Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 21


__ADS_3

Arnold menahan rasa sakit dan juga panas pada keningnya yang dikompres oleh Mazaya. Laki-laki yang biasa arogan dan bersikap menyebalkan itu kini hanya bisa pasrah dengan perlakuan Mazaya yang tak mengerti cara merawat orang sakit dengan benar.


“Bisa ditambah air dingin nggak sih? Ini terlalu panas, Mazaya!” keluh Arnold sembari memegangi keningnya yang terasa panas.


Mazaya menahan kain lembut itu agar terus menempel di kening Arnold, membuat laki-laki itu bangun dan berhadapan langsung dengan wajah Mazaya. Bisa Arnold lihat dengan jelas sorot mata istri yang selama ini selalu dia abaikan.


Berhadapan langsung dengan Mazaya membuat Arnold merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya berdebar dengan keras seiring dengan deru napas hangat Mazaya yang menerpa kulit wajahnya. Untuk pertama kalinya, Arnold melihat warna merah muda yang menghiasi kelopak mata bagian atas milik wanita itu.


Semakin hari Mazaya memang semakin terlihat cantik, dan Arnold baru menyadari hal itu sekarang. Laki-laki itu menyentuh wajah Mazaya yang dirias dengan sangat cantik. Akan tetapi, wanita itu memalingkan wajah sebelum Arnold berhasil menyentuhnya.


“Kalau orang sakit bukannya memang dikompres air panas?” tanya Mazaya sembari memindahkan kain lembut itu dari kening Arnold dan mengalihkan perhatian.


“Memangnya kamu mau bikin kening rebus pakai air panas. Harusnya kamu tambah sedikit air dingin biar nggak melepuh wajahku yang tampan ini!” jawab Arnold dengan wajah kesal yang mendominasi.

__ADS_1


Bukannya bersimpati, Mazaya malah menertawakan omongan Arnold yang dengan sangat percaya diri menyebut dirinya sendiri tampan. Hal tersebut membuat kening Arnold mengernyit dan menatap Mazaya.


“Ya ampun, selain bandit, kamu juga sangat narsis!” oceh Mazaya sembari tertawa terbahak-bahak seolah yang dikatakan Arnold itu adalah sebuah lelucon.


Arnold menutup mulut Mazaya dengan kedua tangan agar wanita itu bisa berhenti tertawa. Namun, karena Mazaya banyak bergerak, mereka akhirnya terjatuh di kasur dengan posisi Arnold di atas Mazaya.


Mazaya benar-benar berhenti tertawa dan kini terfokus pada tatapan mata Arnold. Jarak keduanya semakin dekat dan kedua sorot mata saling terkunci satu sama lain. Arnold dan Mazaya sama-sama merasakan debaran hebat di dada mereka.


Tok, tok, tok!


Suara ketukan pintu yang begitu kencang berhasil mengembalikan kesadaran mereka berdua. Dengan sigap, Mazaya mendorong tubuh suaminya itu dan dia bergerak turun dari ranjang untuk membuka pintu.


“Permisi Tuan, dokter sudah datang untuk memeriksa Tuan!” kata Dion usai mengetuk pintu.

__ADS_1


“Ya, ya, ya. Silakan masuk! Tuanmu sudah menunggu dari tadi!” Mazaya membuka pintu dan tersenyum ramah. Dia melakukan itu untuk menutupi rasa gugupnya karena hampir saja dicium oleh Arnold.


Dokter langsung memeriksa keadaan Arnold dan merasa khawatir dengan detak jantungnya yang sangat cepat. Suhu tubuh Arnold juga sangat panas, membuat dokter menyarankan suami Mazaya itu untuk dirawat di rumah sakit.


“Nggak, nggak, nggak! Aku di rumah aja! Nggak perlu dirawat ke rumah sakit segala. Di sini ada Mazaya,” tolak Arnold yang sejak kecil memang tak pernah mau dibawa ke rumah sakit.


“Tapi, Tuan. Anda kekurangan cairan, dan obat suntikan akan bekerja lebih cepat dari obat,” kata sang dokter.


Mazaya mendekati suaminya yang tampak ketakutan dan membuatnya curiga. “Jangan bilang kamu takut jarum suntik?”


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2