
Embun pagi membasahi rumput-rumput kecil. Kicauan burung mulai terdengar.
Seorang pria merenggakan otot-ototnya. Ia termunung sejenak. Hari ini, yah hari tersedih untuknya. Sahabatnya akan di operasi.
Matanya tanpa bisa dicegah berlinang. Dia menghirup kasar oksigen.
"Hufghhh ...." Dia menghela napas dan mulai beranjak dari kasur. Dia akan mandi dan menemui dokter Zia.
***
Di rumah besar kediaman Jungkook, terlihat ramai sekali. Ini semua karena Aeri. Dia ingin semua berkumpul. Berulang kali Aeri dan yang lain mencoba tersenyum.
Wajah pucat pria itu sedari tertawa. Tangannya merengkuh posesif kekasihnya.
Bahkan Triplek's ikut bercanda. Jena, Ulfie, Yoongi, Yeonjun, Boemgyu, Jimin dan Jhope berserta istrinya ada di sini.
Bahkan Kedua orang tua Jimin dan Jungkook juga ada di sini. Aerum dan Daniel. Semua hadir hanya karena satu alasan. Taehyung.
"Taehyung Oppa, Eonni ... Dia sangat beruntung memilikimu. Kamu pria 'romantis'. Jarang-jarang ada pria seperti Tae Oppa, " kata Jena yang menyindir Ray.
Ray acuh dengan ucapan Jena. Gadis itu mengerucutkan bibir membuat semua menertawakannya.
"Jena, Oppa masih jomblo lebih kau denganku saja," ujar Yeonjun.
"Yeonjun Oppa, aku tidak tertarik pada laki-laki manapun setelah jatuh cinta pada ...." Hana menunjuk Ray dengan dagunya, angkuh. "--Ray Oppa," lanjutnya.
"Hahahaha!"
Mereka tertawa kembali melihat Jena terlalu blakblakan dengan perasaannya. Ray memandang Jena tajam.
"Aku tidak menyukaimu," ketus Ray.
"Ya ya ya Ray Oppa tidak menyukaiku tapi mencintaiku," kata Jena dengan senyum menggodanya. Ryeong menarik Jena bersandar di dada bidangnya, ucapan Ray bisa keterlaluan saat kesal dan sepertinya adik kecilnya ini tidak mau mengalah. Sangat keras kepala.
***
Mereka sudah sarapan, Rencananya Taehyung akan membawa Echa ke bukit.
Dia sangat tampan sekarang membalut tubuhnya dengan baju kaos berwarna hitam. Dipadukan celana jens hitam serta jeket bomber. Tidak lupa sepatu puma warna putih miliknya.
Echa sendiri memakai dress selutut dengan tanpa lengan. Rambutnya ia gerai. Bibirnya dipolesi lisgolsh.
"Ekhm, maaf aku harus pergi ke suatu tempat bersama Cacha," ujar Tae.
Aeri memandang Tae diam. Wajah pucat pria itu, Aeri pastikan Tae menahan sakit sekarang.
"Iya, hati-hati dijalan. Taehyung ... jika ada apa-apa cepat kabari. Jam 07:00 kembalilah," ujar Jungkook.
"Iya, Dad. Aku akan pergi sekarang. Terimakasih untuk hari ini," ujar Tae tulu dan memandang mereka semua.
Aeri memeluk Jungkook. Hati Tae begitu teriris. Aeri benar-benar wanita yang mulia. Dari Echa ia menganggapnya seperti anak kandung dan sekarang dirinya yang sama-sama memiliki takdir seperti Echa. Dibenci oleh ibunya tapi Echa sedikit lebih beruntung, masih ada Jungkook.
Masih ada Aeri sebagai ibu sambungnya. Sedangkan dia? Sampai kedua orang tuanya mati, ia berjuang hidup sendiri tanpa kasih sayang.
***
Kini Echa dan Tae sampai di bukit. Echa duduk di atas padang rumput. Tae sendiri memasang kamera untuk merekam hari terakhirnya.
"Cacha," panggil Tae. Dia memeluk Echa hingga gadis itu tersenyum.
"Ya Tetet, kamu mau bermain?" tanya Echa. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Tae.
Dugdugdug.
Suara jantung Tae berdetak seirama dengan detak jantungnya. Echa tahu, jika jantung mereka sama-sama berdesir karena cinta.
"Uhukk ... uhukkkk," batuk Tae. Dia menutup mulutnya. Matanya memejam saat kepalanya terasa berdenyut.
"Taehyung, Gweanchana?" tanya Echa khawatir. Ia mengusap-usap dada Taehyung. Taehyung meraih botol minumnya dan segera meneguknya.
"Yah, aku baik-baik saja. Jangan khawatir, Sayang," ujar Tae.
"Sayang," panggil Echa dengan pipi merona malu. Tae tertawa dan mengacak rambut Echa. Echa mengerucutkan bibirnya.
