
💟Happy Reading💟
Seorang gadis duduk di sebuah kursi taman berwarna putih. Dia tahu di sini cukup ramai terdengar suara-suara bising dan gelak tawa. Bibirnya berkedut tanda ia ingin tersenyum.
Meski dia tidak bisa melihat apa yang ia lalui hari ini bersama Aeri dan Ryung. Baginya ia bisa menyimpan suara tawa keluarganya.
Ryung dan Aeri pergi mencari es krim. Saat Aeri bersikeras ingin menemani Echa, Echa menolak dan tidak apa-apa ditinggal.
Echa mengembungkan pipinya dalam. Dia bosan menunggu. Sementara lima menit yang lalu seorang pria duduk tenang di sampingnya. Menatapnya begitu intes dan dalam.
Echa mengerucutkan bibir kesal. Dia merasa bosan dan akan berjalan-jalan meski dia tidak yakin. Echa tidak mengenal tempat ini.
Tangannya ingin meraih tongkat di sebelahnya. Dia mengerutkan kening dalam saat tongkatnya terasa hangat? Eoh, apa yang terjadi dengan tongkatnya? Dia merabanya dan tersentak kaget saat menyadari jika itu sebuah tangan.
"Aigoya! Kamu siapa?!" tanyanya terkejut.
Melihat wajah terkejut Echa sangat lucu di mata Tae. Dia tertawa kecil hingga membiat seorang pria yang bersandar di pintu mobil mencibir pelan.
"Ck, sama aku aja dia sering marah. Boro-boro ketawa, yang ada matanya menatapku tajam," gerutu Jihwan.
Dia harus malang sekali, menjadi obat nyamuk. Dia sudah senang saat Tae mengajaknya jalan dan harapannya pupis saat tahu alasan sahabatnya. Dia mulai merajuk dan menatap sebal Taehyung.
Echa dia membeku mendengar suara tawa pria ini. Apa dia bermimpi? Ini suara tawa yang sangat indah.
Dia mencari tongkat hingga bertemu. Wajahnya memerah malu. Echa yang sudah berdiri dan menghadap Tae. Pikir Echa malah itu ke depan tapi malah ke arah kursinya sendiri.
Dia berjalan dan "Tuk" kakinya tersenandung sepatu Tae. Keseimbangannya hilang dan menimpah tubuh Taehyung. Bibirnya mendarat mulus di bibir Tae.
Kenyal dan lembut, hingga Echa merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Bibir ini---bibir yang menciumnya. Mungkinkah pria di depannya adalah Taehyung? Pria yang ia kagumi.
Echa membuyarkan semua khayalannya. Dia melotot tidak percaya mendengar ucapan Taehyung. Wajahnya berubah merah, bukan merona tapi kesal.
"Dia benar-benar gadis penyosor bibir," guman Tae tidak sadar.
Echa menarik diri dan hampir jatuh kembali. Tae menahan tubuh Echa. Jihwan yang menyaksikan itu mengumpati Tae dan juga Author. Kenapa harus dia menjadi sahabat Taehyung? Kekesalan Jihwan apalagi saat Author hanya bersikap acuh. Dia membanting pintu mobil dan masuk ke dalam.
"Cukup mataku ternodai melihat adegannya yang sudah seperti drakor saja," gerutu Jihwan.
"Le-lepaskan," kata Echa gugup.
__ADS_1
Tae melepaskan tubuh Echa dan mengambil tongkat Echa yang tergeltak di atas rumput. Dia menarik lembut tangan Echa dan memberinya tongkat.
"Tuan, ak-aku tidak sengaja. Aku bukan gadis yang suka mencium bibir orang," ujar Echa terbata-bata. Ada keraguan dalam ucapannya. Dia merutuki diri saat mengingat masa kecilnya. Echa meringgis saat mengingat teman masa TKnya yang sering ia sosor dan bahkan tangannya menodai bokong anak itu.
"Ah aniyo ... Aku bukan gadis mesum," ucapnya dalam hati.
Tae mengangguk dan merutiki diri. Echa tidak melihatnya, hingga ia berdehem menetralkan degup jantungnya.
"Iyakah? Tapi kamu menciumku tadi," ujar Tae menggoda Echa. Dia tahu jika Echa mengurung diri dan kecerian gadisnya tidak sepenuhnya ada. Dia bersembunyi dibalik topengnya.
Ia tahu Echanya tidak pernah baik-baik saja. Gadisnya terluka teramat dalam. Dia tahu kegelapan itu membuat hati gadisnya suram. Tae berjanji akan membawa cahaya itu hanya untuknya.
