Queen Not Princes (Squelnya MYD)

Queen Not Princes (Squelnya MYD)
15


__ADS_3

🙅SIDER JAUH-JAUH💅


SPOILER Ray-Jena😌😷


~Cinta kenapa semenyakitkan ini?


💟Happy Reading💟


Seorang pemuda baru saja keluar dari cafe. Dia memutuskan untuk mampir minum coffe setelah mengantar ibunya tadi.


Dia memabayarnya dan pergi. Dia menguarkan mobilnya dan di perjalanan ponselnya berdering. Dia mengangkatnya.


"Yaboseyo," ujar Ray.


"  ...."


"Eungh, aku baru saja mau pulang," ujar Ray sambil menyetir mobil.


" ...."


"Arayo Hyung, aku akan mampir ke swalayan. Kemungkinan Mom pulang kesorean. Hum, kamu harus memasak," ujar Ray.


Dia menepikan mobilnya di jalan. Dia akan memutar balik arah mobilnya untuk membeli pesanan Ryeong. Ray menutup teleponnya.


Bruk!


Ray kaget saat mobilnya ditabrak dari belakang. Dia memejamkan mata kesal. Hingga seorang gadis menghampirinya.


Wajah gadis itu memerah. Marah? Yang benar saja, dia yang menabrak. Terlihat gadis itu mengetuk pintu mobilnya kasar.


"Yakkk! Bicosso?! Lo pikir jalanan ini milik nenek moyang lo sampai behenti di jalan sempit begini?!" tanya marah.


Rok mini dan baju kaus berwarna hitam kebesaran. Sepatu putih dengan kos putih pendek. Rambutnya berwarna merah maron. Bibirnya terpolesi lipstik merah.


Tok-tok! Ketukanny semakin kasar. Membuat Ray memejamkan mata kesal. Kekesalannya bertmbah dua kali lipat. Aish gadis ini--


Jena POV


Ck,  sialan! Siapa pengumudi mobil ini? Well, mobil ini. Memang mobil hanya orang kaya yang punya tapi jangan salah dia juga kaya.


Gue kesal banget sama dia. Sudah tau jalanan sempit malah main parkir sembarangan. Gue juga terburu-buru mau ke rumah oppa kesayang gue.


Hihihihi Oppa Ray pasti sendirian di rumah dan itu kesempatan emas berdua dengannya. Aahhh gue senang banget.


Tapi gara-gara mobil dan pengemudinya membuat waktu gue terbuang sia-sia. Dia harus  minta maaf. Enak aja buang waktu gue dan buat mobil kesayangan gue lecet.


"Hoi! Keluar lo! Mobil gue lecet dan lo harus ganti rugi!" teriak gue marah. Budek kali ini orang dari tadi emggak keluar-keluar.


"Anjing!" teriak gue sampai gue kaget karena pintu dibuka kasar. Badan gue sampai terdorong karena pintuh itu.


Awhhh,  akh sakit anjir. Ini orang mau gua marahin.

__ADS_1


What-what, mata gue membulat sempurna. Di depan gua my Oppa. Aduhh mampus gue. Gue sudah marah-marah mana gue ngatain lagi.


Gue cuma cecengesan aja. Tatapannya tajam loh,  gak kuat dede abang ditatap gitu.


"Oppa," panggilku.


Dia menatapku tajam banget. Aaa my chagiya kok galak-galak banget. Gue mengerucutkan bibir kesal.


"Oppa,  minhe," ujarku memasang puppy eyes.


Percuma guys,  ini Ray mirip kulkas berjalan. Dingin banget seperri mixer kulkas Eomma gue di rumah.


"Ray aku mianhe," ujarku sekali lagi.


Dia membuang muka. Deg, kok sesak ya , hiks. Kuat batin dede bang.


"Jangan pernah lo ngatain gua anjing," ujar Ray dingin.


Ishh gue juga kagak bakal ngatain dia anjing kalau gue tau itu dia. Serbah salah jadi gue.


Gue maju dan baru gue mau sentuh dia mundur. Nyut,  lebih sakit lagi. Tapi gue tetap senyum. Risiko cinta sama anaknya Om Juki.


"Ray, aku benar-benar minta maaf. Aku juga gak bakal ngatain kamu kalau aku tau itu kamu. Ya udah sih Ray, kita jangan perpanjang lagi. Aku kesal karena mau ke rumah kamu, tapi malah nabrak kamu."


Percuma kayaknya penjelasan gue. Hikss tega nian nih bambang buat gue potek. Jadi pengen kelonin, eh? Hehehe gue mah bucin sama si Ray.


Dia ninggali gue guys. Gue ngikutin dari belakang. Dia ternyata pulang ke rumahnya. Yes! Ada kesempatan berduaan. Eonni juga sering keluar bareng pacarnya dan ahhh ini kesempatan emas.


Ray membanting pintu kamarnya kesal. Jena bagai hama untuknya. Jika saja Jena bukan keluarganya dia tidak akan segan-segan buat sakiti Jena.


