasahi wajahnya. Bahkan dia merasa bibirnya berdarah akibat ciuman kasar Jimin.


Perlahan wajah Jimin turun ke lehernya. Membuat Zia semakin memberontak. Apalah dayanya yang hanya seorang wanita, tentu tenaga Jimin lebih kuat.


"Hiksss Jimin lepaskan!" teriak Zia.

__ADS_1


Jimin menarik kasar Zia. Membantingnya ke ranjang dan menindih Zia. Tidak ada rasa kasihan mendengar suara tangis Zia. Dia tetap memcumbuinya.


"Hiksss lepashhkan," teriak Zia.


Jimin membuka bajunya cepat dan membuka bathrobe Zia. Sekejap mereka sama-sama tanpa busana.


Zia merasa dilecehkan oleh Jimin. Tidak ada kelembutan dalam permainan Jimin. Dia seolah hanya mengejar hasratnya untuk terpuaskan. Dia tidak peduli Zia harus sakit karena ulahnya.


Hingga ia mengehentakkan keras saat mencapai klimaks. Jimin ambruk di atas tubuh Zia. Sementara Zia sudah tidak punya tenaga.


Jimin menarik dirinya dan berbaring di samping Zia.


"Jangan mencoba menguji kesabaranku,  Zia. Siapapun laki-laki itu,  akan aku bunuh."


Zia hanya memejamkan mata. Dia terlalu lelah. Hingga dia terlelap,  Jimin mengembuskan napas.


Dia mencium kening Zia dengan sayang. Menutupi tubuh polos Zia.


Jimin meraih boxernya. Dia melihat ponsel Zia berkedip. Dia mengambilnya dan Jimin tersenyum saat sandi ponsel Zia tetap sama. Tanggal pernihakahan mereka.


Jimin membuka pesan yang masuk. Dia melihat pesan dari Jihwan. Tubuh Jimin kaku setelah membaca semua pesan Jihwan.


Aeghhh dia memang bodoh! Zia bisa membencinya semakin dalam.


Jimin menyimpan ponsel Zia di atas nakas. Matanya melihat sebuah berksas. Jimin membukanya dan dia mengangkat alis melihat nama Echa di sana.


Matanya membulat saat tahu ini berkas untuk operasi Echa.


"Echa mendapat donor mata," guman Jimin. Dia membuka cepat lembar selanjutnya dan dia merasa jantungnya berhenti berdetak.


****


LA 14:25


Seorang wanita tersenyum devil di dalam ruangan serba hitam miliknya. Di tangannya terselip sebatang rokok. Dia meulai mengisapnya dan mengembuskan secara pelan.


"Rupanya anak itu menadapat donor mata. Ini sangat menarik," ujarnya.


"Ahin, apa kamu mau ke rumah sakit saat operasinya?" tanys Seungri sambil menyesap vodka miliknya.


"Tidak,  rencanaku berubah. Aku akan membunuhnya setelah dia bisa melihat dunia lagi."


"Jadi maksudmu--kamu membiarkan operasinya berjalan lancar," tanya Seungri terkejut.


"Yah," ujar Ahin menyeringai.


"Oh Really?" tanya Seungri memastikan.


"Really. Kamu harus tahu siapa pendonornya,  ahahaha. Ini sangat menyenangkan. Aku rasa gadis sialan itu akan membunuh dirinya sendiri. Sekali upam, mati dua," ujar Ahin tergelak memikirkan nasib Echa.


Seungri ikut menyeringai. Dia meraih berkas di hadapannya dan merasa puas.


"Bagaimana dengan sepupumu?" tanya Seungri.

__ADS_1


"Humz aku tidak memikirkan Zia. Tapi aku juga tidak akan menyentuhnya. Dia sangat dicintai Jimin dan ini bukan urusanku. Lagipula, Ah Moon yang akan mengurus itu."


"Adikmu itu ke mana?" tanya Seungri melah mendapat tatapan penuh arti oleh Ahin.