"A-aku tidak sengaja," ujarnya malu. Dia menunduk malu. Tae merasa bersalah, padahal niatnya hanya ingin menggoda. Hingga ucapan Echa membuatnya harus menahan tawa.
"Tapi kamu lebih dulu menciumku di toilet."
"Ekhm, aku sepanjang acara tidak pernah ke toilet."
"Tapi bibirmu rasanya sama," ujar Echa polos.
"Bagaimana kalau kita mencobanya sekali dan memastikan apa benar-benar sama atau tidak?" tanya Tae modus.
Melihat wajah Echa memerah malu dan mendegus membuat ia tertawa. Echa sangat kesal dan memukul Tae menggunkan tongkatnya.
Tidak sadarkah dia cuk kalau dia yang jadi pusat perhatian. Bagaimana bisa pria itu tertawa lepas? Selama ini tidak ada tawa kecuali senyum menyeringai yang mengerikan. Jihwan tersenyum melihat Tae tertawa. Dia tahu masa kecil Tae.
"Khm," dehem Ryung keras.
Tae merubah wajahanya datar. Echa tersenyum mendengar suara Ryung.
"Mom," panggil Echa dan Aeri memeluk Echa. Tatapan Aeri tidak lepas pada Taehyung.
Pria ini yang selalu diidolakan putrinya. Membiat putrinya tertawa dan Aeri selalu tahu jika putrinya tak benar-benar sembuh, hingga ia memiliki kekaguman kepada pemuda yang sukses diusia mudanya.
"Ada perlu apa Mr. Taehyung?" tanya Aeri ramah.
"Hanya menghampiri putri, Anda Mrs. Jung," ujar Tae.
"Panggil saja Mom," ujar Aeri membuat Taehyung terkejut.
__ADS_1
Panggilan itu sudah sangat lama sekali tak ia sebut. Ah sudah saja semunya---berakhir.
"Baiklah, Mom."
Aeri tersenyum lembut dan Ryung diam melihat pemuda yang beberapa tahun ini sering ia cari informasinya untuk melihat senyum nunanya.
"Mom harus pulang. Ini sudah sore dan sebentar lagi suami Mom pulang," ujar Aeri.
"Baiklah, hati-hati, Mom," ujar Tae tulus.
"Mampirlah malam ini. Kita makan bersama, " ujar Aeri membuat Echa menahan napas. Berdekatan dengan Tae sangat membuat kinerja jantungnya memompa lebih kuat.
Taehyung sangat ingin, tapi ia telanjur juga sudah ada janji. Ia bisa membatalkannya, tapi ini proyeknya juga mendesa untuk di undur lagi.
"Maaf lain kali saja, Mom," tolak Tae.
Echa merasa dadanya sakit. Ia kecewa dan tidak bisa menyangkal itu karena nyatanya hatinya berdenyut sakit.
Echa menunduk sedih. Mencoba menyadarkan dirinya dan menyadarkan siapa pemuda itu. Dia mencoba tersenyum dan mengusap sebulir air mata yang lolos di mata rubynya.
Tae dan yang lain melihat itu. Hati Tae ikut perih. Echa menarik tangan Aeri agar pergi sekarang.
"Sampai ketemu lain waktu, Hyung," ujar Ryung menepuk pundak Tae.
Tae menahan langkah Ryung,"Bisakah kamu memberiku nomor ponselnya?"
Ryung mengangguk dan dia meninggalkan Tae yang memandang punggung Echa. Dia berjalan lebar ke mobil.
Jihwan menegakkan badan melihat wajah datar Tae. Ke mana wajah kasmaran tadi kenapa jadi wajah kemarahan. Shit, sialan! Selalu saja ia sasarannya.
"Kita berangkat sekarang ke hotel Houmbek. Sejam lagi kita akan menemui Mr. Hem Joon."
Ucapan Tae membuat mulut Jihwan mengaga lebar. Bekerja? Lagi? Ohhh my kapan dia bisa jalan-jalan? Sahabatnya menyiksanya.
"Tutup mulutmu dan jalankan mobilnya," ujar Tae membuat Jihwan reflej mengantupkan bibirnya dan menjalankan mesin mobilnya.
"Kasmaran ndasmu," umpatnya dalam hati.
"Nasib gua banget punya teman bikin dongkol tiap jam," cibirnya pelan yang didengar Tae. Tae hanya diam dan fokus pada tablet miliknya.
__ADS_1
TBC
Follow me :)