Dia telentang di atas kasur empuknya. Memejamkan mata untuk melupakan kekesalannya. Tapi sepertinya dewi Fortuna tidak berpihak padanya karena Jena kini masuk di kamarnya.


Ray membuka mata saat merasakan kasurnya bergerak. Dia menoleh dan melihat Jena telentang juga. Ray menatap tajam Jena tapi Jena malah tersenyum manis.


Jika Jena memberikan senyumannya pada penggemarnya pasti mereka histeris tapi ini diberikan pada seorang Jung Aeghie Ray. Tidak akan mempan.


"K-E-L-U-A-R!" usir Ray penuh penakanan.


"Oppa aku sangat lelah. Bisakah kamu diam saja," pinta Jena. Dia memang lelah, baru selesai pemotretan.


"Hus," dengus Ray.


"Kenapa kamu bersikap kasar padaku,  Ray? Aku mencintaimu  bukan atas kemauanku tapi hatiku yang memilihmu," lirih jena membuat Ray mengepalkan tanan kuat.


"Lupakan cintamu. Buang persaan konyolmu. Lo hanya cinta monyet sama gua. Berhenti buat beranggapan kalau cinta lo cinta sejati," ujar Ray sakras.


"Hiksss ssgitu Hinanya cintaku di mata kamu, Ray?" tanya Jena sambil terisak.


Dia sakit hati karena Ray tidak pernah menghargainya. Ray memejamkan mata gusar. Dia tetap menyanyangi Jena tapi ganya sebatas adik saja.


Mereka diam, sementara Jena membelakangi Ray. Dia masih menangis dan mencoba membekap mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar.

__ADS_1


Ray menatap punggung Jena yang bergetar. Dia mengusap kasar wajahnya.


"Aku mohon berhenti mencintaiku. Aku tidak mau melukaimu terlalu dalam," batin Ray.


"Hikss sampai kapanpun kamu memintaku berhenti mencintaimu aku tidak akan sanggup melakukannya. Aku percaya kamu tidak akan melukaiku terlalu dalam,  suatu hari nanti kamu akan mencintaiku juga," batin Jena.


Jena terlelap sehabis menangis. Ray bangkit dan membalikkan tubuh Jena. Dia mengusap lembut pipi Jena. Memperbaiki posisi tubuh Jena dan menyelimutinya.


Ray memutuskan ke kamar Ryeong. Ryeong tersentak kaget,  dia memang tahu Ray sudah pulang. Dia sengaja di dalam kamar saat melihat Jena tergesa-gesa ikut masuk ke dalam rumah.


"Hyung," panggil Ray.


"Aku tidak sempat memebelinya. Jena mengacaukan semuanya," ujar Ray.


"Arayo," ujar Ryeong.


"Sebaiknya kita main PS saja. Tunggu Mom pulang atau menyuruh Ryung membeli makanan," ujar Ryeong.


"Ryung telat pulang," ujar Ray sambip meyalakan TV di depannya. Dia mulai mengambil stick game dan memberikannya juga pada Ryeong.


"Jena saja yang memasak," ujar Ryeong.


"Dia tidur,  aku juga tidak yakin dia bisa memasak. Bisa-bisa dia meracuni makanan kita," ujar Ray membuat Ryeong menghela napas.


"Jangan terlalu keras kepadanya," ujar Ryeong.


Ray hanya mengedikkan bahu cuek. Mereka cukup lama bermain game. Hingga pintu kamar Ryeong terbuka.


Ray dan Ryeong sama-sama menoleh. Terlihat Jena di sana menatap mereka. Matanya terlihat bengkak. Walau gadis itu sudah cuci muka.


"Jena," panggil Ryeong.


"Ne, Oppa," sahutnya sambil melenggang masuk. Jena menyadarkan kepalanya di dada Ryeong. Ray hanya meliriknya seklias. Jena terlihat masih mengantuk. Beberpa kali dia menguap.


Ryeong tidak merasa terganggu. Dia memang suka memanjakan Jena. Baginya Jena seperi adiknya sendiri. Apalagi Jena ini Anak satu-satu dari tantenya.


"Tidurlah,  kamu terlihat mesih mengantuk," ujar Ryeong walau matanya tetap fokus pada layar di hadapannya.


"Hoam  ... Aku lapar,  Oppa," ujar Jena.


"Oppa juga lapar. Sebaiknya kamu memasak," usul Ryeong.


"Humph, tapi Oppa bantu aku memotong bahan-bahannya," ujar Jena.


"Ne, kajja," ujar Ryeong semangat.


Jena tertawa melihat wajah antusias Ryeong. Dia melirik Ray yang masih fokus main PS. Please bang, cukup PS aja yang dimainin Hatiny Jena jangan.


"Ray,  kamu juga lapar jadi ayo memasak bersama-sama," ajak Ryeong.


Mereka bertiga ke dapur. Di sini Jena dan Ryeong yang sering bercanda. Ray hanya diam saja. Jena hanya tersenyum untuk menutupi luka yang kembali digores sepupunya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2