
Follow 😇Cuma sebentar buat cek profilku dan klik follow :")
Partnya gak sedih kok😇
💔Happy Reading💔
~Tuhan, jika dulu aku lupa cara tersenyum, maka sekarang aku lupa jika aku adalah manusia, api aku kini bagaikan mayat hidup.
.
.
.
Echa POV
Aku bahagia. Kini aku bisa melihat dunia kembali. Aku belum tahu pendonorku siapa. Aku ingin berterimakasih padanya. Oh ya di rumah masih banyak keluargaku. Mereka berkumpul setiap pagi atau malam.
Seperti sekarang, mereka di bawah. Aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu kepadaku.
Lalu, aaa aku sangat bahagia. Ryeong, Ryung dan Ray sangat tampan. Benar kata Ryung, aku akan jatuh cinta jika melihatnya.
Hehehe kini aku melihat rambut birunya yang membuat Mom menjewernya. Dia benar-benar nakal.
Ok, well aku menemukan ponsel Taehyung. Kenapa aku yakin ini ponselnya karena namaku tertera di sana.
Kenapa di sini? Ogh' aku terkejut melihat amplod serta kamera di sini. Masih ada album foto? Apa ini album foto keluargaku?
Hm, kemarin Mom dan Dad banyak menunjukkan foto padaku. Foto kecil Triplek's dan apa ini album foto keluargaku lagi.
Aku membawanya ke kasur. Aku meletatkan ponsel Tae dan kamera itu.
Perlahan aku buka album foto itu. Pupil mataku terbuka. Ini fotoku dan Taehyung. Aish pria itu tahu cara membakar pipiku.
Aku tersenyum saat foto dia menarik pipiku dan aku cemberut. Hahaha mukaku sangat jelek.
Lembar selanjutnya ada wajah konyolku dan konyolnya, aku ingat ini diambil di bukit. Eoh bukit?! Aku hampir melewatkannya.
Dari foto saja aku melihat sangat indah tempatnya. Omg, pipiku memerah lebih parah. Kami berciuman. Jika Mom dan Dad melihatnya aku bisa digoda habis-habisan.
Ada juga fotoku diambil candid. Cih, pria romantis itu membuatku semakin merindukannya. Apa juga ini, hatiku mengerutu tapi bibirku tersenyum.
Aku menutup album itu. Lalu beralih menatap apload itu. Dadaku terasa sesak menatapnya. Entalah, ini perasaan apa.
Aku membukanya perlahan. Kau tahu, aku menyesal membukanya.
Perlahan aku membacanya.
***
Dengan bibir gemetar Echa membaca surat terakhir Taehyung.
Seoul, 08 Juli 2019
~Hey ... Queenku, Chagiyaku dan empp apa hehehe. Jika surat ini sudah kamu baca artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Lihat Sayang aku baru menyapamu, kau sudah menangis. Hentikan air matamu, aku tidak suka. Tertawalah untukku, Queen~
Air mata Echa turun tanpa komando. Mentes di kertas putih di gengamannya.
"Hikssss bilang ini bohong. Hiksss kamu pasti mengerjaiku. hahaha iya kamu mengerjaiku hiksss," isak Echa. Matanya buram karena air mata.
~Aku tahu ini berat, tapi percayalah aku sangat bahagia sekarang. Melihatmu membaca tulisanku artinya kamu sudah bisa melihat lagi.~
"HIKSSSS HUWAAAAAAAAA HIKSSSS!" Echa histeris.
Dadanya bagai dihujami anak panah. Sakit sekali. Benar-benar retak tak terisasa. Taehyung, dia pendonornya. Mengetahui itu, Echa bahkan kesulitan bernapas Karena menangis tersedu-sedu. Dia menyerah, dia ingin mati saat ini juga. Percuma ia hidup tanpa ada Taehyung.
~Jangan menyerah, Sayang. Hidupmu masih panjang. Apa salah aku memberikan kedua mataku untukmu? Aku tahu, ini sudah ajalku. Aku tidak benar-benar pergi. Aku ada dalam dirimu.
"Hikssss hentikan candaamu, Taehyung! Hiksdd aku tidak mau! Huwaaaa aku pembunuh! Hikssss sayang hikssss bilang ini lelucon hiks. Kamu bilang tidak pergi. jika tidak pergi kenapa tidak di sini?! Hikssss Taehyung!" isak pilu Echa memenuhi kamarnya.
~Sayang, jangan bersedih. Memang benar ragaku tidak di sampingmu lagi. Tapi kau harus tahu, apa yang kau lihat tentu aku lihat juga.
