
🙅SIDER JAUH-JAUH 💅💋
💟Happy Reading💟
~Aku tahu jalan ini yang terbaik untuk kita berdua.
.
.
Seorang gadis duduk dengan gusar di sofa ruang tamu. Dia tahu hari ini kepulangan sang kekasih.
Wajah sudah ditekuk sebal. Bibirnya mengerucut membuat laki-laki di sampingnya tertawa melihat tingkah putrinya.
"Daddy," rengeknya.
"Yes Princess, kamu jangan cemberut sayang," ujar Jungkook.
"Hufggg aku kesal sama Taehyung, Dad," ujarnya manja.
Jungkook tahu kejadian sebelumnya. Dia tahu dari Aeri~istrinya.
"Hari ini 'kan dia pulang, Nak," ujar Jungkook membelai surai hitam Echa.
Tiba-tiba suara wanita yang familier membuat Echa membulatkan mata senang.
"Halo Princess," sapanya.
"Aunty, Han!" pekik Echa senang.
"Hahaha cup ... Ahh aigoo ponakan Aunty semakin cantik," puji Hana membuat Echa tersenyum malu.
Jhope duduk di sofa ssberang Jungkook. Pria itu bahkan langsung mencomot kue buatan Aeri.
"Triplek's di mana?" tanya Jhope.
"Di kamarnya," ujar Jungkook.
Pekikan seseorang membuat Hana tertawa.
"Mommy! Daddy!" teriak seorang gadis dengan celana pendek berwarna hitam dipadukan dengan kaus oblong berwarna putih kebesaran di tubuhnya. Rambutnya dikucir kuda, dan tentu wajahnya dipolesi make up yang natural tapi terkesan seksi karena bibirnya menggunakan lipstip merah dengan lapisan pelembap. Uhhg anak Hana, hehehe.
"Sini, Nak. Mom merindukan putri Mommy," ujar Hana saat memeluk tubuh putri semata wayangnya.
"Kamu hanya memeluk Mommy, Jena? Daddu tidak?" tanya Jhope membuat Jena segera memeluknya.
Triplek's berjalan ke sofa dan duduk di sana. Aeri datang-datang membawa minuman karena mendengar suara di ruang tamu ribut. Ia mengenal suaranya.
"Kapan kalian tiba?" tanya Aeri sambil meletakkan minuman. Dia duduk di sisi Jungkook membuat pria itu gesit langsung memeluk pinggangnya. Triplek's yang melihat tingkah Jungkook hanya tersenyum tipis.
"Tadi malam, oleh-olehnya ada di mobil. Terimakasih telah merawat anak nakalku," ujar Hana membuat Jena di dalam pelukan Jhope mengerucutkan bibir.
"Dia sangat nakal, Aunty. Datang-datang hanya menganggu," timpal Ray membenarkan ucapan Hana. Aeri langsung menegur Ray, tapi Hana hanya tertawa.
"Jena kamu jangan menganggu sepupumu, eoh? Mom kan bilang jangan buat keributan di sini," kata Hana menasehati putrinya.
Jena diam, dia menatap Jhope memelas. Jhope tentu tidak tahan melihat wajah putrinya yang memelas. Dia berdehem sebelum berbicara.
"Jena kamu ganggu Ray, Nak?" tanyanya lembut.
"Aku tidak menganggunya, Dad. Bahkan aku hanya ingin bermain bersamanya. Dia yang tidak mau dan terus menolakku," ujar Jena mengadu.
"L-kamu mengangguku," hardik Ray. Dia hampir memggunakan bahas gaul.
"Sudahlah. Ray kamu juga jangan menolak Jena jika dia ingin bermain denganmu," ujar Aeri membuat Jena mengerling nakal ke arah Ray. Tentu maksud bermain Jena adalah bermain di atas ranjang. Dasar anak nakal, hahaha.
Mereka mulai berbincang-bincang. Echa jadi bahan obrolan hingga pipi gadis itu memerah malu. Dia digoda karena berpacaran dengan Taehyung.
