Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 22


__ADS_3

Arnold memang sangat takut dengan yang namanya jarum suntik. Sejak kecil, dia memiliki trauma sendiri dengan benda kecil yang begitu tajam hingga membuat tubuhnya kesakitan.


Namun, di hadapan Mazaya, Arnold tentu tidak mau mengakui kelemahannya itu. Dia merasa dirinya kuat, akan sangat memalukan jika dirinya yang biasa menyiksa Mazaya, tapi malah ketakutan dengan benda kecil macam jarum suntik itu. Ini akan sangat memalukan.


“Siapa yang takut. Aku nggak takut kok. Cuma malas aja tidur di rumah sakit, ke mana-mana bawa infus, mending minum obat aja,” kata Arnold berdusta.


Mazaya memicingkan mata dan melihat kebohongan yang sangat jelas di mata laki-laki itu. Dia lalu tersenyum mengejek Arnold yang membuang muka karena rasa takutnya itu.


“Alah, bilang aja kalau takut jarum, nggak usah malu walaupun memang memalukan!” goda Mazaya sambil mengedip-kedipkan mata.


Penghinaan Mazaya itu rupanya membuat Arnold bertambah kesal. Dia menatap tajam sang dokter dan memberi isyarat untuk menurutinya.


“Siapa yang takut jarum suntik, kalau cuma demam aja buat apa ke rumah sakit. Memangnya kamu pikir rumah sakit itu tempat refreshing? Hotel penginapan? Ada banyak pasien yang lebih parah, yang membutuhkan bantuan daripada aku. Iya, ‘kan?”


Sang dokter melihat api kemarahan di mata Arnold. Memang sepertinya dia harus mengeluarkan pendapat untuk menghentikan perdebatan suami istri itu.


“Iya, benar sekali Tuan. Saya rasa, dengan keadaan Tuan yang masih kuat bertenaga dan tidak lemas, sepertinya memang Tuan Muda cukup dirawat di rumah saja. Saya akan resepkan obat, dan nanti bisa langsung hubungi saya kalau keadaan memburuk,” kata dokter itu terlihat gugup.


Dia masih sayang dengan karier dan keselamatannya sebagai dokter. Mencari masalah dengan Arnold yang sejak dulu memang tak menyukai rumah sakit, hanya akan merugikan dirinya saja.

__ADS_1


“Benarkah? Dia tidak perlu diinfus? Demamnya cukup tinggi loh!” tanya Mazaya tak bisa percaya keputusan dan saran dokter yang mendadak berubah.


“Nyonya, Mazaya. Saya rasa dokter lebih berpengalaman dan paham apa yang seharusnya dilakukan,” sahut Dion yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.


Memang, istri tuannya itu sangat berbeda dari biasanya. Sampai-sampai, Dion pun tak percaya bahwa wanita itu benar-benar Mazaya.


“Ya, baiklah. Kalau nanti butuh suntik, saya juga bisa menyuntik kok.” Mazaya melirik suaminya yang kini terlihat syok.


“Maaf, Nyonya. Jarum itu bukan mainan, kalau nanti bengkok atau patah di tubuh Tuan bagaimana?” Sang dokter justru membuat Arnold semakin ketakutan.


Membayangkan benda kecil itu patah di dalam tubuhnya, membuat kening Arnold mengeluarkan keringat dingin. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Dion memahami situasi dan segera membawa pergi dokter yang memeriksa tuannya itu. Sekarang, tinggal Mazaya yang ada di kamar itu menemani Arnold.


“Kamu beneran takut sama jarum suntik?” tanya Mazaya yang kini mendekati Arnold.


Laki-laki itu tengah memejamkan mata dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Enggak! Mana ada yang aku takutkan di dunia ini! Jangan banyak bicara, Mazaya. Lebih baik kamu diam!”


Mazaya tak peduli dengan ancaman Arnold itu. Dia justru semakin yakin bahwa laki-laki itu memang memiliki fobia dengan jarum suntik.

__ADS_1


“Beraninya cuma nyuntik doang, tapi nggak berani disuntik!” goda Mazaya yang kemudian meninggalkan Arnold untuk membuang air bekas kompresannya.


Arnold terpaksa membuka mata dan mencari keberadaan Mazaya. Dia tahu wanita itu pergi ke kamar mandi karena gemericik suara air yang terdengar dari sana. Dengan kesal, Arnold menunggu wanita itu keluar dari sana sebelum membantah tuduhannya.


“Siapa yang suka nyuntik? Memangnya kamu pikir aku ini perawat rumah sakit?” tanya Arnold dengan kesal setelah melihat wajah wanita yang menjadi istrinya itu keluar dari kamar mandi.


“Oh, kamu nggak ngerti maksud aku. Kata pelayan di sini, kamu suka bawa perempuan ke kamar tamu. Gonta-ganti lagi. Itu mau ngapain kalau nggak kamu suntik!” Pikiran Mazaya mengarah pada kemeesuman yang mungkin dilakukan oleh Arnold.


Arnold mulai mengerti apa yang Mazaya maksud. Dia menatap istrinya itu. Namun, kali ini dia tidak ingin membuat klarifikasi kalau sebenarnya wanita-wanita itu sengaja dia sewa untuk menyiksa batin Mazaya, bukan untuk dinikmati.


“Itu bukan urusanmu! Daripada ngomong nggak jelas, mending bikin bubur ayam. Aku mau makan!”


Mendengar permintaan Arnold, otak cerdas Mazaya pun mulai bereaksi. Kenapa harus memasak lagi?


“I-itu, aku harus cari resepnya dulu!” jawab Mazaya dengan gugup.


“Pasti pakai corong kuning lagi!”


***

__ADS_1


Iya kan biar disayang ibunya suami aku 🙃🙃🙃 ritual jejak sesajennya jangan lupa ya 🥰🥰


__ADS_2