Echa termangu di kasurnya. Mengcrngram kuat surat Taehyung. Dia ambruk di lantai. Tangan mugilnya menepuk dadanya yang sakit.
~Mata itu, mata kita bersama. Jangan gunakan mata itu untuk menangis, karena aku juga menagis.~
Echa menggeleng. Dia tidak akan tahu cara bahagia. Dia akan menangis darah pun tidak akan lelah asal Taehyung kembali. Tidak peduli jika air matanya harus kering dan habis.
~Queen, maafkan aku sayang. *Air mata Taehyung jatuh*
Aku ingin sekali menemanimu. Menjalani hidup bersamamu. Menikah denganmu dan punya anak-anak yang lucu. Hahaha, sayangnya Tuhan tidak mengizinkanku. ~
Echa melihat tulisan itu ada bekas air. Dia semakin sesak mebayangkan bahwa hati Taehyung pasti hancur saat menulis surat ini. Dia pasti menangis. Dia pasti bersedih. Dia hikss dia pasti hancur.
Mimpinya sama dengan mimpi Echa. Hiksss Tuhan, kenapa tak engkau izinkan ia merasakan itu semua.
__ADS_1
~Aku akan mengirimkan pria yang mampu membuatmu tertawa seperti sedia kala. Aku mohon bahagialah. ~
Tidak! Tidak akan ada yang mampu mengantikan Taehyung fi hati Echa. Dia tidak bisa bahagia. Bagaimana bisa ia bahagia saat alasannya untuk bahagia telah pergi? Sampai ajal menjemput pun dia tidak akan bahagia jika bukan bersama Taehyung.
~*Tangan Tae semakin bergetar*
Aku pergi ....
Terimakasih pernah mengizinkanku mencintaimu dan dicintai olehmu. ~
Air mata Echa bagai hujan lebat.Tulisan Tae yang terlihat kacau sepertinya pria itu berusaha menulis surat ini.
"Hikss Taehyungku yang malang, hiksss kamu jangan sedih sayang, hikss eoh jangan sedih sayang," ujar Echa mengusap air matanya kasar. Seolah kertas itu adalah Taehyung. Dia menatapnya senduh. Walau kenyataan itu menampar keras dirinya. Air matanya berapa kalipun dihapus tetap menetes.
~Aku munggumu di sini Sayang, jika kita berjodoh di akhirat kan pasti Tuhan mempertemukan kita kembali. Akan kuceritakan pada mereka, bahwa aku pernah merasakan cinta luar biasa. Remeo dan Juliet, Rose dan Jack, Rama dan Sinta pun akan iri sayang. Cinta kita lebih hebat daripada mereka. Ini cinta luar biasa. ~
"Hiksss Taehyung," isak Echa.
Akan aku sambut kamu di sini. Tapi jalani hadupmu dengan baik.
I Love you, Queen Cacha 💕
"Hikssss huwaaaaaa kamu bohong! Kamu gak cinta sama aku hiksss kamu gak cinta hiksss kalau kamu cinta hiksss kamu gak akan ninggalin aku hiksss. TAEHYUNG! AKU TIDAK AKAN MENGAJAKMU BICARA HIKSS KEMBALI! HIKSSS BERHENTI SAYANG! AYO KEMBALI!" jerita Echa. Dia memutar vidio itu, beraharap Taehyung memberitahunya jika itu semua bohong.
Sudah hilanglah jiwa Echa setelah melihatnya. Saat di bukit itu mereka begitu bahagia. Tae merekam semua moment mereka.
Bibir Echa bergetar mendengar tawa kekasihnya. Wajah Tae bahkan pucat tapi tetap tertawa lepas.
Echa memeluk kamera itu. Dia berteriak sekencang-kencangnya. Berharap ini hanya mimpi semata.
Kamar ini jadi saksi bisu betapa hancurnya hati gadis ini ditinggal kekasihnya.
"HIKSSSSS TAEHYUNGGGGGG! KEMBALILAH! KAMU TIDAK HIKSS BISA MENINGGALKANKU! KENAPA?! HIKSS KENAPA KAMU MEMBERIKAN MATAMU! BILA PUN HIKSS KAMU SAKIT KAMU HARUS BEROBAT! HUWAAAAA!"
Teriakan Echa membuat Aeri dan Jungkook beserta yang lain segera ke kamar Echa.
Betapa terkejutnya mereka melihat mata Echa sembab. Tangis pilu gadis itu serta foto berserakah di lantai.
Mata Jungkook terpaku pada kertas di dekat putrinya. Dia melihatnya dan menutup mata.
Jungkook memeluk Echa yang meronta-ronta menepuk dadanya.