"Ryung bagaimana denganmu? Apakah kamu punya pacar? " tanya Hana membuat Ryung tersedak.
"Te-tentu tidak Aunty," ujarnya gugup karena dia ditatap oleh Aeri. Dia salting sendiri.
"Tidak ada yang mau dengan kebo sepertinya Aunty, " ujar Echa mengejek Ryung.
Ryung merenggut tidak suka.
"Nuna harus tahu jika banyak gadis menyukaiku. Aku sangat tampan Nuna, jika saja kamu nelihatku pasti kamu terpesona," ujar Ryung membuat suasana tiba-tiba awkward moment.
Ucapannya membuat Ray menatapnya tajam sedangkan Ryeong menghela napas. Ucapan Echa membuat Ryung merasa berasalah.
"Iya, andai aku melihat aku pasti tahu kamu sangat tampan," lirih Echa sambil tersenyum. Semua tahu jika senyum itu hanya topeng saja.
Ryung menunduk menyesal. Aeri menatap putranya dalam. Dia sangat menganl sifat putranya, Ryung memang pria yang ceria seperti Echa.
__ADS_1
"Nuna beruntung tidak melihat wajahnya. Wajahnya sangat jelek mirip monyet," ujar Ray sakras.
Ryung menatap Ray yang sulit diartikan. Ray tetap menatap tajam Ryung. Hingga Aeri menegur Ray. Hufgghh anaknya ini kalau ngomong mirip cabe pedesnya.
"Ray, kamu jangan ngomong gitu sama Hyung kamu," tegurnya.
Jungkook menengahi mereka.
"Sudah, sebaiknya ganti topik. Ray minta maaf dengan Hyungmu, tidak baik berkata seperti itu. Sama saja kamu menghina Mom dan Dad karena kalian hasil peebuatan kami. Lalu, kamu Ryung minta maaf dengan Nunamu, jika bicara coba telaah dulu sebelum dikeluarkan," ujar Jungkook tegas.
Di sinilah pernan Jungkook sebagai kepala rumah tangga. Menangani masalah di dalam keluaragnya. Pertengkaran yang ada di dalam rumah tangganya ia selesaikan dengan baik.
Ray minta maaf kepada Ryung dan Ryung minta maaf pada Echa. Bibir Aeri tertarik ke atas melihat anak-anaknya berdamai. Dia menyadarkan tubuhnya di dada suaminya.
Betapa Aeri merasa beruntung memiliki Jungkook. Dia merasa hidupnya lengkap dengan kehadiran anak-anaknya serta suami yang mencintainya.
***
Saat ini Hana dan Aeri menyiapkan makan malam di dapur. Hana melirik Aeri yang sibuk mengulet. Aeri menyadari tatapan Hana. Sejak Hana datang ia selalu meliriknya, sepertinya ada sesuatu.
"Ada yang ingin kamu sampaikan, Han?" tanya Aeri membuat Hana kaget.
"Hufghh ada. Sesuatu yang penting tapi aku ingin membicarakannya di ruangan Oppa," ujar Hana.
"Baiklah kita bicarakan nanti setelah makan."
Mereka kin berkumpul menikmati makan malam. Hingga selesai, Jhope dan Jungkook ke ruang tamu mengobrol dengan Echa di tengah-tengah mereka.
Jena mengangkat piring koror untuk di bawa ke dapur. Aeri menegurnya.
"Sayang, kamu ke depan saja. Biar Aunty yang bereskan," larang Aeri.
"Aniyo Aunty, aku akan membantumu," ujar Jena mengotot.
"Nak, biar Mom dan Aunty Aeri yang bereskan kamu ke depan aja," ujar Hana.
"Mommy biarkan aku membantu, hitung-hitung latihan jadi calon istri yang baik untuk. Ray dan menantu yang baik untuk Aunty Aeri," ujar Jena asal ceplas-ceplos membuat Ray menatapnya tajam.
Ryung dan Ryeong kompak tertawa. Mereka memengangi perut mendengar perkataan Jena. Ray meninggalkan dapur dengan perasaan marah. Ryeing dan Ryung mengekori Ray.