"Cup ... minta dicium banget nih Queenku, hehehe," kekeh Tae dengan merapikan poni Echa. "Ada apa sayang?" tanya Tae setelah merapikan rambut Echa.
"Aku bermimpi. Kamu dan aku terpisah jauh. Aku sendiri. Kamu tak lagi disampingku. Kamu bahkan sulit untuk aku raih, begitu jauh dan tak bisa aku gapai," ujar Echa membuat Tae terdiam.
~Ah mimpi yang nyata.
Tae mengecup lama kening Echa. Tidak tahu kenapa, Echa memejamkan mata merasakan kecupan Tae.
"Aku sangat mencintaimu melebih nyawaku sendiri," ujar Tae membuat mata Echa berkaca-kaca.
Echa tidak mengeri, dia hanya mau memeluk Tae erat. Seolah jika dia melepaskan pelukannya, maka Tae akan pergi.
"Hiksss jangan hikss pernah tinggalkan aku. Kamu tahu sekian tahun aku bersama warna hitam, akhirnya ada warna yang menerbos masuk. Aku tak butuh semua warna dan aku tak butuh indahnya dunia, jika harus kehilanganmu," ujar Echa tulus.
Tes ....
Air mata Taehyung jatuh. Dia menyatukan keningnya dan kening Echa. Saat air mata seorang pria jatuh karena seorang wanita, percayalah bahwa kamu sangat dicintai olehnya.
Air mata seorang pria lebih tulus daripada seorang wanita, tapi tawa seorang wanita lebih tulus daripada tawa seorang pria.
***
Setelah bersedih tadi, Tae memutuskan akan tertawa sepanjang hari berama Echa. Tinggal menghitung jam kebersamaan mereka.
"Cacha, aku ingin berfoto denganmu," kata Taehyung sambil merogoh ponselnya.
"Hm, tapi aku tidak tahu," ujar Echa dengan wajah memelasnya. Tangannya memegan baju Tae dan mengadahkan kepalanya.
"Ughhh, pacar siapa ini menggemaskan sekali," kata Tae.
"Pacar Kim Taehyung," ujar Echa semangat.
"Hahaha eoh ternyata pacar Kim Taehyung. Cium dulu sini ... cup cup cup."
Echa Akhirny berfoto dengan gaya yang diinstruksikan Tae. Mereka berpose konyol, romantis dan serius.
"Hahahah kamu lucu sekali," ujar Tae. Dia menatap foto-fotonya dengan Echa.
"Ca, aku mau foto kissing," ujar Tae. Echa membulatkan matanya. Dia mencubit perut Taehyung.
"Akhhh," ringis Tae. Dia memengan tangan monster Echa, hehehe.
"Ini tangan apa kepiting sih?" goda Tae. Echa mencibir tapi tertawa kemudian.
__ADS_1
Mereka mulai bercerita. Main tebak-tebakan. Banyal hal yang di lalui. Tidak terasa senja mulai datang.
Tae tersenyum tipis saat senja mulai nampak. Cahaya kilauannya membuat Tae menarik Echa ke dalam pelukannya.
"Ca, aku ingin berbaring," Lirih Tae. Kepalanya terasa sakit sekali. Penglihatannya mulai berkunang-kunang.
"Ca, aku ingin istirahat, Sayang," lirihnya lagi. Matanya mulai sayu.
"Berbaringlah di sini," kata Echa menepuk pahanya. Tae membaringkan kepalanya dan Echa mengelus lembut kepalanya.
Denyutan di kepalanya sedikit reda akibat usapan Echa. Pernahkah kalian menangis saat memikirkan diri kalian sendiri? Pernah kalian menangis karena kasihan pada diri kalian sendiri? Itulah yang Taehyung rasakan.
Sakit tapi tidak berdarah. Potongan kenangan bersama Echa membuat air matanya bercucuran.
Tubuh Tae bergetar, darah mulai mengalir di hidungnya. Hancur, bahkan itu tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
Echa kaget aat tubuh Taehyung bergetar. Pahanya terasa basah? Wait basah? Taehyung menangis?
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Echa lembut. Isak tangis Taehyung semakin terdengar.
Echa meraba wajah Tae. Dia mengusapnya lembut.
"Sayang, ceritakan padaku tentang sedihnya dirimu," kata Echa.
"Ak hikss aku mencintaimu," ujar Tae.
"Aku juga mencintaimu, sangat-sangat cinta," ujar Echa.
Wajah Tae semakin pucat. Keringat dingin mulai keluar. Tangannya mulai dingin. Tenaganya hampir habis.
Dengan susah payah, dia mengenggam tangan Echa. Sebelah tangannya mengusap kasar darah yang mengalir pada hidungnya.
Cup. Tae memejamkan mata saat Echa menciumnya. Echa mulai melumat bibir Tae. Tae membalas ciuman Echa dengan bibir bergetar.
lewat ciuman ini Echa mengerti perasaan Tae. "Kapan senja datang?" tanya Echa di sela ciumannya.