"Hiksss Daddy, bilang ini cuma bohong!" teriak Echa.
Aeri ikut memeluk Echa. Entah karena rasa sakitnya yang begitu dalam Echa melepas paksa pelukan kedua orang tuanya.
Dia berdiri dengan tubuh lunglai. Menatap mereka lalu tertawa walau air matanya terus berderai.
"Hahahah ini hikss ini pasti bohong! Kalian mau nagsih Echa suprise kan?! Hiksss BILANG INI BOHONG!" jerit Echa.
Mereka menangis. Melihat Echa yang terpuruk.
"Hiksss maaf, Sayang. Taehyung telah pergi. Ikhlaskan dia," ujar Jena sambil memeluk Echa.
Tubuh Echa mematung. Hingga dia berteriak histeris.
"Hikssss di mana dia?! Jangan berbohong! Aku akan marah pada kalian semua! Hiksss ~bi--lang ini bohong," lirihnya di akhir kalimat.
Echa tergesa-gesa menghampiri Jihwan. Dia mengcengkram kuat kerah baju Jihwan.
"Bilang ini bohong, Kak. Hikss kamu sahabat Tae kan? Hikss beritahu mereka kalau mereka salah hikss beritahu mereka kalau hikss kalau hikss Tae hikss hikss masih hidup hiksss. BERTIAHU MEREKA!" jeritnya.
"Maaf," sesal Jihwan. Echa melepas kasar baju Jihwan. Tatapannya sangat terluka.
Dia menatap Jimin dan Zia bergantian. Echa menyeret tungkainya ke arah Zia.
"Hikss Aunty Zia, mereka gak tahu hiksss Aunty tahu hikss siapa pendonorku hiksss Aunty juga tahu kalau Tae masih hidup, eoh? Hiksss palli! Katakan Aunty, hiksss merengira hiksss Taehyungku meninggal," ujar Echa mengcengram kuat bahu Zia.
Melihat Zia menangis, harapannya pupus.
"Hiksss Tuhaaaaaan! HIKSSS JANGAN AMBIL DIA! HIKSSSS AKU TAK PERLU MELIHAT DUNIA! BUAT APA AKU MELIHAT DUNIA! HIKSSS DIA MATAKU YANG SESUNGGUHNYA!" Jimin memeluk Echa. Tapi Echa mendorongnya.
"Hiksss Echa, Nak. Taehyung sudah meninggal," ujar Aeri.
Echa menatap Aeri terluka. Aeri mendekap anaknya. Menangis bersama. Menangisi kepergian Taehyung.
"Hikss di mana dia di makamkan?" tanya Echa.
Aeri memberitahunya. Walau Echa tidak tahu jalan, tapi dia tahu pemakaman itu karena sewaktu kecil pernah ke sana. Bela sungkawa untuk temannya.
Dia berlari, tidak peduli kakinya tidak dibalut apapun. Rambutnya tergerai, matanya menangis. Jika mata itu menangis bisa dikatakan Tae juga menangis.
Echa terus berlari. Isak tangis menghiasi langkahnya menuju pada tempat kekasihnya berada.
Sampai di sana dia mengedarkan pandangannya. Melihat tanah liat masih dengan tanah Kemerah-merahan-merahan.
__ADS_1
Echa mendekat dan tangis pecah. Melihat nama Taehyung di sana adalah mimpi terburuk untuknya.
Echa memeluk nisan Taehyung. Menumpahkan sedihnya. Beraharap ini hanya mimpi buruk.
"Hiksss kamu pergi, hikss kamu membawa seluruh napasku," ujar Echa pilu.
Aeri dan Jungkook mendekat. Mereka mengelus surai hitam Echa.
"Hiksss," isak Aeri.
Echa berulang kali mengecup papan nama Taehyung. Mengelus batu nisan Taehyung.
"Hiksss mana yang sakit, Sayang? Hiksss bilang sama Cacha, hikss Tetet, hiksss sayang bilang sama aku, mana yang sakit?" tanya Echa membuat mereka yang mendengarnya sesak.
Jungkook ikut menangis. Hingga putrinya berbalik menatapnya dengan pandangan kosong.
"Hiksss Daddy, hikss kenapa dia di sini? Hikss ajak dia istirahat di rumah," ujar Echa. Jena, Zia dan yang lain ikut pecah tangisnya.
"Sayang, biarkan dia istirahat hm," kata Jungkook sambil mengusap air mata Echa.
"Hiksss," Echa menatap Jungkook sedih.
"Dia kekasihku, Dek. Orang hikss yang mencintaiku setulus hatinya hiksss. Dia Orangnya, Dad. Hiksss aku ingin ikut Dad," ujar Echa menadapat gelengan dari Jungkook.