Hana menatap anaknya yang melihat kepergian Ray dengan mengankat bahu.
"Jena jangan gitu ah, masa usil mulu sama Ray," tegur Hana.
"Tapi, Nak kam--" Aeri mengusap kepala Jena yang kini menunduk sedih. Hana melarangnya.
"Biarin aja, Han. Aunty gak larang kamu, Nak. Tapi ingat Aunty tidak mau kamu sakit hati jadi apapun ucapan Ray kamu jangan masuki ke dalam hati, Arasso?" ujar Aeri membuat Jena memeluknya erat. Matanya jadi berbinar-binar.
Hana bahagia jika Aeri mengizinkan karena dia tidak pernah melarang keinginan putrinya selama ini. Wajarlah anak semata wayang.
"Kamu ke depan sayang, sama Daddy dulu," ujar Hana membuat Jena mencium pipinya dan mengacir pergi.
Hati Hana menghangat mendapat perlakuan manis putrinya. Jena memabg terbiasa mencium pipi kedua orang tuanya.
"Kita beresekan cepat dan kita temui Jungkook," ujar Aeri.
***
Di sinilah mereka berada. Di ruangan milik Jungkook. Mereka berhadapan. Jhope berdehem untuk membuka suara, ini suasana berubah jadi mengcekam.
Well pembahasan mereka serius.
"Jadi maksud kedatangan kami, ingin memberitahukan sesuatu yan penting mengenai pendor Echa," ujar Jhope.
Aeri dan Jungkook dedegkan. Mereka khawatir jika operasi Echa gagal atau pendoronya batal. Beebagai pikiran negatif mulai merasuki pikirannya.
"Kenapa dengan pendor Echa?" tanya Jungkook. Pria begigi kelinci ini tidak dapat menutupi raut khawatirnya.
"Sudah berapa lama Echa pacaran dengan Taehyung?" ujar Jhope membuat Aeri mengerurkan kening.
"Jalan empat bulan lebih, kenapa?" selidik Jungkook.
"Kamu tidak ganjal dengan ini? Tiba-tiba Echa dapat pendonor mata," ujar Jhope.
"Jujur aku kaget. Kabar ini begitu mendadak tapi bukankah kabar ini memang menyebar jika aku butuh donor mata untuk putriku."
"Yah, dan yang menanganinya adalah Dokter Zia. Kamu tahu 'kan, Dokter Zia tidak mau kembali ke sini karena Jimin. Dia menyetujui dan kabar donor mata itu dari dia juga. Ini ganjal," ujar Jhope.
Jungkook diam menimbang-nimbang ucapan Jhope. Jika dipikir ada benarnya juga.
Deg.
Jungkook tersentak dengan pemikirannya. Janga bilang pendoronya--dia menatap Jhope dan sialnya dia menadapat anggukan dari pria itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin Taehyung," ujar Jungkook membuat mata Aeri berkaca-kaca. Sejak awal dia tahu jika Tae selalu menatap putrinya penuh cinta. Ada ketulusan di dalam netra hitam pria itu.
Jhope menyerahkan map kepada Jungkook. Kenyataan menampar keras dirinya. Di sana nama Taehyung tertera sebagai pendor.
"Dimana kamu menemukan ini?" tanya Jungkook.
"Jimin yang memberikannya. Ia mengambilnya di Apartemen Dokter Zia," ujar Jhope.
Pikirab Jungkook berkecamuk. Dia tahu putrinya sangat mencintai Taehyung. Bagimana ini? Pilihan sulit. Arghhh kenapa selalu ada pilihan dalam hidup?
"Aku tahu ini berat, tapi Taehyung menyetujuinya. Rahasiakan ini dari Echa. Apapun yang terjadi kita harus berdiri di sampingnya," kata Jhope tegas.
Aeri memeluk Jungkook. Dia menangisi nasib putrinya. Hatinya teriris membayangkan putrinya jika tahu fakta ini.