Seungri dan Ahin berada di LA. Mereka bersembunyi dengan rapi. Jejaknya bahkan sulit dilacak.


Mereka akan pulang ke Korea saat Zia kembali ke Korea. Untuk sementara biar dia memantau jauh. Lagipula orangnya banyak memata-matai mereka.


Di lain tempat Jimin sudah mengenakan kembali pakaiannya. Dia duduk di sofa. Pergerakan kecil di atas kasur membuatnya tidak melepaskan tatapannya.


Zia membuka kelopak matanya. Dia merasa intinya berdenyut sakit. Perlahan dia bangun dan mengeratkan selimut di tubuhnya.


Dia menghela napas berat. Matanya tertuju pada Jimin yang menatapnya. Zia membuang pandangannya.


Melihat wajah Jimin mengingatkan bagaimana cara laki-laki itu memasukinya secara bruntal. Zia benci dengan Jimin. Dia mengumpati sikap Jimin.


Dertttttt (Suara ponsel)


Zia meraih ponselnya di atas nakas. Melihat nama Jihwan rasanya dia mau mengadu kepada Jihwan. Ingin dia menangis dan memberitahukan prilaku Jimin padanya.


Tapi Zia cukup sadar jika Jimin masih menatapnya intes. Bahkan dia merasa tatapan Jimin menelanjanginya.


"Yaboseyo," ujar Zia serak.


"Ne,  Ada apa dengan suaramu? Kamu sakit?" tanya Jihwan khawatir.


"Tidak,  aku hanya flu. Bagaimana kabarmu? Apa masih sakit? Jika ia jangan terlalu bergerak. Jangan juga duduk terlalu lama," ujar Zia cemas.


"Hahaha, kamu sangat cerewet," ujar Jihwan. Wajah Zia memerah malu. Dia melirik Jimin lewat ekor matanya.


Pria itu tidak marah saat ia menelepon? Eoh,  ada apa dengannya? Aneh.


Zia tidak tahu saja jika ponselnya sudah diotak-atik oleh Jimin. Sekarang Jimin tahu kenapa Zia dan Jihwan akrab. Meski dia tetap merasa cemburu,  Setidaknya dia bisa mengontrolnya.


"Hahaha lihat, jika saja Hyung Kai masih hidup dia akan mengacak rambutmu," lirih Jihwan.


Zia tersenyum masam. Kai adalah sahabat Zia. Kai memang tidak pernah meminta Zia menjadi pacarnya,  tapi pria itu selalu mengungkap kata cinta untuknya.


Hingga Kai harus mengingkari janji karena takdir. Pria itu meninggal dunia. Kai adalah saudara dari Jihwan.


"Aku pun yakin dia pasti sudah tenang di atas sana," ujar Zia sedih hingga Jimin menatapnya kembali.


"Yah, Nuna kamu harus berjanji padaku, jangan membuatku kehilangan kedua kalinya. Dia adalah saudaraku," ujar Jihwan membuat Zia mengadahkan mata sesak.


"Aku akan berusaha semampuku," ujar Zia.


"Jihwan sudah dulu,  aku ada urusan mendadak," ujar Zia dan langsung mematikan ponselnya. Dia menangis.


Kenapa harus dia tahu ssmua ini?! Dia tidak sanggup juga,  tapi ia harus melakukannya. Setidaknya itu kewajibannya sebagai dokter. Zia bercita-cita jadi Dokter karena dia ingin mengobati Kai,  tetapi Kai sudah tidak mampu bertahan.


Lalu sekarang? Apa semua akan sia-sia? Kenapa harus bertubi-tubi? Kenapa harus ada pengorbanan sebesar ini?


Jimin mendekati Zia dan memeluknya. Zia tidak memberontak. Dia memang nyaman berada dipelukan Jimin. Zia tidak bisa menyangkal jika mencintai mantan suaminya.

__ADS_1


TBC


Mampir di wattpadku sudah tamat @Kim_Aretha


__ADS_2