Jihwan menangis kembali. Menatap nanar kubur itu.
"Sampai kapanpun aku berusaha menyembuhkan luka itu, tidak akan pernah bisa. Kamu tidak akan tergantikan. Aku janji akan berusaha memenuhi permintaanmu. Memebahagiakannya walau itu tidak akan pernah terjadi. Maafkan aku jika aku menyerah karena aku yakin aku tidak akan pernah bisa mengisi hatinya," ujar Jihwan dalam hati.
Ech memeluk Jungkook rersedu-sedu. "Daddy, Hikss baginya Im Queen Not Princess."
Jungkook dan Aeri mengangguk. Semua tahu jika Echa adalah ratu di hati laki-laki tampan itu.
"Taehyung, kamu meninggalkanku, Sayang. Bawalah hati ini dan juga hatiku sudah terkunci rapat-rapat. Aku menunggu ajal menjemputku. Tunggu aku di sana, Sayang. Sambutlah aku dengan cintamu. Aku akan datang. Raguku mungkin ada di sini tapi jiwaku sudah ikut mati bersamamu. Biarlah aku hidup tanpa jiwa."
Inilah akhirnya, Echa bagai manusia tanpa jiwa. Meratapi nasib kekasihnya. Hari-hari dilewati dengan menangis.
Dia melakukan semua dengan hambar. Dia kini kuliah atas kekuasan ayahnya.
Tidak ada teman, dia lebih suka menyendiri. Sorot matanya kosong. Dia sering melamun.
Jihwan sendiri hari-hari memantau Echa. Dia memikul amanah berat. Keberadaannya bahkan tak kasat mata. Semua tahu isi surat Taehyung kepada Echa.
Bisakah Echa menerima Jihwan? Saat Echa pun tahu surat Taehyung dia bersedia menikah dengan Jihwan. Semua hanya karena memenuhi permintaan Taehyung.
Echa berulang kali gagal bunuh diri. Kini dia melakukan semua permintaan Tae. Tapi tidak dengan bahagia dan tersenyum karena sejujurnya Echa sudah lupa cara tersenyum.
Matanya bahkan mungkin bisa melihat. Tapi pandangan itu selalu kosong. Kelam. Tidak ada kehidupan. Bahkan lebih gelap lagi saat ia buta.
Echa usai memutar vidionya kembali dengan Taehyung. Ini sudah lima tahun Taehyung pergi.
"Bahkan aku tidak percaya kamu telah pergi. Aku tidak percaya ini hikss aku bisa gila. Kenapa sayang? Hiksss tolong kembali," isak Echa.
Dia irit bicara sekarang. Hanya hika sendiri dia berbicara panjang lebar. Di hadapan foto Taehyung.
Walau album itu akan usang, walau surat itu akan usang, cinta Echa tidak akan pernah lekang dimakan usia.
"Aku tidak akan mengucapkan selamat jalan Sayang, aku akan menunggu di mana Tuhan mempertemukan kita kembali," kata Echa sambil menatap bintang.
Bintang di atas langit itu berkedip. Seolah mendengar dan menjawab ucapan Echa.
"Im Queen Not Princess," lirih Echa. Dia berbaring di atas kasurnya. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum saat dalam mimpi dia bertemu Taehyung.
"Love you Queenku, Cacha," bisik Taehyung.
"Love you to My Prince Tetet," balas Echa.
Dia memeluk Taehyung yang datang dimimpinya. Walau ketika membuka mata dia akan kembali sadar bahwa laki-laki itu telah jauh padanya. Jaraknya sangat jauh, hanya tiket kematian yang bisa mempertemukannya.
Echa selalu menunggu ajalnya datang, setiap detik, menit dan jam.
T A M A T
Sad Ending :")
Terimakasih untuk Reader yang menemaniku dari MYD, hingga QNP :)
Terimakasih atas komentar-komentarnya 😇Maaf tidak sempat membalas, karena ketika usai menulis FF aku kembali menulis ffku yang lain hingga tidak punya waktu 😇🤗aku suka baca komentar kalian. Terimakasih 😘😘😘😘Love you 😘😘
Queen Not Princes itu adalah Squel dari My Young Daddy, jadi baca juga My Young Daddy.
Queen Not Princes sudah tamat kalian baca Squelnya "Queen 2" :)
Terimakasih sekali lagi, maafkan cerita saya jika gaje tapi alangkah baiknya jangan komentar yang tidak mengenakan karena saya juga bisa marah 😂😂😂
Salam. kenal aku anak Kpop 😁
__ADS_1