Hana juga sedih. Dia nenatap nama Taehyung teduh. Pria ini berkorban untuk kekasihnya. Ohh cinta yang tulus. Betapa beruntungnya Echa dicintai begitu besar oleh Kim Taehyung.
"Hikss kenapa harus dia?" tanya Aeri parau.
"Relakan ini. Faktanya Taehyung mengidap penyakit kanker otak. Aku tidak tahu sudah stadium berapa penyakitnya, tapi penyakitnya parah, dia ingin mendonorkan matanya sebelum~ajal menjemputnya" ujar Jhope lirih di akhir kalimatnya.
Aeri bergetar hebat mengingat wajah Taehyung. Pemuda itu sangat sopan kepadanya. Melihat bagaimana Tae membuat Echa tertawa.
Aeri membekap mulutnya saat kejadian-kejadian soal Tae muncul. Tae selama ini menyembunyikan penyakitnya.
Flashback
Taehyung baru saja mengantar Echa ke kamarnya. Kekasihnya tidur dan dia memengan kepalanya sakit. Aeri menatap cemas kepada Taehyung.
"Tae, kamu kenapa, Nak?" tanya Aeri khawatir.
Tae kaget dan pria itu berhenti memengangi kepalanya. Dia tersenyum walau kini bibirnya pucat pasi. Wajahnya berkeringat.
"Taehyung wajahmu sangat pucat," kata Aeri semakin khawatir.
"Aku hanya lelah, Mom. Pekerjaanku akhir-akhir ini menguras tenagaku, aku hanya kurang tidur saja," bohong Tae.
Aeri mengangguk percaya mengingat Tae seorang Billioner jadi mungkin sibuk sekali.
Saat Tae pergi, Aeri melihat Echa di dalam kamar. Dia mengecup kening putrinya. Mata Aeri memicing saat melihat noda merah di seprai Echa. Walau setitik saja tapi seperti darah. Dia pikir Echa sedang datang bulan.
Flashback end
Aeri merasa sesak. Jadi selama ini darah yang kadang ia lihat adalah darah Tae. Wajah pucat pria itu bukan karena pekerjaan tapi karena sakit.
Astaga~Aeri merasa sedih.
"Hikss aku perlu bicara dengan Zia dan juga Taehyung," ujar Aeri. Jungkook mengelus punggung istrinya.
"Dia akan datang dua bulan lagi. Taehyung--kabar yang aku dengar dia menjalani kemotrapi. Menurut Jimin itu sebagai bentuk penghabatan kankernya saja agar tidak menyebar. Bisa dibilang, Taehyung hanya memperlambat prosesnya. Dia sepertinya berjuang untuk tetap hidup demi menggu hari operasi Echa," ungkap Jhope sedih.
Hana ikut terisak.
"Hikss Taehyung," lirih Aeri. Dia menganggap Tae seperti anaknya sendiri.
"Sayang kamu jangan menangis. Kita cari jalan keluarnya bersama-sama. Hari ini Tae berjanji akan datang bukan? Tapi dia belum datang, mungkin saja istirhat karena baru sampai," ujar Jungkook berusaha menenangkan istrinya.
"Oppa coba telepon dia," ujar Hana.
Jungkook merogoh ponselnya dan mendial nomor Tae.
Tuttttt ....
"Halo," sapa Tae.
"Taehyung, apa kamu sudah sampai di Korea?"
"Iya, Dad. Aku baru saja tiba tadi menunda penerbangan jadi malam baru sampai. Ada apa?"
"Tidak ada. Datanglah besok ke sini."
"Iya, Dad. Bagaimana dengan Cacha?"
Tentu Jungkook tahu soal Tae dan Echa. Istrinya sudah menceritakannya.
"Dia akan memarahimu. Tadi saja dia merajuk."
Tae tertawa pelan. Dia berbincnag sedikit dan akhirnya mengakhiri sambungan karena mendengar Tae dipanggil oleh seseorang.
TBC
Follow wattpadku @Kim_Aretha
Terimakasih semua. Mohon jejaknya.
__ADS_1