"Sudah datang," kata Tae.
"Baby kiss me for last nigth," bisik Tae. Echa mengangguk dan mencium Tae penuh kelembutan. Tidak ada nafsu di dalamnya, hanya ada cinta.
Senja sudah hilang diusir malam. Kini bintang hadir di atas langit, begitu banyak. Bulan hanya mengintip di celah awan. Menatap. sepasang kekasih yang mengaduh kasih.
"Taehyung, aku ingin bernyanyi untukmu," ujar Echa malu.
"Nyanyikanlah aku sayang sebelum nanti aku terridur. Aku jadikan itu pengantar tidurku," ujar Tae. Echa tidak. mengerti ucapan Tae. Dia pikir tidur ya tidur biasa. Bukan tidur untuk selama-lamanya.
Echa mulai bernanyi.

(Down let me down Ost song)
Putar lagunya :)
Crashing, hit a wall
Hancur, menabrak dinding
Right now I need a miracle
Hurry up now, I need a miracle
Cepatlah, aku butuh mukjizat
Stranded, reaching out
Terdampar, menggapai-gapai
I call your name but you're not around
Kupanggil namamu tapi aku tak ada
I say your name but you're not around
Kusebut namamu tapi kau tak ada
// Echa mebyanyikannya tulus.
I need you, I need you, I need you right now
Aku membutuhkanmu, aku membutuhkanmu saat ini
Yeah, I need you right now
Yeah, aku membutuhkanmu saat ini
So don't let me, don't let me, don't let me down
Maka janganlah kau, janganlah kau kecewakan aku
I think I'm losing my mind now
Rasanya aku gila
It's in my head, darling I hope
Ada di kepalaku, kasih, kuharap
That you'll be here, when I need you the most
Bahwa kau kan di sini, saat aku teramat membutuhkanmu
So don't let me, don't let me, don't let me down
Maka janganlah kau, janganlah kau kecewakan aku
D-Don't let me down
Janganlah kau kecewakan aku
// Seolah-olah lagu ini permintaannya kepada Taehyung.
Don't let me down
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, down, down
__ADS_1
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, don't let me down, down, down
Janganlah kau kecewakan aku, janganlah kau kecewakan aku
// Tae memejamkan mata, sunggu suara Echa bagai obat untuknya.
Running out of time
Kehabisan waktu
//Pada akhirnya waktu mereka mulai habis.
I really thought you were on my side
Aku sungguh mengira kau ada di sampingku
//Echa tidak akan pernah menyangka jika Taehyung sudah pergi, dia merasa Tae selalu ada.
But now there's nobody by my side
Tapi kini tak ada siapa-siapa di sampingku
//Echa akan sendiri.
Back to II
Don't let me down
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, down, down
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, down, down
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, down, down
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, don't let me down, down, down
Janganlah kau kecewakan aku, janganlah kau kecewakan aku
//Melodi itu seolah permintaan untuk dikasihani. Meminta agar Tae selalu ada.
Oh, I think I'm losing my mind now, yeah, yeah, yeah
Oh, rasanya aku gila, yeah, yeah, yeah
//Kewarasan Echa sudah hilang sejak jatuh cinta pada Billioner yang sedang memeluk pinggangnya.
Oh, I think I'm losing my mind now, yeah, yeah
Oh, rasanya aku gila, yeah, yeah
Back to II
Yeah, don't let me down
Yeah, janganlah kau kecewakan aku
Yeah, don't let me down
Yeah, janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, oh no
Janganlah kau kecewakan aku, oh jangan
Said don't let me down
Kubilang janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down (down, down, down)
Janganlah kau kecewakan aku
Don't let me down, down, down
Janganlah kau kecewakan aku
~Song end~
Tae membuka matanya setelah Echa selesai menyanyi. Wajahnya bersinar. Ketampanannya semakin terkuar. Wajahnya terlihat bersih dan bersinar. Bukankah akhirnya akan seperti ini?
Cup.
Tae mencium bibir Echa dengan lembut. Memberikan kelembutan dalam ciumannya. Tempo yang slow dalam ciumannya. Echa membalas ciuman Taehyung.
~Yeah, Echa siap operasi.
~Yeah, Taehyung siap operasi.
"Kita pulang, sebentar lagi kamu. harus operasi," ujar Taehyung.
Echa merinding mendengar suara Taehyung. Lembut dan menyejukkan. Begitu syahdu dan terasa menyentuh hati paling dalam.
Bintang-bintang di atas langit pun kagum melihat Taehyung. Jika ini bisa digambarkan, dia mungkin dikira Dewa Yunani yang tampannya luar biasa.
Hati Taehyung bersih. Ada ketulusan dalam jiwanya. Hingga terlihat bersinar.
"Aku harap kamu bahagia Queen."
"Ayo kita pulang," ajak Echa.
TBC
Tinggalkan jejak :)
__ADS_1